Tampilkan postingan dengan label IAIN Rd. Intan Lampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IAIN Rd. Intan Lampung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 November 2011

Puluhan Mahasiswa Demo IAIN Raden Intan



BANDAR LAMPUNG (Lampost): Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMMI) Komisariat IAIN Raden Intan berunjuk rasa di depan perpustakaan kampus tersebut, Rabu (9-11). Mereka menuntut dihapuskannya pungutan liar di Fakultas Syariah dan Tarbiah.

Arif, kordinator aksi, mengatakan hingga kini tercatat beberapa kasus yang terjadi di kampus IAIN yang terletak di Jalan Letkol H. Endro Suratmin, Sukarame, Bandar Lampung.

"Kasus tersebut antara lain pungutuan liar di Fakultas Syariah dan Tarbiah, adanya mahasiswa yang diwisuda tanpa menyelesaikan praktek pengamalan ibadah yang menjadi salah satu syarat kelulusan," kata Arif.

Alumnus Fakultas Syariah kampus negeri berbasis Islam tersebut menambahkan para mahasiswa merasa harus bertanggung jawab dengan kondisi itu. "Saya dan rekan-rekan merasa harus melawan kondisi yang tidak benar ini. Inilah landasan kami melakukan unjuk rasa," ujarnya.

Dalam orasinya, Arif menuntut oknum yang melanggar peraturan IAIN dipecat, jangan ada lagi jual-beli nilai dan ijazah, audit anggaran, dan usut tuntas kongkalikong anggaran antara STAI Tulangbawang dan pihak IAIN Raden Intan.

Aksi yang berlangsung dari pukul 09.30 hingga pukul 10.00 itu cukup aman. AKP Ariefaldi Warganegara, kapolsek Sukarame, terlihat memantau jalannya demonstrasi tersebut.

Ariefaldi mengatakan aksi berlangsung singkat dan damai. "Mereka menuntut bertemu dengan rektor, namun rektor sedang tidak di tempat, makanya aksi berlangsung singkat," kata Ariefaldi.

Pihak kepolisian telah menerima permohonan aksi oleh para demonstran, tadi malam di Polresta Bandar Lampung. "Tadi malam mereka lapor ke polresta, pihak kami (Polsek Sukarame, red) baru dikabari pagi ini, sehingga kita mengawal jalannya demonstrasi ini," ujar Ariefaldi. (MG7/K-1)

Sabtu, 10 September 2011

Belajar di Kampus IAIN Raden Intan



TEMAN-TEMAN sudah pernah dengar IAIN Raden Intan kan? Siapa yang sudah pernah ke sana? Kampusnya luas sekali, lo. Kami M. Sauqi Al Ghifarie, Nur Tasya Febriyanti, Tarisa Ulviana, dan Destiyani (SDN 2 Talang, Bandar Lampung) berkunjung ke IAIN, Kamis (8-8). Kami bertanya banyak hal kepada Rektor IAIN Raden Intan Lampung Mohammad Mukri. Mulai dari sejarah berdirinya IAIN, sampai dengan tugas-tugasnya sebagai rektor. Teman-teman ingin tahu lebih banyak tentang IAIN kan? Baca hasil wawancara kami ini sampai selesai, ya.

Pak, IAIN itu apa kepanjangannya apa?

Ya, IAIN itu kepanjangannya Institut Agama Islam Negeri.


Kenapa IAIN ini dinamakan IAIN Raden Intan?

Karena para pendiri IAIN ini ingin mengabadikan tokoh yang punya jasa besar terhadap Provinsi Lampung, makanya diberi nama Raden Intan. Karena Raden Intan adalah pahlawan Lampung yang juga pahlawan nasional. Nama Raden Intan diabadikan menjadi nama perguruan tinggi ini.


Sejak kapan IAIN didirikan, Pak?

Sejak 27 Oktober 1964. Jadi IAIN ini sudah berdiri sejak 47 tahun lalu.

Kenapa IAIN didirikan di Lampung?
IAIN ini kan institut agama Islam, jadi ilmu pengetahuan dan disiplin-disiplin ilmunya berkaitan dengan agama Islam. Nah, kenapa IAIN didirikan di Lampung? Lampung ini mayoritas masyarakatnya muslim, IAIN ini didirikan untuk menampung putra-putri orang Islam untuk kuliah di perguruan tinggi negeri. IAIN ini tidak hanya di Lampung lo, hampir di seluruh provinsi di Indonesia ada IAIN, termasuk di Papua sana. Ke depan, Bapak juga ingin IAIN ini menjadi pusat kajian Islam. Jadi, membahas semua persoalan, baik di bidang politik, ekonomi, pedagangan, pendidikan, dan lain sebagainya dari sudut pandang Islam.

Mahasiswanya berasal dari mana saja, Pak?


Dari seluruh pelosok Lampung. Dari setiap kabupaten/kota di Lampung ini ada yang mejadi mahasiswa di IAIN. Mahasiswanya ada juga yang dari Bengkulu, Sumatera Selatan, Banten, Jawa, Ternate, Singapura, dan Thailand. Jadi yang kuliah di sini tidak hanya dari dalam negeri, juga ada yang dari luar negeri. Yang pasti sekarang dari Thailand dan Malaysia.


Wah, IAIN hebat juga ya, Pak. Bahkan mahasiswanya ada yang dari Malaysia dan Thailand. Kalau jumlah mahasiswa keseluruhan berapa, Pak?

Sekitar 8.000 orang. Di sini ada program sarjana (S-1) dan ada juga program master (S-2). Insya Allah mulai 2012 mulai membuka program S-3 atau program doktor.


Fakultasnya apa saja?

Ada empat fakultas, yaitu Tarbiyah, Syariah, Dakwan, dan Ushuluddin.

Pak, saya bercita-cita ingin menjadi gubernur. Kalau ingin menjadi gubernur itu, bisa kuliah di sini enggak, Pak?
Oh boleh sekali, siapa namanya? Sauqi ya. Sauqi, nanti saya kasih beasiswa untuk kuliah di sini. Di sini banyak mahasiswa yang mendapat beasiswa dari Kementerian Agama Islam. Ada sekitar 800 mahasiswa. Juga ada beasiswa dari Bank Indonesia, beasiswa Supersemar, Gudang Garam, dan dalam waktu dekat ini juga ada bebasiswa dari Bank Syariah Mandiri. Selain itu, di IAIN ini juga ada program bidik misi. Program bidik misi itu adalah program beasiswa yang dibiayai mulai dari masuk sampai selesai kuliah. Tahun pertama kemarin ada 60 mahasiswa yang mendapatkan beasiswa bidik misi ini, tahun kedua ini juga ada 60 mahasiswa. Beberapa mahasiswa yang mendapat beasiswa kita tempatkan di rumah susun mahasiswa (rusunawa) yang terdapat di dalam lingkungan kampus. Termasuk 17 mahasiswa asal Malaysia dan Thailand yang kuliah di IAIN, mereka tinggal di rusunawa. Ada sekitar 200 mahasiswa yang tinggal di rusunawa. Dialognya setiap hari menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Jadi, kalau adik-adik mau belajar bahasa Arab, main aja ke rusunawa IAIN, hehehe.

Nah, kalau saya cita-citanya ingin menjadi dokter, Pak. Saya bisa kuliah di sini enggak, Pak?

Kalau dokter di sini belum ada fakultasnya. Insya Allah nanti IAIN akan berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), seperti UIN Jakarta. Kalau sudah menjadi UIN, kita baru bisa punya Fakultas Kedokteran. Siapa namanya? Tarisa, ya? Insya Allah nanti saat Tarisa lulus SMA, sudah ada Fakultas Kedokteran di IAIN ini.

Oh iya, Pak, mahasiswa IAIN masih melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) enggak?

Masih ada. IAIN masih ada KKN. Kemarin 810 mahasiswa kita melaksanakan KKN di Way Kanan. Untuk tahun ini KKN-nya mengambil KKN tematik. Jadi mahasiswa IAIN itu datang ke Way Kanan dan tinggal di sana sekitar 45 hari. Kegiatannya mengajarkan masyarakat di sana, baik anak-anak maupun orang dewasa tentang baca tulis Alquran. Kami ingin memberantas buta huruf aksara Alquran di daerah itu. Dalam mengajarkan baca tulis Alquran ini, mahasiswa IAIN menggunakan metode tartil, sangat cepat. Orang dewasa yang tidak bisa baca tulis Alquran, dalam 20 hari bisa membaca Alquran. Alhamdulillah, anak-anak yang awalnya tidak bisa baca tulis Alquran, dalam waktu satu bulan bisa baca tulis Alquran.

Kenapa sih Pak mahasiswa harus melaksanakan KKN?

Sebab, selama di kampus mahasiswa belajar tentang teori-teori. Nah, sebelum mereka selesai kuliah dan kembali ke masyarakat, mereka praktek dulu di masyarakat. Makanya namanya kuliah kerja nyara. Bukan teori lagi, tapi bagaimana mereka mempraktekkan ilmu-ilmu yang selama ini mereka dapatkan di bangku kuliah. Mulai dari ceramah, kepemimpinan, memberi pidato, mengaji, dan mendorong masyarakat untuk membangun. Sebab itulah, KKN sangat diperlukan di perguruan tinggi.

Bapak, sekarang kami ingin tahu nih, Pak, apa saja tugas-tugas Bapak sebagai rektor IAIN?

Banyak sekali, hahaha. Mulai dari perencanaan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan di kampus ini, seperti penerimaan mahasiswa, penerimaan pegawai, gaji pegawai. Lalu, bagaimana kampus ini selalu asri, nyaman, sehingga dosen dan mahasiswanya betah belajar di kampus ini. Bapak masuk mulai pukul 07.30, sampai sore di kampus ini, mengurusi kampus ini agar maju, maju, dan maju.


Ada suka dukanya enggak Pak menjadi rektor?

Tentu saja ada. Suka dukanya banyaklah. Sederhananya begini, kalau ada 10 orang yang masuk ke ruang rektor, dipastikan kesepuluhnya itu membawa masalah, mulai dari masalah dosen, mahasiswa, macam-macamlah masalahnya. Senangnya kalau ada mahssiswa berprestasi dan menjadi orang baik. Bapak juga senang kalau program-program di kampus ini berhasil semua.



Apa pesan-pesan Bapak untuk pelajar Lampung?

Saya pesan kepada kalian, karena sekarang ini eranya sudah maju, tidak ada pilihan selain harus belajar, belajar, dan belajar. Baca, baca, dan baca. Tentu juga harus taat kepada orang tua. Beribadah kepada Allah. Jadi, taat kepada Allah dan kedua orang tua.

Terima kasih ya, Pak. Nasihat Bapak akan kami laksanakan. Semoga hasil wawancara ini bermanfaat ya, Pak.

Iya, sama-sama, bapak juga sangat senang diwawancarai kalian. (M-1)




Mahasiswa Malaysia dan Thailand Belajar di IAIN


KAMI tidak hanya mewawancarai Rektor IAIN Raden Intan Lampung Mohammad Mukri, tetapi kami juga menggali pengalaman kakak-kakak mahasiswa asal Malaysia dan Thailand. Ketika kami mewawancarai Pak Mukri, dia memberitahu bahwa di IAIN ini ada 17 mahasiswa yang berasal dari Malaysia dan Thailand. Wah, kami surprise juga teman-teman. Ternyata, ada orang luar negeri yang tertarik belajar di kampus ini. Berarti, IAIN Raden Intan ini sudah menjadi salah satu perguruan tinggi pilihan. Tidak hanya diminati oleh orang-orang dalam negeri, tetapi juga orang-orang di luar negeri, contohnya kakak-kakak dari Malaysia dan Thailand ini.

Tentunya teman-teman penasaran kan mendengar pengalaman kami mewawancarai mahasiswa asal Malaysia dan Thailand ini. Kamis siang (8-8), kami menemui mereka di rumah susun mahasiswa, yaitu Kakak Muhammad Asrul, Siti Rahayu, Azizah (Malaysia) dan Rusmina (Thailand).

Awalnya kami grogi mau bertanya apa sama mereka. Soalnya kami enggak bisa bahasanya Upin dan Ipin alias bahasa Malaysia. Hihihi, mau nanya apa, ya? “Hayo, mau tanya apa, Adik-adik,” kata Kak Asrul. Hmmm, kok tidak seperti bahasanya Upin dan Ipin itu ya. Walaupun ada sedikit logat Melayu, tapi Kak Asrul sudah sangat pintar berbahasa Indonesia. “Kak Asrul sudah berapa lama belajar di sini,” tanya kami. “Ini sudah masuk semester ketiga kakak di sini. Makanya ini bahasa Indonesia Kak Asrul sudah sangat fasih (mahir, red),” kata Kak Asrul. Oh, pantas aja tidak mirip bahasanya Upin dan Ipin lagi, hihihi.

Bersama mahasiswa dari Canada.



Menurut Kak Asrul, dia bersama Kak Siti Rahayu, Aziza, Rusmina dan 13 mahasiswa lainnya berasal dari perguruan tinggi yang sama di Kelantan, Malaysia. Tapi, di sana mereka hanya sampai lulusan D-3. “Rektor di perguruan tinggi di Kelantan bekerja sama dengan IAIN Raden Intan ini. Kami ditawarkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan sarjana (S-1) di sini. Saya langsung mengajukan syarat-syarat yang diminta, dan Alhamdulillah saya diterima,” kata Kak Asrul. Wah, kak Asrul pasti orangnya pintar, karena untuk mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama Indonesia harus mahasiswa yang pintar dan cerdas. Menurut Kak Asrul, selama di Lampung, dia sudah pernah kerja lapangan di Radio Republik Indonesia (RRI) wilayah Lampung. Sedangkan Kak Siti Rahayu, Aziza, dan Rusmina sudah melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) di Way Kanan.

