Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Ekonomi Kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Ekonomi Kreatif. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Mei 2011

FE Helat Festival Ekonomi Syariah

Pendidikan Lampost : Senin, 9 Mei 2011




BANDAR LAMPUNG—Lomba Proposal Bisnis Festival Ekonomi Syariah Tingkat Nasional Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) Rohani Islam (Rohis) Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Lampung (Unila) memasuki babak final. Bertempat di gedung Pascasarjana FE Unila, Minggu (8-5), sepuluh proposal bisnis dari beberapa perguruan tinggi berkompetisi pada babak final.

Ketua Rohis FE Unila Rahmad Adhi Pratomo mengatakan sejak Maret hingga pertengahan April, panitia telah membuka pendaftaran. Dari data yang ada, terdapat 47 proposal bisnis yang ikut dalam perlombaan.

"Dari 47 proposal tersebut, diadakan seleksi naskah yang dilihat dari kreativitas ide, realisasi bisnis, dan pemasaran usaha, sehingga terpilihlah sepuluh proposal terbaik yang layak masuk babak final," kata dia.

Rahmad mengatakan dalam babak final ini, kesepuluh peserta harus mampu mempresentasikan proposal bisnisnya di hadapan tiga orang juri, yakni Hermansyah, Dewi, dan Kurnia Perdana, yang berasal dari Enterpreneure Success Comunity. (MG1/S-2)

Dana Riset Dirjen Dikti Berkurang

BANDAR LAMPUNG—Dana riset dan penelitian pada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) bagi kalangan perguruan tinggi untuk tahun ini mengalami penurunan. Demikian disampaikan Ketua Lembaga Penelitian Universitas Lampung Admisyarif kepada Lampung Post di ruang kerjanya akhir pekan lalu.

Ia menginformasikan dana penelitan yang diterima Unila dari Dikti untuk penelitian mengalami penurunan, baik dana yang diperoleh dari hibah bersaing maupun dari DIPA APBN Unila 2011.

"Tahun lalu dana penelitian yang dikucurkan melalui APBN dalam DIPA Unila mencapai Rp3 miliar, tetapi tahun ini turun menjadi Rp500 juta. Pun halnya untuk dana hibah bersaing tahun ini, Unila diperkirakan hanya akan memperoleh kucuran dana tidak sampai Rp10 miliar," kata dia.

Admisyarif mengatakan penurunan penerimaan Unila ini bukan berarti menurunnya kualitas penelitian Unila, melainkan alokasi dana Pemerintah Pusat pada Dikti yang mengalami penurunan secara keseluruhan. Padahal, menurutnya animo meneliti dosen setiap tahun terus meningkat.

"Adanya tunjangan sertifikasi guru dan dosen serta tunjangan bagi para guru besar membebani anggaran Kementerian Pendidikan Nasional. Akibatnya, alokasi dana penelitian terus mengalami penurunan," ujar dia. (MG1/S-2)

Ijazah ‘Homeschooling’ Kerap Ditolak

TANGERANG—Pendidikan sekolah rumah (homeschooling) yang diakui pemerintah sebagai pendidikan informal masih didiskriminasikan. Peserta didik homeschooling di berbagai daerah belum mendapat dukungan kebijakan yang baik dari dinas pendidikan setempat.

Persoalan tersebut dikemukakan para pelaku homeschooling, baik tunggal maupun komunitas, pada acara Simposium Pendidikan Informal: Implementasi Hak Peserta Didik Jalur Informal, Sabtu (7-5), di Universitas Multimedia Nusantara, Tanggerang Selatan. Acara tersebut dilaksanakan Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena).

Dian G., orang tua siswa dari Bekasi, mengatakan bahwa siswa homeschooling yang mampu menyelesaikan pendidikan di jenjangnya lebih awal sulit melakukan akselerasi. Padahal, banyak anak homeschooling lain yang mampu menyelesaikan materi belajar di suatu jenjang pendidikan lebih cepat dibandingkan anak-anak sekolah formal.

"Anak tidak bisa ikut ujian nasional pendidikan kesetaraan karena dianggap belum tuntas belajar tiga tahun untuk siswa SMP atau SMA. Dinas Pendidikan tidak mau memahami kondisi anak-anak homeschooling yang mampu menyelesaikan pendidikan lebih cepat," ujar Dian. Demikian dikutip dari Kompas.com. (S-2)

Selasa, 15 Maret 2011

Mengagas Sekolah Kehidupan

Moh. Syahrul Zaky Romadloni


Tak banyak orang menyadari, khususnya kaum muslim, bahwasanya konsep pembelajaran dalam Islam adalah berlaku dalam seluruh waktu kehidupan. Kalau toh ada segelintir orang yang mengetahui bahwasanya Rasulullah SAW mewajibkan kaum muslim untuk menuntut ilmu dari buaian sang Ibu sampai liang lahat, kebanyakan dari mereka tidak mampu untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Justru yang menjadi pelopor pembelajaran seumur hidup adalah badan pendidikan PBB (UNESCO) yang mana mayoritas pengagasnya adalah non-muslim. Di Indonesia sendiri, pelopor pembelajaran seumur hidup adalah seorang Nasrani taat yang mempunyai wawasan sangat luas dan mempunyai cita-cita untuk membangun manusia Indonesia pembelajar. Dia bernama Andreas Harefa, seorang penulis, motivator, guru dan pengusaha sukses. Dia memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada karena merasa gelisah dan gundah akan sistem pendidikan yang diterapkan di tingkat universitas. Gelisah, karena dia melihat banyak mahasiswa yang karakternya tidak layak sebagai mahasiswa. Gundah, karena dia menemukan banyak dosen yang metodologi pembelajarannya tidak memberikan kesempatan kepada mahasiwanya untuk berpikir kreatif.
sertifikasi

Andreas Harefa memaparkan bahwasanya dunia pendidikan modern dewasa ini telah mengekang kreativitas dan mempersempit paradigma kebanyakan manusia di dunia. Khususnya di Indonesia, sistem pendidikan yang diterapkan telah mempersempit persepsi masyarakat akan hakikat pendidikan. Mereka menilai bahwasanya pendidikan dan pembelajaran hanya bisa diterapkan dalam sekat kelas dan sekolah. Di luar itu, tidak akan ditemukan proses pembelajaran dan pendidikan.
Walhasil, paradigma seperti ini membuat mereka tidak kreatif. Ilmu yang didapatkan adalah ilmu yang mereka temui di sekolah. Padahal sekolah hanya merupakan salah satu medium untuk mendapatkan ilmu, dan di luar sekolah (baca: realitas kehidupan) justru knowledge source sangat tersebar banyak. Namun hal itu seringkali luput dari kebanyakan masyarakat Indonesia.

