Pendidikan Lampost : Rabu, 6 April 2011
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pemanfaatan e-learning atau pembelajaran elektronik sebagai media pembelajaran alternatif di Kota Bandar Lampung masih minim.
Selain persoalan sarana prasarana yang belum memadai, faktor kemampuan guru dalam menguasai media internet sebagai sarana alternatif dalam penerapan e-learning menjadi faktor penting minimnya pemanfaatan metode itu.
Hendri G. Pratama dari Bandar Lampung Creative Networking (BLCN) sekaligus fasilitator ekonomi kreatif Kementerian Perindustrian dan Perdagangan untuk Lampung mengatakan hal itu di Bandar Lampung, Selasa (5-4).
Rencananya, menyambut Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei nanti, BLCN akan mengadakan pelatihan e-learning bagi guru-guru SD, SMP, SMA, dan SMK di Bandar Lampung.
Menurut Hendri, dengan pendidikan berbasis e-learning akan ada banyak sekali keuntungan yang dapat diperoleh, baik guru, murid, bahkan orang tua siswa. Hal itu karena e-learning dalam penerapannya akan menciptakan komunikasi antarketiganya.
E-learning dapat dilakukan dengan membangun halaman blog bagi setiap guru. Pada halaman blog yang dimilikinya para guru secara rutin dapat memuat bahan ajar, rangkuman materi pelajaran, hingga bahan bacaan alternatif dari mata pelajaran yang diasuhnya.
Ada beberapa manfaat pembelajaran elektronik, di antaranya adalah pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility), bertambahnya interaksi pembelajaran antara peserta didik dan guru atau instruktur (interactivity enhancement).
Selain itu, menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (global audience) serta mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).
Manfaat pembelajaran elektronik juga dapat dilihat dari dua sudut pandang manfaat bagi siswa; dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya, kita dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang.
"Selain itu, kita juga dapat berkomunikasi dengan guru/dosen setiap saat, misalnya melalui chatting dan e-mail, mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses melalui internet, maka kita dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja, juga tugas-tugas pekerjaan rumah dapat diserahkan kepada guru/dosen begitu selesai dikerjakan," kata Hendri.
Sementara manfaat bagi pengajar, dengan adanya kegiatan e-learning manfaat yang diperoleh guru/dosen, antara lain bahwa guru atau dosen instruktur akan lebih mudah melakukan pembaruan materi maupun model pengajaran sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi, juga dapat dengan efisien mengontrol kegiatan belajar siswanya.
"Keterbukaan akses dalam e-learning juga dapat mengoptimalkan pemberdayaan pendidik yang berkualitas. Dengan adanya materi ajar milik guru-guru di sekolah unggul, juga dapat dinikmati berbagai siswa lain secara luas, di mana saja dan kapan saja," kata dia.
Hendri menjelaskan BLCN akan mengadakan roadshow pelatihan ke-10 sekolah terpilih di Bandar Lampung. Materi akan disampaikan oleh Henri, Tono Wijaya (dosen Komunikasi Unila), serta Harno Bimantoro dari pusat komputer Universitas Lampung.
"Pelatihan ini mengutamakan penerapan dalam menerima materi yang kami berikan. Jadi guru yang memperoleh pendidikan baru memperoleh sertifikat jika dalam satu bulan dinilai aktif membangun halaman blog yang dimilikinya," kata dia. (MG14/S-2)
Jumat, 08 April 2011
Kamis, 07 April 2011
Kepsek dan Guru Ikut Aliran Surga
Utama Lampost : um'at, 8 April 2011
ULUBELU (Lampost): Warga Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, dibuat resah oleh munculnya aliran sesat Surga Firdaus yang menjamin pengikutnya masuk surga jika membayar sejumlah dana. Pengikutnya juga tidak perlu salat, puasa, dan ibadah lainnya.
Menurut sejumlah sumber, sedikitnya sudah 60 warga di wilayah ini, terutama di Pekon Penantian termasuk seorang kepala sekolah dan empat guru SD, menjadi pengikut aliran tersebut.
"Muspika sudah melakukan investigasi bahkan sudah memanggil mereka. Informasi yang kami dapatkan memang sungguh ironis. Mereka mengaku orang Islam tapi perilakunya tidak Islami. Ini jelas sesat," kata Camat Ulubelu, Suroyo, Kamis (7-4).
Suroyo menjelaskan kepala sekolah dan empat guru PNS yang sudah menjadi pengikut aliran tersebut adalah Banio, kepala SDN 2 Penantian, dan istrinya Iriani, guru di SDN 1 Penantian.
Kemudian, Sutriyanti, guru SDN 1 Ulusemoung; Mujilah, guru SDN 2 Penantian; dan Sri Sunarti, guru SDN 1 Penantian. "Mereka ini sudah kami panggil, mereka sudah membuat pernyataan bertobat dan kembali kepada Islam," kata dia.
Nur Setiabudi, mantan Kepala UPTD Pendidikan Pemuda dan Olahraga Ulubelu, menjelaskan berdasarkan keterangan Banio dan empat guru yang menjadi pengikut aliran Surga Firdaus, awalnya mereka tertarik dengan aliran yang disebut-sebut dari Subang, Jawa Barat, itu karena pengikutnya diwajibkan taat ibadah seperti salat, puasa, zakat, haji, dan membaca Alquran.
Tetapi, lama-kelamaan, para pemimpin aliran ini mengatakan jika pengikutnya boleh tidak melaksanakan ibadah, bahkan diperbolehkan punya prinsip “istrimu istriku, suamimu suamiku”, asalkan mereka membayar penebusan dosa.
"Saat masuk aliran Surga Firdaus ini diminta dana Rp300 ribu. Kemudian yang membayar tebusan Rp1 juta dijanjikan akan mendapat emperan surga," kata dia.
Bukan itu saja, pengikut yang menebus dosa sebesar Rp7,5 juta dijamin masuk surga Eden. Puncaknya, pengikut yang membayar uang penebusan dosa Rp12,5 juta dijamin masuk surga tertinggi yaitu Surga Firdaus. "Di mata aliran Surga Firdaus ini, bagi pengikutnya yang membayar Rp12,5 juta dibebaskan berbuat apa saja," katanya.
Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Tanggamus, Heri Iswahyudi, akan memanggil oknum kepala sekolah dan guru yang menjadi pengikut aliran sesat ini. "Paling lambat Senin (11-4) mereka kami panggil," kata Heri yang juga Ketua NU Tanggamus ini, Kamis (7-4).
Heri Iswahyudi justru curiga aliran Surga Firdaus ini bukan ajaran sesat atau sekte sesat, tetapi organisasi yang memakai label ajaran sesat untuk menipu dengan mendapat materi. "Sebab, sepanjang ini tidak ada aliran sesat yang meminta duit kepada pengikutnya," kata dia. (UTI/R-2)
ULUBELU (Lampost): Warga Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, dibuat resah oleh munculnya aliran sesat Surga Firdaus yang menjamin pengikutnya masuk surga jika membayar sejumlah dana. Pengikutnya juga tidak perlu salat, puasa, dan ibadah lainnya.
Menurut sejumlah sumber, sedikitnya sudah 60 warga di wilayah ini, terutama di Pekon Penantian termasuk seorang kepala sekolah dan empat guru SD, menjadi pengikut aliran tersebut.
"Muspika sudah melakukan investigasi bahkan sudah memanggil mereka. Informasi yang kami dapatkan memang sungguh ironis. Mereka mengaku orang Islam tapi perilakunya tidak Islami. Ini jelas sesat," kata Camat Ulubelu, Suroyo, Kamis (7-4).
