Rabu, 05 Januari 2011

KEMBALIKAN SUBSTANSI UN

Pendidikan Lampost : " Kamis, 6 Januari 2011

KUNJUNGAN KERJA

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pemerintah harus mengembalikan tujuan ujian nasional kepada filosofi dasar pendidikan. Sejatinya, tujuan pendidikan bersifat kualitatif, bukan kuantitatif.

Demikian hasil kunjungan kerja anggota DPD asal Lampung Ahmad Jajuli saat mengisi reses di FKIP Unila, Rabu (5-1. Kunjungan kerja ini juga dihadiri Dekan FKIP Unila Bujang Rahman dan jajaran pengajar.

"Ujian nasional harus dikembalikan pada filosofi dasar pendidikan yakni pendidikan yang bermuara kepada pembangunan karakter, seperti kejujuran dan bukan mengejar hasil yang bersifat kuantitatif," kata Jajuli.

Ia mengaku kaget dengan pernyataan Menteri Pendidikan M. Nuh di media yang menyatakan lebih menargetkan kesuksesan UN dalam proses dan bukan hasil. "Artinya, Menteri menargetkan ukuran kualitatif, bukan kuantitatif," kata dia.

Namun, ia berharap pernyataan Menteri bukanlah omong kosong dan hanya menyenangkan masyarakat pendidikan. "Kami tunggu hasil konkret pernyataan itu," kata dia.

Selain itu, Jajuli juga menekankan empat poin pembahasan tentang pendidikan yang perlu dibahas terkait dengan tenaga pendidikan, yakni guru terampil, penundaan pembubaran PMPTK dengan LPTK, pengelolaan seleksi LPTK, dan sertifikasi profesi guru.

Hal senada diutarakan Bujang Rahman. Menurut dia, jika demikian, UN telah kembali kepada filosofi dasar pendidikan.

"Pendidikan bukan bermuara pada standar nilai kuantitatif, tinggi rendahnya nilai lulusan, dan besar kecilnya persentase kelulusan. Lebih tinggi dari ,itu pendidikan tujuan utamanya membangun karakter kepribadian dan ini bersifat kualitatif tak bisa dinilai dengan angka-angka," kata dia.

Bujang meminta gubernur, bupati/wali kota serta kepala dinas baik provinsi maupun kabupaten kota untuk berhenti mengeluarkan pernyataan yang mendewakan tingginya persentase kelulusan. "Keberhasilan UN bukan pada tingginya lulusan, tapi jujur-tidaknya UN," kata dia.

Faktanya, menurut Bujang, ada sekolah yang secara kuantitatif muridnya lulus 100%, tapi kenyataannya tak satu pun murid yang lulus seleksi nasional masuk perguruan tinggi (SNMPTN). MG14/S-2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar