Sabtu, 11 Desember 2010

APA SIH LAHAR DINGIN ITU

Dunia Anak Lampost : Minggu, 12 Desember 2010

BEBERAPA hari ini, berita-berita di media sering menyebut tentang banjir lahar dingin yang menghancurkan beberapa rumah di Yogyakarta. Apa adik-adik sudah tahu tentang lahar dingin ini? Nah, pada rubrik kali ini kita akan membahas tentang lahar dingin.

Sebelumnya, kita sudah pernah membahas tentang magma dan lava kan? Adik-adik masih ingat tidak? Ya sudah deh, Kakak Rinda jelaskan sedikit tentang magma dan lava ini ya.

Magma adalah batuan cair panas yang terdapat dalam lapisan kulit bumi. Lava adalah magma yang keluar dan perut bumi/gunung api akibat adanya peningkatan aktivitas vulkanik/tekanan di dalam perut gunung api. Nah, lahar itu adalah lava yang bercampur dengan air, baik air hujan atau lainnya, seperti danau di sekitar gunung.

Campuran lava dan air ini menjadi jenuh dan membentuk aliran yang meluncur dengan kecepatan tinggi menuruni lereng gunung hingga puluhan kolimeter. Apabila lava bercampur dengan air yang masih panas atau baru keluar dari dapur magma setelah letusan gunung api, menghasilkan lahar panas. Sebaliknya, apabila lava sudah tertimbun lama di lerang gunung, lalu bercampur dengan air pada musim hujan, akan menghasilkan aliran lahar dingin.

Kedua tipe lahar ini, baik lahar panas atau lahar dingin, sama-sama berbahaya, bisa menimbulkan korban jiwa dan merusak rumah-rumah warga.

Lahar yang merupakan campuran batu, pasir, kerikil dan air ini aktivitasnya akan meningkat seiring dengan meningkatnya intensitas curah hujan.

Aliran lahar sangat berbahaya terutama bagi penduduk yang tinggal di perkampungan yang berada di lereng gunung ataupun bagi para penambang pasir yang sering berada di daerah aliran lahar ini. Lahar dapat mengalir dengan kecepatan beberapa puluh meter per detik dan menempuh jarak sampai beberapa kilometer. Untuk itu biasanya lahar dibuatkan saluran khusus mirip saluran sungai atau disebut juga sabo. (RIN/DBS/M-1)

Adius Semenguk Telah Berpulang

Bandar lampung Lampost : Minggu, 12 Desember 2010

OBITUARIUM:

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila) Adius Semenguk (53) meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM), Sabtu (11-12), sekitar pukul 11.30.

Dosen yang telah mengabdi selama 29 tahun 8 bulan di Unila itu meninggalkan satu istri dan tiga anak. Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di Jalan Pulau Damar, Sukarame, dan dikebumikan di Tempat Permakaman Umum (TPU) Palapa, Tanjungkarang Pusat, tak jauh dari kediaman lamanya.

Adius Semenguk menyelesaikan program Pascasarjana Magister Hukum di Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur. Bagi banyak kalangan mahasiswa di Fakultas Hukum Unila, Adius Semenguk adalah sosok pendidik yang dikenal dekat dengan mahasiswa. "Beliau figur dosen yang baik, ramah, dan supel dengan mahasiswa," kata Eka Pratiwi, pengajar di STIH Lampung Selatan yang juga mantan mahasiswinya.

Adius Semenguk lahir di Blambangan Umpu, Way Kanan, 1 September 1956. Ratusan mahasiswa Fakultas Hukum Unila, staf pengajar, dan jajaran rektorat Universitas Lampung menghadiri pemakaman.

Hadir pula di rumah duka Rektor Unila Sugeng P. Harianto, dan beberapa rekan dosen, antara lain Armen Yasir, Sudirman Mersa, Sunarto, dan Yuswanto. (JUN/K-2)

Sekolah Disediakan ‘Software’ Gratis

Pendidikan Lampost : Sabtu, 11 Desember 2010

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kabar baik untuk pelajar di Lampung. Pemerintah akan memfasilitasi penggunaan software gratis untuk membatasi penggunaan software bajakan di sekolah-sekolah.

Hal itu dikemukakan Zulkifli dari Braind Information and Technology (IT), perwakilan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dalam hal sosialisasi penggunaan open source untuk Provinsi Lampung, Jumat (10-12).