Suroyo menjelaskan kepala sekolah dan empat guru PNS yang sudah menjadi pengikut aliran tersebut adalah Banio, kepala SDN 2 Penantian, dan istrinya Iriani, guru di SDN 1 Penantian.
Kemudian, Sutriyanti, guru SDN 1 Ulusemoung; Mujilah, guru SDN 2 Penantian; dan Sri Sunarti, guru SDN 1 Penantian. "Mereka ini sudah kami panggil, mereka sudah membuat pernyataan bertobat dan kembali kepada Islam," kata dia.
Nur Setiabudi, mantan Kepala UPTD Pendidikan Pemuda dan Olahraga Ulubelu, menjelaskan berdasarkan keterangan Banio dan empat guru yang menjadi pengikut aliran Surga Firdaus, awalnya mereka tertarik dengan aliran yang disebut-sebut dari Subang, Jawa Barat, itu karena pengikutnya diwajibkan taat ibadah seperti salat, puasa, zakat, haji, dan membaca Alquran.
Tetapi, lama-kelamaan, para pemimpin aliran ini mengatakan jika pengikutnya boleh tidak melaksanakan ibadah, bahkan diperbolehkan punya prinsip “istrimu istriku, suamimu suamiku”, asalkan mereka membayar penebusan dosa.
"Saat masuk aliran Surga Firdaus ini diminta dana Rp300 ribu. Kemudian yang membayar tebusan Rp1 juta dijanjikan akan mendapat emperan surga," kata dia.
Bukan itu saja, pengikut yang menebus dosa sebesar Rp7,5 juta dijamin masuk surga Eden. Puncaknya, pengikut yang membayar uang penebusan dosa Rp12,5 juta dijamin masuk surga tertinggi yaitu Surga Firdaus. "Di mata aliran Surga Firdaus ini, bagi pengikutnya yang membayar Rp12,5 juta dibebaskan berbuat apa saja," katanya.
Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Tanggamus, Heri Iswahyudi, akan memanggil oknum kepala sekolah dan guru yang menjadi pengikut aliran sesat ini. "Paling lambat Senin (11-4) mereka kami panggil," kata Heri yang juga Ketua NU Tanggamus ini, Kamis (7-4).
Heri Iswahyudi justru curiga aliran Surga Firdaus ini bukan ajaran sesat atau sekte sesat, tetapi organisasi yang memakai label ajaran sesat untuk menipu dengan mendapat materi. "Sebab, sepanjang ini tidak ada aliran sesat yang meminta duit kepada pengikutnya," kata dia. (UTI/R-2)
Rabu, 06 April 2011
Kompetensi Alumni Fakultas Ushuluddin
Opini Lampost : Rabu, 6 April 2011
Fachruddin
Alumnus Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan, pensiunan PNS

Semakin minimnya minat para calon mahasiswa dan lapangan kerja yang tersedia bagi lulusan Fakultas Ushuluddin menjadi tantangan berat yang harus dijawab para alumni dan pejabat di lingkungan IAIN Raden Intan. Hal tersebut mengemuka dalam temu alumni Fakultas Ushuluddin (FU) IAIN Raden Intan (Lampung Post, 28 Maret 2011). Menurut saya, hal ini terjadi karena kelalaian pengelolaan Fakultas Ushuluddin, dan tentu saja kerugian bagi kita semua.
Mengingat keberhasilan yang pernah dicapai oleh Fakultas Ushuluddin era 80-an untuk mempersiapkan alumninya yang mampu mengemban amanah untuk menjadi ujung tombak dalam menyosialisasikan Program Nasional Keluarga Berencana. Amanah ini berhasil dilaksanakan oleh para alumni Ushuluddin. Dengan menggunakan bahasa agama, banyak masyarakat yang semula masih menolak, akhirnya mereka berkenan menerima dan bahkan menjadi akseptor Program Keluarga Berencana. Pada saat itu Fakultas Ushuluddin sangat diminati para calon mahasiswa.
Sayang kepercayaan pemerintah dan keberhasilan alumni dalam berkomunikasi dengan masyarakat ini tidak segera dikembangkan melalui pengembangan kurikulum dan berbagai kerja sama dengan pemerintah ataupun swasta. Pengelola Fakultas Ushuluddin dan pejabat pembina yang berkompeten tidak mengantisipasi berbagai persoalan yang bakal dihadapi bangsa ini, serta memperluas lapangan kerja bagi para alumninya.
Seyogianya kita belajar dari sejarah munculnya ilmu ushuluddin itu sendiri. Bukankah ilmu ini justru muncul sarat dilatarbelakangi gejolak masyarakat serta perbedaan pemikiran politik yang demikian meruncing. Kemunculan ilmu ushuluddin justru diakibatkan berbagai persoalan kontemporer pada saat itu. Ilmu ushuluddin bukan membicarakan sejarah masa lampau, melainkan sangat diwarnai oleh persoalan kekinian. Kalau alumni Ushuluddin kini kurang mendapat tempat, berarti salah satu penyebabnya karena ilmu ini sedang meninggalkan jati dirinya. Yaitu kebersediaan mengakomodasi permasalahan kontemporer.
Kajian ilmu ushuluddin sejatinya adalah kajian kekinian. Seyogianya kurikulum dan silabus di Fakultas Ushuluddin mengkaji persoalan persoalan krusial yang kini sedang dihadapi bangsa ini. Setidaknya ada tiga masalah yang sedang dihadapi bangsa ini, dan dapat melibatkan alumni ushuluddin dalam penyelesaiannya, yaitu pemecahan masalah kemiskinan, anarkisme masyarakat, dan masalah terorisme di Indonesia. Tiga masalah ini kini semakin kompleks adanya, dan harus diantisipasi mulai dari akar rumput. Adalah menjadi pertanyaan kita semua, mengapa kemiskinan, kekerasan atau anarkisme dan terorisme itu tumbuh subur justru di kalangan komunitas penganut agama Islam?
Prodi yang ada di Fakultas ushuluddin dituntut kemampuannya untuk menjawab pertanyaan tersebut, dan para alumni ushuluddin dituntut memiliki kompetensi dalam penyelesaiannya. Karena ini semua merupakan bahan kajian dan studi di Fakultas Ushuluddin. Prodi yang dikembangkan di Fakultas Ushuluddin antara lain Akidah dan Filsafat, Tafsir Hadits, dan Politik Islam, serta Perbandingan Agama. Prodi yang ada dituntut untuk memiliki bahasan yang lebih mendalam terhadap ketiga masalah yang sedang dihadapi bangsa ini.
Masalah kemiskinan ternyata bukan hanya masalah keterampilan bekerja belaka, melainkan justru ada masalah kultural yang menjerat masyarakat sehingga tetap miskin, kemiskinan ini hanya akan dapat dituntaskan setelah masyarakat merubah cara mereka berpikir. Cara bermasyarakat, cara memandang kehidupan ini, dan juga mengubah cara mereka memahami dan menganut agama. Membuat kita semua menjadi terkesima, ternyata kekerasan yang anarki terhadap berbagai masalah sekarang telah membawa lambang-lambang agama, walaupun agama tidak mengajarkan anarki dan kekerasan dalam bentuk apa pun. Apalagi gerakan terorisme di Indonesia, menunjukkan bukti yang cukup dipercaya bahwa ada komunitas Islam yang sangat rentan untuk dimanfaatkan oleh aktor intelektual gerakan ini. Ini semua membutuhkan pembahasan yang serius dan mendalam.
