Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Februari 2011

Peneliti Jepang Kunjungi Mangrove Center

Pendidikan Lampost : Rabu, 23 Februari

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Peneliti asal Jepang mengunjungi Mangrove Center Universitas Lampung di Kabupaten Lampung Timur. Ini merupakan bentuk kerja sama antara Unila dan Kiyoe University, Jepang.

Peneliti yang hadir terdiri dari tiga ahli, yakni Prof. Takahashi, Prof. Yamazaki, dan Prof. Yamada. Mereka mendampingi tujuh mahasiswa dari Kiyoe University.

Ketua Lembaga Penelitian Unila Admi Syarief kepada Lampung Post, Selasa (22-2), mengatakan mereka akan mengunjungi beberapa tempat di antaranya kawasan hutan lindung Way Kambas, Desa Budaya Wana, dan Mangrove Center.

"Tujuan utama kedatangan mereka melakukan riset tentang konservasi lingkungan dan penataan ekologi di kawasan Way Kambas dan Desa Marga Sari sebagai kawasan Mangrove Center. Selain itu mereka juga melakukan pengamatan kebudayaan Lampung di Desa Wana," kata dia.

Admi menyatakan di Desa Wana rombongan akan dikenalkan dengan pakaian adat, kesenian seperti tari-tarian dan beberapa upacara adat Lampung.

Ia menjelaskan Mangrove Center merupakan kerja sama Unila dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Timur. Pengelolaan hutan mangrove merupakan bentuk nyata pengbadian sivitas akademika terhadap masyarakat.

"Pengelolaan hutan mangrove dilakukan di Labuhanmaringgai dengan luas mencapai 700 ha. Bentuk kerja sama tersebut merupakan upaya Unila dalam penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat, sesuai Tridarma Perguruan Tinggi," kata dia.

Prof. Takahashi menjelaskan keberadaan hutan mangrove sangat berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem di laut, termasuk berbagai biota yang ada di dalamnya.

"Hutan mangrove juga berperan terhadap pencegahan bahaya tsunami jika itu terjadi. Untuk itu keberadaan hutan mangrove di daerah pinggiran pantai sangat penting bagi masyarakat pesisir," kata dia.

Ia mengatakan yang harus dikembangkan saat ini adalah membangun ekonomi masyarakat sekitarnya, baik dari segi pariwisata hingga perikanan dan usaha-usaha lainnya. MG14/S-2

Jumat, 28 Januari 2011

Penelitian Harus Berorientasi Masyarakat

Bandar Lampung Lampost : Jum'at, 28 Januari 2011


BANDAR LAMPUNG (Lampost): Rektor Universitas Lampung Sugeng P. Harianto menegaskan penelitian ilmiah harus berorientasi kepada persoalan di masyarakat.

Rektor menyatakan hal itu ketika membuka Seminar Hasil Pengabdian kepada Masyarakat di kampus setempat, Selasa (25-2). Acara yang berlangsung selama dua hari itu diselenggarakan Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Lampung (LPM Unila).

Menurut Rektor, sebaik apa pun riset tidak akan berarti jika hasil penelitian itu tidak bermanfaat bagi masyarakat. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab intelektual mengatasi persoalan di masyarakat.

"Pada dasarnya riset itu terbagi dua macam, riset dasar dan riset aplikasi. Jika riset dasar, tujuannya kepada memperdalam atau mempertajam ilmu pengetahuan. Namun, yang saya maksudkan di sini adalah riset aplikasi atau riset terapan," kata dia.

Rektor mengingatkan kredit poin seorang dosen diperoleh 25% dari penelitian dan 15% pengabdian. Namun, poin penelitian tidak akan diakui jika tidak disertai dengan pengabdian kepada masyarakat.

"Tujian penelitian dan pengabdian kepada masyarakat adalah pendampingan. Mendampingi masyarakat bagaimana, misalnya, menanam padi dengan benar, mengolah hasil pertanian dengan benar, atau mengatasi penyakit dengan benar," kata dia.

Rektor menyatakan jangan sampai hasil hasil riset tersebut hanya menjadi catatan ataupun laporan ilmiah yang hanya tersimpan di rak perpustakaan. Hasil riset harus diteruskan kepada masyarakat.

Ketua LPM Unila Budi Koestoro mengimbau seluruh dosen untuk menulis karya ilmiah tentang pengabdian masyarakat. "Jangan hanya itu-itu saja yang dibahas. Cari bahasan lain yang baru. Bahasan sama kok diterapkan di tempat lain. Coba bikin yang berbeda sesuai dengan kebutuhan desa," katanya.

