Tampilkan postingan dengan label PAUD / TK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAUD / TK. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2012

PENGELOLAAN PAUD TERINTEGRASI POSYANDU DI POS PAUD TUNAS BANGSA

Oleh ERNAWATI

Abstrak

Proses pengelolaan Pos PAUD Tunas Bangsa dilakukan secara terorganisir sejak proses pendirian, teknis pembentukan, teknis penyelenggaraan, pelaksanaan kegiatan dan pelaksanaan evaluasi serta dalam pembinaan. Melalui pengelolaan yang terorganisir didapatkan hasil sesuai dengan harapan. Anak didik berkembang semakin kreatif, mandiri, dan berprestasi. Pendidik menjadi lebih kreatif, berprestasi dan memiliki pemahaman PAUD yang meningkat. Peningkatan juga terjadi pada program pembelajaran, sarana prasarana, proses pendanaan, serta pada kegiatan belajar. Pengelola dan pendidik memiliki peran yang sangat besar dalam pengelolaan Pos PAUD. Peran tersebut meliputi menyusun program pembelajaran, melaksanakan program pembelajaran, mengadministrasikan kegiatan lembaga, melakukan evaluasi perkembangan anak, dan melakukan koordinasi dengan berbagai lintas sektor.



Kata kunci : Pendidikan, Anak usia Dini, Pos PAUD

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia. Manusia tanpa pendidikan akan menjadi sesosok raga tanpa isi. Dalam agama juga ada hadist Nabi yang mengatakan “Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai keliang lahat”. Anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah usia sekolah dasar adalah tidak benar. Bahkan pendidikan yang dimulai pada usia Taman Kanak-kanak pun sebenarnya sudah terlambat.

Hasil penelitian di bidang neurologi oleh Osborn, White dan Bloom menyebutkan bahwa pada usia 4 tahun pertama separuh kapasitas kecerdasan manusia sudah terbentuk. Bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapat rangsangan yang maksimal, maka potensi otak anak tidak akan berkembang. Pada usia 8 tahun 80% kapasitas kecerdasan manusia sudah terbentuk. Selanjutnya kapasitas kecerdasan anak tersebut akan mencapai 100% setelah berusia sekitar 18 tahun.

Usia lahir sampai dengan memasuki pendidikan dasar merupakan masa keemasan (golden age) sekaligus masa kritis dalam tahapan kehidupan manusia, yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakkan dasar-dasar pengembangan kemampuan fisik, bahasa , sosial emosional, konsep diri, seni, moral dan nilai-nilai agama. Sehingga upaya pengembangan seluruh potensi anak harus dimulai agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan anak usia dini telah mendorong pemerintah dalam hal ini Direktorat PAUD untuk memfasilitasi terbentuknya lembaga pendidikan anak usia dini yang dilaksanakan melalui kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan paud sejenis. Hal ini secara resmi tertuang didalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang diperkuat dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No.58 tahun 2009 tentang standar pendidikan anak usia dini.

Penyelenggaraan PAUD berfungsi membina, menumbuhkan, dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Salah satu jalur terselenggaranya PAUD adalah jalur pendidikan nonformal. PAUD non formal memiliki peran yang sangat besar dalam membantu pemerintan meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan. Untuk itu, pemerintah hendaknya memberikan perhatian baik terhadap sarana prasarana, pembinaan tenaga pendidik dan kependidikan, dan memberikan sosialisasi pada masyarakat tentang kepedulian terhadap PAUD.

Banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya PAUD. Hal ini sebagaimana terjadi di lingkungan sekitar kita dimana banyak masyarakat yang tidak menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan anak usia dini. Hal ini diperburuk dengan fakta bahwa jumlah lembaga anak usia dini masih sangat kurang.