Semua masalah ini dapat dikupas melalui berbagai mata kuliah di Fakultas Ushuluddin. Mata kuliah tertentu sangat berpeluang membicarakan masalah ini, karena merupakan bagian dari materi kuliah yang harus disampaikan. Sedag mata kuliah yang lain dapat membahasnya secara terintegrasi. Itu semua dapat dilaksanakan dengan kerja keras para guru besar dan dosen pengampu.
Para guru besar dan dosen pengampu diharapkan siap mengakomodasikan permasalah kontemporer dimaksud. Fakultas Ushuluddin memiliki kemampuan akademis dan metodologis untuk membekali mahasiswa untuk memiliki wawasan dan keterampilan atau power untuk memengaruhi masyarakat terkait dengan permasalahan besar yang dihadapi bangsa ini. Sehingga tugas-tugas kepolisian dan Kementerian Agama akan terselesaikan.
Kalau saja kompetensi alumni Ushuluddin ini tersosialisasikan dengan baik, dan dilakukan terobosan kerja sama, mulai dari penyusunan kurikulum hingga pemanfatan tenaga alumni, tidak tertutup kemungkinan betapa banyaknya alumni Ushuluddin yang dimanfaatkan kepolisian Indonesia untuk memperkuat aparat kepolisian dalam melakukan bimbingan masyarakat sehingga kejahatan, kekerasan, anrki, bahkan gerakan terorisme akan terantisipasi melalui pembinaan masyarakat secara rutin.
Kerja sama juga dapat dilakukan dengan Kementerian Agama untuk mempersiapkan tenaga penyuluham lapangan yang ditempatkan di desa desa di seluruh wilayah Indonesia. Untuk membangun kembali karakter bangsa yang kini terancam ambruk dan bahkan telah berubah menjadi penyebab utama kemiskinan masyarakat dan disintegrasi bangsa.
Alumni Ushuluddin pernah menunjukkan prestasinya untuk menjadi vocal poin dalam menjelaskan Program Nasional Kelaurga Berencana, itu merupakan pengalaman dan modal yang sangat berharga untuk meyakinkan berbagai pihak akan kompetensi yang dimiliki untuk mencari penyelesaian berbagai masalah krusial yang kini dihadapi bangsa Indonesia. Wallahualam bissawab.
Fachruddin
Alumnus Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan, pensiunan PNS

Semakin minimnya minat para calon mahasiswa dan lapangan kerja yang tersedia bagi lulusan Fakultas Ushuluddin menjadi tantangan berat yang harus dijawab para alumni dan pejabat di lingkungan IAIN Raden Intan. Hal tersebut mengemuka dalam temu alumni Fakultas Ushuluddin (FU) IAIN Raden Intan (Lampung Post, 28 Maret 2011). Menurut saya, hal ini terjadi karena kelalaian pengelolaan Fakultas Ushuluddin, dan tentu saja kerugian bagi kita semua.
Mengingat keberhasilan yang pernah dicapai oleh Fakultas Ushuluddin era 80-an untuk mempersiapkan alumninya yang mampu mengemban amanah untuk menjadi ujung tombak dalam menyosialisasikan Program Nasional Keluarga Berencana. Amanah ini berhasil dilaksanakan oleh para alumni Ushuluddin. Dengan menggunakan bahasa agama, banyak masyarakat yang semula masih menolak, akhirnya mereka berkenan menerima dan bahkan menjadi akseptor Program Keluarga Berencana. Pada saat itu Fakultas Ushuluddin sangat diminati para calon mahasiswa.
Sayang kepercayaan pemerintah dan keberhasilan alumni dalam berkomunikasi dengan masyarakat ini tidak segera dikembangkan melalui pengembangan kurikulum dan berbagai kerja sama dengan pemerintah ataupun swasta. Pengelola Fakultas Ushuluddin dan pejabat pembina yang berkompeten tidak mengantisipasi berbagai persoalan yang bakal dihadapi bangsa ini, serta memperluas lapangan kerja bagi para alumninya.
Seyogianya kita belajar dari sejarah munculnya ilmu ushuluddin itu sendiri. Bukankah ilmu ini justru muncul sarat dilatarbelakangi gejolak masyarakat serta perbedaan pemikiran politik yang demikian meruncing. Kemunculan ilmu ushuluddin justru diakibatkan berbagai persoalan kontemporer pada saat itu. Ilmu ushuluddin bukan membicarakan sejarah masa lampau, melainkan sangat diwarnai oleh persoalan kekinian. Kalau alumni Ushuluddin kini kurang mendapat tempat, berarti salah satu penyebabnya karena ilmu ini sedang meninggalkan jati dirinya. Yaitu kebersediaan mengakomodasi permasalahan kontemporer.
Kajian ilmu ushuluddin sejatinya adalah kajian kekinian. Seyogianya kurikulum dan silabus di Fakultas Ushuluddin mengkaji persoalan persoalan krusial yang kini sedang dihadapi bangsa ini. Setidaknya ada tiga masalah yang sedang dihadapi bangsa ini, dan dapat melibatkan alumni ushuluddin dalam penyelesaiannya, yaitu pemecahan masalah kemiskinan, anarkisme masyarakat, dan masalah terorisme di Indonesia. Tiga masalah ini kini semakin kompleks adanya, dan harus diantisipasi mulai dari akar rumput. Adalah menjadi pertanyaan kita semua, mengapa kemiskinan, kekerasan atau anarkisme dan terorisme itu tumbuh subur justru di kalangan komunitas penganut agama Islam?
Prodi yang ada di Fakultas ushuluddin dituntut kemampuannya untuk menjawab pertanyaan tersebut, dan para alumni ushuluddin dituntut memiliki kompetensi dalam penyelesaiannya. Karena ini semua merupakan bahan kajian dan studi di Fakultas Ushuluddin. Prodi yang dikembangkan di Fakultas Ushuluddin antara lain Akidah dan Filsafat, Tafsir Hadits, dan Politik Islam, serta Perbandingan Agama. Prodi yang ada dituntut untuk memiliki bahasan yang lebih mendalam terhadap ketiga masalah yang sedang dihadapi bangsa ini.
Masalah kemiskinan ternyata bukan hanya masalah keterampilan bekerja belaka, melainkan justru ada masalah kultural yang menjerat masyarakat sehingga tetap miskin, kemiskinan ini hanya akan dapat dituntaskan setelah masyarakat merubah cara mereka berpikir. Cara bermasyarakat, cara memandang kehidupan ini, dan juga mengubah cara mereka memahami dan menganut agama. Membuat kita semua menjadi terkesima, ternyata kekerasan yang anarki terhadap berbagai masalah sekarang telah membawa lambang-lambang agama, walaupun agama tidak mengajarkan anarki dan kekerasan dalam bentuk apa pun. Apalagi gerakan terorisme di Indonesia, menunjukkan bukti yang cukup dipercaya bahwa ada komunitas Islam yang sangat rentan untuk dimanfaatkan oleh aktor intelektual gerakan ini. Ini semua membutuhkan pembahasan yang serius dan mendalam.
Semua masalah ini dapat dikupas melalui berbagai mata kuliah di Fakultas Ushuluddin. Mata kuliah tertentu sangat berpeluang membicarakan masalah ini, karena merupakan bagian dari materi kuliah yang harus disampaikan. Sedag mata kuliah yang lain dapat membahasnya secara terintegrasi. Itu semua dapat dilaksanakan dengan kerja keras para guru besar dan dosen pengampu.