Sekarang kami bertanya kepada Kak Azizah nih. “Betah enggak sih Kak tinggal di Indonesia,” tanya kami. “Oh betah sekali,” kata Kak Azizah. Menurut Kak Azizah, mahasiswa di IAIN sangat ramah. Sehingga mereka tidak mengalami kesulitan dalam berteman. Selain itu, makanan pokok Indonesia dengan makanan pokok Malaysia tidak terlalu berbeda, yaitu nasi, lauk, dan sayuran. Di waktu-waktu luang, mereka memanfaatkan waktu jalan-jalan ke toko buku, mal, dan pasar-pasar di Tanjungkarang. Iya dong, Kak. Jalan-jalan keliling Lampung. Banyak tempat wisata dan lokasi-lokasi yang asyik lo di Lampung ini. Nanti, kalau Kakak sudah pulang ke Malaysia, kan bisa cerita ke teman-teman dan orang tua tentang keindahan Lampung.

Oh iya, kemarin kan kita baru saja merayakan Idulfitri. Bagaimana ya dengan kakak-kakak ini, mereka pulang kampung ke Malaysia enggak, ya? Menurut Kak Siti Rahayu, karena jarak Lampung dengan Malaysia cukup jauh, mereka terpaksa Lebaran di Lampung. “Ya, dananya cukup besar untuk balik ke Malaysia, jadi Lebaran di sini saja,” kata Kak Siti dan Kak Asrul. Tuh teman-teman, kakak-kakak ini patut kita acungi jempol. Mereka benar-benar berniat belajar dan menyelesaikan kuliah di sini. Jadi, harus kuat berpisah jauh dari orang tua, dan rela merayakan Idulfitri di negeri kita. Semoga sukses ya Kak! Amin. (M-1)

Sumber : Lampost Minggu 11 September 2011

Jumat, 08 April 2011

FD IAIN: 3 Calon Dekan Debat Kandidat

Pendidikan Lampost : Rabu, 6 April 2011



BANDAR LAMPUNG (Lampost): Tiga kandidat dekan Fakultas Dakwah IAIN Raden Intan Lampung mengikuti debat kandidat yang berlangsung seru di halaman fakultas tersebut, Selasa (5-4).

Ketiga calon, yakni M.A. Achlami H.S., M. Nasor, dan Abdul Syukur.

Berbeda dengan penyampaian visi-misi di fakultas lain, debat kandidat ini berlangsung seru. Selain dihadiri para panelis, juga mahasiswa, dosen, dan karyawan.

Debat kandidat itu menghadirkan tiga panelis masing-masing Satria Bangsawan (Dekan FE Unila), Arsyad Soby Kesuma (Dekan Fakultas Ushuludin IAIN Raden Intan), dan Saifudin.

Achlami dalam visi-misinya mengatakan ingin menjadikan Fakultas Dakwah sebagai pusat pengkajian dan pengembangan ilmu dakwah menuju perubahan yang komprehensif, inovatif, dan kompetitif. Beberapa program prioritas yang akan dilaksanakannya, peningkatan mutu proses pembelajaran, salah satunya dengan meningkatkan etos kerja dan disiplin para dosen dan tenaga administrasi kependidikan.

"Saya dengan dukungan seluruh sivitas akademika juga akan berupaya meningkatkan akreditasi semua program studi yang ada dan mengembangkan program studi baru," kata dia.

Sementara itu, Nasor mengatakan salah satu program kerjanya mengoptimalisasikan forum ilmiah bagi dosen, karyawan, dan mahasiswa melalui diskusi, seminar, pelatihan, studi banding, sarasehan, kursus dan lainnya.

Sedangkan Abdul Syukur mengatakan ada tiga dasar yang menjadikannya maju dalam pemilihan kali ini, yakni melanjutkan hasil pencapaian 2007-2011, mencari solusi untuk mengatasi berbagai problem, dan meningkatkan mutu program 2011—2015.

Sementara itu, Ketua Panitia Debat Tontowi mengatakan kegiatan ini bertujuan memberikan kesempatan kepada senat untuk melihat dan menguji visi misi serta program kerja para kandidat sehingga saat pemilihan digelar pada Kamis (7-4) mendatang anggota senat bisa memilih calon terbaik. (UNI/S-1)

Rabu, 06 April 2011

Kompetensi Alumni Fakultas Ushuluddin

Opini Lampost : Rabu, 6 April 2011


Fachruddin
A
lumnus Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan, pensiunan PNS



Semakin minimnya minat para calon mahasiswa dan lapangan kerja yang tersedia bagi lulusan Fakultas Ushuluddin menjadi tantangan berat yang harus dijawab para alumni dan pejabat di lingkungan IAIN Raden Intan. Hal tersebut mengemuka dalam temu alumni Fakultas Ushuluddin (FU) IAIN Raden Intan (Lampung Post, 28 Maret 2011). Menurut saya, hal ini terjadi karena kelalaian pengelolaan Fakultas Ushuluddin, dan tentu saja kerugian bagi kita semua.

Mengingat keberhasilan yang pernah dicapai oleh Fakultas Ushuluddin era 80-an untuk mempersiapkan alumninya yang mampu mengemban amanah untuk menjadi ujung tombak dalam menyosialisasikan Program Nasional Keluarga Berencana. Amanah ini berhasil dilaksanakan oleh para alumni Ushuluddin. Dengan menggunakan bahasa agama, banyak masyarakat yang semula masih menolak, akhirnya mereka berkenan menerima dan bahkan menjadi akseptor Program Keluarga Berencana. Pada saat itu Fakultas Ushuluddin sangat diminati para calon mahasiswa.

Sayang kepercayaan pemerintah dan keberhasilan alumni dalam berkomunikasi dengan masyarakat ini tidak segera dikembangkan melalui pengembangan kurikulum dan berbagai kerja sama dengan pemerintah ataupun swasta. Pengelola Fakultas Ushuluddin dan pejabat pembina yang berkompeten tidak mengantisipasi berbagai persoalan yang bakal dihadapi bangsa ini, serta memperluas lapangan kerja bagi para alumninya.

Seyogianya kita belajar dari sejarah munculnya ilmu ushuluddin itu sendiri. Bukankah ilmu ini justru muncul sarat dilatarbelakangi gejolak masyarakat serta perbedaan pemikiran politik yang demikian meruncing. Kemunculan ilmu ushuluddin justru diakibatkan berbagai persoalan kontemporer pada saat itu. Ilmu ushuluddin bukan membicarakan sejarah masa lampau, melainkan sangat diwarnai oleh persoalan kekinian. Kalau alumni Ushuluddin kini kurang mendapat tempat, berarti salah satu penyebabnya karena ilmu ini sedang meninggalkan jati dirinya. Yaitu kebersediaan mengakomodasi permasalahan kontemporer.

Kajian ilmu ushuluddin sejatinya adalah kajian kekinian. Seyogianya kurikulum dan silabus di Fakultas Ushuluddin mengkaji persoalan persoalan krusial yang kini sedang dihadapi bangsa ini. Setidaknya ada tiga masalah yang sedang dihadapi bangsa ini, dan dapat melibatkan alumni ushuluddin dalam penyelesaiannya, yaitu pemecahan masalah kemiskinan, anarkisme masyarakat, dan masalah terorisme di Indonesia. Tiga masalah ini kini semakin kompleks adanya, dan harus diantisipasi mulai dari akar rumput. Adalah menjadi pertanyaan kita semua, mengapa kemiskinan, kekerasan atau anarkisme dan terorisme itu tumbuh subur justru di kalangan komunitas penganut agama Islam?

Prodi yang ada di Fakultas ushuluddin dituntut kemampuannya untuk menjawab pertanyaan tersebut, dan para alumni ushuluddin dituntut memiliki kompetensi dalam penyelesaiannya. Karena ini semua merupakan bahan kajian dan studi di Fakultas Ushuluddin. Prodi yang dikembangkan di Fakultas Ushuluddin antara lain Akidah dan Filsafat, Tafsir Hadits, dan Politik Islam, serta Perbandingan Agama. Prodi yang ada dituntut untuk memiliki bahasan yang lebih mendalam terhadap ketiga masalah yang sedang dihadapi bangsa ini.

Masalah kemiskinan ternyata bukan hanya masalah keterampilan bekerja belaka, melainkan justru ada masalah kultural yang menjerat masyarakat sehingga tetap miskin, kemiskinan ini hanya akan dapat dituntaskan setelah masyarakat merubah cara mereka berpikir. Cara bermasyarakat, cara memandang kehidupan ini, dan juga mengubah cara mereka memahami dan menganut agama. Membuat kita semua menjadi terkesima, ternyata kekerasan yang anarki terhadap berbagai masalah sekarang telah membawa lambang-lambang agama, walaupun agama tidak mengajarkan anarki dan kekerasan dalam bentuk apa pun. Apalagi gerakan terorisme di Indonesia, menunjukkan bukti yang cukup dipercaya bahwa ada komunitas Islam yang sangat rentan untuk dimanfaatkan oleh aktor intelektual gerakan ini. Ini semua membutuhkan pembahasan yang serius dan mendalam.

Semua masalah ini dapat dikupas melalui berbagai mata kuliah di Fakultas Ushuluddin. Mata kuliah tertentu sangat berpeluang membicarakan masalah ini, karena merupakan bagian dari materi kuliah yang harus disampaikan. Sedag mata kuliah yang lain dapat membahasnya secara terintegrasi. Itu semua dapat dilaksanakan dengan kerja keras para guru besar dan dosen pengampu.

Para guru besar dan dosen pengampu diharapkan siap mengakomodasikan permasalah kontemporer dimaksud. Fakultas Ushuluddin memiliki kemampuan akademis dan metodologis untuk membekali mahasiswa untuk memiliki wawasan dan keterampilan atau power untuk memengaruhi masyarakat terkait dengan permasalahan besar yang dihadapi bangsa ini. Sehingga tugas-tugas kepolisian dan Kementerian Agama akan terselesaikan.

Kalau saja kompetensi alumni Ushuluddin ini tersosialisasikan dengan baik, dan dilakukan terobosan kerja sama, mulai dari penyusunan kurikulum hingga pemanfatan tenaga alumni, tidak tertutup kemungkinan betapa banyaknya alumni Ushuluddin yang dimanfaatkan kepolisian Indonesia untuk memperkuat aparat kepolisian dalam melakukan bimbingan masyarakat sehingga kejahatan, kekerasan, anrki, bahkan gerakan terorisme akan terantisipasi melalui pembinaan masyarakat secara rutin.

Kerja sama juga dapat dilakukan dengan Kementerian Agama untuk mempersiapkan tenaga penyuluham lapangan yang ditempatkan di desa desa di seluruh wilayah Indonesia. Untuk membangun kembali karakter bangsa yang kini terancam ambruk dan bahkan telah berubah menjadi penyebab utama kemiskinan masyarakat dan disintegrasi bangsa.

Alumni Ushuluddin pernah menunjukkan prestasinya untuk menjadi vocal poin dalam menjelaskan Program Nasional Kelaurga Berencana, itu merupakan pengalaman dan modal yang sangat berharga untuk meyakinkan berbagai pihak akan kompetensi yang dimiliki untuk mencari penyelesaian berbagai masalah krusial yang kini dihadapi bangsa Indonesia. Wallahualam bissawab.

Senin, 28 Maret 2011

TEMU ALUMNI:Minimnya Peminat Tantangan FU IAIN

Pendidikan Lampost : Senin, 28 Maret 2011


BANDAR LAMPUNG (Lampost): Semakin minimnya minat para calon mahasiswa dan lapangan kerja yang tersedia bagi lulusan Fakultas Ushuluddin menjadi tantangan berat yang harus dijawab para alumni dan pejabat di lingkungan IAIN Raden Intan.

Hal tersebut mengemuka dalam temu alumni Fakultas Ushuluddin (FU) IAIN Raden Intan, di kampus setempat, Sabtu (26-3), yang dihadiri Pembantu Rektor III IAIN Raden Intan Muhammad Afif Anshori, Dekan FU Arsyad Sobby Kesuma, para pembantu dekan, dan 200-an alumni FU.


Ketua Panitia Temu Alumni, Ahmad Isnaeni, mengatakan pada era 1980-an Fakultas Ushuluddin banyak melahirkan pemikir besar yang ikut ambil bagian dalam perkembangan dan kemajuan bangsa dari waktu ke waktu.

"Kini, di tengah perkembangan masyarakat global, dengan permasalahan bangsa yang makin kompleks, seharusnya pemikiran agama makin dibutuhkan," kata Isnaeni.

Namun, pamor kegigigan pemikiran para cendekia lulusan fakultas ini makin tidak terlihat seperti dulu. Hal itu merupakan tantangan bagi para alumni, dosen, dan pejabat di lingkungan IAIN.


"Kita harus bersama-sama berjuang agar karya-karya akademik Fakultas Ushuluddin bisa berkibar lagi dan turut ambil bagian dalam memecahkan setiap permasalahan masyarakat, bangsa, dan negara," kata dia.

Sementara itu, Arsyad Shobby mengatakan Fakultas Ushuluddin sangat potensial untuk dikembangkan. Semua produknya, yakni akidah filsafat, perbandingan agama, tafsir hadis, dan filsafat politik baik dikembangkan sesuai dengan kemajuan peradaban.

"Alumninya juga tersebar pada berbagai bidang mulai dari sipil, militer, legislatif, hingga di jajaran swasta. Oleh sebab itu dengan dukungan alumni saya yakin Fakultas Ushuluddin bisa kembali berkibar," kata Afif Anshori. (UNI/S-1)

BUKAN BANTAHAN

Tidak ada niatan di hati untuk membantah laporan liputan Wartawan Lampos, karena apa yang ditulisnya benar, benar sekali, terutama bila dibanding dengan peminat pada Fakultas Fakultas yang lain di lingkungan IAIN Rd. Intan. Benar sekali karena hal itu dialami oleh Fakultas Ushuluddin hampir di seluruh IAIN.

Tetapi bila kita menyimak laporan Dekan dalam sambutannya dan statistik penerimaan Mahasiswa di dua tahun terakhir ini maka cerita akan menjadi lain, judulnya harus dirubah menjadi "Animo masuk Fakultas Ushuluddin meningkat tipi" Karena memang dalam dua tahun terakhir di masa periode Dr. Baharudin. M.Hum Sang dekan berhasil mengangkat minat calon mahasiswa. Tapi kalo judul saya yang di pampangkan, maka tuidak ada kontroversi, tidak ada tantangan, dan pembacapun kurang tertarik.

Juru Bicara Pemerintah.

Pertengahan tahun 80-an Ushuluddin benar benar naik daun, peminat calon mahasiswa terasa sesak memadati ruang penerimaan mahasiswa baru. Mengapa demikian ... ? Karena Alumni Ushuluddin dipercaya Pemerintah untuk menjadi jurubicara tentang Program keluarga Berencana. pada saat itu kita semua dihantui oleh ancaman ledakan penduduk di Indonesia, gejala gejala ledakan ini bahkan juga membuat gerah masyarakat dunia.

Demikian banyaknya ulama yang masih menetang program ini, berkat kepiawan alumni Ushuluddin maka program KB itu akhirnya diaksep oleh masyarakat dan sebagian besar ulama kita.

Sayang kepercayaan Pemerintah kepada alumni ushuluddin tidak terpelihara, tidak ada pihak yang mengembangkannya, tidak memiliki keberanian untuk melakukan terobosan terobosan. Ushuluddin melupakan karakter ilmunya sendiri.

Bukankah Ilmu Ushukluddin itu berdasarkan sejarahnya justeru dilahirkan oleh problema kontemporer pada saat itu. Problema kontemporer pada saat sekarang ini sebenarnya sangat terbuka bagi IAIN, terutama untuk mengurai benang kusut prihal terorisme di Indonesia, sepertinya BIM dan Kepolisian kuwalahan menghadapi persoalan ini. Ini peluang bagi alumni Ushuluddin, bukankah Fakultas ushuluddin juga merupakan pusat pengkajian pemikiran politik. Sebenarnya Kepolisian dan Kemenag akan tertolong bila berkenan menugaskan alumni Ushuluddin.

Sabtu, 26 Maret 2011

Temu Kangen Ikatan Alumni Fakultas Ushuluddin IAIN Rd. Intan (IKAFURI) 2011


Gedung Perpustakaan Pusat IAIN Rd.Intan Lampung.

CATATAN RINGAN TEMU ALUMNI


Sabtu 26 Maret 2011 Ikatan Alumni Fakultas Ushuluddin IAIN Rd.Intan (IKAFURI) melaksanakan pertemuan sambil mereorganisasi dengan memilih Pengurus Baru untuk periode 2011/2014. Pembentukan pengurus keteter ter, rasanya lebih suka dengerin teman teman nyanyi, biar suaranya sember cempreng, tetapi serasa lebih indah ketimbang penyanyinya yang asli.

Sejatinya ini acara sungguhan maka acara dibukan dengan sambutan rasmi Bapak Dekan.

Dekan Fakultas Ushuluddin yang baru dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada pengurus lama dan untuk acara ini Fakultas memfasilitasinya untuk dua hari pertemuan sehingga terbentuk program kerja dan struktur personalia yang baru.



Dr. Arsyad Shahbi, mengatakan bahwa pada tahun 80-an Fakultas Ushuluddin benar benar boming pada saat itu setiap pendaftaran mahasiswa baru mencapai 400-an pendaftar pertahun. Tetapi pada akhir tahun 90-an menurun tajam hingga tahun 2000-an. Baru bangkit kembali mulai akhir tahun 2010. Hal ini tentu saja akan menjadi perhatian khusus.

Dalam kesempatan ini Dekan merasa pantas untuk berterima kasih kepada Dekan terdahulu, yaitu Dr. Baharuddin, M.Hum.



Dekan berharap agar pengurus IKAFURI yang akan datang dapat memberikan konstribusi untuk kembali mendomngkrak animo Fakultas Ushuluddin IAIN Rd.Intan. Sekali lagi dekan berjanji akan memfasilitasi program IKAFURI yang akan datang.



Sementara Dr. Afif Anshori, mewakili Rektor yang berhalangan hadir mengharapkan agar alumni Ushuluddin dapat meningkatkan kiprahnya di masyarakat, alumni yang satu memberikan jalan kepada sesame alumni Ushuluddin dalam berbagai aspek sebagai wujud kiprah alumni Fakultas Ushuluddin.



Secara pribadi dan kelembagaan saya menyampaikan salut yang setinggi tingginya kepada para alumni Ushuluddin. Di banding alumni Fakultas lainnya di IAIN ini, maka alumni Ushuluddin paling luas cakupan kiprahnya. Alumni Ushuluddin banyak kita dapatkan memiliki kiprah yang bukan kecil diberbagai Dinas dan Instansi Pemerinthan. Jangan di kata lagi untuk Kementerian keagamaan. Alumni Ushuluddin banyak dipercayakan untuk mengembang amanah diberbagai Dinas lingkup Pemerintah Daerah, baik di pemda Provinsi maupun kabupaten/ Kota.

Banyak juga diantaranya yang pada saat ini sedang menjabat sebagai Camat, di sini juga hadir pensiunan Camat dan mantan Camat. Yang lebih membanggakan lagi ternyata banyak juga alumni ushuluddin yang yang sekarang ini masih aktif sebagai anggota TNI dan Kepolisian, bahakan mereka itu kini telah meraih pangkat Perwira, baik di Angkatan darat maupun Kepolisian.




Apa yang dikatakan Pan Afif itu benar, karena banyak juga alumni Ushuluddin yang terjun ke dunia politik. Banyak mereka yang pernah dan sedang menjadi anggota DPRD. Dan banyak juga yang mengambil profesi sebagai non PNS, dan bahkan tercatat beberapa orang terbilang sukses berniaga.


Revitalisasi IKAFURI

Dalam kesempatan ini panitia menampilkan dua orang narasumber yitu Prof. Dr. Ahmad Fauzi Nurdin, dan Dr. Sofyan Saleh, M.Ag. Keduanya berharap agar IKAPURI yang akan datang mampu merevitalisasi lembaga ikatan alumni ini, sehingga selain membawa nama harum nama alumni juga mampu meningkatkan animo masyarakat terhadap Fakultas Ushuluddin IAIN Rd.Intan.
Tetapi dalam sesi diskusi tiba tiba muncul sedikit kehangatan, ketika pada floor ada yang mempertanyakan sebenarnya pertemuan emosional (kangen kangenan) ini akan di bawa kemana kata seorang penanya. Apakah untuik membesarkan gengsi alumni, atau kita membesarkan Fakultas.






Penanya yang lain sedikit mengkritisi dua narasumber yang banyak membangga banggakan alumni Ushuluddin. Saya belum cukup alas an untuk terlalu bangga dengan ke-Ushuluddin-an yang ia dapatkan dari bangku kuliah. Tidak urung pertanyaan seorang alumni yang sekarang ini sedang dipercayai oleh Bupati untuk menduduki jabatan Camat di suatu Kecamatan. Ungkapan ini tidak urung membuat kernyitan dahi para alumni yang sedang dimabuk rasa kebanggaan korp yang melambung itu.

Tetapi belakangan baru dimaklumi, mengapa Ia mengemukakan ungkapan seperti itu. Betapa seorang alumni diharuskan mengembangkan berbagai pengetahuan dan bahkan keterampilan guna mendukung profesionalisme kiprah alumni di masyarakat.




Tentu saja pemikiran seperti itu hanya standar saja. Karena kenyatannya perjalanan hidup seseorang itu sering tidak sejalan dengan ilmu yang didalaminya di bangku kuliah. Seorang alumni Fakultas hukum umpamanya mengurusi Kepariwisataan, seorang Ekonom mengurusi masalah kelautan, dan alumni Ushuluddin dipercayai menjabat sebagai camat. Saya sendiri belajar autodidag pontang panting karena hamper sepuluh tahun menjadi peneliti arkeologi dan antropologi.

Memang secara langsung bukan ilmu Ushuluddin yang berperan dalam penelitian penelitian yang saya laksanakan. Tetapi mulai dari teknik pengumpulan data, komunikasi dengan masyarakat, ilmu keushuluddin-an yang saya miliki sangatlah berperan. Terlebih ketika saya menulis laporan hasil penelitian untuk dijadikan sebuah buku, dan sayapun membutuhkan referensi yang luas, maka akan nampak sekali Ilmu Ushuluddin jurusan akidah dan filsafat sangat dominan. Dan kawan kawanpun menyatakan laporan saya sangat khas dan dianggap memiliki sedikit kelebihan. Itu karena saya belajar filsafat. Sedikit pengetahuan saya tentang filsafat sangat membantu saya dalam menyelesaikan tugas tugas saya. Hingga saat memasuki usia pensiun seperti sekarang ini saya masih tetap memperdalam ilmu Ushuluddin, terlihat dari berbagai judul buku yang saya beli, web, situs yang saya kunjungi serta tulisan tulisan yang saya kumpulkan di beberapa blog saya. Saya yakin banyak alumni yang memiliki pemgalaman yang cukup menarik, terpaksa belajar autodidag ilmu di luar Ushuluddin, tetapi tetap menggandrungi ilmu Ushuluddin, karena ilmu Ushuluddin telah membawanya bersikap dan berwawasan dalam mendukung profesinya.




Pascasarjana Filsafat.


Dr. Mahmud Yusuf, alumni Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pensiunan dosen di Fakultas Ushuluddin dan berkenan hadir dalam temu kangen ini mengikuti paparan dua orang narasumber, beliau duduk di barisan depan. Beliau mengusulakan agar Ikafuri dan Dekan serta Kajur Aqidah Filsafat segera merintis untuk dibukanya Pascasarjana jurusan Filsafat di fakultas Ushuluddin IAIN Rd.Intan. Ia melihat peluang itu sangat besar karena persyaratan untuk itu sekarang ini lebih dari cukup. Naik Guru Besar maupun dosen S3 filsafat semakin memenuhi fakultas ini. Pembukaan Pascasarjana Filsafat akan memiliki dampak positif untuk mengembangkan Fakultas ushuluddin umumnya dan Prodi Aqidah Filsafat khususnya.

Pascasarja ini dimaksudkan untuk tetap berada di Fakultas Ushuluddin. Diharapkan agar dekan mempersiapkan segala sesuatu sehingga bila akreditasi masih menjadi titik lemah, maka kita dapat dinilai ulang sehingga akreditasi mencukupi dan tidak menjadi ririk lemah penyelenggaraan program ini.




Pemikiran yang diajukan oleh Dr.Mahmud Yusuf itu tentu saja banyak diamini oleh hadirin. Apalagi dengan berdirinya Program Pascasarjana tentu saja akan meningkatkan kualitas prodi aqidah filsafat khususnya dan Fakultas Ushuluddin umumnya. Tenru saja Profesor dan S3 Filsafat akan mendapatkan tantangan yang cukup besar.

Bisik bisik para alumni Ushuluddin yang hingga kini belum sempat mengikuti program Master, sangat mendukung gagasan ini, dan bila gagasan ini terrealisasikan maka berarti mereka kan memiliki ilmu yang benar benar linier. Sedang bagi SI prodi yang lain memiliki peluang untuk mengikuti program ini, karena jurusan filsafat, seperti lazimnya di mana mana akan menerima dari berbagai jurusan.





Juru Bicara Program nasional KB.

Dulu Fakultas Ushuluddin menjadi demikian masyhur, lantaran BKKBN berkenan menerima alumni untuk ditugaskan menjadi petugas penyuluhan lapangan, bahasa kerennya menjadi juru bicara program Pemerintah. Untuk mensosialisasikan Program Keluarga Berencana dengan menggunakan bahasa bahasa agama. Alumni Ushukuddin sukses melaksanakan tugas ini. Ternyata bisa dibilang alumni Ushuluddin unggul dalam mengambil simpati masyarakat, dengan bahasa bahasa agama yang sangat mudah dipahami masyarakat konsep Keluarga Berencana sangat mudah diterima masyarakat. yang semula menentangnya. Pemerintah mengakui keunggulan ushuluddin




Bukan hanya itu, sejalan dengan waktu, demikian banyaknya alumni Fakultas ushuluddin yang dupercayai menjadi prjabat penting di Instansi ini. Maka wajar saja bila animo masyarakat terhadap Fakultas Ushuluddin meningkat tajam.
Tetapi sayang prestasi yang telah ditunjukkan Fakultas Ushuluddin tidak ditindaklanjuti dengan kajian yang kritis . Semestinya alumni Ushuluddin lebih ditingkatkan lemampuannya, untuk mampu menjelaskan berbagai program Pemerintah, dan diperkaya dengan wawasan dan keterampilan untuk berkomunikasi dengan masyarakat umum.

Semestinya Ushuluddin bersegera untuk menguasai atau memahami apa sebenarnya yang diinginkan masyarakat, baik kelas menengah ke bawah maupun ke atas. Karena tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan bahasa bahasa agama, masih ada bahasa ekonomi, bahasa seni dan lain sebagainya. Senagaimana halnya sekarang masyarakat komunitas agama diperlukan memahami bahasa hukum, khususnya HAM. Kurikulum dapat direkayasa agar mahasiswa memiliki kompetensi ini. .



Keterampilan untuk hidup.

Muncul juga pemikiran agar bila menilai prospek sosok alumni Ushuluddin, akan tidak menemukan nilai yang objektif manakala kita hanya menilai dari segi keberhasilan semata, manakala keberhasilan itu dikukur dengan jabatan sipil dan Abri/ kepolisian. Penilaian itu hendaknya beranjak dari pihak yang lemah, yang memiliki kesulitan untuk berkiprah lantaran peluang untuk mengabdi dengan ilmu keushuluddinan itu menipis.

Kajian ushuluddin itu hendaknya memiliki nilai nilai kontemporer. Bukankah Ilmu Ushuluddin dahulu lahir dari berbagai masalah kontemporer, utamanya masalah politik (kekuasaan). Ketika Fakultas Ushuluddin kurang merespon hal hal yang kontemporer maka berarti ilmu ushuluddin akan kehilangan karakter aslinya.