Kondisi ini juga terjadi di Desa Tasikmadu. Berdasarkan data Posyandu Desa Tasikmadu tahun 2010, jumlah anak usia dini seluruhnya 633 anak, dan yang telah terlayani sebesar 193 anak sebagaimana tampak pada tabel berikut:

Tabel 1.1. Data jumlah Anak usia Dini Desa Tasikmadu

Usia


Jumlah Anak


Terlayani di PAUD Formal

0 - < 2 th

2 - < 4 th

4 - ≤ 6 th


139 anak

210 anak

284 anak


-

-

193 anak

Jumlah


633 anak


193 anak



Berdasarkan data tersebut, hanya sekitar 35% anak yang mendapat layanan pendidikan di desa Tasikmadu. Keadaan ini jelas sangat mengkhawatirkan mengingat masa ini merupakan masa keemasan sekaligus masa kritis dalam tahapan kehidupan manusia yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya.



KAJIAN TEORI

Pengelolaan Pendidikan

Sebagaimana telah ditetapkan dalam UUSPN Nomor 20 Tahun 2003 dan PP Nomor 19 Tahun 2005, dan lebih dijabarkan dalam Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 bahwa “setiap satuan pendidikan wajib memenuhi standar pengelolaan pendidikan yang berlaku secara nasional”, beberapa aspek standar pengelolaan sekolah yang harus dipenuhi adalah meliputi:

perencanaan program sekolah meliputi: rumusan visi sekolah, misi sekolah, tujuan sekolah, rencana kerja sekolah.
pelaksanaan rencana kerja, yaitu tersedianya pedoman sekolah berupa struktur organisisi sekolah, pelaksanaan kegiatan, bidang kesiswaan, bidang kurikulum dan kegiatan pembelajaran, bidang pendidik dan tenaga kependidikan, bidang sarana dan prasarana, bidang keuangan dan pembiayaan, budaya dan peran serta masyarakat dan kemitraan.
Pengawasan dan evaluasi meliputi program pengawasan, evaluasi diri, evaluasi dan pengembangan, evaluasi pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan, dan akreditasi sekolah.
Kepemimpinan sekolah/madrasah yang melakukan kegiatan program pengawasan, evaluasi diri, evaluasi dan pengembangan, evaluasi pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan, dan akreditasi sekolah.
Sistem informasi manajemen dengan berbasis komputer/internet. (http://agus.blogchandra.com/standar-pengelolaan-pendidikan)

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), adalah suatu tempat pelayanan dalam wilayah kerja tertentu dengan kegiatan terpadu, yang bersifat dari, oleh dan untuk masyarakat secara terpadu dengan program-program dari instansi terkait untuk mencapai tujuan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera atau KKBS. Instansi tersebut melalui Departemen Kesehatan, BKKBN, Depdagri, PKK serta sector lainnya.

Posyandu mempunyai dua kegiatan pokok, yaitu penyuluhan dan pelayanan kesehatan. Kegiatan Posyandu mencakup 5 hal pokok, yaitu pendaftaran, penimbangan, pemberian makan tambahan, imunisasi, dan penyuluhan kesehatan

Posyandu merupakan kegiatan dari, oleh dan untuk masyarakat. Partisipasi masyarakat merupakan jantung program ini. Tujuan Posyandu adalah memberikan pengetahuan serta membentuk sikap masyarakat tentang masalah yang berkaitan dengan KB, kesehatan, P-4, serta usaha pendataan serta aspek pembangunan lainnya. Sasaran kegiatan Posyandu adalah anak-anak usia balita yang juga merupakan sasaran program PAUD.



Pos PAUD

Pos PAUD adalah bentuk layanan pendidikan anak usia dini yang penyelenggaraannya diintegrasikan dengan layanan Bina Keluarga Balita (BKB) dan Posyandu. Pos PAUD dibentuk atas kesepakatan masyarakat dan dikelola berdasarkan azas gotong rotong, kerelaan, dan kebersamaan. Didalam pelaksanaannya Pos PAUD senantiasa menggunakan prinsip kesederhanaan, murah, mudah dan bermutu.

Aspek-aspek dalam pengelolaan Pos PAUD meliputi:

1. Peserta didik

· Untuk anak usia 0-2 tahun stimulasi dilakukan oleh orangtua dengan dibimbing oleh kader. Kegiatan ini disebut pengasuhan bersama.