Para guru besar dan dosen pengampu diharapkan siap mengakomodasikan permasalah kontemporer dimaksud. Fakultas Ushuluddin memiliki kemampuan akademis dan metodologis untuk membekali mahasiswa untuk memiliki wawasan dan keterampilan atau power untuk memengaruhi masyarakat terkait dengan permasalahan besar yang dihadapi bangsa ini. Sehingga tugas-tugas kepolisian dan Kementerian Agama akan terselesaikan.
Kalau saja kompetensi alumni Ushuluddin ini tersosialisasikan dengan baik, dan dilakukan terobosan kerja sama, mulai dari penyusunan kurikulum hingga pemanfatan tenaga alumni, tidak tertutup kemungkinan betapa banyaknya alumni Ushuluddin yang dimanfaatkan kepolisian Indonesia untuk memperkuat aparat kepolisian dalam melakukan bimbingan masyarakat sehingga kejahatan, kekerasan, anrki, bahkan gerakan terorisme akan terantisipasi melalui pembinaan masyarakat secara rutin.
Kerja sama juga dapat dilakukan dengan Kementerian Agama untuk mempersiapkan tenaga penyuluham lapangan yang ditempatkan di desa desa di seluruh wilayah Indonesia. Untuk membangun kembali karakter bangsa yang kini terancam ambruk dan bahkan telah berubah menjadi penyebab utama kemiskinan masyarakat dan disintegrasi bangsa.
Alumni Ushuluddin pernah menunjukkan prestasinya untuk menjadi vocal poin dalam menjelaskan Program Nasional Kelaurga Berencana, itu merupakan pengalaman dan modal yang sangat berharga untuk meyakinkan berbagai pihak akan kompetensi yang dimiliki untuk mencari penyelesaian berbagai masalah krusial yang kini dihadapi bangsa Indonesia. Wallahualam bissawab.
Selasa, 05 April 2011
Mengangkat Kembali Nilai-Nilai Filosofis pada Permainan Tradisional (Bagian 1)
Alhamdulillah, saya bersyukur sekali, ketika saya begitu antusias memikirkan sesuatu, Allah juga menolong saya dengan "mengirimkan" teman-teman yang memiliki spirit yang sama. Bulan April 2011 ini saya memperoleh sesuatu yang begitu berharga melalui "Seminar Permainan Tradisional", yang diselenggarakan Temasek International School. Kang Muhammad Zaini Alif (dari komunitas Hong!), sebagai pembicara, benar-benar membuat saya terdorong untuk merealisasikan satu lagi item yang menurut saya penting, yaitu mengangkat kembali spirit permainan tradisional bagi anak-anak. Insya Allah akan saya buat dalam 2 bagian, karena terlalu banyaknya bahan yang harus dituliskan.
Sebelumnya, saya memang pernah mencoba mengajarkan anak-anak permainan zaman dulu, ya minimal permainan yang saya ketahui (sebagai jejak masa kecil di kampung). Sudah pernah juga anak-anak saya dan teman-temannya di komplek perumahan kami diajak main bersama. Akan tetapi, praktiknya hanya seumur jagung. Lama-lama mereka menghilang, seiring melemahnya motivasi saya yang waktu itu belum terlalu jelas melihat manfaatnya.
Sehabis mengikuti seminar Kang Zaini, mata saya seperti dibukakan pada sebuah visi yang sangat luhur dari permainan tradisional, yang kini mulai ditinggalkan. Judulnya bolehlah 'permainan', tapi kandungan nilai filosofis dan edukasinya ternyata tidak main-main. Kang Zaini ternyata sudah melakukan penelitian mendalam terhadap berbagai permainan tradisional di Nusantara. Bukan hanya jenis dan variasinya yang digali, melainkan juga jejak historis dan nilai-nilai filosofis permainan tersebut. Subhanallah, sangat mengagumkan buat saya.
Beliau pernah menulis buku kumpulan permainan hasil penelitian tersebut melalui proyek dana pemerintah, namun sayangnya tak terlacak jejak buku-buku tersebut ada di mana. Tapi kabar baiknya, beliau saat ini sedang berusaha menyusun kembali buku tersebut dengan banyak revisi dan akan diterbitkan untuk umum. Kalau belum ada penerbitnya, mudah-mudahan tulisan ini bisa menghantarkan dan menghubungkan. Bukankah naskah bermutu banyak ditunggu-tunggu para penerbit buku? ^_^
Kembali ke acara seminar. Buat saya ada beberapa hal yang menarik dari paparan Kang Zaini, berikut saya sarikan poin-poinnya. Mudah-mudahan juga akan menginspirasi teman-teman:
1. Permainan anak tradisional di berbagai negara satu sama lain ternyata memiliki kemiripan. Perbedaannya mungkin lebih kepada model, variasi aturan permainan, nama, media yang dipergunakan. Akan tetapi, esensinya tetap sama. Hal ini memang memicu banyak pertanyaan, terutama bagi mereka yang tertarik dengan hubungan temuan arkeologis dengan proses penyebaran budaya serta ras manusia. Terlebih-lebih lagi, kini sedang ramai-ramainya dibahas penelitian mengenai The Lost Continent Atlantis, yang diduga justru berada di Indonesia. Apakah benar, peradaban negeri Atlantis yang hebat itu memang berada di Nusantara? Benarkah telah terjadi banjir besar pada suatu masa di ribuan tahun yang lalu, sehingga manusia terpecah-pecah ke berbagai benua dan melahirkan ras-ras yang masih mengadopsi kebudayaan dari negeri asalnya? Apakah itu juga penyebab dari kemiripan jenis permainan tradisional berbagai negara di dunia yang ada saat ini? Pe er buat kita ^_^.
2. Setiap jenis permainan memiliki maksud tertentu, dan ternyata penuh dengan filosofi pendidikan. Misalnya saja pada permainan sondah mandah, dimana bidang permainan dibuat dalam bentuk bangun persegi beberapa kotak, dan diujungnya dibuat lingkaran besar. Menurut penelitian Kang Zaini, petak pertama media sondah adalah simbol dari bumi, sedangkan lingkaran besar di ujung adalah simbol dari surga.
Perjuangan para pemain sondah untuk mencapai tahap demi tahap permainan adalah simbol dari usaha di dunia ini. Ketika seorang pemain gigih bekerja keras, maka ia pun sedikit demi sedikit akan mendapat bintang di salah satu petak. Bintang itu sendiri adalah simbol kenikmatan duniawi. Jika satu kotak sudah ditandai bintang oleh satu pemain, maka pemain lain tidak boleh menginjaknya, tapi harus melangkahinya. Hal itu adalah simbol dari aturan dalam menghormati hak milik seseorang di dunia ini. Semakin banyak seorang pemain mendapat bintang ia semakin santai, dan sebaliknya pemain yang bintangnya sedikit ia pasti kerepotan karena harus melangkahi banyak petak orang lain untuk berjalan (begitulah juga kehidupan di dunia nyata, bukan? :)).
Filosofi lain yang tak kalah menarik adalah pada bintang yang diperoleh para pemain di lingkaran besar. Kalau pada petak permainan (dunia) para pemain dilarang meletakkan bintang di wilayah yang sudah dimiliki orang, namun berbeda dengan lingkaran di ujung itu (surga). Meskipun hanya satu area, tapi semua pemain boleh berbagi tempat meletakkan bintang di sana, tak peduli apakah pada petak permainan mereka punya banyak bintang (orang kaya) atau sedikit bintang (miskin). Sungguh filosofi yang menarik menurut saya.