Andaikata Ushuluddin maksimal merespon persoalan kontemporer, maka dapat dipastikan bahwa alumni ushuluddin paling unggul dalam menykikapi segala persoalan yang berbau kekinian. Dan dia memiliki keterampilan secara iterpreneur untuk mensiasati persoalan hidupnya. Dia tidak akan kesulitan untuk memiliki kehidupan yang layak. Karena dia memiliki keterampilan hidup.





Diketuai oleh angkatan Tua.

Saya kecewa dengan formatur yang ternyata lebih memilih angkatan tua untuk menjadi Ketua Ikafuri. Saya semula berharap agar Ikafuri dinakodai oleh angkatan yang lebih muda, lebih enerjik, dan masih aktif berkerja. Jangan justeru menunjuk pensiunan menjadi pemegang kendali.

Orang pensiunan seperti saya sekarang ini, sedang sibuk untuk mencari kesibukan baru, sedang memilih, apakah akan mengajar saja, atau menjadi konsultan, atau bergerak dibidang social, atau menjadi pengusaha. Artinya dalam masa satu tahun ini akan melakukan adabtasi dengan dunia baru yang akan dipilih.

Menurut saya bagi mereka yang aktifpun harus kita pilih yang bekerja di Kementeria Agama. Karena sebagian alumni kita ada di situ, mereka tersebar di seluruh daerah, sehingga memiliki peluang untuk memperlancar

Kamis, 24 Februari 2011

2014, IAIN Targetkan 100 Doktor

Pendidikan Lampost : Kamis, 24 Februari 2011



BANDAR LAMPUNG (Lampost): Rektor IAIN Randen Intan Muhammad Mukri menargetkan pada 2014, kampus hijau tersebut minimal memiliki 100 orang doktor. Hal itu untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran dan bermuara pada peningkatan kualitas lulusan kampus tersebut.

Mukri mengungkapkan hal itu di sela-sela rapat kerja pimpinan (rakerpim) yang berlangsung di rektorat setempat, Rabu (23-2).

"Saat ini kita memiliki 47 doktor dan 10 orang guru besar dan tersebar di semua fakultas yang ada di IAIN," kata Mukri.

Dia mengatakan di Fakultas Tarbiyah terdapat 19 doktor dan 3 guru besar; Fakultas Syariah 9 doktor, dan 2 guru besar; Fakultas Ushuludin 12 doktor, dan 2 guru besar; dan Fakultas Dakwah, 17 doktor, 3 guru besar.

"Saat ini ada 39 dosen yang sedang menempuh pendidikan S-3 baik di dalam maupun di luar negeri," kata Mukri.

Dia mengatakan saat ini terdapat 225 dosen di IAIN. Dengan target 100 orang doktor, berarti sekitar 40% dosen di IAIN yang mendapat gelar S-3 tersebut.

Menurut Mukri, peningkatan kualifikasi pendidikan dosen merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam hal ini dosen dan karyawan di lingkungan IAIN. Selain itu, pihaknya juga akan menerbitkan dua jurnal ilmiah yang terakreditasi.

"Selama ini belum ada satu pun jurnal ilmiah kita yang terakreditasi. Padahal kita (IAIN) memiliki sumber daya manusia yang cukup. Oleh sebab itu, kami mendorong para dosen untuk terus melakukan penelitian dan menulis jurnal ilmiah," kata dia.

Terkait dengan rakerpim, dia mengatakan kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan. Tujuannya menyusun rencana kerja tahun 2011. Sehingga program kerja di IAIN makin baik.

"Saya berharap usai rakerpim, teman-teman dosen bisa mengimplementasikannya dalam karya nyata," kata dia.

Menurut Mukri, selama ini semua pekerjaan atau proyek selalu menumpuk di akhir tahun. Dalam masa kepemimpinannya hal itu akan diubah.

"Proyek harus dikerjakan sejak triwulan pertama sebanyak 25% dari volume, kemudian pada triwulan ke dua sebesar 25%, demikian seterusnya sehingga pekerjaan tidak menumpuk pada akhir tahun," kata dia.

Sementara itu, rakerpim yang berlangsung di lantai III rektorat tampak seru. Masing-masing komisi membahas rancangan kerja untuk satu tahun ke depan. Banyak usulan yang masuk untuk memperbaiki kualitas pendidikan di IAIN, seperti penggunaan ICT di setiap ruang belajar. (UNI/S-1)

Jumat, 04 Februari 2011

Fakultas Ushuluddin Sunan Ampel Surabaya

PROSES PEMBELAJARAN

A. MISI PEMBELAJARAN
1. Pengembangan Kompetensi
Untuk mendukung kemampuan mahasiswa mengasosiasikan dirinya terhadap disiplin keilmuannya, maka Jurusan mengusahakan beragam pembelajaran informal di luar perkuliahan. Kegiatan ini semata-mata ditujukan untuk mendukung fokus keilmuan dan kecakapan dasar intelektual kemahasiswaan. Kegiatan tersebut diwujudkan dalam kegiatan seperti; kursus metodologi berpikir kefilsafatan; sekolah penalaran; pendidikan jurnalistik; sekolah penulisan ilmiah; pendidikan kewirausahaan dan interpreneurship sosial; tahfidzu al-Qur’an. Kegiatan-kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas, Jurusan bekerjasama dengan Organisasi Internal Kemahasiswaan seperti BEM, Koperasi, dan lainnya.

2. Optimalisasi Internal dan Eksternal
Semua proses pembelajaran mahasiswa didukung penuh oleh semua sarana yang dimiliki oelh Fakultas dan Jurusan. Meski dengan kehalaman fakultasterbatasan, Jurusan berusaha menyediakan segala yang dibutuhkan mahasiswa yag berkenaan dengan tugas belajarnya. Hal ini dilakukan dengan konsultasi dan pembicaraan yang luwes antara peserta belajar dengan Jurusan sebagai pengelola pembelajaran. Jurusan telah menyediakan laboratorium pangkalan data, refrensi digital, katalog hasil penelitian dan skripsi, serta klinik konsultasi keilmuan. Ditambah aset bergerak, yakni; jajaran staf pengajar yang sewaktu-waktu bisa membantu menyelesaikan persoalan akademik.

B. MENGAJAR
1. Kesesuaian Strategi Dan Metode Dengan Tujuan
Untuk mencapai tujuan terbentuknya kemampuan mahasiswa secara akademis hingga mampu menganalisis seluruh materi secara memadai, maka Jurusan membutuhkan metode pengajaran yang kaya, efisien dan efektif. Hal itu dapat dicapai melalui:
a. Tatap muka: diusahakan berlangsungnya tatap muka di setiap perkuliahan. Kalaupun tidak bisa, dosen bisa menggunakan alat bantu teknik yang memadai. Tatap muka sangat penting karena alasan komunikasi dua arah yang masih dibutuhkan dalam proses belajar.
b. Diskusi: dosen dan mahasiswa melakukan serangkaian penelusuran akademik melalui penalaran verbal dengan cara tanya jawab atau sama-sama mencari tahu jawaban refrensial dari persoalan yang dibahas. Dosen dan mahasiswa wajib mengemukakan opini tentang isu, kasus atau materi yang dikaji. Memperbanyak pilihan jawaban dan memperkaya wawasan sudut pandang tentang tema yang sedang diteliti.
c. Praktikum: dipakai untuk mata kuliah yang membutuhkan unsur-unsur dinamis dalam kehidupan nyata. Laboratorium Jurusan disediakan untuk memperkaya referensi ilmiah dan wawasan mahasiswa. Objek atau situs sosial tertentu yang ada di tengah-tengah masyarakat dipakai sebagai objek penelitian dengan cara didatangi langsung atau diobservasi. Penemuan pemikiran baru yang berkaitan dengan isu kefilsafatan maupun keagamaan dicapai melalui interaksi dengan masyarakat kemudian diolah di lboratorium Jurusan.

d. Tugas: Mahasiswa berkewajiban menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen pengajar. Tugas ini beragam sebagaimana ketentuan kurikulum atau sesuai kebijakan dosen yang bersangkutan dengan sepengatahuan Jurusan. Tugas yang dimaksud adalah seperti: penulisan paper ilmiah, makalah untuk dipresentasikan di kelas, review buku, resensi, hingga laporan penelitian lapangan.

2. Relevansi
Materi yang disampaikan dalam perkuliahan selalu disesuaikan dengan kurikulum yang masih berlaku. Metode dosen pengajar selalu dipantau dan disesuaikan dengan pilihan terbaik berdasarkan metode pengajaran mutaakhir. Materi dan thema perkuliahan juga diupdate berdasarkan isu pemikiran atau isu sosial yang tengah terjadi saat itu.

3. Efisiensi dan Produktifitas
Ringkasan materi perkuliahan dipakai untuk lebih menstrukturkan peta pengetahuan yang diajarkan. Hal ini juga berguna untuk menggamblangkan penjelasan ilmiah serta mempercepat proses transformasi pengetahuan di kelas. Alat bantu pengajaran juga dioptimalkan misalnya dengan sarana LCD Projector, OHP, dan alat bantu permainan atau perangkat simulatif ilmiah.

4. Struktur dan Rentang Kegiatan Mengajar
Selama proses perkuliahan, setiap mata kuliah harus diberikan maksimal sebanyak 16 kali pertemuan atau minimal 12 kali pertemuan per-semester. Kurang dari itu, dosen akan dan mendapatkan teguran atau bahkan sanksi akademik sesuai kebijakan Jurusan.

5. Penggunaan Teknologi dan Informasi
Di dalam proses pembelajaran, dosen dan mahasiswa didukung oleh piranti informasi yang selalu dikembangkan. Jika kini internet dan jejaring sosial dipakai beramai-ramaia, maka Jurusan juga mengembangkan sistem sharing informasi berbasis internet. Proses perkuliahan sebagian sudah memanfaatkan jasa webb, blog, maupun e-learning. Hal ini dilakukan untuk mengatasi kelemahan pembelajaran terutama dalam hal ketidakhadiran dosen pengajar atau keterbatasan waktu yang tersedia di kelas.

C. BELAJAR
1. Keikutsertaan.
Mahasiswa diwajibkan mengikuti perkuliahan minimal 75% dari seluruh kehadiran yakni 16 kali pertemuan termasuk mid-semester dan final-semester.

2. Peluang
Mahasiswa diberi kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan khusus dengan cara memberikan pelatihan kewirausahaan dan jurnalistik. Selian itu, untuk meningkatkan kemampuan dirinya, mahasiswa diizinkan untuk membentuk oraginisasi kemahasiswaan yang supportif terhadap tujuan umum pembelajaran. Dari sini diharapkan mahasiswa sudah bisa siap pakai setelah lulus karena sebelumnya sudah dibiasakan untuk melakukan kritik dan pengabdian terhadap masyarakat.

3. Pengembangan
Ada sejumlah mata kuliah bermuatan lokal yang bisa dipilih mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas akademik serta kapabilitas personal. Contoh dari mata kuliah pengembangan ini adalah manajemen atau konseling sosial.

D. PENILAIAN
ruang akademikSelama proses perkuliahan, penilaian dilakukan melalui dua kelompok besar rumpun nilai. Pertama, nilai akademik; adalah nilai yang diambil melalui hasil belajar mahasiswa setelah melampaui tes middle semester, hasil penilaian tugas makalah atau paper serta nilai dari hasil final semester. Kedua, nilai normatif; adalah nilai yang diberikan secara subjektif oleh dosen dan pengurus Jurusan kepada mahasiswa berdasarkan kwalifikasi etika dan integritas kepribadiannya selama menempuh studi bersama Jurusan.
Kedua jenis penilaian ini ditranskrip secara kuantitatif. Hasil akaumulasi dari keduanya akan dilaporkan secara berkala per semester di dalam Kartu Hasil Studi. Segala hasil penilaian disajikan secara transparan dan jika terdapat kekeliruan teknis, pihak mahasiswa dapat mengkomunikasikan dengan pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Penilaian terhadap tugas akhir mahasiswa atau skripsi dilakukan melalui hasil ujian komperehensif dan ujian hasil. Total seluruh nilai akan diproses di bagian akademik hingga mahasiswa dinyatakan lulus.
Mahasiswa yang dinyatakan lulus akan menjalani serangkaian prosesi kelulusan, di antaranya adalah Yudisium Kelulusan dan Wisuda. Di dalam Yudisium dan Wisuda, pihak Jurusan, Fakultas dan Institusi akan berjasama dalam menentukan kwalifikasi hasil kelulusan mahasiswa dengan menentukan predikat terhadap nilai akhir atau IPK (Indeks Prestasi Kumulatif). Ketentuannya adalah sebagaimana berikut:
a. 2.00 ≤ 2.75 = predikat memuaskan
b. 2.75 ≤ 3.50 = predikat sangat memuaskan
c. 3.50 ≤ 4.00 = predikat cumlaude

KOMPETENS MAHASISWA AQIDAH FILSAFAT

Kampus IAIN Rd. Intan Lampung

PENGANTAR

Merespon permasalahan menurunnya animo mahasiswa terhadap Fakultas Ushuluddin, berikut ini adalah kopy dari situasi Fakultas Ushuluddin lainnya di Indonesia. Nampaknya pada prinsipnya Fakultas Ushuluddin sedang menghadapi masalah yang sama. Kami berharap naskah ini dapat menambah wawasan kita tentang Fakultas Usuluddin pada umumnya dan permasalahan yang dihadapi pada khususnya.


SEJARAH, VISI, MISI, SASARAN DAN TUJUAN

Sejarah Singkat

Fakultas Ushuluddin didirikan berawal dari berdirinya Sekolah Tinggi Islam pada tahun 1940 di Padang dan Jakarta (1946), di mana dengan pertimbangan perkembangan politik (berpindahnya pusat pemerintahan RI dari Jakarta ke Yogjakarta), Sekolah Tinggi Islam tersebut berpindah ke Yogjakarta dan berubah bentuk menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) pada tanggal 22 Maret 1948.

Melalui Peraturan pemerintah No. 34/1950, Fakultas Agama UII menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) yang bertujuan memberikan pengajaran tinggi dan menjadi pusat kegiatan serta memperdalam ilmu pengetahuan agama Islam. Seiring dengan hal itu Fakultas Umum UII menjadi Universitas Gajah Mada (UGM) yang diatur dalam peraturan pemerintah No. 37/1950.