· Untuk anak usia 2-6 tahun stimulasi dilakukan oleh kader. Orangtua diminta menyaksikan. Mereka dikelompokkan menurut usia. Setiap kelompok dibimbing oleh seorang kader. Konsep sederhananya: “Bermain bersama anak”.

2. Pendidik

Pendidik Pos PAUD dapat disebut dengan Kader atau sebutan lain sesuai kebiasaan setempat. Seorang kader minimal lulusan SLTA atau sederajat, menyayangi anak kecil, dan memiliki waktu untuk melaksanakan tugasnya. Kader memiliki tugas dari penyiapan administrasi kelompok, menyiapkan rencana kegiatan anak, menyambut anak dan orang tua, dan memandu anak-anak dalam kegiatan pembukaan.

3. Pengelola

Seorang pengelola Pos PAUD dipilih dari masyarakat setempat. Pengelola Pos PAUD minimal terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara. Pengelola boleh merangkap sebagai kader.

Metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran di Pos PAUD, diantaranya bermain, bercerita, bernyanyi, karya wisata, dan sentra.



Pengorganisasian Pos PAUD

Pengelolaan Pos PAUD merupakan tanggung jawab para kader PKK. Masing-masing pokja mempunyai peranan dalam proses pengelolaan Pos PAUD, khususnya pada pokja II dan pokja IV. Pokja II khusus menangani tentang pendidikan dan pokja IV tentang kesehatan anak.

Pengorganisasian Pos PAUD meliputi kegiatan perencananan, pelaksanaan dan evaluasi yang terdiri dari kegiatan teknis pembentukan Pos PAUD, teknis penyelenggaraan, pelaksanaan/proses kegiatan dan evaluasi serta pembinaan (Direktorat PAUD 2008).

PELAKSANAAN KEGIATAN

Berdasarkan data posyandu Desa Tasikmadu tahun 2010, jumlah anak usia 0 – 6 tahun pada tahun 2008 mencapai 633 anak. Sebagian besar yaitu sebanyak 440 anak belum mendapat layanan pendidikan. Anak-anak ini berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah dimana kesadaran orangtua tentang pendidikan masih rendah. Kondisi ini diperparah dengan kenyataan bahwa lembaga pendidikan anak usia dini yang ada hanya menerima siswa yang berusia 4 - 6 tahun.

Dari permasalahan tersebut diatas, pada tanggal 28 April 2008 Tim Penggerak PKK resmi mendirikan Pos PAUD Tunas Bangsa. Pos PAUD ini menempati sebuah tempat bekas lumbung desa dan bersebelahan dengan Polindes yang menjadi pusat pelayanan Posyandu Desa Tasikmadu. Penentuan lokasi merupakan hasil kesepakatan dengan perangkat desa.

Dalam proses pembentukannya, pengelola melakukan koordinasi dengan petugas lapangan, tokoh lingkungan dan pengurus Posyandu untuk bisa memberikan informasi kepada orang tua yang mempunyai anak usia 0-6 tahun tentang pentingnya layanan PAUD. Dan hasilnya didapat 44 anak usia 2-5 tahun ikut bergabung dalam Pos PAUD Tunas Bangsa Tasikmadu. Pengelola juga melakukan rekruitmen pendidik dengan kualifikasi latar belakang pendidikan minimal SLTA/ sederajat, berpengalaman sebagai pendidik, dan sayang kepada anak.