3. Tahukah permainan paciwit-ciwit lutung? Entah di daerah lain selain Tatar Sunda bernama apa. Permainan itu adalah saling mencubit punggung tangan menumpuk ke atas. Lagu pengiringnya kalau di Tanah Sunda: Paciwit ciwit lutung si lutung pindah ka tungtung (saling mencubit para lutung (monyet), si lutung pindah ke ujung). Maka tangan yang paling bawah akan pindah ke atas, mencubit tangan temannya yang lain. Begitulah terus-menerus sampai setiap tangan bergantian naik ke atas dan kemudian tergeser rotasi permainan kembali ke bawah, dst.
Katanya, permainan itu adalah juga simbol kehidupan dunia. Manusia itu tidak selamanya sengsara, dan tidak selamanya juga kaya raya; tidak selamanya mendapat berkah, tidak selamanya juga berada dalam kesusahan. Hal itu sepertinya untuk menyadarkan manusia agar tidak sombong saat berjaya, dan juga tidak merasa rendah diri dan putus asa saat kondisi materil tidak terlalu memadai.
4. Permainan berikutnya adalah hompimpa. Lagu pengiringnya kurang lebih sebagai berikut, hompimpa alai hom gambreng dst. Menurut Kang Zaini, kata 'hom' setelah ditelusuri dalam berbagai konteks bahasa memiliki makna yang hampir sama, yaitu Tuhan. Jadi, hompimpa alai hom, artinya dari Tuhan kembali kepada Tuhan (Ummat muslim mungkin mengenal istilah innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. Jadi, permainan ini sesungguhnya mengajarkan tentang hakikat kehidupan manusia. Semua makhluk berasal dari Allah dan pasti akan kembali kepada Allah, tidak ada yang abadi. Kata 'gambreng!" artinya menyentak atau menyadarkan agar manusia ingat akan hakikat tersebut.
Bagian yang lebih menarik lagi adalah aturan permainan setelah hompimpa. Seingat saya, biasanya hompimpa dipakai sebagai undian dalam permainan ucing sumput (petak umpet), yaitu untuk menentukan siapa yang duluan sembunyi dan siapa yang kebagian mencari.
Dalam permainan petak umpet, pemain yang sudah ditemukan akan diseru, "Hong!"(sambil disebut namanya), maka ia harus keluar dan tidak boleh ke mana-mana. Ia harus berdiri di dekat orang yang menemukannya untuk melihat permainan berlangsung sampai semua pemain yang sembunyi ditemukan. Menurut Kang Zaini lagi, permainan tersebut adalah simbol, bahwa orang-orang yang bermain itu adalah manusia di dunia ini. Ketika mereka akhirnya ditemukan, itu artinya mereka sudah dipanggil kembali kepada Allah. Dan pekerjaan dia adalah menonton manusia lain yang masih sedang "bermain" di dunia ini.
Jika saya kaitkan dengan beberapa ayat Al Quran, maka korelasinya menjadi begitu jelas, dan tentu saja jadi membuat saya juga merenung, apakah mungkin banjir besar pada zaman Atlantis (seperti di-klaim seorang peneliti)itu memang terkait dengan kisah Nabi Nuh A.S? Dan permainan-permainan zaman dulu itu memang dirancang oleh utusan Allah untuk mengajarkan anak-anak tentang hakikat kehidupan dan eksistensi Tuhan lewat permainan? Memang masih misteri, namun sulit dipercaya rasanya jika hanya orang biasa saja yang menciptakan permainan dengan kandungan nilai setinggi itu. Pastinya, siapapun dia/mereka, adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan makrifat yang luar biasa(hanya Allah Yang Maha Mengetahui).
BERSAMBUNG
Sebelumnya, saya memang pernah mencoba mengajarkan anak-anak permainan zaman dulu, ya minimal permainan yang saya ketahui (sebagai jejak masa kecil di kampung). Sudah pernah juga anak-anak saya dan teman-temannya di komplek perumahan kami diajak main bersama. Akan tetapi, praktiknya hanya seumur jagung. Lama-lama mereka menghilang, seiring melemahnya motivasi saya yang waktu itu belum terlalu jelas melihat manfaatnya.
Sehabis mengikuti seminar Kang Zaini, mata saya seperti dibukakan pada sebuah visi yang sangat luhur dari permainan tradisional, yang kini mulai ditinggalkan. Judulnya bolehlah 'permainan', tapi kandungan nilai filosofis dan edukasinya ternyata tidak main-main. Kang Zaini ternyata sudah melakukan penelitian mendalam terhadap berbagai permainan tradisional di Nusantara. Bukan hanya jenis dan variasinya yang digali, melainkan juga jejak historis dan nilai-nilai filosofis permainan tersebut. Subhanallah, sangat mengagumkan buat saya.
Beliau pernah menulis buku kumpulan permainan hasil penelitian tersebut melalui proyek dana pemerintah, namun sayangnya tak terlacak jejak buku-buku tersebut ada di mana. Tapi kabar baiknya, beliau saat ini sedang berusaha menyusun kembali buku tersebut dengan banyak revisi dan akan diterbitkan untuk umum. Kalau belum ada penerbitnya, mudah-mudahan tulisan ini bisa menghantarkan dan menghubungkan. Bukankah naskah bermutu banyak ditunggu-tunggu para penerbit buku? ^_^
Kembali ke acara seminar. Buat saya ada beberapa hal yang menarik dari paparan Kang Zaini, berikut saya sarikan poin-poinnya. Mudah-mudahan juga akan menginspirasi teman-teman:
1. Permainan anak tradisional di berbagai negara satu sama lain ternyata memiliki kemiripan. Perbedaannya mungkin lebih kepada model, variasi aturan permainan, nama, media yang dipergunakan. Akan tetapi, esensinya tetap sama. Hal ini memang memicu banyak pertanyaan, terutama bagi mereka yang tertarik dengan hubungan temuan arkeologis dengan proses penyebaran budaya serta ras manusia. Terlebih-lebih lagi, kini sedang ramai-ramainya dibahas penelitian mengenai The Lost Continent Atlantis, yang diduga justru berada di Indonesia. Apakah benar, peradaban negeri Atlantis yang hebat itu memang berada di Nusantara? Benarkah telah terjadi banjir besar pada suatu masa di ribuan tahun yang lalu, sehingga manusia terpecah-pecah ke berbagai benua dan melahirkan ras-ras yang masih mengadopsi kebudayaan dari negeri asalnya? Apakah itu juga penyebab dari kemiripan jenis permainan tradisional berbagai negara di dunia yang ada saat ini? Pe er buat kita ^_^.
2. Setiap jenis permainan memiliki maksud tertentu, dan ternyata penuh dengan filosofi pendidikan. Misalnya saja pada permainan sondah mandah, dimana bidang permainan dibuat dalam bentuk bangun persegi beberapa kotak, dan diujungnya dibuat lingkaran besar. Menurut penelitian Kang Zaini, petak pertama media sondah adalah simbol dari bumi, sedangkan lingkaran besar di ujung adalah simbol dari surga.
Perjuangan para pemain sondah untuk mencapai tahap demi tahap permainan adalah simbol dari usaha di dunia ini. Ketika seorang pemain gigih bekerja keras, maka ia pun sedikit demi sedikit akan mendapat bintang di salah satu petak. Bintang itu sendiri adalah simbol kenikmatan duniawi. Jika satu kotak sudah ditandai bintang oleh satu pemain, maka pemain lain tidak boleh menginjaknya, tapi harus melangkahinya. Hal itu adalah simbol dari aturan dalam menghormati hak milik seseorang di dunia ini. Semakin banyak seorang pemain mendapat bintang ia semakin santai, dan sebaliknya pemain yang bintangnya sedikit ia pasti kerepotan karena harus melangkahi banyak petak orang lain untuk berjalan (begitulah juga kehidupan di dunia nyata, bukan? :)).