Parahnya, realita yang berkembang di khalayak ramai saat ini adalah mempersempitnya makna proses belajar mengajar di sekolah atau intstitusi pendidikan lainnya dengan hanya ditujukan pada selembar kertas yang bernama ijazah. Hal ini dapat dilihat dari berjamurnya protes dan demonstrasi atas pemberlakuakan Ujian Nasional. Selain itu, dewasa ini banyak sekali lembaga-lembaga pendidikan yang tergabung dalam sindikat jual beli ijazah tanpa harus mengikuti proses pembelajaran; tahu-tahu sudah dapat gelar dan menerima ijazah. Sungguh ironis.

Jika ditelusuri ke belakang, para ilmuwan terkemuka lahir, berkembang serta berprestasi di luar sekat lembaga pendidikan. Memang ada di antara mereka yang berkembang dalam naungan lembaga pendidikan. Tapi, jauh sebelum sekolah ditemukan para ilmuwan lahir dari pengamatan mereka terhadap realitas kehidupan yang ada. Ilmuwan terkuno yang diketahui manusia Thales, seorang Yunani tidak dibesarkan di sekolah. Dia adalah seorang pelaut mencoba untuk menjawab esensi dari dunia dan kehidupan ketika ia melihat hamparan laut yang sangat luas. Lalu ia menjawab bahwasanya esensi atau subtansi dari dunia itu adalah air. Setelah itu tumbuh ilmuwan-ilmuwan lain yang kebanyakan lahir bukan atas didikan sekolah. Mesikpun sebagian dari mereka sekolah, tapi kebanyakan dari mereka mendapatkan pengetahuannya di luar sekat sekolah.

Kita mungkin masih ingat dengnan Thomas Alva Edison sang penemu berbagai macam alat elektronik. Ternyata ia dipecat dari sekolahnya karena tingkah lakunya yang aneh. Dan justru ia menelurkan karya-karyanya yang fenomenal setekah ia dikeluarkan dari sekolahnya, dan mengikuti pembelajaran homeschooling bersama ibunya di rumah.

Begitulah sistem pendidkan modern, selain melakukan aksi pencerdasan, pencerahan dan pemerdekaan, juga ada beberapa yang melakukan proses pembodohan, pengekangan dan penindasan. Di dalam kebanyakan sekolah banyak anak didik yang dikekang kreativitasnya, Kecerdasan telah disederhanakan dengan hanya diukur oleh angka-angka tanpa makna, yang belum tentu angka-angka tersebut adalah representasi dari kecerdasan mereka.

Maka sudah saatnya kini paradigma itu harus dirubah. Memang sekolah, saat ini adalah tempat utama untuk mengasah dan mencerdaskan otak kita. Di sekolah pula kita dapat mengetahui etika, ilmu pengetahuan dan moral. Tapi hal itu jangan mempersempit paradigma kita bahwasanya kita hanya bisa mendapatkan ilmu di sekokah saja. Sudah saatnya kita mencanangkan sebuah program pembelajaran seumur hidup yang tidak tersekat oleh ruang, waktu dan tempat. Dan saya menamankan lembaga pembelajaran itu sebagai sekolah kehidupan (school of life) atau universitas kehidupan (the university of life). Saya sangat setuju dan mendukung saudara Andreas Harefa yang pertama kali mencanangkan dan menyebarkan semangat pembelajaran di sekolah kehidupan, karena memang ilmu dapat diperoleh tanpa harus dibatasi oleh sekat ruang dan waktu. Pembelajaran adalah sebuah keharusan bagi setiap manusia dan muslim di mana saja dan kapan saja.

Konsep sekolah kehidupan adalah salah satu ide inovatif yang mengakomodasi anjuran Nabi Muhammad SAW. Dalam haditsnya, beliau mengatakan bahwasanya kewajiban bagi muslim untuk menuntut ilmu semenjak dari buaian ibu sampai ajal datang menjemput. Tersirat dari hadits tersebut bahwasanya proses pembelajaran harus belangsung sepanjang hidup (Long Life Education). Islam tidak menganggap bahwasanya pembelajaran hanya berlangsung di lembaga pendidikan sekolah atau universitas saja. Akan tetapi proses dan waktu pembelajran sangatlah terbentang luas tanpa dibatasi oleh sekat ruang dan waktu.

Hal ini jelas membawa semangat perubahan dari buruk ke arah yang lebih baik. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari bodoh menjadi paham. Karena pada hakikatnya belajar adalah sebuah proses perubahan dari posisi tidak tahu menjadi tahu sehingga hidup kita akan bertransformasi ke arah lebih baik dari waktu ke waktu.

Selain itu program sekolah kehidupan adalah sebuah sekolah yang tidak berusaha untuk memperbudak dan menindas kita. Di sana kita dibebaskan untuk memilih disiplin ilmu yang kita kehendaki dan kita sukai. Kita bebas memilih untuk mengembangkan beberapa disiplin ilmu yang memang dirasakan cocok dengan karakter khas kita, sehingga kita bisa terbebas untuk berkembang dan tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Sekolah Kehidupan atau Universitas Kehidupan adalah merupakan solusi dalam rangka menjembatani mahalnya biaya pendidikan di sekolah-sekolah maupun di unviersitas-univeritas di tanah air. Liberalisasi sistem pendidikan dan pengonversian beberapa lembaga pendidikan tinggi negeri ternama di Indonesia menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) menjadikan biaya pendidikan tidak terjangkau lagi bagi kalangan menengah ke bawah. Maka dalam sekolah kehidupan kita tidak dipusingkan lagi dengan biaya pendidikan yang melangit. Biaya yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran otodidak di lembaga ini hanya terbatas pada biaya pembelian buku. Itupun bisa ditanggulangi dengan sering mengunjungi perpustakaan-perpustakaan umum yang tersebar di tiap kabupaten/kota.

Dengan begitu, mahalnya biaya pendidikan di tanah air, tidak membuat kita putus asa dan berhenti menjadi cerdas. Ada banyak cara untuk menjadi cerdas, meskipun banyak sekali keterbatasan mengelilingi hidup.

Program Sekolah Kehidupan adalah merupakan sebuah solusi atas problem pembangunan berkelanjutan di negara kita. Selama ini, kualitas SDM manusia Indonesia sering dijadikan kambing hitam atas tertinggalnya Indonesia dalam berbagai sektor kehidupan bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Pribadi-pribadi Indonesia yang memiliki program pembelajaran terpadu melalui Sekolah Kehidupan akan menjawab tantangan dunia bahwasanya manusia Indonesia mampu untuk berkompetisi dalam kancah internasional dan mengharumkan nama bangsa. Kombinasi antara Sumber Daya Alam Indonesia yang kaya raya dengan Sumber Daya Manusianya yang berkualitas, insya Allah akan membawa Indonesia keluar dari krisis multidimensi yang melanda negeri dewasa ini.