"Berdasarkan surat edaram Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara nomor 01/M.PAN/III/2009, yang isinya seluruh instansi pemerintah, termasuk sekolah, harus terbebas dari penggunaan software bajakan," kata Zulkifli.

Menurut dia, Menristek mengadakan sosialisasi dan pelatihan penggunaan software gratis berbasis open source di berbagai instansi pemerintah, termasuk sekolah.

"Untuk itulah, dengan kerja sama antara SMK 2 Mei Bandar Lampung, Braind IT Lampung, dan Kemenristek menggelar training of trainers untuk penggunaan open source yang ke tiga kalinya di Lampung," kata dia.

Ia menuturkan secara tidak langsung program sosialisasi ini dapat memerangi budaya penggunaan barang bajakan ke berbagai pihak, termasuk di kalangan dunia pendidikan. Pemerintah menargetkan pada 2011 Indonesia sudah terbebas dari penggunaan barang bajakan.

"Dengan demikian, pilihannya cuma dua, yakni menggunakan software orisinal dengan menginvestasikan biaya cukup mahal untuk setiap tahun atau beralih menggunakan software gratis yang bersifat open source," kata dia.

Software gratis open source itu sengaja diciptakan untuk mengimbangi dominasi penggunaan softwear berbayar. Softwear gratis dapat diunduh di internet dan dapat dikopi atau disebarluaskan secara bebas ke sesama pengguna. "Karena sifatnya yang open source atau terbuka, setiap orang bebas untuk sekadar menggunakan ataupun mengedit, menambah kemampuan program tersebut," kata dia.

Zulkifli menjelaskan pada kesempatan itu kepada 40 orang peserta yang berasal dari Bandar Lampung, Pringsewu, dan Kota Metro itu pihaknya menyosialisasikan penggunaan Linux sebagai open source sebanding dengan Microsoft Windows, Open Office sebagai pengganti program Microsoft Word dan pengenalan program Java sebagai alat untuk membangun program open source.

"Peserta hari ini terdiri dari berbagai kalangan, mahasiswa, dosen, guru, karyawan, pegawai pemerintahan. Sebagai trainers mereka mendapatkan sertifikat dari Kemenristek dan diharapkan dapat melakukan kegiatan pelatihan dan sosialisasi serupa di daerahnya masing-masing," ujarnya.(MG14/S-1)
Cetak Berita

Jumat, 10 Desember 2010

SEJARAH FILSAFAT MATEMATIK

Ari Ibnu Umar 11 Des 2010

1. Formalisme

Formalis seperti David Hilbert (1642 –1943) berpendapat bahwa matematika adalah tidak lebih atau tidak kurang sebagai bahasa matematika. Hal ini disederhanakan sebagai deretan permainan dengan rangkaian tanda –tanda lingistik, seperti huruf-huruf dalam alpabet Bahasa Inggeris. Bilangan dua ditandai oleh beberapa tanda seperti 2, II atau SS0. Pada saat kita membaca kadang-kadang kita memaknai bacaan secara matematika, tetapi sebaliknya istilah matematika tidak memiliki sebarang perluasan makna (Anglin, 1994). Formalis memandang matematika sebagai suatu permainan formal yang tak bermakna (meaningless) dengan tulisan pada kertas, yang mengikuti aturan (Ernest, 1991). Ada bermacam keberatan terhadap formalisme, antara lain; (1) formalis dalam memahami obyek matematika seperti lingkaran, sebagai sesuatu yang kongkrit, padahal tidak bergantung pada obyek fisik; (2) formalis tidak dapat menjamin permainan matematika itu konsisten. Keberatan tersebut dijawab formalis bahwa (1) lingkaran dan yang lainnya adalah obyek yang bersifat material dan (2) meskipun beberapa permainan itu tidak konsisten dan kadang-kadang trivial, tetapi yang lainnya tidak demikian (Anglin, 1994).

