Utama Lampost : Minggu, 13 Februari 2011
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Duka cita mendalam menyelimuti keluarga besar Yayasan Perguruan Al Kautsar Lampung. Jumat (11-2), sekitar pukul 11.45, Ketua Yayasan Perguruan Al Kautsar, Prof. Dr. Ir. Harris Hasyim, M.Sc. dipanggil Yang Mahakuasa.
"Sangat mengejutkan karena sebelumnya tak ada tanda-tanda beliau akan pergi secepat itu," kata Wagiso, seorang pengurus Yayasan Al Kautsar, Sabtu (12-2).
Padahal, kata Wagiso, sore sebelumnya ia dan Harris masih bersama-sama. Bahkan, Harris masih sempat mengajar di Pascasarjana FP Unila. Sekitar pukul 17.00, Wagiso mengantarkan Harris pulang ke rumahnya dan tiba di rumah sekitar pukul 18.00. Selama itu mereka berbincang-bincang sebagaimana biasanya.
Sekitar pukul 23.00, tiba-tiba Harris merasa dadanya sesak, lalu dibawa keluarganya ke Rumah Sakit Graha Medika Husada, dan belum sempat dapat penanganan.
"Tahu-tahu semalam saya mendapat kabar, sekitar pukul 11.45 beliau meninggal dunia, saya benar-benar kaget," kata Wagiso.
Harris Hasyim meninggalkan satu istri, Idalina, dan anak semata wayang, Rully Ardiansyah.
Semasa hidupnya, Harris menduduki sejumlah jabatan penting. Bermula sebagai staf pengajar di Fakultas Pertanian Unila hingga menjadi Ketua Bappeda Provinsi Lampung dalam kurun yang cukup lama, dan berbagai jabatan lainnya seperti Ketua Yayasan Pendidikan Saburai, dan Ketua Yayasan Al Kautsar.
Di tengah kesibukan yang sangat padat, Harris tetap komitmen mengurus Yayasan Al Kautsar. Meskipun belakangan banyak di Jakarta karena menjadi salah seorang anggota proyek Jembatan Selat Sunda (JSS), Harris secara intens terus mengurusi Al Kautsar.
Wajar jika dia perhatian pada Al Kautsar begitu besar karena merupakan salah seorang yang membidani kelahiran perguruan itu. Ia juga memiliki andil signifikan dalam membesarkan dan memajukan institusi itu sampai sekarang.
"Kami kehilangan sosok dengan semangat luar biasa. Kami yang muda saja tak terkejar," kata Wagiso. Di mata Wagiso dan rekan-rekannya, Harris memiliki visi jauh ke depan dan berupaya profesional dalam berbagai amanah yang dipercayakan padanya.
Bagi Harris, Al Kautsar bukanlah sekadar sebuah pendidikan dengan misi pendidikan secara umum. Al Kautsar adalah wadah melahirkan generasi yang memadukan secara imbang ilmu pengetahuan dan ketakwaan. Obsesi besar Harris dan pengurus Al Kautsar dilandaskan pada satu hal: mencapai tujuan mulia melalui Al Kautsar adalah media mengabdikan hidup dan ladang ibadah kepada Allah. Selamat jalan Pak Harris. HESMA ERYANI/R-3
Tampilkan postingan dengan label Obituarium. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obituarium. Tampilkan semua postingan
Selasa, 15 Februari 2011
Sabtu, 11 Desember 2010
Adius Semenguk Telah Berpulang
Bandar lampung Lampost : Minggu, 12 Desember 2010
OBITUARIUM:
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila) Adius Semenguk (53) meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM), Sabtu (11-12), sekitar pukul 11.30.
Dosen yang telah mengabdi selama 29 tahun 8 bulan di Unila itu meninggalkan satu istri dan tiga anak. Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di Jalan Pulau Damar, Sukarame, dan dikebumikan di Tempat Permakaman Umum (TPU) Palapa, Tanjungkarang Pusat, tak jauh dari kediaman lamanya.
Adius Semenguk menyelesaikan program Pascasarjana Magister Hukum di Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur. Bagi banyak kalangan mahasiswa di Fakultas Hukum Unila, Adius Semenguk adalah sosok pendidik yang dikenal dekat dengan mahasiswa. "Beliau figur dosen yang baik, ramah, dan supel dengan mahasiswa," kata Eka Pratiwi, pengajar di STIH Lampung Selatan yang juga mantan mahasiswinya.
Adius Semenguk lahir di Blambangan Umpu, Way Kanan, 1 September 1956. Ratusan mahasiswa Fakultas Hukum Unila, staf pengajar, dan jajaran rektorat Universitas Lampung menghadiri pemakaman.
Hadir pula di rumah duka Rektor Unila Sugeng P. Harianto, dan beberapa rekan dosen, antara lain Armen Yasir, Sudirman Mersa, Sunarto, dan Yuswanto. (JUN/K-2)
OBITUARIUM:
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila) Adius Semenguk (53) meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM), Sabtu (11-12), sekitar pukul 11.30.
Dosen yang telah mengabdi selama 29 tahun 8 bulan di Unila itu meninggalkan satu istri dan tiga anak. Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di Jalan Pulau Damar, Sukarame, dan dikebumikan di Tempat Permakaman Umum (TPU) Palapa, Tanjungkarang Pusat, tak jauh dari kediaman lamanya.
Adius Semenguk menyelesaikan program Pascasarjana Magister Hukum di Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur. Bagi banyak kalangan mahasiswa di Fakultas Hukum Unila, Adius Semenguk adalah sosok pendidik yang dikenal dekat dengan mahasiswa. "Beliau figur dosen yang baik, ramah, dan supel dengan mahasiswa," kata Eka Pratiwi, pengajar di STIH Lampung Selatan yang juga mantan mahasiswinya.
Adius Semenguk lahir di Blambangan Umpu, Way Kanan, 1 September 1956. Ratusan mahasiswa Fakultas Hukum Unila, staf pengajar, dan jajaran rektorat Universitas Lampung menghadiri pemakaman.
Hadir pula di rumah duka Rektor Unila Sugeng P. Harianto, dan beberapa rekan dosen, antara lain Armen Yasir, Sudirman Mersa, Sunarto, dan Yuswanto. (JUN/K-2)
Langganan:
Komentar (Atom)