Jumat, 08 April 2011

RSBI Tidak Pedagogis?

Opini Lampost : Kamis, 7 April

Herpratiwi
Dosen FKIP Unila

Kebijakan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) untuk mempersiapkan anak agar survive di era global yang penuh dengan ketidakpastian. Anak diberi bekal akademik dan nilai-nilai lokal yang diperkaya nilai-nilai global agar mereka dapat bersaing dengan orang lain ketika sudah tamat atau lulus dari jenjang pendidikan yang sudah ia tempuh. Semua yang ada di lingkungan sekolah harus berisi nilai-nilai yang membelajarkan, baik bagi anak, pendidik, semua orang yang ada di lingkungan sekolah dan masyarakat luas.

Tetapi apa yang terjadi? Pengambil kebijakan dan institusi pendidikan salah menerjemahkankan kebijakan tersebut, sehingga aplikasinya tidak berpihak pada peserta didik sebagai learner. Salah menerjemahkan kebijakan disebabkan ketidakmampuan, ketidaksiapan, dan ketidaktahuan dari berbagai pihak tentang kebijakan tersebut. Sehingga bisa dikatakan pelaksanaan RSBI tidak pedagogis dan tidak adil. Kesalahan menerjemahkan metode dan strategi pembelajaran, yaitu penyampaian materi ajar yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Bagaimana siswa dan guru yang tidak mempunyai kecerdasan linguistik? Tentunya tidak akan dapat menyampaikan materi ajar dan siswa tidak akan dapat mengolah informasi dengan efektif dan efisien. Apakah bahasa Inggris tidak penting? Untuk dapat hidup di era global, di mana semua pesan, bacaan, dan simbol banyak yang berbahasa Inggris/asing, sehingga semua orang harus menguasai bahasa tersebut. Tetapi cara penanamannya harus disesuaikan dengan karakter anak, tidak boleh sekadar mengejar produk.

Kesalahan kedua adalah menerjemahkan bahwa belajar harus berlangsung di ruang kelas yang memiliki multimedia, dan ber-AC. Bagaimana dengan prinsip belajar yang dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja? Bagaimana anak yang belajar langsung berinteraksi dengan lingkungan, apalagi dilakukan secara kelompok? Anak yang belajar dengan suasana alamiah, otak anak akan bekerja dengan maksimal dan memancing potensi berpikir tingkat tinggi. Menurut beberapa pakar, belajar menggunakan alat-alat teknologi akan membentuk kebiasaan individual, mementingkan diri sendiri, dan yang paling rawan adalah pendidikan karakter tidak akan tersentuh. Bukankah pendidikan karakter di era global sama pentingnya dengan nilai akademis lainnya. Akan lebih baik jika anak memiliki karakter dalam menguasai teknologi.

Menerjemahkan kurikulum yang masih belum pas, sehingga yang terjadi adalah guru mentransfer materi, bukan transfer apa yang dibutuhkan anak. Akibatnya pembelajaran bagi anak merupakan sesuatu yang membuatnya boring hanya sekadar datang, dengar, dan diam. Yang sangat mengkhawatirkan adalah sekolah menggunakan materi ajar yang tidak diturunkan dari dasar filosofi bangsa sehingga konteks dan kontennya bukan konteks dan konten yang diambil dari nilai-nilai bangsa sendiri. Seandainya hal ini terjadi semakin jauh dari pendidikan karakter.

Kemudian terjadinya pola pengklusteran, artinya tidak semua sekolah diberi kesempatan yang sama untuk membuka RSBI, apa memang masih ada sekolah yang belum mencapai 8 standar pendidikan? Padahal ini merupakan syarat sekolah yang berhak membuka RSBI. Kalau ada, bagaimana dengan kebijakan-kebijakan lainnya? Pertanyaan yang muncul adalah memang anak yang akan survive di era global hanya anak-anak yang sekolah di RSBI? Bagaimana dengan anak-anak yang lain? Adilkah ini? Jika menerjemahkan RSBI seperti hal yang di atas, tentunya jawaban pertanyaan tersebut adalah anak-anak yang akan dapat survive di era global hanya sebesar 40% dari populasi, karena mereka beruntung dapat lolos tes seleksi dan memiliki keluarga yang secara finansial mapan. Mengapa? Untuk masuk di kelas RSBI memerlukan biaya yang tidak sedikit, tidak semua anak bisa duduk di situ. Pemerintah daerah belum sepenuhnya sanggup membiayai mereka, sehingga masih perlu share dana dari orang tua untuk biaya operasional sekolah.

Adilkah? Anak yang dapat duduk di kursi RSBI adalah anak yang lulus tes IQ dengan angka kecerdasasan tinggi, dan mampu berbahasa Inggris dengan ditunjukkan skor tertentu. Kemudian bagaimana nasib anak-anak berkebutuhan khusus? Bagaimana dengan anak yang cerdas tetapi tidak mempunyai banyak uang? Bagaimana anak yang lulus tes tertulis tetapi tes bahasa Inggrisnya tidak bagus? Menurut penulis, jika RSBI salah menerjemahkan, akan semakin longgar disparitas yang muncul di masyarakat.

Apakah RSBI perlu? Perlu, asal semua sekolah diberi hak yang sama untuk membuka RSBI. Karena tidak hanya segelintir anak saja yang berhak survive di era global. Kalau toh pemerintah belum mampu memberikan keadilan, berikan kebebasan kepada sekolah untuk mengantarkan anak didiknya masuk ke dunia global tanpa harus berada di sekolah yang berbungkus RSBI. Tidak perlu mengotak-kotakan sekolah dengan membuat simbol-simbol tertentu. Karena tidak harus melalui sekolah yang berbungkus RSBI anak dapat sukses di era global. Yang terpenting adalah konteks dan konten yang ada di kurikulum didesain sesuai dengan kebutuhan anak. Pastinya kebutuhan anak di era ini, sehingga anak juga akan dapat menyesuaikan dengan tuntutan era tersebut. Yang tidak kalah penting, siswa, guru, orang tua, dan masyarakat luas akan belajar banyak dengan sekolah. Di mana sekolah merupakan organisasi pembelajaran yang kental bermuatan nilai pembelajaran. Jangan sampai suatu organisasi pembelajaran, justru tidak membelajarkan masyarakat. n

Tidak ada komentar:

Posting Komentar