Menurut Ernest (1991) formalis memiliki dua dua tesis, yaitu

* Matematika dapat dinyatakan sebagai sistem formal yang tidak dapat ditafsirkan sebarangan, kebenaran matematika disajikan melalui teorema-teorema formal.
* Keamanan dari sistem formal ini dapat didemostrasikan dengan terbebasnya dari ketidak konsistenan

2. Intuisionisme
Intuisionisme seperti L.E.J. Brouwer (1882-1966), berpendapat bahwa matematika suatu kreasi akal budi manusia. Bilangan, seperti cerita bohong adalah hanya entitas mental, tidak akan ada apabila tidak ada akal budi manusia memikirkannya. Selanjutnya intuisionis menyatakan bahwa obyek segala sesuatu termasuk matematika, keberadaannya hanya terdapat pada pikiran kita, sedangkan secara eksternal dianggap tidak ada. Kebenaran pernyataan p tidak diperoleh melalui kaitan dengan obyek realitas, oleh karena itu intusionisme tidak menerima kebenaran logika bahwa yang benar itu p atau bukan p (Anglin, 1994).

KORUPTOR RAMPAS HAK ANAK BANHGSA UNTUK PINTAR

Pendidikan Lampost : Jum'at, 10 Desember 2010

BANDUNG (Lampost/Ant): Puluhan aktivis dari Front Perjuangan Rakyat (FPR) berunjuk rasa menuntut penuntasan berbagai kasus korupsi dan meminta pemerintah tidak tebang pilih dalam memberantas kasus itu.

"Koruptor telah merampas hak rakyat untuk sejahtera dan merampas hak anak bangsa untuk pintar. Pengabaian pemerintah terhadap korupsi adalah pelanggaran HAM," kata Koordinator Aksi Front Perjuangan Rakyat Andi Nurroni, di depan Gedung Sate, Kota Bandung, kemarin.

Menurut Nuroni, korupsi merupakan persoalan penting yang memiliki dampak signifikan terhadap masalah kesejahteraan maupun kebudayaan rakyat. Pada kesempatan itu para aktivis mendesak pemerintah dalam hal ini lembaga penegak hukum untuk menuntaskan kasus Bank Century, penggelapan pajak, serta penuntasan kasus-kasus besar yang masih terkatung-katung, seperti kasus BLBI, kasus Bappindo, dan kasus lainnya. "Pemerintah harus membuktikan kepada rakyat hasil perang terhadap korupsi," kata dia.

Dalam kesempatan itu, parta aktivis menyampaikan delapan butir tuntutannya, yakni usut tuntas korupsi di Indonesia, penegakan supremasi hukum, tolak revisi UU Ketenagakerjaan, jalankan reformasi agraria, hentikan komersialisasi pendidikan, menuntut jaminan lapangan pekerjaan bagi pemuda, peningkatan perlindungan TKI dan menuntut penghentian perampasan tanah upah dan tanah rakyat.

Aksi yang digelar di depan pintu gerbang kantor Gubernur Jawa Barat itu berlangsung sekitar satu jam, mulai pukul 11.00, di bawah pengamanan dari aparat kepolisian yang berjaga-jaga di sekitat pintu masuk kompleks perkantoran Pemprov dan DPRD Jabar itu. (S-1)

TEKNOLOGI INDONESIA DI POSISI TERBAWAH

Pendidikan Lampost : Jum'at, 10 Desember 2010

BANDAR LAMPUNG (Lampost): United Nations Development Programme (UNDP) menyatakan Indonesia menempati peringkat terbawah pencapaian teknologi, akibat minimnya riset yang berorientasi paten.

Demikian dikatakan Suprapto, ketua Tim Ahli Pengembangan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), pada Seminar Nasional Sains dan Matematika serta Aplikasinya di Universitas Lampung, Rabu, (9-12).

"Dalam hal pencapaian teknologi, Indonesia menempati peringkat 43 dari 46 negara di Asia. Dengan demikian, Indonesia dikatagorikan sebagai adapter oountry di bidang teknologi. Sementara itu, versi lain UNDP menyatakan Indonesia menempati peringkat 60 dari 72 negara di bidang pencapaian teknologi," kata dia.

Fakta ini, menurut Suprapto, menunjukkan Indonesia berada pada posisi satu tingkat di atas kelompok Afrika yang termarginalisasi.

Indonesia akan menjadi isolated country jika kurang mampu mengembangkan dan menhasilkan produk dengan teknologi sendiri.

Ia berpendapat kondisi itu terjadi karena peneliti kita masih menggunakan paradigma lama, yaitu hasil penelitian ditujukan untuk mengumpulkan cum dan menaikkan jabatan akademik.

Akibatnya sedikit sekali produk penelitian di Indonesia bermuara pada teknologi terapan dan menghasilkan paten yang dapat dimanfaatkan kalangan industri untuk disebarluaskan secara massal.