Sebagai acuan dalam melangkah, Pos PAUD Tunas Bangsa Desa Tasikmadu merumuskan visi lembaga yaitu mengantarkan anak – anak menjadi pribadi cerdas, kreatif, dan berakhlak mulia. Visi ini disusun dalam misi yang meliputi melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada anak, memberikan kegiatan pembelajaran yang membebaskan proses berkembangnya potensi anak sehingga anak semakin cerdas dan kreatif, melakukan pembimbingan dan pengasuhan yang terbaik agar anak mendapat pembelajaran yang terbaik dan berakhlak mulia, melaksanakan kerja sama dengan pihak lain seperti orangtua, dinas pendidikan, dinas kesehatan, Bapemas, Himpaudi serta lintas sektorat terkait lainnya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar anak usia dini memperoleh pembelajaran dan pengasuhan yang terbaik. Pos PAUD Tunas Bangsa memiliki tujuan yang meliputi :

Meningkatkan perluasan akses dan pemerataan memperoleh pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini terutama yang belum siap memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut.
Memberi layanan secara keseluruhan bagi anak usia dini yang meliputi pelayanan pendidikan, kesehatan, gizi bagi anak usia dini serta keikutsertaan orang tua dalam proses tumbuh kembang anak,
Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam membentuk anak usia dini yang cerdas, kreatif dan berakhlak mulia.

Pada proses pendirian, Pos PAUD Tunas Bangsa memilih Posyandu di pos I yang terletak didusun Prambatan RT.02/01 Desa Tasikmadu karena beberapa alasan yaitu jumlah anak yang banyak yaitu 146 anak, lokasi strategis karena bersebelahan dengan polindes, dan tersedia gedung milik desa.

Saat ini, Pos PAUD Tunas Bangsa memiliki gedung sendiri yang berasal dari alokasi dana PNPM mandiri. Gedung terbagi atas 2 ruang dan 1 kamar mandi. Masing - masing ruang berukuran 5 x 7 m2 dan disekat menjadi 2 ruang yang digunakan pembelajaran untuk dua kelompok usia. Sedangkan kamar mandinya berukuran 2 x 2 m2.

Pada awal kegiatan, pengelola melakukan identifikasi untuk mengetahui dukungan lingkungan. Pada kegiatan ini didapatkan data:

Terdapat anak usia 0-6 tahun yang belum terlayani PAUD sebanyak 440 anak
Adanya dukungan dari pengelola PKK desa dan adanya kesediaan 5 orang kader untuk terlibat aktif dalam kegiatan Pos PAUD.
Memperoleh dukungan dari orangtua, masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pamong desa
Mempunyai gedung sendiri yang layak untuk kegiatan pos PAUD.
Sumber pembiayaan dari iuran orang tua, donator.

Pada awal pembentukan, Pos Paud Tunas Bangsa mempunyai APE yang sangat terbatas. APE tersebut di dapat dari bantuan dinas kesehatan yaitu dari Puskesmas Desa Sumurgung Kec. Palang berupa 1 set APE dalam. Saat ini, tenaga pendidik berusaha melengkapi APE dengan membuat sendiri dari bahan-bahan bekas yang ada dilingkungan sekitar. Pos PAUD Tunas bangsa juga mendapat sumbangan APE luar dari masyarakat sekitar dan dari dana rintisan APBD II.

Anak didik di Pos PAUD Tunas Bangsa dikelompokkan berdasarkan usia. Jumlah anak seluruhnya 44 anak. kelompok usia 2-4 tahun terbagi atas 2 kelas, yaitu kelas gembira dan kelas ceria, sedangkan usia 4-5 tahun terbagi atas 2 kelas, yaitu kelas kreatif dan kelas smart. Data anak didik di Pos PAUD Tunas Bangsa tertera dalam tabel berikut:

Tabel 3.5. Jumlah peserta didik Pos PAUD Tunas Bangsa Desa Tasikmadu

Tahun ajaran 2009-2010

Usia


Laki - laki


Perempuan

2 - 3 th

3 - 4 th

4 - 5 th


4 anak

9 anak

10 anak


3 anak

6 anak

12 anak




22 anak


21 Anak



Pembiayaan di Pos Paud Tunas Bangsa berasal dari swadaya wali murid yang dilakukan setiap bulan dengan nominal Rp.13.000,- yang digunakan untuk pembelian ATK siswa dan pemberian makanan tambahan setiap hari Jum’at pada minggu ke 4. Pos PAUD Tunas Bangsa juga pernah mendapatkan dana rintisan dari APBD II pada Oktober tahun 2008 sebesar Rp. 5.000.000,- .