Filosofi lain yang tak kalah menarik adalah pada bintang yang diperoleh para pemain di lingkaran besar. Kalau pada petak permainan (dunia) para pemain dilarang meletakkan bintang di wilayah yang sudah dimiliki orang, namun berbeda dengan lingkaran di ujung itu (surga). Meskipun hanya satu area, tapi semua pemain boleh berbagi tempat meletakkan bintang di sana, tak peduli apakah pada petak permainan mereka punya banyak bintang (orang kaya) atau sedikit bintang (miskin). Sungguh filosofi yang menarik menurut saya.
3. Tahukah permainan paciwit-ciwit lutung? Entah di daerah lain selain Tatar Sunda bernama apa. Permainan itu adalah saling mencubit punggung tangan menumpuk ke atas. Lagu pengiringnya kalau di Tanah Sunda: Paciwit ciwit lutung si lutung pindah ka tungtung (saling mencubit para lutung (monyet), si lutung pindah ke ujung). Maka tangan yang paling bawah akan pindah ke atas, mencubit tangan temannya yang lain. Begitulah terus-menerus sampai setiap tangan bergantian naik ke atas dan kemudian tergeser rotasi permainan kembali ke bawah, dst.
Katanya, permainan itu adalah juga simbol kehidupan dunia. Manusia itu tidak selamanya sengsara, dan tidak selamanya juga kaya raya; tidak selamanya mendapat berkah, tidak selamanya juga berada dalam kesusahan. Hal itu sepertinya untuk menyadarkan manusia agar tidak sombong saat berjaya, dan juga tidak merasa rendah diri dan putus asa saat kondisi materil tidak terlalu memadai.
4. Permainan berikutnya adalah hompimpa. Lagu pengiringnya kurang lebih sebagai berikut, hompimpa alai hom gambreng dst. Menurut Kang Zaini, kata 'hom' setelah ditelusuri dalam berbagai konteks bahasa memiliki makna yang hampir sama, yaitu Tuhan. Jadi, hompimpa alai hom, artinya dari Tuhan kembali kepada Tuhan (Ummat muslim mungkin mengenal istilah innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. Jadi, permainan ini sesungguhnya mengajarkan tentang hakikat kehidupan manusia. Semua makhluk berasal dari Allah dan pasti akan kembali kepada Allah, tidak ada yang abadi. Kata 'gambreng!" artinya menyentak atau menyadarkan agar manusia ingat akan hakikat tersebut.
Bagian yang lebih menarik lagi adalah aturan permainan setelah hompimpa. Seingat saya, biasanya hompimpa dipakai sebagai undian dalam permainan ucing sumput (petak umpet), yaitu untuk menentukan siapa yang duluan sembunyi dan siapa yang kebagian mencari.
Dalam permainan petak umpet, pemain yang sudah ditemukan akan diseru, "Hong!"(sambil disebut namanya), maka ia harus keluar dan tidak boleh ke mana-mana. Ia harus berdiri di dekat orang yang menemukannya untuk melihat permainan berlangsung sampai semua pemain yang sembunyi ditemukan. Menurut Kang Zaini lagi, permainan tersebut adalah simbol, bahwa orang-orang yang bermain itu adalah manusia di dunia ini. Ketika mereka akhirnya ditemukan, itu artinya mereka sudah dipanggil kembali kepada Allah. Dan pekerjaan dia adalah menonton manusia lain yang masih sedang "bermain" di dunia ini.
Jika saya kaitkan dengan beberapa ayat Al Quran, maka korelasinya menjadi begitu jelas, dan tentu saja jadi membuat saya juga merenung, apakah mungkin banjir besar pada zaman Atlantis (seperti di-klaim seorang peneliti)itu memang terkait dengan kisah Nabi Nuh A.S? Dan permainan-permainan zaman dulu itu memang dirancang oleh utusan Allah untuk mengajarkan anak-anak tentang hakikat kehidupan dan eksistensi Tuhan lewat permainan? Memang masih misteri, namun sulit dipercaya rasanya jika hanya orang biasa saja yang menciptakan permainan dengan kandungan nilai setinggi itu. Pastinya, siapapun dia/mereka, adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan makrifat yang luar biasa(hanya Allah Yang Maha Mengetahui).
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Q.S Al Hadiid : 20)
BERSAMBUNG
Senin, 04 April 2011
KEBUDAYAAN: Bahasa Lampung Masuki Fase Kritis
Pendidikan Lampost : Kamis, 31 Maret 2011
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Bahasa Lampung memasuki fase kritis. Diperkirakan 62 hingga 87 tahun mendatang bahasa Lampung akan mengalami kepunahan.
Kekhawatiran ini mengemuka dalam seminar bertema Peran pemuda dalam meningkatkan kecintaan bahasa daerah dalam rangka penguatan ketahanan budaya nasional yang berlangsung di auditorium Perpustakaan Unila, Rabu (30-3).
Diskusi ini menghadirkan Farida Aryani, akademisi dari Jurusan Bahasa dan Sastra FKIP Unila; Tadjudin Nur dari Kesbangpol Pemerintahan Kementerian Dalam Negeri Bidang Budaya Daerah; serta Lekat Dulah Adu Putra, menteri Aksi dan Propaganda BEM Unila.
"Bahasa Lampung berada dalam fase kritis adalah pernyataan ilmiah yang didasarkan bukti empiris. Ini merupakan hasil penelitian guru besar linguistik Universitas Indonesia, Prof. Asim Gunarwan Ratu Putra Alam pada 1998," kata Farida Aryani.
Menurut dia, berkat penelitian tersebut, kesadaran pelestarian bahasa Lampung mulai memanas dan terangkat kepermukaan hingga munculah seminar-seminar bahasa oleh Lampung Sai hingga kelahiran jurusan D-3 Bahasa Lampung yang merupakan respons dari penelitian ini.
Farida mengatakan Prof. Asim melakukan penelitian kepada penutur langsung bahasa Lampung. Dari penelitiannya diketahui penutur aktif bahasa lampung saat ini berada pada kisaran usia 40 hingga 60 tahun. Sementara orang Lampung yang berada pada usia di bawah itu makin jarang berbahasa Lampung.
"Dia menyimpulkan dalam kurun waktu 75 hingga 100 tahun dari tahun 1998, bahasa Lampung akan mengalami kepunahan. Karena meraka yang berusia 30 hingga 40 tahun saat penelitian, diperkirakan sudah meninggal dunia. Sementara generasi di bawahnya tak lagi aktif berbahasa Lampung," kata dia.
Jika kesimpulan itu dibuat pada 1998, atau tiga belas tahun silam, dapat diperkirakan 62 hingga 87 tahun mendatang bahasa Lampung akan mengalami kepunahan. Terutama jika tidak diiringi upaya untuk melestarikannya baik secara formal maupun informal.
"Secara formal adalah dengan cara menyisipkan pendidikan bahasa dan aksara Lampung di sekolah-sekolah dari tingkat dasar maupun tingkat atas. Dan, penyusunan perda hingga penetapan regulasi yang mendorong penggunaan bahasa Lampung," kata dia. (MG14/S-2)
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Bahasa Lampung memasuki fase kritis. Diperkirakan 62 hingga 87 tahun mendatang bahasa Lampung akan mengalami kepunahan.
Kekhawatiran ini mengemuka dalam seminar bertema Peran pemuda dalam meningkatkan kecintaan bahasa daerah dalam rangka penguatan ketahanan budaya nasional yang berlangsung di auditorium Perpustakaan Unila, Rabu (30-3).