Langkah-langkah Pembelajaran
Sungguh luar biasa apabila setiap individu Indonesia memiliki program sendiri dalam rangka meningkatkan kualitas diri sendiri. Pada hakekatnya wacana universitas kehidupan hanya perlu dipahami secara substansinya bukan kulit luarnya. Artinya setiap program dalam rangka meningkatkan kualitas diri dengan melakukan proses pembelajaran baik itu di lembaga pendidikan atau diluar lembaga pendidikan dan tidak terbatas denga ruang dan waktu itu sama dengan mendukung wacana ini. Ide ini tidak perlu dilembagakan akan tetapi haruslah bisa menjadi sebuah kesadaran nasional bahwasanya sekolah bukanlah satu-satunya medium untuk meningkatkan diri dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Tentunya apabila program dan paradigma ini diikuti oleh mayoritas masyarakat Indonesia akan ada sebuah transformasi positif besar-besaran di negeri ini. Perubahan ini diharapkan akan membawa bangsa pada harkat dan martabat yang tinggi di kancah mancanegara.

Namun tentunya, wacana ini bukanlah sekedar isapan jempol belaka. Ada beberapa saran bentuk impelementasi. Program ini bukanlah program semu dan kabur tanpa bentuk, akan tetapi tentunya memiliki sasaran jelas dan terprogram. Ali Bin Abi Thalin pernah mengisyaratkan bahwanya kebathilan yang terprogram akan mengalahkan kebenaran yang amburadul. Meskipun program ini dirasakan baik dan bermanfaat bagi kemajuan masyarkat, akan tetapi kalau tidak terprogram dengan matang maka akan menjad sia-sia.

Sebagaimana paparan di atas, Sekolah Kehidupan adalah usaha untuk merubah paradigma bahwasnya proses pendidikan dan pembelajaran hanya dapat dilakukan di sekolah. Sekolah Kehidupan menganggap proses pembelajaran dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Tentunya ide ini tidak menafikan peran sekolah dalam menyediakan fasilitas pendidikan. Akan tetapi, program ini mencoba untuk memperluas area proses pembelajaran dan pendidikan.

Proses pembelajaran di Sekolah Kehidupan bisa dilakukan melalui beberapa cara. Salah satunya adalah pembelajaran melalui buku (literature research). Di beberapa universitas ternama luar negeri, para mahasiswa dibebankan untuk membaca buku sekian ribu lembar dalam satu bulan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan serta pengetahuan mahasiswa.
Literature research harus dilakukan secara berencana. Pembelajar yang sedang mengikuti proses pembelajaran melalui metode ini harus mempunyai perencanaan yang matang tentang buku apa yang akan dibaca, berapa buku yang harus dibaca dalam jangka waktu tertentu, dan disiplin ilmu apa yang akan didalami. Proses ini harus memiliki tujuan jelas, agar perkembangan wawasan kita dapat dilakukan secara sistematis dan terencana.

Proses literature research dapat dilakukan dengan membeli buku-buku secara beraturan. Pembelajar harus menyisahkan sebagian budgetnya untuk membeli buku-buku. Namun hal ini bisa menjadi alternatif kedua, karena disamping harga buku yang sangat mahal di Indonesia, dewasa ini telah tumbuh perpustakaan-perpustakaan umum sampai tingkat kabupaten/kota. Para mahasiswa pun kebanyakan jarang yang membeli buku akan tetapi mereka berkutat dan berkubang dengan buku-buku yang disediakan oleh perpustakaan unviersitas.

Namun perlu diingat bahwasanya literature research mempunyai beberapa kelemahan. Tidak selamanya apa yang termaktub dalam buku sesuai dengan realita yang sedang terjadi. Memang benar, buku merupakan sebuah medium untuk merekan fakta-fakta yang telah ditemukan. Namun, realitas kehidupan tidak stagnan. Kehidupan senantiasa dinamis dan berubah-rubah, sehingga kadangkala teori-teori yang termaktub dalam beberapa buku telah usang ditelan zaman.
Oleh sebab itu, literature research harus ditunjang dengan field research dan expirement. Harus ada beberapa usaha untuk mencocokan teori-teori yang ada di buku dengn keadaan atau realita yang terjadi di lapangan. Universitas-universitas ternama di luar negeri yang mengadakan program pasca sarjana lebih menganjurkan mahasiswanya untuk memilih field research daripada literature research. Hal disebabkan karena field research memiliki keakuratan yang lebih daripada literature research.
Melihat keadaaan lingkungan sekitar dan dan meneliti gejala-gejalanya memang sangat dianjurkan untuk memahami apa yang ada di depan kita. Perlu disadari bahwasanya ilmu pengetahuan bukan hanya terdapat di dalam buku saja, akan tetapi kebanyakan dari ilmu pengetahuan terdapat di lingkungan sekitar (experimental knowledge). Buku hanya miniatur kecil saja yang memuat sebagian kecil dari ilmu pengetahuan.

Namun, kadangkala tatkala mempelajari disiplin ilmu tertentu, kita mengalami kesulitan untuk mencerna ide dan pemikiran yang ada dalam buku atau lingkungan sekitar. Ataupun kita sering menemukan beberapa permasalahan empirik yang sulit ditemukan pemecahannya. Dalam hal ini, kita dianjurkan untuk memiliki relasi dengan ahli-ahli yang berkomperten dalam bidang tersebut.

Relasi dengan para ahli tentu sangat penting dalam meningkatkan wawasan kita. Kita bisa memerankan para ahli tersebut sebagai guru kita- meskipun toh hal itu tidak terikat dalam sebuah lingkungan sekolah atau universitas. Defenisi dari guru di sini adalah seseorang yang membimbing kita dan membantu kita untuk memecahkan permsalahan yang tidak dapat kita pahami sendiri. Seorang guru tentunya akan memperkaya wawasan kita dengan pemikiran-pemikirannya yang kadang tidak kita temukan dalam buku-buku atau realitas kehidupan.

Akhirnya, pembelajaran diakhiri dengan mendokumentasikan hasil-hasil pembelajaran dalam sebuah karya tulis ilmiah. Penulsian karya tulis ilmiah dimaksudkan untuk merekam poin-poin penting yang telah kita pelajari, agar kelak ketika suatu hari kita membutuhkannya, kita bisa dengan mudah mendapatkannya. Syukur-syukur dari hasil pembelajaran tersebut, kita bisa mengembangkannya dan membuatnya menjadi teori baru yang lebih berguna bagi masyarakat luas.

Dengan membuat langkah-lagkah seperti ini diharapkan seseorang yang mempunyai program sendiri dalam Unversitas Kehidupan dapat meningkatkan kualitas dirinya tanpa harus terbelenggu dan dibatasai oleh rumitnya proses yang ada dalam lembaga pendidikan formal.

Teknis Pembelajaran
Selayakanya lembaga pendidikan formal yang memiliki langkah-langkah dan program-program sistematis, sepantasnyalah Sekolah Kehidupan memiliki langkah-langkah yang sistematis dan terencana. Langkah-langkah pembelajarna yang telah dipaparkan di atas masih terlalu global untuk menjalankan roda pembelajaran di Sekolah Kehidupan. Untuk itu perlu ada gambaran mendetail tentang proses pembelajaran dalam tataran implementasi.

Gambaran yang akan dipaparkan ini sebatas saran dan wacana, yang pada tahap pelaksanaannya dalam tataran individu bisa disesuaikan dengan kesiapan individu tersebut untuk melaksanaanya. Bentuk dari impelementasi ini sangat tergantung dengan keadaan dan kesempatan yang dimiliki oleh individu pembelajar. Bisa jadi langkah yang diambil oleh si A tidak cocok untuk dilaksanakan oleh si B, karena di antara mereka mempunyai kesempatan dan kepentingan yang berbeda. Akan halnya gambaran yang akan diutarakan dalam ini adalah sebatas saran dan wacana agar pembaca mempunyai gambaran sekilas dan mampu utnuk merancang rencana studinya sendiri.

Dalam dunia perkuliahan dikenal istilah Sistem Kredit Semester (SKS). SKS diyakini dapat memacu semangat mahasiswa untuk merencanakan studinya dengan cepat. Dengan adanya sistem ini, mahasiswa diberi kemudahan untuk mengatur perencanaan pembelajarannya sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki.

Sama halnya dengan sistem kredit semester yang berlaku di universitas-universitas formal di tanah air, sistem ini bisa diimplementasikan untuk mempermudah pembelajar dalam menyusun rencana studinya di Sekolah Kehidupan. Pembelajar dapat menyusun rencana pembelajarannya sendiri sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki. Ada baiknya klasifikasi rencana studi disusun menurut disiplin ilmu tertentu. Sebagai contoh mata kuliah studi moneter dan mata kuliah ekonomi makro dimasukkan dalam konsentrasi disiplin ilmu ekonomi. Mental hygene dan mata kuliah psikiolgi pendidikan dimasukkan dalam konsentrasi program studi psikologi.

Penyusunan rencana studi ini sangat penting, karena kalau pembelajaran kita tidak disusun dan direncanakan dengan sistematis, maka hasil yang akan didapat akan ngambang dan tidak fokus. Lebih baik pembelajar mengonestrasikan diri pada satu disiplin ilmu yang menurut dia cocok baginya, supaya pengetahuannya tidak setengah-setengah. Menurut Marwah Daud Ibrahim dalam bukunya Mengatur Hidup dan Merencanakan Masa Depan, kita seharusnya mempunyai spesialisasi kemampuan. Artinya, kalau kita mau sukses dalam pembelajaran maka kita harus mempunya spesialisasi dalam bidang disiplin ilmu tertentu.

Namun ini tidak menjadi harga mati. Kalau toh kita mempunyai kemampuan dan kesempatan luas, bukan merupakan kesalahan apabila kita memilih berbagai disiplin ilmu sebagai spesialisasi. Dalam sejarah Islam klasik pun dikenal para ilmuwan yang memiliki pemahaman luas dalam berbagai disiplin ilmu. Ibnu Sina contohnya, selain memahami ilmu teologi, beliau juga memiliki pemahaman yang luas dalam bidang Matematika, Fisika, Kimia, Astronomi, bahkan musik. Namun, tentunya kita harus berkomitmen untuk mempelajari disiplin-disiplin ilmu yang kita pilih, secara mendalam sampai keujung-ujungnya. Agar kita tidak menjadi seorang pembelajar yang ngambang dan setengah-setengah.

Saya menganjurkan agar waktu yang digunakan untuk mempelejari satu paket materi mata kuliah di sekolah kehidupan selama 1 bulan bukan selama 6 bulan seperti yang berlaku dalam sistem kredit semester. Asumsinya, tidak seperti di sekolah-sekolah formal yang dikontrol oleh guru atau dosen, di Sekolah Kehidupan hanya berlaku pengontrolan dari sendiri. Jadi, semangat dan kesadaran kitalah yang akan membimbing kita selama proses pembelajaran. Maka, kalau masa studi terhadap satu paket mata kuliah berdurasi selama 6 bulannya tanpa gonta-ganti, dikhawatirkan akan kita akan terhinggapi kebosanan. Nah, solusinya materi pembelajaran bisa digonta-ganti dalam jangka waktu pendek agar kita tetap semangat dalam mempelajarinya.

Jadi, durasi waktu pembelajaran sangat fleksibel, disesuaikan dengan karakteristik diri kita. Apabila kita cepat bosan dalam menghadapi sesuatu yang sama dalam jangka waktu yang lama, maka kita dianjurkan untuk menentukan durasi yang tidak lama. Namun, apabila kita orang yang bertipe gigih untuk menghadapi sebuah materi sama dalam jangka waktu lama, maka silahkan anda menentukan durasi waktu yang lama.

Strategi Pembelajaran
Paparan di atas tentang metodologi dan mekanisme pembelajaran di universitas kehidupan adalah sebuah “keharusan” bagi para pembelajar. Maksudnya, kalau seorang pembelajar benar-bernar serius dan berkeinginan untuk meraih hasil positif dari pembelajarannya, maka ia sangat dianjurkan untuk memiliki langkah-langkah dan metodologi di atas agar proses pembelajar tidak ngambang dan terkatung-katung. Di atas saya telah memaparkan, bahwasanya langkah-langkah yang jelas akan sangat membantu dalam meraih hasil yang maksimal.

Namun selain dari langkah-langkah yang harus ditempuh di atas, ada beberapa strategi lain yang akan sangat mendukung dalam keberhasilan pembelajaran. Strategi ini bersifat komplementer dalam artian pelengkap bagi langkah-langkah pembelajaran yang telah dipaparkan di atas. Namun, strategi pembelajaran ini akan sangat membantu pembelajar dalam menyukseskan kegiatan pembelajarannya.
Seperti yang telah saya paparkan di atas, bahwasanya book hunting atau perburuan buku adalah sesuatu yang mutlak dilakukan oleh para pembelajar ilmu. Hal ini disebabkan karena buku adalah sumber primer pembelajaran. Ilmuwan-ilmuwan sendiri, baik klasik maupun modern, melakukan book hunting sampai batas yang tidak pernah kita pikirkan. Joel L. Kremer seorang peneliti Islam (Islamist) dari Chicago University mencari sumber-sumber yang berkaitan dengan bidang peneliatiannya sampai ke beberapa negara seperti Israel, Palestina, Belanda dan negara-negara lainnya. Orang yang sedang melakukan riset doktoral dari berbagai universitas-universitas ternama di dunia, biasanya mencari sumber risetnya melintasi batas-batas negara, karena sumber-sumber buku primer tersebar di beberapa perpustakan-perpustakaan dunia. Azumardy Azra, seorang ilmuwan Indonesia yang cukup disegani di kancah mancanegara, mempunyai koleksi buku yang berjumlah ribuan yang didapatnya di berbagai belahan dunia. Bahkan dia mempunyai program tersendiri untuk menghunting buku-buku di berbagai negara.

Maka tak salah apabila seorang pembelajar di Sekolah Kehidupan menginvestasikan sebagian penghasilannya untuk mencari buku-buku baik itu membelinya atau meminjamnya di perpustakaan-perpustakaan.