Ketua Pelaksana Sugiman mengatakan seminar diisi dosen dari setiap fakultas yang ada di Universitas Lampung. MG14/D-2

Senin, 13 Desember 2010

DAMPAK PENELITIAN MASIH RENDAH

Pendidikan Lampost : Senin, 13 Desember 2010


BANDAR LAMPUNG (Lampost): Tidak adanya indikator yang jelas mengenai hasil penelitian menyebabkan dampak penelitian di Indonesia masih rendah. -----------------lead

Hasil penelitian seharusnya memberi dampak yang baik bagi perkembangan pengetahuan, ketergunaan bagi dunia industri maupun teknologi aplikatif yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas.

Ketua Lembaga Penelitian Universitas Lampung (Unila) Admi Syarif mengemukakan hal itu, Minggu (12-12). Ia dihubungi terkait dengan data United Nations Development Programme (UNDP) yang menyatakan Indonesia menempati peringkat terbawah di bidang pencapaian teknologi lantaran minimnya riset yang berorientasi paten.

"Lemahnya budaya meneliti, sarana prasarana yang tak memadai, serta kebijakan pemerintah yang kurang mendukung menyebabkan sebagian besar hasil penelitian kita tak berdampak," kata dia.

Apalagi hingga saat ini Direktorat Jenderal Pendidkan Tinggi belum memberikan indikator yang jelas tentang hasil penelitian itu sendiri.

"Seharusnya Dikti mengubah regulasi dengan memberikan indikator hasil penelitian yang jelas kepada para penerima dana penelitian. Sehingga hasil penelitian kita bermuara pada output yang jelas dan konkret," kata dia.

Saat ini, kata dia, penelitian di Indonesia masih bermuara pada pelaporan hasil penelitian dan publikasi jurnal ilmiah. Padahal yang terpenting bukan soal sudah terpubilkasi atau tidaknya suatu penelitian, melainkan apakah publikasi itu dibaca atau tidak. "Jika dibaca secara luas, berarti penelitian itu berdampak," kata dia.

Selain terbaca secara luas, Admi mengatakan penelitian yang memiliki dampak adalah penelitian yang bermuara pada hak paten, teknologi tepat guna, dan sejauh mana dunia industri menyerap atau menggunakan hasil penelitian tersebut.

"Di negara-negara maju, gelar profesor atau guru besar tidak lagi diberikan kepada mereka yang memiliki cum yang tinggi. Gelar akademik tertinggi itu diberikan berdasarkan indikator yang jelas, seperti berapa jumlah paten, berapa industri yang menggunakan hail risetnya atau seberapa banyak orang yang membaca jurnal yang ia tulis," kata dia.

Yang terjadi di Indonesia sebaliknya. Gelar tertinggi akademik tersebut diberikan hanya berdasarkan pencapaian cum yang tinggi. Oleh sebab itu, sebagian besar dosen di Indonesia meneliti hanya untuk menaikkan cum. Mereka belum berorientasi pada paten atau teknologi tepat guna.

"Inilah yang menyebabkan Indonesia tidak memiliki penguasaan teknologi yang spesifik dari hulu hingga hilir. Dengan demikian otomatis Indonesia termasuk menjadi negara dengan penguasaan teknologi yang rendah," kata dia.

Sebelumnya, Suprapto selaku ketua Tim Ahli Pengembangan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) memaparkan dalam hal pencapaian teknologi, Indonesia menempati peringkat ke-43 dari 46 negara di Asia. Dengan demikian, Indonesia dikategorikan sebagai negara pengadopsi teknologi. Versi UNDP menyatakan Indonesia menempati peringkat 60 dari 72 negara di bidang pencapaian teknologi. MG14/S-2

Jumat, 10 Desember 2010

TEKNOLOGI INDONESIA DI POSISI TERBAWAH

Pendidikan Lampost : Jum'at, 10 Desember 2010

BANDAR LAMPUNG (Lampost): United Nations Development Programme (UNDP) menyatakan Indonesia menempati peringkat terbawah pencapaian teknologi, akibat minimnya riset yang berorientasi paten.

Demikian dikatakan Suprapto, ketua Tim Ahli Pengembangan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), pada Seminar Nasional Sains dan Matematika serta Aplikasinya di Universitas Lampung, Rabu, (9-12).

"Dalam hal pencapaian teknologi, Indonesia menempati peringkat 43 dari 46 negara di Asia. Dengan demikian, Indonesia dikatagorikan sebagai adapter oountry di bidang teknologi. Sementara itu, versi lain UNDP menyatakan Indonesia menempati peringkat 60 dari 72 negara di bidang pencapaian teknologi," kata dia.

Fakta ini, menurut Suprapto, menunjukkan Indonesia berada pada posisi satu tingkat di atas kelompok Afrika yang termarginalisasi.

Indonesia akan menjadi isolated country jika kurang mampu mengembangkan dan menhasilkan produk dengan teknologi sendiri.

Ia berpendapat kondisi itu terjadi karena peneliti kita masih menggunakan paradigma lama, yaitu hasil penelitian ditujukan untuk mengumpulkan cum dan menaikkan jabatan akademik.