Diskusi ini menghadirkan Farida Aryani, akademisi dari Jurusan Bahasa dan Sastra FKIP Unila; Tadjudin Nur dari Kesbangpol Pemerintahan Kementerian Dalam Negeri Bidang Budaya Daerah; serta Lekat Dulah Adu Putra, menteri Aksi dan Propaganda BEM Unila.
"Bahasa Lampung berada dalam fase kritis adalah pernyataan ilmiah yang didasarkan bukti empiris. Ini merupakan hasil penelitian guru besar linguistik Universitas Indonesia, Prof. Asim Gunarwan Ratu Putra Alam pada 1998," kata Farida Aryani.
Menurut dia, berkat penelitian tersebut, kesadaran pelestarian bahasa Lampung mulai memanas dan terangkat kepermukaan hingga munculah seminar-seminar bahasa oleh Lampung Sai hingga kelahiran jurusan D-3 Bahasa Lampung yang merupakan respons dari penelitian ini.
Farida mengatakan Prof. Asim melakukan penelitian kepada penutur langsung bahasa Lampung. Dari penelitiannya diketahui penutur aktif bahasa lampung saat ini berada pada kisaran usia 40 hingga 60 tahun. Sementara orang Lampung yang berada pada usia di bawah itu makin jarang berbahasa Lampung.
"Dia menyimpulkan dalam kurun waktu 75 hingga 100 tahun dari tahun 1998, bahasa Lampung akan mengalami kepunahan. Karena meraka yang berusia 30 hingga 40 tahun saat penelitian, diperkirakan sudah meninggal dunia. Sementara generasi di bawahnya tak lagi aktif berbahasa Lampung," kata dia.
Jika kesimpulan itu dibuat pada 1998, atau tiga belas tahun silam, dapat diperkirakan 62 hingga 87 tahun mendatang bahasa Lampung akan mengalami kepunahan. Terutama jika tidak diiringi upaya untuk melestarikannya baik secara formal maupun informal.
"Secara formal adalah dengan cara menyisipkan pendidikan bahasa dan aksara Lampung di sekolah-sekolah dari tingkat dasar maupun tingkat atas. Dan, penyusunan perda hingga penetapan regulasi yang mendorong penggunaan bahasa Lampung," kata dia. (MG14/S-2)
SEKOLAH INTERNASIONAL: RSBI Siap Dievaluasi
Pendidikan Lampost : Kamis, 31 Maret 2011
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Sekolah rintisan bertaraf internasional (RSBI) di Bandar Lampung menyatakan siap dievaluasi. Mengenai pendanaan, mereka menyangkal telah terjadi kesalahpahaman.
"Kami menyambut baik jika Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung berniat mengevaluasi pelaksanaan RSBI di Bandar Lampung. Itu artinya mereka menjalankan fungsinya," kata Kepala SMPN 1 Bandar Lampung Haryanto kepada Lampung Post, Rabu (30-3).
Namun, Ketua Musyawarah Kerja Kepala sekolah (MKKS) SMP se-Lampung itu menyangkal adanya kesalahkaprahan dalam pengelolaan keuangan pada RSBI di Bandar Lampung. Setiap dana bantuan pemerintah telah digunakan sesuai dengan ketentuan.
"Tidak benar jika dana bantuan pemerintah, terutama dari pusat, untuk pembanguan fisik. Dana pusat selalu kami gunakan untuk menunjang peningkatan mutu pendidikan RSBI. Sudah ada petunjuk pelaksanaannya yang mengatur demikian," ujarnya.
Haryanto mengatakan pembangunan fisik yang dilakukan RSBI selama ini pendanaannya bersumber dari bantuan nonpemerintah, yakni dari wali murid maupun pihak lainnya. Pembangunan mutu dan fisik menurutnya mutlak diperlukan dan harus dilakukan bersamaan.
"Apalagi RSBI di Bandar Lampung saat ini adalah sekolah-sekolah tua yang jika dilihat keadaan fisiknya sangat jauh dari standar fisik yang ditetapkan pemerintah. Jika ingin menjadi sekolah bertaraf internasional (SBI), prasarana fisik juga mutlak dibutuhkan," kata dia.
Hal senada diungkapkan Kepala SMKN 4 Bandar Lampung Septiana. Sekolah ini sejak 2010 lalu ditunjuk menjadi RSBI Invest dan terus berbenah diri untuk menuju SBI.
"Kami siap jika Dinas Pendidikan akan mengevaluasi karena segala sesuatu yang kami kerjakan bisa dilihat secara online dan transparan," kata dia.
Mengenai rencana Dinas Pendidikan yang akan mengevaluasi kualitas guru RSBI, Haryanto menyatakan hal itu sah-sah saja dan memang hak dari dinas. Namun, apakah guru yang tidak sesuai standar langsung dipindahkan, ia menyatakan harus dilakukan jika proses pembinaan sudah coba dilakukan.
"Guru RSBI memang harus guru yang berkualitas lebih dari guru sekolah biasa. Tidak hanya berkemampuan bahasa Inggris, tetapi juga menguasai IT dan berbagai media bantu pembelajaran yang ada. Apakah harus direkrut secara khusus itu urusan dinas," kata dia.
Hal senada diutarakan Kepala SMAN 2 Bandar Lampung Sobirin. Menurut dia, yang menjadi persoalan dalam pelaksanaan program RSBI di Bandar Lampung adalah pemerintah tidak membangun sekolah baru, tetapi memberdayakan sekolah yang sudah ada.
"Jika RSBI itu dibangun dari awal, gedungnya, sarana prasarananya, guru-gurunya hingga kepala sekolahnya juga direkrut secara khusus, akan jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan memanfaatkan apa yang sudah ada," kata dia. (MG14/S-2)
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Sekolah rintisan bertaraf internasional (RSBI) di Bandar Lampung menyatakan siap dievaluasi. Mengenai pendanaan, mereka menyangkal telah terjadi kesalahpahaman.
"Kami menyambut baik jika Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung berniat mengevaluasi pelaksanaan RSBI di Bandar Lampung. Itu artinya mereka menjalankan fungsinya," kata Kepala SMPN 1 Bandar Lampung Haryanto kepada Lampung Post, Rabu (30-3).
Namun, Ketua Musyawarah Kerja Kepala sekolah (MKKS) SMP se-Lampung itu menyangkal adanya kesalahkaprahan dalam pengelolaan keuangan pada RSBI di Bandar Lampung. Setiap dana bantuan pemerintah telah digunakan sesuai dengan ketentuan.
"Tidak benar jika dana bantuan pemerintah, terutama dari pusat, untuk pembanguan fisik. Dana pusat selalu kami gunakan untuk menunjang peningkatan mutu pendidikan RSBI. Sudah ada petunjuk pelaksanaannya yang mengatur demikian," ujarnya.
Haryanto mengatakan pembangunan fisik yang dilakukan RSBI selama ini pendanaannya bersumber dari bantuan nonpemerintah, yakni dari wali murid maupun pihak lainnya. Pembangunan mutu dan fisik menurutnya mutlak diperlukan dan harus dilakukan bersamaan.
"Apalagi RSBI di Bandar Lampung saat ini adalah sekolah-sekolah tua yang jika dilihat keadaan fisiknya sangat jauh dari standar fisik yang ditetapkan pemerintah. Jika ingin menjadi sekolah bertaraf internasional (SBI), prasarana fisik juga mutlak dibutuhkan," kata dia.