Buku-buku yang menjadi sumber rujukan utama dalam pembelajaran sering kali termaktub dalam beberapa bahasa dunia. Maka akan sangat dianjurkan apabila pembelajar membekali dirinya dengan kemampuan bahasa asing yang mumpuni. Minimal seorang pembelajar menguasai 2 bahasa asing selain tentunya bahasa ibunya (mother tongue). Tentunya bahasa asing yang dianjurkan pertama kali untuk dipelajari adalah bahasa Arab dan Inggris. Bahasa Arab adalah bahasa utama untuk mempelajari buku-buku rujukan bertemakan Islam. Sedangkan Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang mana sebagai besar buku rujukan memakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.

Biasanya, ilmuwan-ilmuwan dunia menguasai lebih dari 5 bahasa asing. Bahkan, di International Islamic University Malaysia (IIUM) untuk membekali mahaiswanya dengan bahasa asing, diadakan kursus bahasa asing gratis. Dari bahasa latin sampai bahasa sanseketra yang sudah punah. Hal ini dianggap penting karena bahasa adalah kunci dari ilmu pengetahuan.

Seminar-seminar dan symposium-simposium akan sangat membantu juga dalam memperluas wawasan keilmuan sang pembelajaran dan memberikan nilai plus dalam proses pembelajaran. Suatu seminar biasanya membahas suatu masalah keilmuan secara mendetail dan terperinci serta disajikan oleh pakar-pakar yang berkompeten di bidangnya. Bahkan dari symposium-simposium tersebut tidak sedikit yang menghasilkan konklusi-konklusi baru dalam disiplin ilmu tertentu.

Seperti juga yang telah dipaparkan di atas, kadangkala dalam memelajari mata kuliah tertentu, seorang pembelajar menemui beberapa kesulitan atau masalah yang tidak bisa diatasi sendiri. Dalam keadaan seperti ini tentunya sangat dianjurkan bagi pembelajar agar mempunyai relasi atau link dengan beberapa ahli yang berkompeten dalam disiplin ilmu tertentu. Hal ini sangat penting, karena beberapa permasalahan keilmuwan ada yang tidak dapat dipecahkan kecuali dengan bimbingan orang yang berkompeten di bidangnya.

Manfaat relasi dengan orang-orang yang berkompeten akan sangat signifikan apabila sang pembelajar memanfaatkannya dari langkah pertama kali dia mau memulai pembelajaran. Alangkah lebih baik, apabila dia membuat rencana studi, mencari bahan-bahan, mencari metodologi pembelajaran yang tepat dan memecahkan permasalahan yang dia hadapai dengan dibimbing oleh mereka. Akan tetapi, permasalahannya kesediaan dan waktu mereka untuk membimbing adalah sesuatu yang mahal untuk didapat.
Wallahu a’lam

Selasa, 01 Februari 2011

Pendidikan Wirausaha Dikenalkan sejak Dini

Ekonomi Lampost : Senin, 31 Januari 2011


BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pendidikan entrepreneurship (jiwa kewirausahaan) harus dikenalkan sejak dini kepada siswa. Pendidikan ini dikembangkan tidak semata-mata melatih siswa menjadi pengusaha atau pedagang, tetapi melatih siswa untuk memiliki kebiasaan menciptakan dan berinovasi serta melihat peluang untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai.

Demikian disampaikan Ketua Yayasan Sang Timur Sr. Marie Luise, P.I.J. dalam seminar bertajuk Menumbuhkan jiwa entrepreneurship melalui dunia pendidikan, dalam rangka Jubileum Fransita TK, SD, SMP Fransiskus Tanjungkarang di SMA Fransiskus, Sabtu (29-1).

Seminar yang dibuka Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung Sukarma Wijaya dan dihadiri Ketua Yayasan Dwi Bakti Bandar Lampung Sr. M. Lusie, F.S.G.M., Unit Pelayanan Teknis Tanjungkarang Pusat Hj. Sumarni, Kepala SMA Fransiskus Bandar Lampung Sr. M. Pauli, F.S.G.M. ini diikuti 200 peserta para guru di lingkungan sekolah Fransiskus di Bandar Lampung dan sekolah-sekolah negeri dan swasta lainnya.

Selanjutnya ia menjelaskan landasan pendidikan berbasis kewirausahaan, entrepreneurship-based education, adalah pembentukan sikap belajar yang berdasarkan creating and innovating habit (kebiasaan mencipta dan berinovasi).

Ia menjelaskan suatu negara mampu mencapai kemakmuran jika minimal 2% dari jumlah penduduknya memiliki jiwa entrepreneur. Dengan demikian, untuk jiwa mencapai kemakmuran Indonesia dengan jumlah penduduk 238 juta paling tidak harus memiliki lebih 4,4 juta entrepreneur.

Sementara berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik, Indonesia baru memiliki SDM berjiwa entrepreneurship sekitar 400 ribu atau 0,18%. Jumlah yang masih sangat jauh dari standar minimal. "Untuk itu perlu terobosan untuk memasukkan pendidikan entrepreneurship pada jenjang kelas tertentu," ujarnya.

Sementara itu, Kepala SMA Fransiskus Bandar Lampung Sr. M. Pauli menambahkan seperti yang disampaikan pengusaha properti sukses Ir. Ciputra bahwa entrepreneur adalah seseorang yang mampu mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas. Ia memaparkan setidaknya terdapat 5 alasan penting mengapa entrepreneurship sangat penting diajarkan di bangku sekolah.

Pertama, kebanyakan generasi muda tidak dibesarkan dalam budaya wirausaha. Inspirasi dan latihan usaha tidak banyak diajarkan di bangku sekolah. Kedua, tingginya pengangguran di Indonesia. Ketiga, lapangan kerja sangat terbatas, tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja. Keempat, pertumbuhan entrepreneur selain dapat menampung tenaga kerja, juga dapat menciptakan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Kelima, Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam, akan tetapi sumber daya alam tersebut tidak bisa dikelola dengan baik karena Indonesia kekurangan SDM entrepreneur yang mampu mengubah "kotoran dan rongsokan menjadi emas".

Ketua Panitia Ign. Budi Ruswanto menjelaskan seminar ini digelar atas keprihatinan makin rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dan banyaknya pengangguran di Tanah Air. Untuk itu, Yayasan Dwi Bakti Bandar Lampung terpanggil guna memajukan dunia pendidikan dengan menciptakan seorang entrepreneur melalui kurikulum sekolah.

Dengan menggunakan metode pembalajaran yang kreatif, inovatif, sehingga siswa sebagai agen perubahan memiliki pemikiran yang terbuka. Siswa tidak hanya bergantung pada usaha mencari lapangan kerja, tapi justru sebagai pelaku usaha atau menciptakan lapangan kerja. (AST/E-1)

Senin, 27 Desember 2010

ARISTOTELES DALAM SEPENGGAL KARYA

ETIKA BERKARYA

Oleh : Hendra Sugiantoro

24-Nov-2010
KabarIndonesia - Pada masa lalu, hiduplah seorang Filsuf yang namanya tak lenyap sampai kini. Filsuf ini lahir pada tahun 384 SM di Stagira, Makedonia. Perjalanan hidupnya memiliki kisah untuk bisa belajar kepada Plato di Athena, Yunani, sejak sekitar usia 17 tahun. Di Akademi Plato, ia mendalami pelbagai hal. Tercatat, ia menempuh studi di sekolah milik Plato itu selama kurang lebih 20 tahun. Pada tahun 322 SM, ia meninggal dunia. Siapakah ia?