Program belajar di Pos PAUD Tunas Bangsa menggunakan kurikulum Menu Generic. Keseluruhan proses pembelajaran ditujukan untuk mengembangkan 6 aspek pengembangan yang meliputi nilai – nilai moral dan agama, fisik – motorik, bahasa, kognitif, social-emosional, dan seni. Penyusunan rencana kegiatan di Pos PAUD Tunas Bangsa dimaksudkan sebagai acuan dalam menentukan indikator kemampuan yang ingin dikembangkan, tema kegiatan, jenis main yang akan dilakukan, waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan.

Tabel 3.3: Kegiatan pembelajaran

HARI

WAKTU


SENIN , RABU, JUM’AT

KEGIATAN

07.30 – 07.45 WIB


Penyambutan Anak

07.45 – 08.00 WIB


Pembukaan sambutan pagi

08.00 – 08.30 WIB


Pijakan sebelum bermain

Doa sebelum belajar

Pembahasan tema

08.30 – 09.00 WIB


Istirahat makan bekal bersama

09.00 – 09.45 WIB


Pijakan saat bermain

Bermain sentra

09.45 – 10.00 WIB


Pijakan setelah bermain

Recalling

Do’a sesudah belajar



Penyusunan kegiatan pembelajaran bulanan dilakukan berdasarkan tema-tema. Pembahasan 1 tema membutuhkan waktu 3 – 4 minggu. Dalam pelaksanaan kegiatan, Pos PAUD Tunas Bangsa Desa Tasikmadu menggunakan 5 Sentra, yaitu sentra persiapan, sentra pembangunan, sentra ibadah, sentra seni dan kreatifitas, dan sentra main peran.

Evaluasi program di Pos PAUD Tunas Bangsa dilakukan terhadap seluruh komponen penyelenggaraan. Kegiatan evaluasi dilakukan secara berkesinambungan, namun belum terjadwal secara rutin. Evaluasi program dilakukan oleh pengelola bersama dengan pendidik. Proses evaluasi kegiatan dilakukan setiap hari selesai proses pembelajaran. Evaluasi dilakukan terhadap seluruh proses pembelajaran dan hal – hal yang mendukung proses tersebut. Hasil evaluasi digunakan untuk perbaikan dan pengayaan anak didik.

Evaluasi perkembangan peserta didik Pos PAUD Tunas Bangsa dilakukan setiap hari dan dilaporkan pada orang tua setiap 6 bulan sekali. Evaluasi dilakukan terhadap semua aspek perkembangan yang tertuang dalam menu generik. Hasil evaluasi di Pos PAUD Tunas Bangsa digunakan untuk perbaikan dan pengayaan anak didik. Selain hal tersebut, hasil evaluasi dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi orang tua untuk memberikan stimulasi sesuai kebutuhan anak di rumah. Selain itu, Pos PAUD Tunas Bangsa juga memberikan laporan secara rutin kepada UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Palang melalui penilik PLS PAUD. Laporan ini disampaikan setiap bulan sekali berkaitan dengan kondisi peserta didik, dan pendidik.

Kegiatan pembinaan di Pos PAUD Tunas Bangsa dilakukan oleh unsur UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Palang, dalam hal ini PLS PAUD/Pos PAUD Kecamatan Palang. Pelaksanaannya dilakukan setiap bulan bersamaan dengan pertemuan Himpaudi Kecamatan Palang.

Pada awal proses pendirian, Pos Paud Tunas Bangsa Desa Tasikmadu sepenuhnya berada dalam pengelolaan PKK Desa Tasikmadu. Namun dalam perkembangannya, banyak sekali pihak yang ikut mendukung hingga keberadaan Pos PAUD Tunas bangsa dapat berkembang lebih optimal. Beberapa instansi yang memberikan dukungan pada Pos PAUD Tunas Bangsa adalah dari Bappeda, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Bapemas, TP PKK Kabupaten, Kesra, Pemerintah Desa, dan Masyarakat.