Hal senada diungkapkan Kepala SMKN 4 Bandar Lampung Septiana. Sekolah ini sejak 2010 lalu ditunjuk menjadi RSBI Invest dan terus berbenah diri untuk menuju SBI.
"Kami siap jika Dinas Pendidikan akan mengevaluasi karena segala sesuatu yang kami kerjakan bisa dilihat secara online dan transparan," kata dia.
Mengenai rencana Dinas Pendidikan yang akan mengevaluasi kualitas guru RSBI, Haryanto menyatakan hal itu sah-sah saja dan memang hak dari dinas. Namun, apakah guru yang tidak sesuai standar langsung dipindahkan, ia menyatakan harus dilakukan jika proses pembinaan sudah coba dilakukan.
"Guru RSBI memang harus guru yang berkualitas lebih dari guru sekolah biasa. Tidak hanya berkemampuan bahasa Inggris, tetapi juga menguasai IT dan berbagai media bantu pembelajaran yang ada. Apakah harus direkrut secara khusus itu urusan dinas," kata dia.
Hal senada diutarakan Kepala SMAN 2 Bandar Lampung Sobirin. Menurut dia, yang menjadi persoalan dalam pelaksanaan program RSBI di Bandar Lampung adalah pemerintah tidak membangun sekolah baru, tetapi memberdayakan sekolah yang sudah ada.
"Jika RSBI itu dibangun dari awal, gedungnya, sarana prasarananya, guru-gurunya hingga kepala sekolahnya juga direkrut secara khusus, akan jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan memanfaatkan apa yang sudah ada," kata dia. (MG14/S-2)
Karakter Bisa Dibangun melalui Tiga Fondasi
Pendidikan Lampost : Kamis, 31 Maret 2011
KALIANDA (Lampost): Membangun karakter seseorang mencakup tiga fondasi utama, yaitu fisik, mental, dan perilaku. Ketiganya harus dilakukan secara sinergi dan bersamaan agar menghasilkan generasi penerus yang unggul.
Rektor Universitas Bandar Lampung (UBL) Yusuf Sulfarano Barusman mengatakan hal itu dalam diskusi pendidikan yang digelar Forum Martabat Guru Indonesia (FMGI) Lampung Selatan, Rabu (30-3), di aula PKK Kalianda, Lampung Selatan.
"Kalau kita lihat, pendidikan di negara maju seperti Korea atau Singapura mutu pendidikannya meningkat karena fisik orang-orang di sana kuat. Apalagi, orang Korea dan orang Singapura waktunya habis untuk belajar. Gelar yang diraih dari belajar sangat menentukan status seseorang," ujar Yusuf dalam diskusi yang dipandu Alhuda Muhajirin dari Lampung Post.
Diskusi yang dibuka Wakil Bupati Lampung Selatan Eki Setyanto itu menghadirkan tiga narasumber, masing-masing Yusuf Sulfarano Barusman (Rektor UBL), Bainah Sari Dewi (akademisi), dan Herpratiwi (FKIP Unila), serta diikuti 75 peserta yang berasal dari Dinas Pendidikan, dewan guru, dan jajaran tenaga pendidik perguruan tinggi di Lampung Selatan.
Menurut Bainah Sari Dewi, pendidikan membutuhkan proses panjang dan keinginan kuat untuk mencapai tujuan. "Kita harus belajar dari orang yang sukses sehingga apa yang menjadi niat kita bisa tercapai dengan baik," kata dia.
Dia mengatakan guru harus memiliki semangat untuk memotivasi diri dan anak didik untuk mencapai kesuksesan. Selain itu, guru juga harus memiliki pedoman agama. "Sebab, dengan agama hidup menjadi terarah dan dengan ilmu hidup menjadi indah."
Menjawab pertanyaan peserta diskusi, Bainah menjelaskan karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 karena pendidikan kita menurut Undang-Undang Sisdiknas berdasar pada keduanya.
Bainah juga mengingatkan bangsa Indonesia jangan mudah putus asa.
“Jika gagal jangan menyerah. Lakukan lagi kegiatan kita dan terus ulangi lagi sehingga akhirnya bisa berhasil dan sukses,” kata Bainah.
Sementara itu, Eki Setyanto dalam sambutannya mengatakan untuk meningkatkan keberhasilan dunia pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya meningkatkan sumber daya manusia. Selain itu, kita harus dapat berpikir positif.
"Memajukan dunia pendidikan di Lampung Selatan ini menjadi tugas semua lapisan masyarakat. Selain itu, pengawasan pun wajib dilakukan oleh kita semua. Dengan begitu, diharapkan sasaran dapat berhasil guna dengan baik," kata Eki. (CK-3/S-1)
KALIANDA (Lampost): Membangun karakter seseorang mencakup tiga fondasi utama, yaitu fisik, mental, dan perilaku. Ketiganya harus dilakukan secara sinergi dan bersamaan agar menghasilkan generasi penerus yang unggul.
Rektor Universitas Bandar Lampung (UBL) Yusuf Sulfarano Barusman mengatakan hal itu dalam diskusi pendidikan yang digelar Forum Martabat Guru Indonesia (FMGI) Lampung Selatan, Rabu (30-3), di aula PKK Kalianda, Lampung Selatan.
"Kalau kita lihat, pendidikan di negara maju seperti Korea atau Singapura mutu pendidikannya meningkat karena fisik orang-orang di sana kuat. Apalagi, orang Korea dan orang Singapura waktunya habis untuk belajar. Gelar yang diraih dari belajar sangat menentukan status seseorang," ujar Yusuf dalam diskusi yang dipandu Alhuda Muhajirin dari Lampung Post.
Diskusi yang dibuka Wakil Bupati Lampung Selatan Eki Setyanto itu menghadirkan tiga narasumber, masing-masing Yusuf Sulfarano Barusman (Rektor UBL), Bainah Sari Dewi (akademisi), dan Herpratiwi (FKIP Unila), serta diikuti 75 peserta yang berasal dari Dinas Pendidikan, dewan guru, dan jajaran tenaga pendidik perguruan tinggi di Lampung Selatan.
Menurut Bainah Sari Dewi, pendidikan membutuhkan proses panjang dan keinginan kuat untuk mencapai tujuan. "Kita harus belajar dari orang yang sukses sehingga apa yang menjadi niat kita bisa tercapai dengan baik," kata dia.
Dia mengatakan guru harus memiliki semangat untuk memotivasi diri dan anak didik untuk mencapai kesuksesan. Selain itu, guru juga harus memiliki pedoman agama. "Sebab, dengan agama hidup menjadi terarah dan dengan ilmu hidup menjadi indah."
Menjawab pertanyaan peserta diskusi, Bainah menjelaskan karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 karena pendidikan kita menurut Undang-Undang Sisdiknas berdasar pada keduanya.
Bainah juga mengingatkan bangsa Indonesia jangan mudah putus asa.
“Jika gagal jangan menyerah. Lakukan lagi kegiatan kita dan terus ulangi lagi sehingga akhirnya bisa berhasil dan sukses,” kata Bainah.
Sementara itu, Eki Setyanto dalam sambutannya mengatakan untuk meningkatkan keberhasilan dunia pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya meningkatkan sumber daya manusia. Selain itu, kita harus dapat berpikir positif.
"Memajukan dunia pendidikan di Lampung Selatan ini menjadi tugas semua lapisan masyarakat. Selain itu, pengawasan pun wajib dilakukan oleh kita semua. Dengan begitu, diharapkan sasaran dapat berhasil guna dengan baik," kata Eki. (CK-3/S-1)
Langganan:
Postingan (Atom)