Michael H. Hart memasukkan namanya dalam 100 orang paling berpengaruh di dunia sepanjang sejarah. Ia adalah Aristoteles yang seperti gurunya sempat mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama Lyceum sekitar tahun 355 SM. Dari begitu banyak karya tulisnya, ada dua karya Aristoteles yang menarik dicermati: buku Etika Nikomakheia dan Politika.

Bryan Magee dalam buku The Story of Philosophy memaparkan garis besar dua buku Aristoteles itu. The Story of Philosophy diterbitkan Dorling Kindersley Limited, London, pada 2001. Diterjemahkan oleh Marcus Widodo&Hardono Hadi, buku ini diterbitkan Penerbit Kanisius, Yogyakarta, pada 2008, dalam edisi bahasa Indonesia.

Berikut pemaparannya:
“Lewat tulisannya, Aristoteles juga membahas etika. Karya utamanya adalah buku Etika Nikomakheia................
Ia mulai dengan proposisi bahwa setiap orang menginginkan kehidupannya bahagia dalam arti sepenuh-penuhnya. Menurutnya, kehidupan yang bahagia itu dicapai jika manusia bisa menjalankan dan mengembangkan segala kapasitas dirinya secara maksimal dan sesuai dengan kehidupan dalam sebuah masyarakat. Mengumbar keinginan pribadi dengan cara semaunya sendiri atau dengan memaksa kehendak sendiri akan membawa kita ke dalam konflik abadi dengan orang-orang lain. Itu buruk. Namun, bila keinginan dan kehendak tidak disalurkan, itu juga sama buruknya. Maka, Aristoteles mengajukan doktrinnya yang terkenal, yang disebut “jalan tengah emas”(the golden mean), yakni titik tengah di antara dua ekstrem yang masing-masing sama buruknya. Misalnya, kemurahan hati adalah jalan tengah antara boros dan kikir, keberanian adalah jalan tengah antara kenekatan dan ketakutan, menghargai diri sendiri adalah jalan tengah antara sombong dan rendah diri, rendah hati adalah jalan tengah antara pemalu dan tebal muka. Yang menjadi tujuan adalah menjadi pribadi yang seimbang. Dan, menurutnya, inilah jalan untuk meraih kebahagiaan...................................

Etika Nikomakheia karya Aristoteles mengantar langsung kepada karyanya yang lain, Politika. Sebenarnya kedua buku ini memang dimaksudkan sebagai bagian pertama dan kedua dari risalah yang sama, sebab, menurut Aristoteles, tujuan pemerintahan adalah memungkinkan para warganya memperoleh hidup yang penuh dan bahagia. Hanya dengan menjadi anggota masyarakatlah, seorang individu dapat memperolehnya. Kebahagiaan dan kepenuhan diri tidak mungkin diperoleh dalam keterkucilan pribadi. Inilah inti pernyataannya yang banyak dikutip: “Dari kodratnya, manusia adalah makhluk politik”. Menurutnya, ada pelbagai dimensi sosial dan politik yang tak dapat dilepaskan dari kehidupan pribadi yang bahagia. Salah satu aspek yang paling berpengaruh dari filsafat politiknya adalah pandangan bahwa negara harus memampukan. Fungsi negara adalah memungkinkan perkembangan dan kebahagiaan individu.”

Begitulah pemikiran Aristoteles dalam dua karyanya yang diberi judul Etika Nikomakheia dan Politika. Apa yang dipaparkan Bryan Magee lewat buku The Story of Philosophy sedikit banyak telah memberikan gambaran pemikiran Aristoteles, meskipun untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif tetap harus membaca buku Aristoteles secara langsung. Pemikiran Aristoteles tentu juga memerlukan koreksi.

Selain dua karya di atas, ada banyak lagi karya tulis Aristoteles lainnya. Michael H. Hart dalam buku 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah menuturkan, “Aristoteles menulis soal etika dan metafisika, soal psikologi dan ekonomi, soal teologi dan politik, serta soal retorika dan estetika. Dia menulis tentang pendidikan, syair, adat-istiadat bangsa-bangsa kurang beradab, dan konstitusi Athena. Salah satu proyek risetnya adalah pengumpulan konstitusi sejumlah besar negara, yang kemudian diujinya dengan studi perbandingan.”

Michael H. Hart menuliskan, “Tercatat 47 karyanya berhasil diselamatkan, dan daftar tempo dulu mengenai karyanya mencantumkan tidak kurang dari 170 judul. Tapi, bukan sekadar jumlahnya saja, melainkan juga luasnya bidang pengetahuan yang digelutinya yang amat mengagumkan. Karya-karya tulis ilmiahnya nyaris seperti sebuah ensiklopedia pengetahuan ilmiah di zamannya. Aristoteles menulis soal astronomi, ilmu hewan, embriologi, ilmu bumi, ilmu batuan, fisika, anatomi, fisiologi, dan hampir semua bidang pengetahuan yang dikenal orang Yunani Kuno. Sebagian karya-karya ilmiahnya merupakan kompilasi pengetahuan yang sebelumnya diperoleh ilmuwan lain, sebagian merupakan hasil temuan para asisten yang dipekerjakannya, dan sebagian lagi merupakan hasil dari sekian banyak pengamatan yang dilakukannya.”

Begitulah Aristoteles. Yang jelas, dunia Arab berjasa dalam menyelamatkan karya-karyanya ketika dunia Eropa justru tak merawatnya. Banyak ilmuwan dan intelektual muslim zaman silam mempelajari, mengkaji, dan menelaah ataupun memberikan komentar dan kritik terhadap karya-karya Aristoteles. Ada yang mengatakan bahwa Aristoteles adalah “jembatan yang menghubungkan dunia Arab dengan Yunani”. Wallahu a’lam.

Catatan: Buku Michael Hart yang digunakan untuk referensi di atas menggunakan buku 100 A Ranking of The Most Influential Persons in History (Revised and Update), terbitan Citadel Press, Kensington Publishing Corp, tahun 1992. Edisi terjemahan diterbitkan Penerbit Hikmah (PT Mizan Publika), Jakarta, cetakan I 2009. Dengan judul 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah.
Michael Hart dalam mendaftar 100 orang yang paling berpengaruh di dunia terus melakukan revisi-revisi. Hal ini disebabkan perkembangan zaman dan akan tetap ada orang-orang berpengaruh yang muncul kemudian. Nabi Muhammad SAW tetap berada di urutan pertama, tanpa tergeser.