Pada tanggal 9 Mei 1960 diterbitkan Peraturan Presiden No. 11/1960 yang melebur PTAIN Yogjakarta dan ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama) Jakarta menjadi al-Jami’ah al-Islamiyah al-Hukumiyah atau Istitut Agama Islam Negeri (IAIN) yang berkedudukan di Yogjakarta dengan Presiden (Rektor) Prof. Mr. RHA. Soenarjo, yang akhirnya diberi nama IAIN Sunan Kalijaga.

Tahun 1961 diadakan pertemuan tokoh muslim di Jombang sebagai wujud atas gagasan masyarakat Jawa Timur untuk memiliki PTAI yang bernaung di bawah lingkungan Departemen Agama. Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh Prof. Mr. RHA. Soenarjo, Rektor IAIN Sunan Kalijaga sebagai Nara Sumber, yang menghasilkan keputusan:

1. Membentuk panitia pendiri IAIN.
2. Mendirikan Fakultas Syari’ah di Surabaya.
3. Mendirikan Fakultas Tarbiyah di Malang.

Pada tanggal 28 Oktober 1961, Menteri Agama menerbitkan KMA No. 17/1961, untuk mengesahkan pendirian Fakultas Syari’ah Surabaya dan Fakultas Tarbiyah Malang yang kemudian disusul berdirinya Fakultas Ushuluddin Kediri berdasarkan KMA No. 66/1964, tanggal 1 Oktober 1964.

Berawal dari tiga Fakultas (Syari’ah Surabaya, Tarbiyah Malang, dan Ushuluddin Kediri), pada tanggal 5 Juli 1965 Menteri Agama menerbitkan KMA No. 20/1965, tentang pendirian IAIN Sunan Ampel dan tanggal tersebut ditetapkan sebagai Dies Natalis IAIN Sunan Ampel.

IAIN Sunan Ampel dalam kurun waktu tahun 1966-197 mengalami perkembangan pesat sehingga memiliki 18 fakultas yang tersebar di tiga propinsi: Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Berdasarkan urutasn berdirinya, fakultas-fakultas dimaksud meliputi: 1. Syari’ah Surabaya, 2. Tarbiyah Malang, 3. Ushuluddin Kediri, 4. Tarbiyah Jember, 5. Ushuluddin Surabaya, 6. Tarbiyah Mataram, 7. Tarbiyah Pamekasan, 8. Adab Surabaya, 9 Tabiyah Tulungagung, 10. Tarbiyah Samarinda, 11. Syari’ah Bima, 12. Syari’ah Ponorogo, 13. Tarbiyah Bojonegoro, 14. Syari’ah Lumajang, 15. Syari’ah Pasuruan, 16. Tarbiyah Bangkalan, 17. Tarbiyah Sumbawa, 18. Dakwah Surabaya.

Peraturan pemerintah No. 33 tahun 1985 Fakultas Tarbiyah Samarinda diserahkan pengelolaannya ke IAIN Antasari Banjarmasin dan Fakultas Tarbiyah Bojonegoro dipindahkan ke Surabaya, dengan demikia IAIN Sunan Ampel hanya memiliki 12 fakultas.

Dalam upaya peningkatan efisiensi, efektifitas dan kualitas pendidikan di IAIN, dilakukan penataan terhadap fakultas-fakultas di lingkungan IAIN Sunan Ampel yang berlokasi di luar induk yang dituangkan dalam keputusan Presiden RI No. 11 tahun 1997, tanggal 21-3-1997, tentang pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), dengan menetapkan sejumlah 33 STAIN di seluruh Indonesia. Dengan demikian tahun 1997 terjadi perampingan jenjang S-1 IAIN Sunan Ampel dari 13 fakultas menjadi 5 fakultas yang berlokasi di Surabaya, yaitu Fakultas Adab, Dakwah, Syari’ah, Tarbiyah dan Ushuluddin.

Fakultas Ushuluddin mempunyai tiga jurusan dan satu prodi, yaitu Jurusan Aqidah-Filsafat, Jurusan Perbandingan Agama, Jurusan Tafsir-Hadis dan Prodi Politik Islam.

VISI

* Terwujudnya jurusan Aqidah Filsafat sebagai pusat studi pengembangan dan informasi kefilsafatan serta teologi Islam terkemuka di Indonesia untuk menghasilkan ahli agama yang berkualitas dan mampu menjawab tantangan jaman

MISI

* Menyelenggarakan jurusan Aqidah Filsafat sebagai pusat studi di bidang pengetahuan kefilsafatan dan teologi Islam di Indonesia
* Melaksanakan pengembangan pengetahuan dibidang kefilsafatan dan teologi Islam melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat secara profesional
* Membimbing dan mengarahkan mahasiswa jurusan Aqidah Filsafat menjadi ahli agama yang profesional, berkualitas dan responsif terhadap tantangan jaman

SASARAN

* Menghasilkan ahli agama yang memiliki sikap keagamaan yang kokoh, rasional dan kritis dalam menghadapi tantangan jaman
* Meningkatkan profesionalitas ahli agama yang memiliki kemampuan responsif dan analitis dalam menghadapi pemikiran-pemikiran modern

TUJUAN

* Mengembangkan pengetahuan kefilsafatan dan teologi Islam melalui dialog dengan pemikiran atau teori-teori modern yang tengah berkembang;
* Mengembangkan argumentasi rasional terhadap dasar-dasar keimanan dalam rangka memperkokoh kualitas keimanan;
* Mengarahkan mahasiswa Jurusan Aqidah Filsafat memiliki kemampuan logika yang mantap sebagai dasar dalam melakukan analisis terhadap berbagai masalah pemikiran keagamaan yang tengah berkembang

UPAYA PENDUKUNG VISI DAN MISI

* Menyiapkan tenaga pengajar di bidang ilmu-ilmu Aqidah-Filsafat.
* Menyusun kurikulum atau strategi belajar mengajar atau evaluasi penciptaan situasi akademik, pengadaan fasilitas belajar, pembinaan atau pengembangan mahasiswa.

SISTEM

Jurusan Aqidah-Filsafat, di dalam melaksanakan kegiatan pendidikan dilengkapi dengan struktur organisasi. Secara formal, operasional struktur organisasi pada tingkat fakultas dipimpin oleh Dekan dan dibantu dengan tiga orang Pembantu Dekan.

Di dalam operasional keseharian, Jurusan Aqidah-Filsafat dipimpin oleh seorang Ketua Jurusan dan dibantu oleh seorang Sekretaris Jurusan serta dibantu oleh seorang staf Jurusan.

Ketua Jurusan bertanggung jawab mengelola program jurusan secara internal mulai dari menentukan dosen mata kuliah, memonitor dan mengawasi jalannya perkuliahan, hingga berkewenangan memotivasi dosen agar melakukan kegiatan penelitian dalam rangka mengembangkan proses pembelajaran. Ketua Jurusan juga bertangung jawab terhadap kegiatan internal yang berkaitan dengan badan atau lembaga eksternal. Memprakarsai, memelihara hingga mengkoordinasikan kepentingan Jurusan dengan pihak luar.

Pelaksanaan kegiatan administrasi akademik Jurusan Aqidah-Filsafat ditunjang dengan sistem komputerisasi terpadu, sistem database manajemen akademik, administrasi dan kemahasiswaan, serta kemampuan olah data yang memadai. Sistem tersebut telah dipahami dengan baik oleh staf secara umum telah dilakukan secara transparan oleh program studi selama lima tahun terakhir. Untuk mengimplementasi sistem ini Jurusan Aqidah-Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya bekerja dalam mekanisme kerja dan sistem tugas.

Mekanisme kerja jurusan berada dalam koridor mekanisme institut, di mana kebijakan Rektorat dikomunikasikan atau didelegasikan ke Fakultas, kemudian Fakultas melaksnakan koordinasi dengan Jurusan. Sebaliknya, gagasan atau usulan dari Jurusan dikomunikasikan dan dibahas di tingkat Fakultas, kemudian Fakultas meneruskan ke tingkat rektorat untuk mendapatkan persetujuan dan pengesahan.

Kamis, 03 Februari 2011

Kegelisahan Mahasiswa-mahasiswi dalam Program Studi Keislaman

Kampus IAIN Rd.Intan Lampung

(Sebuah Studi Psikologi Agama)

Oleh: Dian Nur Anna*


Pendahuluan

Mahasiswa-mahasiswi merupakan penerus bangsa di masa depan. Kualitas mahasiswa-mahasiswi saat ini akan mempengaruhi kualitas kehidupan bangsa pada masa mendatang. Perguruan Tinggi mempunyai kewajiban untuk membentuk pribadi yang berkualitas dengan memberikan pelayanan yang baik terhadap mahasiswa-mahasiswi. Semuanya itu tidak lepas dari Visi dan Misi Perguruan Tinggi yang bersangkutan.

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang bercirikan Islam mempunyai Visi dan Misi yang tujuannya juga mencetak sarjana yang berkualitas. Visi dari UIN Sunan Kalijaga adalah unggul dan terkemuka dalam pemaduan dan pengembangan studi keislaman dan keilmuan bagi peradaban. Selain Visi, Misi dari UIN Sunan Kalijaga berjumlah lima poin yang salah satunya adalah membangun kepercayaan dan mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi. Visi dan misi UIN Sunan Kalijaga yang luar biasa ini hendaknya bukan hanya dalam dataran ide tetapi juga dalam prakteknya dapat diimplementasikan dengan baik. Sehingga, hal ini dapat menarik masuknya calon mahasiswa-mahasiswi dari berbagai jurusan untuk masuk ke UIN Sunan Kalijaga.

Calon mahasiswa-mahasiswi yang mendaftar ke UIN Sunan Kalijaga khususnya Fakultas Ushuluddin berasal dari latar belakang pendidikan yang beragam. Calon mahasiswa-mahasiswi tidak hanya berasal dari MAN dan Pesantren, tetapi juga dari SMA, STM, SMK dan sekolah umum lainnya. Melihat realitas yang demikian, keberagamaan mereka juga berbeda-beda sesuai dengan pemahaman mereka tentang keberagamaan yang mereka dapat dari sekolah, tanpa menafikan peran dari orang tua dan lingkungan yang mendukung keberagamaan mereka. Hal ini mempengaruhi pertimbangan calon mahasiswa-mahasiswi untuk kuliah di Fakultas Ushuluddin.

Ada banyak pertimbangan yang menyebabkan mahasiwa-mahasiswi masuk di Fakultas Ushuluddin. Dari 30 mahasiswa-mahasiswi, ada 17 mahasiswa-mahasiswi masuk ke Fakultas Ushuluddin karena mereka mendapat pertimbangan keluarga/teman, ada 9 mahasiswa-mahasiswi karena dorongan beasiswa, 4 mahasiswa-mahasiswi karena membaca selebaran/radio, dan 1 mahasiswa karena melihat spanduk. Berdasarkan hal tersebut, pertimbangan keluarga/teman itu ternyata mempunyai prosentase yang terbesar dan hal ini perlu untuk ditindaklanjuti.

Keluarga/teman yang pernah kuliah dan mengenal Ushuluddin kemungkinan merasakan bahwa Fakultas Ushuluddin telah mengesankan mereka. Sehingga, mereka menyarankan keluarga/teman mereka untuk masuk ke Ushuluddin. Analoginya adalah jika mereka tidak mengenal Fakultas Ushuluddin secara mendalam, kemungkinan Fakultas Ushuluddin akan sepi peminat. Contoh konkrit yang dihadapi sekarang adalah Jurusan Perbandingan Agama dikategorikan sepi peminat. Ada beberapa hal yang menyebabkan Perbandingan Agama itu sepi peminat, seperti: tidak semua lulusan dari Perbandingan Agama menyarankan keluarga/kerabat/teman untuk masuk ke jurusan ini; masyarakat sendiri kurang mengerti tentang Perbandingan Agama tersebut. Jika hal tersebut tidak dijelaskan dan tidak diketahui secara mendalam, maka ini dapat memunculkan image yang salah tentang hal tersebut.

Mereka berpendapat bahwa jika kuliah di Perbandingan Agama, maka mereka akan murtad. Mereka menganggap bahwa Perbandingan Agama adalah membandingkan Agama. Jika Agama dibandingkan satu dengan yang lain, maka mahasiswa-mahasiswi akan goyah imannya. Kegelisahan ini juga dirasakan oleh beberapa mahasiwa-mahasiswi yang telah diterima di Jurusan Perbandingan Agama Penguatan.

Dalam tulisan ini, penulis ingin mengungkap tentang bagaimana mengatasi persoalan kegelisahan mahasiswa-mahasiswi tersebut dalam studi Psikologi Agama.Tulisan ini tidak akan menyajikan proses konversi secara detile dari persoalan yang dihadapi mahasiswa-mahasiswi dari tahap kegelisahan sampai tahap kepermanenan konversi, tetapi akan menyajikan bagaimana memecahkan kegelisahan dari mahasiswa-mahasiswi tersebut sehingga mahasiswa-mahasiswi akan mendapatkan ketenangan dan dapat menyelesaikan kuliah di UIN Sunan Kalijaga.

Untuk mengungkap hal tersebut, penulis akan membahas secara diskriptif-kritis tentang pengertian Psikologi, persentuhan antara Psikologi dan Agama, metode penelitian Psikologi Agama dan pembelajaran Psikologi Agama untuk memecahkan kegelisahan mahasiswa-mahasiswi tersebut. Selanjutnya, pembahasan ini akan dimulai dengan pengertian Psikologi.

Psikologi

Psikologi dilihat secara terminology berasal dari kata psyche berarti jiwa dan logos yang kemudian menjadi logi berarti ilmu. Kata Psikologi (Psychology) berarti ilmu pengetahuan tentang jiwa, tidak terbatas pada jiwa binatang dan sebagainya (Arifin, 2004: hlm. 12). Ada beberapa ahli yang mengungkapkan tentang Psikologi, seperti Wilhelm Wundt, John Broadus Watson dan Floyd L. Ruch. Menurut Wilhelm Wundt (1832-1920), Psikologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman yang timbul dalam diri manusia seperti pengalaman perasaan panca indra, merasakan sesuatu, berpikir dan berkehendak (Ibid, 13).