Akibatnya sedikit sekali produk penelitian di Indonesia bermuara pada teknologi terapan dan menghasilkan paten yang dapat dimanfaatkan kalangan industri untuk disebarluaskan secara massal.

"Bahkan, kemampuan paten kita jauh tertinggal dibandingkan India dan Malaysia. Kemampuan kita hanya sepertiga dari kemampuan para peneliti di Malaysia dalam menghasilkan paten," kata dia.

Kepada para peserta seminar, Suprapto meminta agar paradigma peneliti di perguruan tinggi harus berubah. Penelitian harus berorientasi paten. "Selama ini yang terjadi sebaliknya, banyak paten di Indonesia yang terjadi secara kebetulan bukan by design," kata dia.

Kelemahan peneliti Indonesia, menurut dia, berada pada proses awal penelitian. Mereka cenderung melakukan penelitian terlebih dahulu, baru melihat potensi paten. Seharusnya setelah mendapatkan ide, peneliti harus melakukan searching dahulu, apakah idenya masih orisinil dan berpotensi paten atau tidak. (MG14/S-1)

Dalam seminar itu, Suprapto memaparkan berdasarkan data DP2M Dikti dalam enam tahun terakhir peneliti Indonesia hanya mampu menghasilkan 355 paten. Yakni 35 paten pada 2004, 20 paten (2005), 50 paten (2006,) 60 paten (2007), 80 paten (2008), dan 110 paten untuk 2009.

"Adanya paten tidak hanya memberikan keuntungan bagi peneliti, tetapi juga keuntungan bagi institusi. Karena jika paten tersebut memiliki potensi ekonomi dan diserap oleh dunia industri, paten itu akan mendatangkan royalti baik untuk peneliti maupun institusi," kata dia. (MG14/S-2)

PENELITIAN MIPA HARUS APLIKATIF

Pendidikan Lampost : Kamis, 9 Desember 2010

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Penelitian di bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA) harus kembali ke hilir dan dapat diaplikasikan di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung Sutyarso, di sela-sela kegiatan Seminar Nasinal Sains dan Matematika serta Aplikasinya, di kampus Unila, Rabu (8-12).

"Hasil penelitian dosen-dosen ilmu murni atau matematika dan ilmu pengetahuan alam hingga saat ini belum bersifat aplikatif," kata Sutyarso.

Menurut dia, penelitian ilmu murni saat ini masih berkutat pada pengembangan ilmu pengetahuan saja, manfaatnya juga masih lebih dirasakan oleh penelitinya.

"Tujuan penelitian sains di Indonesia masih untuk pengembangan ilmu yang bersangkutan, manfaatnya juga baru dirasakan oleh si ilmuwan ataupun ilmuwan lainnya, baik secara akademis maupun finansial,” kata dia.

Padahal, ia menambahkan, seharusnya hasil penelitian ilmu murni kembali ke hilir, tidak lagi bersifat teori, tetapi aplikatif dan mampu menjawab permasalahan di masyarakat. Lebih baik lagi jika dapat mendukung potensi daerah yang bersangkutan.

"Contohnya di Lampung yang potensial untuk komoditas, singkong, pisang jagung dan lain sebagainya. Penelitian kita seharusnya fokus ke arah sana. Jika fokus, potensi yang dimiliki Lampung pasti akan berkembang," ujarnya.

Namun, Sutyarso mengingatkan untuk mewujudkan penelitian yang aplikatif baik peneliti maupun perguruan tinggi tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus ada kerja sama tiga pihak, yakni pemerintah, dunia industri, dan kalangan perguruan tinggi.

"Pemerintah daerahlah yang memberikan payung hukum kerja sama dan menetapkan potensi daerah mana yang akan dikembangkan, dunia industri memberikan dana yang dibutuhkan, sementara kalangan perguruan tinggi mengerahkan kepakaran yang dimilikinya," kata dia.

Sutyarso juga menyampaikan FMIPA Unila menggelar kegiatan Seminar Nasional Sains dan Matematika serta Aplikasinya tahun 2010 (SN SMP 2010) selama dua hari ini (8—9 Desember). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian dies natalis ke-15 FMIPA Unila.

Seminar tahun ini merupakan yang kedua, mengikuti keberhasilan seminar nasional pertama yang dilaksanakan tahun 2009 yang lalu.

Seminar Nasional Sains MIPA dan Aplikasinya tahun 2010 (SN SMAP 2010) ini mengambil tema Membangun jejaring pengembang dan pengguna sains dan matematika. Sesuai dengan lingkup bidang ilmu sains MIPA, dalam seminar ini akan disajikan lebih dari 100 makalah yang berkaitan dengan aplikasi ilmu Biologi, Fisika, Kimia, dan Matematika dalam berbagai bidang. (MG14/S-1)