Penulis: Pegiat Pena Profetik Yogyakarta


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

PENDIDIKAN EKONOMI KREATIF

Implementasi Pendidikan Ekonomi Kreatif
Oleh : Abdul Gofur | 14-Des-2010, 12:50:19 WIB

KabarIndonesia - Ekonomi kreatif yang mencakup industri kreatif di berbagai negara di belahan dunia saat ini diyakini dapat memberikan kontribusi bagi perekonomian bangsa secara signifikan. Indonesia pun mulai melihat bahwa berbagai subsektor dalam industri kreatif berpotensi untuk dikembangkan. Karena bangsa indonesia memiliki sumber daya insani kreatif dan warisan budaya yang kaya.

Berdasarkan bukuberjudul: "Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025" terbitan Kementerian Perdagangan RI tahun 2009, ekonomi kreatif ini diyakini dapat menjawab tantangan permasalahan dasar jangka pendek dan menengah seperti:
1) relatif rendahnya pertumbuhan ekonomi pasca krisis (rata-rata hanya 4,5 % pertahun);
2) masih tingginya pengangguran (9-10 %),
3) tingginya tingkat kemiskinan (16-17 %),
4) rendahnya daya saing industri di Indonesia.


Selain permasalah tersebut, Ekonomi Kreatif juga diharapkan dapat menjawab tantangan seperti isu global warming, pemanfaatan energi yang terbarukan, deforestasi, dan pengurangan emisi karbon karena arah pengembangan industri kreatif ini akan menuju pola industri ramah lingkungan serta penciptaan nilai tambah produk dan jasa yang berasal dari intelektualitas sumber daya insani yang dimiliki oleh Indonesia, dimana intelektualitas sumber daya insani merupakan sumber daya yang terbarukan.


Dari pemaparan di atas, ekonomi kreatif akan mampu menjawab tantangan negeri ini baik dalam jangka pendek dan menengah dalam berbagai aspek. Jika kita melihat di antara aspek-aspek yang sangat dipengaruhi oleh ekonomi kreatif adalah isu global warming, pemanfaatan energi terbarukan, deforestasi, dan pengurangan emisi karbon, hal-hal tersebut salah satunya akan tercapai jika ekonomi kreatif diimplementasikan dalam bidang pendidikan terutama di sekolah-sekolah.

Menurut John Howkins dalam The Creative Economy: How People Make Money From Ideas, Ekonomi Kreatif didefinisikan sebagai segala kegiatan ekonomi yang menjadikan kreativitas (kekayaan intelektual), budaya dan warisan budaya maupun lingkungan sebagai tumpuan masa depan. Sedangkan definisi lain menyatakan bahwa ekonomi kreatif merupakan era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan pada ide dan stock of knowledge dari SDM sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.

Dalam suatu kesempatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak dan sepakat bahwa industri Ekonomi Kreatif harus digalakkan mulai sekarang dengan meningkatkan kualitas hasil karya dan cipta. Beliau pun mengatakan untuk bisa mencapai hal tersebut harus ada usaha memperkenalkan Ekonomi Kreatif di kalangan anak-anak sejak dini.

"Dengan pendidikan sejak dini, akan menciptakan potensi pengembangan industri kreatif". Selain itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mengatakan, Ekonomi Kreatif merupakan masa depan ekonomi Indonesia. Demikian diungkapkan SBY saat membuka Pekan Produk Kreatif Indonesia 2009 di Jakarta, Jumat (26/6).

Menurut SBY, selain mengembangkan ekonomi tradisonal seperti pengembangan pertanian, sumber daya alam dan jasa, pemerintah harus memberikan perhatian khusus bagi Ekonomi Kreatif yang berbasis budaya dan teknologi.

Tampaknya presiden benar-benar serius, terlihat dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif yang isinya; Mendukung kebijakan Pengembangan Ekonomi Kreatif tahun 2009-2015, yakni pengembangan kegiatan ekonomi berdasarkan pada kreativitas, keterampilan, dan bakat individu untuk menciptakan daya kreasi dan daya cipta individu yang bernilai ekonomis dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Menanggapi keseriusan presiden di atas, KEMENTERIAN Pendidikan Nasional (Kemendiknas) tengah melakukan kajian dan revisi terhadap kurikulum pendidikan dan pelatihan. Pemerintah saat ini memasukkan materi ajar berbasis kreativitas dan kewirausahaan pada berbagai tingkat pendidikan. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Djoko Santoso mengatakan, untuk mendukung sikap kreatif Kemendiknas dapat menyusun kurikulum pendidikan dasar dan " pertama dengan memasukkan materi yang bersifat inovatif, misalnya melakukan penelitian yang dapat menumbuhkan berbagai ide. Sedangkan pada Jenjang pendidikan lanjut dan tinggi diberikan program kewirausahaan, yaitu Program Wirausaha Muda, dan Inkubator Bisnis.

"Pemerintah akan mendukung para mahasiswa agar dapat menjadi pengusaha yang berbasis pada industri kreatif dan Inovasi." katanya. Selain itu, terobosan kreatif juga perlu dikembangkan untuk pendidikan anak. Apalagi sebagian besar waktu anak ada di rumah, sehingga orang tua juga dapat mengarahkan anaknya menjadi insan yang kreatif. "Peran keluarga sebetulnya jauh lebih penting ketimbang sekolah," katanya.

Kebijakan Kemendiknas yang lain adalah menciptakan akses pertukaran informasi dan pengetahuan kreatif antar penyelenggara pendidikan, meningkatkan jumlah dan perbaikan kualitas lembaga pendidikan, pelatihan formal dan informal yang mendukung insan kreatif dalam pengembangan Ekonomi Kreatif. Pemerintah juga akan menciptakan hubungan dan keterpaduan antara lulusan perguruan tinggi dan sekolah menengah kejuruan.

Selain itu, wirausahawan yang sukses akan berbagi pengalaman dan keahlian di institusi pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, memfasilitasi pengembangan jejaring dan mendorong kerja sama insan kreatif di dalam dan luar negeri. Mari Elka Pangestu mengatakan, ada 6 faktor penting dalam Ekonomi Kreatif, yakni kontribusi terhadap ekonomi; Iklim bisnis, citra dan Identitas bangsa, sumber daya terbarukan, inovasi dan kreativitas, serta dampak sosial.

Sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh pengelola pendidikan di Kemendiknas sudah sangat baik, tinggal para pelaksana di lapangan. Dalam hal ini, baik kepala daerah sampai kepala sekolah dan guru, apakah mereka mampu melaksanakan apa yang menjadi harapan presiden dan cita-cita negara kedepan?

Tampaknya kalangan penyelenggara pendidikan harus bekerja ekstra keras untuk mewujudkan hal ini, sebagai tolak ukurnya adalah target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014 (RPJMN) yang memprioritaskan bidang pendidikan di posisi kedua.