John Broadus Watson (1842-1910) mengungkapkan bahwa Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku lahiriah manusia dengan menggunakan metode-metode observasi (pengamatan) secara obyektif seperti rangsangan (stimulus) dan jawaban (response) yang menimbulkan tingkah laku (Ibid, 14). Menurut Floyd L. Ruch, Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang proses penyesuaian diri manusia yang berupa tingkah laku yang berusaha memenuhi kebutuhan baik biologis maupun kebutuhan hidup sosialnya (Ibid, 15).

Berdasar pendapat ketiga tokoh tersebut, Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang pengalaman manusia yang secara nyata terlihat dalam tingkah lakunya. Sebagai sebuah ilmu yang ilmiah, Ilmu Psikologi mempunyai beberapa cabang, seperti: Psikologi Komunikasi, Psikologi Umum, Psikologi Belajar, Psikologi Sosial dan Psikologi Agama. Dari berbagai cabang Psikologi ini, Psikologi Agama merupakan ilmu yang menarik. Psikologi Agama itu mencoba menyoroti Agama dalam sisi Psikologi. Ketika Psikologi sebagai salah satu ilmu empiris mencoba menyoroti Agama, maka akan menimbukan perdebatan, baik itu dari para agamawan maupun Psikolog sendiri.

Persentuhan Psikologi dan Agama

Persentuhan Agama dengan Psikologi telah mengalami pasang surut yang dapat dibagi menjadi empat periode. Periode pertama berlangsung sekitar paruh ke dua abad ke-19. Psikologi sebagai sains dimulai sekitar tahun 1879 ketika William Wundt (1248-1339 H/ 1832-1920 M) dari Universitas Leipzig di Jerman mendirikan Laboratorium untuk menganalisa tingkah laku manusia dengan binatang melalui metode eksperimen. Menurut Robert W. Crapps (1993: 12), persentuhan Agama dan Psikologi belum menemukan wujudnya.

Periode kedua yaitu sekitar abad ke-19 sampai dengan abad ke-20, Psikologi mengkaji dan menafsirkan perilaku Agama berdasar teori Psikologi. Ada beberapa tokoh yang mencoba menjembatani hubungan antara Psikologi dan Agama, yaitu Edwin Diller Starburk, James H. Leuba, George Coe, G. Stanly Hall dan William James (1258-1328 H/1842-1910 M). Buku Starburk yang berjudul The Psychology of Religion (1899) dan The Varieties of Religious Experience (1902) ini memusatkan perhatian pada pengalaman keagamaan. James H. Leuba, George Coe dan G. Stanly Hall telah memberikan identitas pada istilah Psikologi Agama yang tertuang dalam karya-karyanya (Robert W. Crapps, 1993: 13).

Periode ketiga yaitu pada tahun 1930 sampai dengan tahun 1950 terjadi kemerosotan hubungan antara Agama dengan Psikologi. Ada dua hal yang menonjol dalam periode ini yaitu: Psikologi cenderung semakin positivistik dan behaviouristik serta para Ahli Agama memanfaatkan situasi itu. Saat itu, hubungan saling acuh dan menafikan antara Agama dan Psikologi terjadi. Ada tiga akibat yang ditimbulkan yaitu: rasa acuh dan tak acuh dari Ahli Agama maupun Psikologi; banyaknya Ahli Agama yang tidak yakin bahwa hasil dan kesimpulan yang diperoleh dari studi Agama secara psikologis akan memberikan hasil dan kesimpulan yang akurat; banyak Psikolog yang sangat berhati-hati dengan perkataan yang transendental, seperti keyakinan dan Agama (Robert W. Crapps, 1993: 14).

Periode keempat, yaitu pada tahun 1960-2001, pengembangan Psikologi mengarah kepada usaha untuk menjadikan nilai budaya dan Agama sebagai obyek kajian Psikologi dan sebagai sumber inspirasi bagi pembangunan teori-teori Psikologi. Kemudian lahir Psikologi Humanistik dan Psikologi Transpersonal (Baharudin, 2004: 6). Pada tahun 1987, Rolston menggunakan Psikoanalisa Behaviorisme dan Psikologi Humanistik dalam meninjau kembali pemahaman tentang doktrin-doktrin Agama. Tahun 1988, Sperry menggunakan Psikologi Kognitif untuk mendefinisikan kembali keimanan (Jalaluddin Rakhmat, 2004: 138).

Dari keempat periode tersebut menunjukkan bahwa Psikologi itu posisinya ada di atas Agama. Maksudnya adalah Agama dijadikan obyek penelitian Psikologi. Menanggapi hal tersebut, ada penemuan baru yang dilakukan oleh Jones. Jones menawarkan sebuah hubungan antara Agama dan Psikologi yaitu dengan interaksi kritis-evaluatif. Teori ini menuntut peneliti untuk menguji dan mengevaluasi teori-teori Psikologi tersebut apakah bertentangan dengan keyakinan Agama. Sehingga, Psikologi diletakkan di bawah telaah Agama (Jalaluddin Rakhmat, 2004: 139).

Berdasar pertentangan antara Agama dan Psikologi ini, maka Agama dan Psikologi hendaknya menjadi mitra sejajar yang keduanya dapat mengkaji satu dengan yang lain. Artinya adalah Agama dapat mengkaji Psikologi (Agama mengevaluasi teori-teori Psikologi) dan sebaliknya, Psikologi dapat digunakan untuk memahami Agama (Psikologi sebagai ilmu bantu penelitian Agama).

Psikologi Agama

Perbedaan dalam memandang keberagamaan manusia yang berbeda-beda itu akan memunculkan perbedaan dalam mendefinisikan tentang Psikologi Agama. Ada beberapa tokoh yang mencoba mendefinisikan Psikologi Agama, yaitu Zakiyah Daradjat, Nico Syukur Dister dan Robert W. Crapps.

Menurut Zakiyah Daradjat, Psikologi Agama adalah meneliti kehidupan beragama seseorang dengan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan Agama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan Agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya, mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa Agama pada seseorang dan faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan serta meneliti pengaruh Agama terhadap sikap dan tingkah laku orang/mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang (Zakiah Daradjat, 2005: 14).

Menurut Nico Syukur Dister, Psikologi Agama meneliti manusia yang beragama dengan kesadaran yang mengarahkan dirinya secara intensional kepada Tuhan (Nico Syukur Dister, 1988: 13-14). Robert W. Crapps mengungkapkan bahwa Psikologi Agama sebagai cabang ilmu yang memusatkan perhatian pada tiga bidang, yaitu: bentuk-bentuk institusional (lembaga, organisasi, civil religion) yang diambil agama, arti personal yang diberikan orang pada bentuk-bentuk itu, serta hubungan antara faktor keagamaan dan seluruh struktur kepribadian manusia (Robert W. Crapps, 1993: 19).

Berdasarkan pada pendapat ketiga pemikir tersebut, Psikologi Agama merupakan usaha untuk menstudi Agama dari sudut pandang Psikologi yang memfokuskan pada tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap Agama yang dianut serta kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Ketika meneliti persoalan Agama khususnya tentang manusia yang beragama, peneliti menggunakan beberapa metode-metode ilmiah.

Metode Penelitian Psikologi Agama

Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengkaji manusia yang beragama. Secara umum, metode penelitian Psikologi Agama adalah metode ilmiah empiris/ melakukan observasi terhadap data secara nyata (Zakiah Daradjat, 2005: 10). Menurut Zakiyah, ada beberapa metode dalam meneliti agama. Dalam metode empirik, kesimpulan diambil dari observasi terhadap data-data atau fakta-fakta bukan dari belakang meja), dengan menanyakan pengalaman-pengalaman orang yang masih hidup (dengan angket), apa yang kita capai dengan meneliti diri kita sendiri, dapat dikumpulkan bahan-bahan dari riwayat hidup yang ditulis sendiri oleh yang bersangkutan atau yang ditulis oleh ahli-ahli agama (Zakiah Daradjat, 2005: 10).

Metode selanjutnya yaitu dokumen pribadi, angket, wawancara. Metode eksperimen dengan mengadakan perbandingan. Metode observasi yaitu mengadakan pengamatan serta mencatat kejadian-kejadian untuk dianalisa, diteliti dan dicari kesimpulannya. Metode klinik/projektif tehnik, terhadap penderita yang datang ke klinik jiwa untuk konsultasi, karena persoalan, emosi, keluarga, pribadi dan sebagainya, yang hal ini berhubungan dengan keyakinan Agama. Metode ini digunakan untuk menentukan kualitas penyesuaian diri individu dengan lingkungannya, baik secara umum, maupun khusus, tertentu atau menyimpang. sehingga kita dapat menambah pengertian tentang masalah Psikologi, hubungan, sebab akibat, penilaian, hipotesis dan cara menanganinya (Zakiah Daradjat, 2005: 15).

Menurut Ahyadi, ada beberapa metode penelitian Psikologi Agama yang lain yaitu metode statistik. Metode ini merupakan perhitungan kuantitatif untuk membuat diskripsi, penilaian, kesimpulan dan penemuan ilmiah. Tes Psikologi digunakan untuk mengetahui kemampuan, perasaan, minat, aspek individu, angket dengan mengajukan pertanyaan dengan wawancara atau kuisioner, intropeksi yaitu mengamati kejadian diri sendiri, retrospeksi yakni intropeksi yang dilaksanakan setelah kejadian Psikologi berlangsung, ekstropeksi yaitu pengamatan kejadian psikologis terhadap orang lain. Metode selanjutnya yaitu partisipasi dengan ikut masuk dalam situasi interaksi sosial Psikologi, meneliti riwayat hidup (case history methode), tehnik analisis impian dan meneliti perkembangan hidup seseorang (developmental methode) (Abdul Aziz Ahyadi, 2005: 34). Beberapa metode tersebut dapat digunakan untuk memahami pengalaman beragama sebagai obyek formal dari Psikologi Agama.

Pembelajaran Psikologi Agama

Melihat dari ruang lingkup, sejarah dan metode dalam Psikologi Agama, mata kuliah Psikologi Agama ini merupakan salah satu mata kuliah yang perlu diajarkan dan dipahami secara mendalam khususnya bagi mahasiswa-mahasiswi. Psikologi Agama ini mencoba mengungkap Agama dari sisi Psikologi. Ini sangat penting untuk mengungkap bagaimana keberagamaan mahasiswa-mahasiswi atau civitas akademika khususnya di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Calon mahasiswa-mahasiswi datang dari berbagai latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Hal ini mengasumsikan bahwa pemahaman akan keagamaanpun akan berbeda-beda. Untuk mengetahui sejauhmana keberagamaan pribadi mereka, perlu ada Psikologi Agama sebagai mata kuliah pokok yang harus dipahami oleh seluruh mahasiswa-mahasiswi khususnya di Fakultas Ushuluddin. Harapannya adalah mereka mendapatkan pencerahan sekaligus mendapatkan ilmu dalam memahami studi-studi keagamaan.

Di Fakultas Ushuluddin, mata kuliah Psikologi Agama ini merupakan mata kuliah pendukung yang dalam jurusan yang satu dengan yang lain mempunyai materi yang berbeda sesuai dengan konsentrasi jurusan. Sebagai contoh, Psikologi Agama pada Jurusan Perbandingan Agama dan Tafsir Hadis. Di Jurusan Tafsir Hadis, Psikologi Agama terintegrasi dan terinterkoneksikan dalam level filosofi, metodologi dan materi paling tidak antara : Ilmu Psikologi ; Psiko Terapi ; Metodologi Penelitian Agama ; Studi Qur’an dan Hadis.

Untuk Jurusan Perbandingan Agama, mata kuliah ini terintegrasi dan terinterkoneksikan di dalamnya pada level filosofi, metodologi dan materi paling tidak antara: Ilmu Psikologi; Sejarah Agama-Agama; Metodologi Penelitian Agama; Ilmu Kalam; Fiqh; Akhlak. Topik-topik yang akan dibahas antara lain berkenaan dengan proses perkembangan beragama, sosialisasi Agama, konversi Agama, sikap dan orientasi keagamaan, kematangan beragama, kecerdasan spiritual dan Psikologi Islami.

Perkuliahan Psikologi Agama ini, khususnya diperuntukkan bagi mahasiswa- mahasiswi Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin, dengan maksud memberi bekal mahasiswa-mahasiswi dengan salah satu pendekatan dalam studi Agama-agama. Sesuai dengan namanya, Psikologi Agama akan menstudi Agama dari sudut pandang Psikologi. Karena yang menjadi peserta kuliah ini adalah mahasiswa-mahasiswi Jurusan Perbandingan Agama maka topik-topik yang akan dibahas juga akan diarahkan dalam rangka memperluas wawasannya dalam memahami fenomena keagamaan historis sekaligus memperkaya pendekatan mereka dalam menstudi Agama-agama. Topik-topik yang akan dibahas antara lain berkenaan dengan proses perkembangan, sosialisasi Agama, konversi Agama, sikap dan orientasi keagamaan, kematangan beragama, kecerdasan spiritual dan Psikologi Islami.

Berhubung peserta perkuliahan ini adalah mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama yang diharapkan memiliki pengalaman dan pengetahuan yang menunjang kompetensinya sebagai Peneliti Agama, maka sebagian strategi perkuliahan akan diorientasikan pada latihan penggunaan teori dan konsep yang dipelajari dalam sebuah latihan penelitian (mini riset). Dalam Buku Pedoman Akademik: Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga disebutkan bahwa kompetensi dari Jurusan Perbandingan Agama adalah menguasai bidang keilmuan Studi Agama-agama, baik secara akademik maupun praktis, dan mampu mengaplikasikannya bagi kepentingan Agama dan bangsa (2007: 14).