"Bahkan, kemampuan paten kita jauh tertinggal dibandingkan India dan Malaysia. Kemampuan kita hanya sepertiga dari kemampuan para peneliti di Malaysia dalam menghasilkan paten," kata dia.

Kepada para peserta seminar, Suprapto meminta agar paradigma peneliti di perguruan tinggi harus berubah. Penelitian harus berorientasi paten. "Selama ini yang terjadi sebaliknya, banyak paten di Indonesia yang terjadi secara kebetulan bukan by design," kata dia.

Kelemahan peneliti Indonesia, menurut dia, berada pada proses awal penelitian. Mereka cenderung melakukan penelitian terlebih dahulu, baru melihat potensi paten. Seharusnya setelah mendapatkan ide, peneliti harus melakukan searching dahulu, apakah idenya masih orisinil dan berpotensi paten atau tidak. (MG14/S-1)

Dalam seminar itu, Suprapto memaparkan berdasarkan data DP2M Dikti dalam enam tahun terakhir peneliti Indonesia hanya mampu menghasilkan 355 paten. Yakni 35 paten pada 2004, 20 paten (2005), 50 paten (2006,) 60 paten (2007), 80 paten (2008), dan 110 paten untuk 2009.

"Adanya paten tidak hanya memberikan keuntungan bagi peneliti, tetapi juga keuntungan bagi institusi. Karena jika paten tersebut memiliki potensi ekonomi dan diserap oleh dunia industri, paten itu akan mendatangkan royalti baik untuk peneliti maupun institusi," kata dia. (MG14/S-2)

INTERNASIONALISASI PENDIDIKAN PERLU DIKAJI

Pendidikan Lampost : Kamis, 9 Desember 2010

YOGYAKARTA (Lampost/Ant): Internasionalisasi pendidikan di Indonesia perlu dikaji pada konsep dan implikasinya, kata pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof. Dr. H.A.R. Tilaar.

"Dalam konsep, internasionalisasi pendidikan dirancang untuk bisa menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dalam dunia global, tetapi tanpa disadari program ini kemudian berubah menjadi komoditas bisnis," kata dia di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Selasa (7-12).

Menurut dia, pada lokakarya Education in a Global World: Continuity and Change yang merupakan rangkaian kegiatan Wisdom 2010, globalisasi telah memengaruhi sistem pendidikan di Indonesia. Salah satu bentuk gobalisasi di pendidikan adalah internasionalisasi.

"Namun, pembangunan pendidikan nasional Indonesia harus dikembalikan pada semangat konstitusi, UUD 1945. Pendidikan dalam semangat konstitusi berarti bebas dari kemiskinan, pengotak-ngotakan, dan totalitarianisme," kata dia.

Tilaar mengatakan dalam menghadapi persaingan global, identitas bangsa Indonesia harus terus dipelihara dan dikembangkan melalui sistem pendidikan nasional yang bergantung pada kekayaan budaya nasional.

"Dengan demikian, Indonesia melalui pendidikan nasional dapat memberikan kontribusi positif dalam perubahan global. Jadi, hal itu yang sebenarnya disebut pendidikan berkelas internasional," ujarnya.

Pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Syamsuni Arman, mengatakan pendidikan, khususnya dalam proses membangun negara, merupakan moderator dalam menghadapi kejutan gelombang persaingan global.

"Pendidikan adalah alat dan metode untuk menyebarluaskan pengetahuan, ilmu, dan teknologi kepada masyarakat secara luas," kata Syamsuni.

Pengamat pendidikan dari Universitas Riau, Amir Awaluddin, mengatakan dalam menghadapi tantangan globalisasi, pendidikan tinggi memegang peran utama.

Perguruan tinggi, menurut dia, tidak hanya berperan dalam menghasilkan lulusan berkualitas dalam hal akademik, tetapi juga menghasilkan lulusan yang memiliki penguasaan multibahasa dan memiliki pemahaman antarbudaya.

Ia mengatakan hal itu menjadi momentum yang tepat untuk menghasilkan lulusan dengan kualifikasi internasional yang bisa bersaing dengan lulusan dari berbagi universitas di seluruh belahan dunia. "Selain itu, lulusan perguruan tinggi Indonesia diharapkan juga bisa ikut berkontribusi secara aktif dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing bangsa," kata dia. (S-1)