Dalam RPJMN dijelaskan target pencapaian dalam bidang pendidikan meliputi Peningkatan akses pendidikan yang berkualitas, terjangkau, relevan, dan efisien menuju terangkatnya kesejahteraan hidup rakyat, kemandirian, keluhuran budi pekerti, dan karakter bangsa yang kuat. Pembangunan bidang pendidikan diarahkan demi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang didukung keselarasan antara ketersediaan tenaga terdidik dengan kemampuan untuuk menciptakan lapangan kerja atau kewirausahaan dan menjawab tantangan kebutuhan tenaga kerja.

Karena itu, substansi inti program aksi bidang pendidikan adalah sebagai berikut:

1) Akses pendidikan dasar-menengah: Peningkatan Angka Partisipasi Murni (APM) pendidikan dasar dari 95% di 2009 menjadi 96% di 2014 dan APM pendidikan setingkat SMP dari 73% menjadi 76% dan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan setingkat SMA dari 69% menjadi 85%; Pemantapan/rasionalisasi implementasi BOS, penurunan harga buku standar di tingkat sekolah dasar dan menengah sebesar 30-50% selambat-lambatnya 2012 dan penyediaan sambungan internet ber-content pendidikan ke sekolah tingkat menengah selambat-lambatnya 2012 dan terus diperluas ke tingkat sekolah dasar;

2) Akses pendidikan tinggi: Peningkatan APK pendidikan tinggi dari 18% di 2009 menjadi 25% di 2014;

3) Metodologi: Penerapan metodologi pendidikan yang tidak lagi berupa pengajaran demi kelulusan ujian (teaching to the test), namun pendidikan menyeluruh yang memperhatikan kemampuan sosial, watak, budi pekerti, kecintaan terhadap budaya-bahasa Indonesia melalui penyesuaian sistem Ujian Akhir Nasional pada 2011 dan penyempurnaan kurikulum sekolah dasar dan menengah sebelum tahun 2011 yang diterapkan di 25% sekolah pada 2012 dan 100% pada 2014;

4) Pengelolaan: Pemberdayaan peran kepala sekolah sebagai manajer sistem pendidikan yang unggul, revitalisasi peran pengawas sekolah sebagai entitas quality assurance, mendorong aktivasi peran Komite Sekolah untuk menjamin keterlibatan pemangku kepentingan dalam proses pembelajaran, dan Dewan Pendidikan di tingkat Kabupaten;

5) Kurikulum: Penataan ulang kurikulum sekolah yang dibagi menjadi kurikulum tingkat nasional, daerah, dan sekolah sehingga dapat mendorong penciptaan hasil didik yang mampu menjawab kebutuhan SDM untuk mendukung pertumbuhan nasional dan daerah dengan memasukkan pendidikan kewirausahaan (diantaranya dengan mengembangkan model link and match);

6) Kualitas: Peningkatan kualitas guru, pengelolaan dan layanan sekolah, melalui:

* Program remediasi kemampuan mengajar guru;
* Penerapan sistem evaluasi kinerja profesional tenaga pengajar;
* Sertifikasi ISO 9001:2008 di 100% PTN, 50% PTS, 100% SMK sebelum 2014;
* Membuka luas kerja sama PTN dengan lembaga pendidikan internasional;
* Mendorong 11 PT masuk Top 500 THES pada 2014;
* Memastikan perbandingan guru:murid di setiap SD & MI sebesar 1:32 dan di setiap SMP dan MTs 1:40;
* Memastikan tercapainya Standar Nasional Pendidikan (SNP) bagi Pendidikan Agama dan Keagamaan paling lambat tahun 2013.

Begitu banyaknya target yang harus dicapai untuk mewujudkan negara maju terutama pengembangan sektor pendidikan yang berbasis ekonomi kreatif. Selayaknya ini kembali pada pemegang tampuk kekuasaan dan para partisipan pendidikan yang diharapkan menjalankan tugas-tugas mereka dengan sebaik-baiknya demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Impelementasi pendidikan ekonomi kreatif menjadi salah satu cara agar masyarakat kita dapat mengembangkan diri menjadi insan kreatif yang nantinya diharapkan menjadi penggerak Ekonomi Kreatif bangsa. Dalam suatu forum ditanyakan; "Bagaimana mengimplementasikan Ekonomi Kreatif di sekolah?", ternyata masih terjadi polemik.

Ada yang menganggap Ekonomi Kreatif yang tengah diterapkan di sekolah akan membuat siswa semakin kreatif dan memiliki wawasan kewirausahaan sehingga para lulusannya telah memiliki modal dan kemampuan untuk menghadapi masa depan mereka. Sedangkan yang lain lebih menyoroti pada jenjang pendidikan yang akan merapkan pendidikan Ekonomi Kreatif, yaitu "bagaimana penerapannya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta tingkat lanjutan (SMA/SMK)?", tapi untuk wirausaha dan Ekonomi Kreatif itu lebih ditekankan penerapannya di SMK, sedangkan untuk SD, SMP dan SMA lebih ke arah informatif saja.

Beberapa referensi menyebutkan bahwa kewirausahaan yang diterapkan di tingkat mulai Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Atas memang sasarannya berbeda. Misalnya di SD kewirausahaan terutama diarahkan pada penanaman nilainya bukan wirausahanya, begitu pula di SMP dan SMA tetapi lebih baik lagi apabila dalam pembelajaran itu bukan hanya sekedar menanamkan nilai kewirausahaan saja tetapi bisa diimplementasikan langsung. Dengan demikian dalam diri siswa tertanam jiwa itu yang diharapkan nantinya bisa bermanfaat dan mainset bahwa sekolah menjadi PNS bisa berubah.

Pendidikan itu adalah menyiapkan peserta didik untuk menghadapi masa depannya bukan masa sekarang. Hal ini sejalan dengan Tema dari Kongres Guru Indonesia tahun 2010 yaitu tentang ESD ( Educational for Sustainable Development). Jadi Kewirausahaan diterapkan di TK, SD, SMP, SMA itu adalah penanaman nilai-nilainya tapi lebih baik jika dalam PBM itu langsung menyentuh ke implementasinya.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa implementasi pendidikan Ekonomi Kreatif di sekolah merupakan suatu alternatif untuk memecahkan permasalahan bangsa dalam penerapan Ekonomi Kreatif di berbagai subsektor ekonomi guna meningkatkan kesejahteraan bangsa dan kemajuan negara khususnya di sektor ekonomi. Pendidikan berperan aktif dalam penanaman nilai sampai pada implementasi Ekonomi Kreatif agar tercipta lulusan yang memiliki kompetensi dan keterampilan untuk mengahadapi masa depan mereka.

Hal ini, akan terwujud jika semua saling berusaha, bekerja sama, dan berkomitmen untuk mengerjakan tugas ini dengan sungguh-sungguh tanpa dilandasi kepentingan negatif dari pribadi maupun golongan. Kita berharap di masa yang akan datang, bangsa ini bukan lagi sebagai bangsa yang konsumtif, akan tetapi kita adalah bangsa yang produktif dengan kemampuan dan sumber daya insani kreatif yang kita miliki di tambah dengan perpaduan warisan budaya yang kaya. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya. Amin... (*)



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//