Pada akhir perkuliahan ini, mahasiswa-mahasiswi diharapkan mampu untuk menjelaskan proses dan pengalaman individu secara teoritis, menguraikan proses dan pengalaman beragama yang terjadi dalam realitas di masyarakat, membandingkan proses dan pengalaman beragama secara teoritis dengan yang terjadi di masyarakat, menyimpulkan (menyusun teori) tentang proses dan pengalaman beragama di mayarakat, menyusun laporan dari hasil penelusuran tentang proses dan pengalaman beragama di masyarakat, mempresentasikan hasil (laporan) penelusuran proses dan pengalaman beragama di masyarakat.

Standar kompetensinya adalah mahasiswa-mahasiswi mampu memahami Psikologi Agama, melakukan penelusuran terhadap proses dan pengalaman beragama individu, menyusunan prinsip proses dan pengalaman beragama berdasar hukum-hukum Psikologi, menggunakan pemikiran dan pendapat secara akademik dan kemampunan menyajikan secara lisan maupun tulisan mengenai prinsip-prinsip proses dan pengalaman beragama yang diperoleh dari penelitian (mini riset), serta mahasiswa-mahasiswi mampu melakukan mini-riset (mini-project) dengan menggunakan pendekatan Psikologi Agama.

Berdasarkan pembelajaran tersebut, mahasiswa-mahasiswi dituntut untuk dapat menerapkan ilmu yang didapat, bukan hanya dalam dataran teori tetapi juga dalam dataran prakteknya. Mereka dapat memecahkan problem keagamaan dari sudut Psikologi Agama, bukan hanya dalam keagamaan di Agama lain, di dalam Agama Islam tetapi juga dalam dirinya sendiri. Psikologi Agama ini menawarkan kawasan atau lahan kenapa orang itu baik dan buruk. Pembelajaran Psikologi Agama yang Islami ini, baik teori maupun praktek, diharapkan mampu mencerahkan mahasiswa-mahasiswi khususnya di Jurusan Perbandingan Agama.

Kegelisahan yang dihadapi oleh mahasiswa-mahasiswi tersebut disebabkan karena mereka tidak mengenal secara mendalam tentang kuliah di Jurusan Perbandingan Agama. Perbandingan Agama bukan membanding-bandingkan Agama tetapi menstudi Agama-agama. Salah satu mata kuliah yang diajarkan di Jurusan Perbandingan Agama adalah Psikologi Agama. Mata kuliah ini menstudi Agama dari sudut pandang Psikologi. Berdasar hal tersebut, anggapan yang mengatakan bahwa jika mereka kuliah di Perbandingan Agama, maka mereka akan murtad itu sesuatu yang salah.

Salah satu cara untuk mengangkat citra yang positif dari Jurusan Perbandingan Agama yaitu menyodorkan mata kuliah yang diajarkan di Jurusan Perbandingan Agama yang dikemas dan menarik perhatian calon mahasiswa-mahasiswi tanpa menghilangkan sisi keIslamannya. Salah satunya adalah Psikologi Agama yang membantu mereka untuk memahami studi-studi Agama dari ranah Psikologi dengan lebih menonjolkan kajian keIslaman. Sehingga, ciri keislaman tidak akan luntur di tengah maraknya ilmu-ilmu empirik yang berintegrasi dan berinterkoneksi dengan ilmu-ilmu agama.

Dengan demikian, Psikologi Agama ini akan lebih mencirikan Islam, jika materi yang disampaikan dikaitkan dengan kajian keIslaman. Sebagai contoh, ketika membahas materi konversi Agama, maka pembahasan dan contohnya dikaitkan dengan ajaran Islam. Setelah mengikuti kuliah Psikologi Agama, mahasiswa-mahasiswi dapat mengetahui sejauhmana keberagamaan mereka sendiri. Mereka dapat belajar untuk memecahkan permasalahan keagamaan mereka sendiri. Sehingga, Psikologi Agama ini dapat mampu menjadi salah satu dari beberapa mata kuliah yang dinantikan dan mampu memberikan ketenangan jiwa bagi mahasiswa-mahasiswi serta dapat menarik minat calon mahasiswa-mahasiswi untuk belajar di Fakultas Ushuluddin.

Kesimpulan dan Saran

Berdasar paparan di atas, kegelisahan mahasiswa-mahasiswi terhadap pandangan yang salah terhadap suatu Jurusan dan Program Studi ini disebabkan karena mereka tidak mengenal secara mendalam tentang kuliah di Jurusan dan Program Studi khususnya di Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin. Untuk mengatasi hal tersebut, fakultas dengan jurusan yang bersangkutan perlu melakukan sosialisasi terhadap jurusan yang ada dan memperkenalkan beberapa mata kuliah unggulan terhadap masyarakat/calon mahasiwa-mahasiswi baru lewat beberapa media, sehingga mereka dapat tertarik untuk menjadi mahasiswa-mahasiswi di Fakultas Ushuluddin khususnya pada Jurusan Perbandingan Agama.

Salah satu dari beberapa mata kuliah unggulan tersebut adalah Psikologi Agama. Psikologi Agama merupakan usaha untuk menstudi Agama dari sudut pandang Psikologi yang memfokuskan pada tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap Agama yang dianut serta kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing dengan menggunakan beberapa metode-metode ilmiah. Agar sesuai dengan Visi dan Misi UIN Sunan Kalijaga, materi kuliah Psikologi Agama ini harus dikaitkan dengan kajian Keislaman.

Bagi mahasiswa-mahasiswi yang sudah diterima, Mata Kuliah Psikologi Agama ini memberikan gambaran tentang kawasan atau ladang dari keberagamaan orang itu baik dan buruk, sehingga mereka dapat mengevaluasi posisi keberagamaan mereka. Mereka dapat mengintropeksi diri mereka sendiri, sehingga mereka mendapatkan ketenangan batin dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan kondisi tersebut, mereka dapat menyelesaikan kuliah di Fakultas Ushuluddin dengan baik dan lancar.

Berdasar kegelisahan mahasiswa-mahasiswi tentang berbagai masalah keberagamaan, Fakultas Ushuluddin ini perlu mendirikan sebuah “Laboratorium Psikologi Agama” (bukan Jurusan Psikologi Agama) untuk memecahkan problem keagamaan yang dialami mahasiswa-mahasiswi khususnya dan civitas akademika pada umumnya. Kegiatan ini akan semakin kuat, jika Laboratorium tersebut melakukan kerjasama dengan Laboratorium di Perguruan Tinggi Islam lain di seluruh Indonesia. Hasil dari problem solving seputar keagamaan tersebut dapat diwujudkan dalam sebuah “Jurnal Psikologi Agama”.

* Dian Nur Anna, S.Ag, MA adalah Dosen Jurusan Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin, Studi Agama, dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


DAFTAR PUSTAKA

* Ahyadi, Abdul Aziz. 2005. Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
*

* Arifin, H.M. 2004. Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi. Jakarta: Bumi Akasara.
*

* Baharudin. 2004. Paradigma Psikologi Islam.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
*

* Crapps, Robert W. 1993. Dialog Psikologi dan Agama: Sejak William James hingga Gordon W. Allport. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
*

* Daradjat, Zakiah. 2005. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: P.T. Bulan Bintang.
*

* Dister ofm, Nico Syukur. 1988. Pengalaman dan Motivasi Beragama: Pengantar Psikologi Agama. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
*

* Grafika, Redaksi Sinar. 2007. UU SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) 2003 (UU RI No. 20 TH. 2003). Cetakan ke-4. Jakarta: Sinar Grafika.
*

* Kalijaga, Pokja Akademik UIN Sunan. 2006. Kompetensi Program Studi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.
*

* Kalijaga, UIN Sunan. 2007. Pedoman Akademik: Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga.Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
*

* Kalijaga, UIN Sunan. 2008. Tata Tertib Mahasiswa: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
*

* Rakhmat, Jalauddin. 2004. Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. Bandung: Mizan.

Rabu, 02 Februari 2011

Minat Menjadi Mahasiswa Ushuluddin Rendah

Pendidikan Lampost : Selasa, 1 Februari 2011



RAKER

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Salah satu masalah yang dihadapi Fakultas Ushuludin IAIN Raden Intan adalah minimnya minat calon mahasiswa mendaftarkan diri ke fakultas tersebut. Akibatnya, jumlah mahasiswa di fakultas tersebut dari tahun ke tahun terus menurun.

Dekan Fakultas Ushuludin IAIN Raden Intan Dr. M. Baharudin mengungkapkan hal itu pada pra-Rapat Kerja Fakultas Ushuludin, di aula setempat, Senin (31-1).

"Persoalan yang kita hadapi saat ini, krisis minat calon mahasiswa, kemudian belum teraplikasikannya sistem komputerisasi terpadu," kata M. Baharudin di hadapan peserta dan Rektor IAIN M. Mukri yang hadir dalam kegiatan tersebut. Praraker diikuti 20 peserta yang berasal dari pimpinan fakultas, yakni para pembantu dekan, kasubag, dan kepala laboratorium.

Untuk mengundang calon mahasiswa, menurut Baharudin, pihaknya memberikan insentif berupa uang transpor sebesar Rp50 ribu/mahasiswa kepada mereka yang mengajak mahasiswa masuk ke fakultas tersebut. Ini berarti jika tahun ini pihaknya akan mencari 200 mahasiswa, dana transpor yang harus disiapkan sebesar Rp10 juta. Oleh sebab itu, pihaknya meminta dukungan Rektor agar program menarik minat mahasiswa baru bisa berjalan dengan baik.

Menurut Baharudin, kegiatan ini dalam rangka penyusunan rencana bisnis anggaran (RBA) tahun 2010—2011 yang nantinya akan diusulkan kepada institut sebagai bahan penyusunan RBA.

Sementara itu, Ketua Panitia Kegiatan Abdurahman Simpi mengatakan kegiatan ini bertema Sebagai badan layanan umum Fakultas Ushuludin siap melakukan pembenahan.

Rektor M. Mukri dalam sambutannya mengatakan tugas para dosen dan pegawai di lingkungan Fakultas Ushuludin adalah bekerja sebaik-baiknya. "Ada atau tidak mahasiswa di Ushuludin jangan memengaruhi kinerja kawan-kawan. Sebab, sebagai PNS dan perguruan tinggi negeri gaji dosen tidak tergantung pada jumlah mahasiswa," kata Mukri.

Ia mengajak kepada dosen untuk memperbaiki kinerja, menjaga kebersihan, dan memberikan pelayanan terbaik kepada mahasiswa. Hal itu diharapkan akan memberikan efek positif sehingga banyak calon mahasiswa yang kemudian mendaftarkan diri di fakultas ini. (UNI/S-1)

Sabtu, 22 Januari 2011

Diskusi Kebudayaan di Fakultas ushuluddin IAIN Rd.Intan



Kampus IAIN Rd. Intan Lampung



Pengantar



Indonesia tidak hanya menarik untuk diteliti karena berkembangnya agama agama besar di lingkungan penduduk setempat, tetapi juga dari segi perpindahan masyarakat dari pulau yang satu ke pulau yang lain, ternyata dapat berjalan lancar dan tidak menemui hambatan yang berarti, demikian dewasa dan demokratisnya kah masyarakat Indonesia yang belum tergolong bangsa maju, atau termasuk anggota OECD.



I Itu pulalah barangkali mengapa Isshabel (peneliti asal Kanada) memilih untuk melakukan penelitian di Lampung. Adakah aspek positif dan negatifnya dari kontak budaya yang berlangsung besar besaran itu. Penelitian ini akan dilakukan dibeberapa komunitas masyarakat Lampung yang dalam sehari harinya banyak melakukan mkontak budaya seperti di daerah Pringsewu, Gedung Tatan (Pesawaran) dan Menggala (Tulangbawang)tetapi Isshabel dalam penelitian ini lebih stressing dalam rasa keamanan dan kenyamanan, istimewanya dalam upaya meraih kesejahteraan hidup.





Apa yang anda rasakan sebagai masyarakat pendatang di lampung ini, Tanya Issabel melalui perantara Dr.Imelda dari LIPI Jakarta. Yang juga sekaligus bertindak sebagai moderator dalam diskusi itu

Sebagai seseorang yang dilahirkan di daratan Jawa dan kini telah 30 tahun lebih saya tinggal di Lampung, saya merasakan kenyamanan yang teramat sangat di Lampung ini, demikian kata Dr. Baharuddin, Dekan fakultas Ushuluddin IAIN Rd. Intan Lampung. Tentu saja bagi Dr.Baharuddin kenyamanan yang paling indah adalah ketika beliau dipilih oleh rekan rekannya yang memiliki hak suara dan bicara dalam pemilihan Dekan, dan menjatuhkan pilihannya kepada dirinya, sehingga sudah satu periode penuh ini melaksanakan tugasnya sebagai Dekan. Ini hanya sebagai contoh kecil yang dirasakan oleh Dr. Baharuddin yang selanjutnya dipahaminya sebagai implementasi dari pandangan hidup masyarakat lampung, yang dikenal sebagai ‘Piil Pesenggiri’.



Dr. Baharuddin juga sempat membuat makalah tentang falsafah Piil Pesenggiri untuk memenuhi tugasnya sebagai mahasiswa di Fakultas Filsafat Gajahmada. Ketika makalah itu ditayangkan, dosen dan banyak mahasiswa seangkatan yang berdecak kagum. Makalah tersebut mengangkat akan adanya nilai nilai moden dalam falsafah piil pesenggiri, seperti demokratis, kesetaraan, serta pembaharuan dan lain sebagainya. Yang pandangan filosofi seperti tidak banyak diketemukan di daerah lain. Tetapi dalam waktu yang bersamaan, saya juga tercengang mengapa falsafah piil pesenggiri seperti akan tertanggalkan, padehal piil pesenggiri yang islami itu adalah falsafah yang modern.



bagaimana pendapat yang lain ? apakah nilai nilai piil pesenggiri ini lebih merupakan nilai nilai yang modern ataukah Islami, Tanya Imelda dari LIPI. Bagi saya nilai nilai piil pesenggiri lebih cenderung ke nilai nilai keislamannya. Saya telah melakukan pengkajian yang agak serius, di mana nilai nilai piil pesenggiri itu ternyata sangat sejalan dengan ajaran ajaran islam, bukan saja bersumber dari hadits, tetapi juga al_quran. Semua unsure piil pesenggiri ada sandarannya dalam Islam. Demikian kata Zarkasi, M.Ag. serius. Zarkasi mermbacakan beberapa ayat dan hadits yang sejalan dengan unsur unsur dalam piil pesenggiri, yang sangat dukaguminya itu.



Sejarah Lampung tidak terlepas dari geliat perkembangan Pemerintahan Kesultanan Banten. Demikian dekatnya hubungan antara Lampung-Banten, sehingga kedatangan Islam ke Lampung berjalan sangat lancar. Tambah Efendy Zarkasi, M.Hum. Apalagi setelah terjadinya perkawinan antara Sultan Cirebon dengan Putri Alam dari keratuan Darah Putih. Walaupun anak keturunan Fatahillah pernah terjadi persengketaan, tetapi persengketaan itu dapat diselesaikan dan bahkan terjalin kerjasama, bukan hanya sekedar kakak beradik, tetapi ada hubungan bilateral antara banten dengan lampung, yang ditandai kerjasama infantry, karena secara kebetulan banten harus mengangkat senjata dengan berbagai daerah, yang dianggap oleh banten akan mengganggu kedaulatannya.



Dr. Arsyad SyabiKusuma, yang juga dalam kekerabatan beliau bertindak sebagai penyimbang pemangku adat selalu merasa berkewajiban menyampaikannya dalam berbagai kesempatan acara kekeluargaan. Maka sangat beralasan manakala banyak masyarakat pendatang yang merasakan kenyamanan selama tinggal di Lampung.





Pendapat Dr. Arsyad Sahbi dibenarkan oleh Drs. Muhadi, M.Si. bahkan ditambahkan ketika semboyan Sang Bumi Ruwa Jurai ditafsirkan dengan menyatunya antara penduduk pendatang dengan penduduk setempat, maka kami kami sebagai pendatang ini benar benar merasa terayomi. Tetapi ada sedikit kritik dari saya, kata Dr.Baharuddin kadang kala saudara saudara saya dari etnis Lampung ini tidak segan segan berbeda paham dengan saudaranya sendiri demi mendukung orang lain. Itu sisi lain ketika orang Lampung harus memilih. Dengan cepat Dr. Arsyad Sahbi Kesuma membantah, itu hanya kasuistik yang tidak dapat digeneralisir, karena peristiwa demikian itu tidak selalu berulang setiap kali ada pemilihan.Lihat saja ketika dilaksanakannya Pilkada.





Apakah di lampung di Lampung Pilkada tidak menunjukkan rawan perpecahan, dari beberapa kali Pilkada apakah yang menggejala, Tanya Imelda.

Fachruddin berpendapat : Kerawanan akan perpecahan saat dilaksanakan Pilkada itu kan berlaku umum, bukan hanya di Lampung, ketika masyarakat dihadapkan dengan berbagai pilihan, maka konflik otomatis terjadi, dan peluang perpecahan bisa muncul. Contohnya seperti Pilkada di Lampung Utara. Tetapi sekarang ada perkembangan baru, bahwa masyarakat sekarang ini cenderung fragmatis. Ada seloroh setiap kali akan ada Pilkada, dan ditanyakan kepada masyarakat, akan memilih pasangan yang mana ? Masyarakat banyak yang mengatakan bawa mereka masih menunggu Uangsit (“bukan wangsit”), uangsit artinya 'uang disit' (uangnya dulu … ).



Kalau hitung hitungan mata pilih berdasarkan kelompok etnis, maka semestinya yang terpilih dan pemenang dalam Pilkada di Lampung ini seharusnya adalah etnis Jawa, sebagai kelompok mayoritas. Tetapi kenyataannya tidak dibeberapa tempat seperti Lampung Selatan, Lampung Utara, Lampung Barat, Tanggamus, Tulangbawang, Pesawaran serta Kota Bandar Lampung, pemenangnya ternyata adalah etnis Lampung.



Dr.Baharuddin menolak ada peran uang dalam Pilkada, kalaupun terjadi itu hanya kecil sekali presentasenya, dan terbatas kalangan di bawah menengah, sehingga sulit digenelasir. Kalangan terpelajar menurut Dr. Baharuddin tidak akan terprovokasi dengan iming iming uang. Masyarakat intelektual dan elit memang tidak akan terprovokasi dengan uang dalam jumlah sedikit, semakin tinggi harkat seseorang itu semakin mahal harga ongkosnya, kata Fachruddin.Ketika yang memiliki suara pilih hanya anggota DPRD untuk memilih Pimpinan daerah, harga suara itu akan menjadi tinggi sekali. Itu sudah menjadi rahasia umum.



Modal uang dalam Pilkada itu Mutlak, setiap pasangan calon harus menyiapkan miliaran rupiah untuk memenangkan Pilkada. Berbicara masalah politik dan uang dalam Pilkada di Lampung maka bukan otomatis berarti semua akan dibagi bagi uang, kata Dr.Sidi Ritauddin. Bisa juga uang itu sebagai ongkos politik. Antara lain untuk biaya makan minum secretariat ketika kumpul kumpul para pimpinan dan anggota Tim Sukses. Tetapi untuk masyarakat kelas bawah ada juga yang terdengar bagi bagi sembako.dan penggalangan penggalangan yang membutuhkan makan minum serta ongkos transport.



Fachruddin menegaskan : Saya menangkap telah terjadi pergeseran nilai, perkara pemilihan calon dalam Pilkada, asal sudah memenuhi keriteria Lampung – non Lampung atau sebaliknya, maka bagi masyarakat tinggal lagi masalah siapa yang memberikan keuntungan sekarang, sebagian besar pemilih tidak mempersoalkan visi dan missi.

Sikap fragmatis masyarakat itulah yang harus kita waspadai, karena akan merendahkan mutu Pilkada itu sendiri.



Nampaknya ada trend yang menunjukkan gejala krisis kepercayaan, Masyarakat tidak lagi begitu percaya kepada calon yang akan terpilih, mereka tidak lagi menggantungkan harapan terlalu banyak, hal ini barangkali terdorong oleh kenyataan akan tidak ada yang signifikan dapat dirasakan kemanfaatannya dari pemenang Pilkada. Semua sama dan sebangu serta tak memberikan dampak yang akan meringankan beban hidup ini. Tetapi sekali lagi ini bukan gejala Lampung, tetapi sudah berlaku umum.



Kepemimpinan Punyimbang Adat.



Dalam diskusi itu juga dipertanyakan, bagaimana dengan kepemimpinan para punyimbang adat. Fachruddin mengatakan bahwa : Dengan diberlakukannya UU Pemerintahan desa, maka sejak saat itu kepemimpinan adat dan kepunyimbangan tergeser. Padehal kepemimpinan tokoh adat akan lebih memantapkan penghayatan terhadap falsafah piil pesenggiri, seperti apa yang diungkapkan oleh Dr. Baharuddin tadi, secara lambat laun masyarakat akan menanggalkan piil pesenggiri itu, itu terjadi karena kepemimpinan punyimbang adat tidak lagi efektif.







Semula penanaman nilai piil pesenggiri juga dilakukan pada saat diselenggarakan uopacara daur hidup, dahulu masyarakat sangat mementingkan upacara daur hidup ini secara lengkap. Mulai dari upacara kehamilan, lalu kelahiran, upacara masa kanak kanak, masa remaja, masa dewasa, perkawinan hingga upacara kematian. Isi pidato para punyimbang adat pada saat diselenggarakannya upacara selalu di sekitar nilai nilai piil pesenggiri dan bagaimana melaksanakannya dalam kehidupn sehari hari.





Tetapi upacara daur hidup itu kini mulai langka diselenggarakan, sehingga nampaknya penanaman nilai piil pesenggiri itu kehilangan media yang paling ideal. sekarang dengan tidak efektifnya kepemimpinan para punyimbang adat, tinggal lagi kita berharap kepada proses pembelajaran di sekolah sekolah formal utamanya untuk mengintegrasikan nilai nilai piil pesenggiri ini melalui mata pelajaran muatan lokal (mulok).



Politik Diskriminatip.



Kalau tadi dikatakan bahwa para pendatang migran umumnya merasa nyaman tinggal di Lampung, dan dalam kesehariannya tidak perlu menanggalkan identitas kedaerahannya. Di lampung ini kesenian daerah jawa dapat berkembang. Tetapi walaupun demikian kata fachruddin, pada era Orde baru dahulu Pemerintah telah menerapkan politik diskriminatif. kalau lokasi transmigrasi dalam waktu cepat telah memiliki berbagai fasilitas umum, maka justeru perkampungan asli lampung sulit akat terjangkau oleh pembangunan. Sarana umum pedesaan seperti lapangan olahraga, gedung sekolah, Puskesmas, listrik dan jalan raya serta jembatan itu lokasi transmigrasi yang lebih dahulu akan mendapatkannya.



Beruntung ketika terjadi reformasi, di era reformasi ini telah muncul proyek yang bernama "Proyek Tiyuh Toho" (Proyek Perkampungan Tua). Tiyuh toho ini adalah perkampungan asli komunitas Lampung, dengan kegiatan mulai dari pengadaan sarana perasarana desa sampai kepada pemberdayaan masyarakat desa.



Politik dekriminatif ini sangat besar pengaruhnya, terutama bagi sikap para komunitas pendudik serta pola hubungan dengan masyarakat pendatang. Kontak budaya menjadi terhambat, sehingga proses akulturasi menjadi tersumbat. Semestinya melalui kontak budaya akan banyak didapatkan kemajuan kemajuan bagi keduabelah pihak. hal ini akan nampak pada perkembangan ekonomi dan kesejahteraan sering tidak berjalan serempak.



Faktor Ekonomi.



Isshabella, menginginkan adanya informasi tentang perkembangan ekonomi paska kontak budaya dengan masyarakat migran. Yang jelas, dengan berdatangannya orang asal Jawa, maka Lampung mengenal system sawah dalam penanaman padi. Semula masyarakat lampung hanya mengenal ladang. Artinya ketergantungan terhadap curahan hujan itu sangat besar sekali.



Dengan diperkenalkannya system sawah dalam penanaman padi oleh masyarakat jawa berarti masyarakat lampung akan lebih tersejahterakan. Walaupun dalam kenyataanya pencetakan sawah itu tidak terlepas dari bantuan Pemerinmtah. Tapi tampa kehadiran orang asal jawa belum tentu pemerintah secepat itu melakukan pencetakan sawah baru. Karena masyarakat Lampung yang memiliki lahan perladangan yang demikian luwas, maka hasil panennya selalu saja tidak terhabiskan dalam sekali musim. Dengan demikian maka sebenarnya bagi etnis Lampung pencetakan sawah itu belum terlalu mendesak.





Yang paling menarik adalah kasus di Desa Pagelaran kabupaten Pringsewu, yang semula memiliki kepandaian memijah ikan hanyalah pendatang dari jawa Barat, tetapi sekarang yang memiliki aktivitas pemijahan ikan juga dilakukan oleh etnis Lampung. Hal ini terdorong oleh banyaknya air mengalir yang melintas di desa Pagelaran itu, sehingga lahan kolam ikan cukup luas, sehingga memiliki kemampuan mensuplay ikan lele, mujair, emas dan Gurame hamper setiap hari ke Bandar Lampung.



Sebelumnya juga etnis Lampung memelihara ikan dalam kolam dengan system dalam bagian tengah, tetapi setelah berkenalan dengan system pengelolaan kolam dari pendatang asal Jawa Barat, maka kolam merekapun dibuat miring, sehingga pada saat pengeringan tidak membutuhkan tenaga banyak orang, karena dengan sendirinya ikan akan berenang menjemput air bening yang tetap mengalir. Dan sekaligus air tidak keruh dan ikan tidak terancam mati.



Tetapi perkembangan itu juga tergantung kepada jenis kekayaan alam yang tersedia. Di Lampung Barat, masyarakat setempat tidak dapat belajar kepada orang asal jawa, tentang bagaimana mengelola pohon damar. Di Tulangbawang masyarakat setempat tidak daopat belajar kepada masyarakat pendatang, tentang bagaimana merombak sistem 'lebak-lebung' sehingga panen ikan dapat dilakukan berkali kali tampa ketergantungan dengan jadual musim hujan.









Bagi para nelayan daerah Lampung, kedatangan penduduk dari luar daerah seperti Banten dan bahkan Bugis, telah pula membuka cakrawala bagaimana bernelayan dengan baik, serta mendapatkan ikan lebih banyak dengan waktu yang lebih singkat. Pada saat itu Lampung diperkenalkan dengan perahu bercadik, sehingga pencarian ikan dapat dilaksanakan hingga jauh ke tengah laut.



Tetapi walaupun bagaimana dunia nelayan kita kini masih jauh tertinggal, sebagian besar sejak dahulu hingga kini masih tetap tradisional. Dan dari udara akan nampak kontras dengan eksploitasi tembak udang yang cukup modern, sperti gambar di atas.









Diskusi ditutp setelah Isshabel menyatakan cukup puas dengan pertemuan itu. dari pertemuan itu Ia telah mendapatkan berbagai wawasan yang nantinya akan dibandingkan dengan berbagai temuan di lapangan. Di lapanganpun sebagian data yang dibutuhkan memang telah didapatkan dari Pringsewu dan gedung Tataan. Di Gedungtatan telah mendapat berbagai data dari Museum Trnasmigrasi.







Dari Museum Transmigrasi kita akan mendapatkan berbagai data, selain sejarah transmigrasi, juga berbagai data kemaslahatan yang dicapai dengan adanya transmigrasi itu sendiri



Semula diskusi ini akan dihadiri oleh Prof.Fauzie Nurdin, Prof.Idham Kholid, Dr.Himyari, Dr.M.Agil Ikrom dan Dr.Damanhuri Fattah, mereka dikenal sebagai pakar kebudayaan Lampung. Tetapi sayang mereka berhalangan karena ada tugas tugas lain yang lebih mendesak untuk diselesaikan.