Pos PAUD Tunas Bangsa Tasikmadu telah terlaksana selama 2 tahun dan mengalami perkembangan pada komponen-komponen sebagai berikut :

1. Peserta didik

Anak-anak di Pos PAUD Tunas Bangsa menunjukkan perkembangan selama mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari kemandirian, kreatifitas, prestasi yaitu pada tahun 2009 Pos PAUD Tunas Bangsa mendapat predikat terfavorit dalam kontes mewarnai yang diadakan PG AR Rohmah Kecamatan Palang dalam rangka HUT RI. Penilaian ini didasarkan pada kreatifitas dan kemandirian anak dalam mewarnai. Prestasi lainnya adalah Pada tahun 2009 salah seorang anak didik Pos PAUD Tunas Bangsa mendapat predikat 10 terbaik dalam kontes mewarnai yang diadakan PG AR Rohmah Kecamatan Palang dalam rangka HUT RI.

2. Orangtua

Selain anak didik, orangtua di Pos PAUD Tunas Bangsa juga memiliki prestasi yaitu pada tahun 2010 wali murid Pos PAUD Tunas Bangsa memenangkan lomba dongeng wali murid dan anak pada HAN tingakat Kabupaten Tuban sebagai juara I dan juara harapan II pada HAN tingkat Propinsi Jawa Timur.

3. Kinerja pendidik (guru / kader / pamong)

Pendidik Pos PAUD Tunas Bangsa menunjukkan perkembangan sejak awal

terbentuknya lembaga. Hal ini dapat terlihat dari kreatifitas, pemahaman tentang PAUD, prestasi yang meliputi Juara II lomba mendongeng Pendidik se Kab. Tuban tahun 2010, dan Juara I Jambore PTK PNF tingkat Jawa Timur 2010

KESIMPULAN

Dalam penyelenggaraan pos PAUD, pengelola dituntut untuk menjalin koordinasi dan hubungan yang harmonis dengan berbagai pihak yaitu dinas pendidikan, Bapemas, Kesra, Dinas Kesehatan, Himpaudi, Masyarakat sekitar dan lembaga-lembaga lain yang terkait.

Program pendidikan usia dini tidak cukup hanya dengan pemberian stimulasi pendidikan tetapi juga harus memberikan layanan pendidikan kesehatan dan gizi. Selain itu lembaga kegiatan usia dini hendaknya juga mempunyai program parenting education sehingga penyelenggaraan pembelajaran disekolah selaras dengan di rumah. Untuk meningkatkan mutu layanan, Pos PAUD membutuhkan dukungan berupa dana, kegiatan peningkatan SDM misalnya pelatihan, workshop, seminar, magang, studi banding, serta lebih menggalakkan sosialisasi kemasyarakat tentang program PAUD.

Peran lintas sektoral terkait lainnya perlu ditingkatkan peran sertanya dalam memberikan daya dukung kepada penyelenggaraan program Pos PAUD. Perlunya koordinasi antara berbagai lintas sektor yang menangani anak usia dini sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berjalan secara optimal.



DAFTAR PUSTAKA

Team kreatif KB Cendekia (2003). PAUD , PENDEKATAN BCCT & MULTIPLE INTELLIGENCE, 2008 , Pustaka Pendidikan Yogyakarta.

Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (2008), PEDOMAN PENERAPAN PENDEKATAN “ BEYOND CENTERS AND CIRCLE TIME (BCCT), 2008.

Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidik Non Formal, (2007), STANDAR KOPETENSI PENGELOLA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (TPA,KB,SPS), 2007.

Seputar Bogor (2009). Pos Paud Solusi Pendidikan , (2009), 20 Mei 2010.

Mardiyanto Didi (2009). Guru Pos PAUD Butuh Sertifikasi, 30 Agutus 2009, Rumah Cerdas Kreatif, 20 Mei 2010.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini

http://agus.blogchandra.com/standar-pengelolaan-pendidikan.

Optimalisasi layanan pendidikan nasional, Departemen Pendidikan Nasional Direktorat jenderal pendidikan Luar sekolah dan pemuda Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Regional IV, 2005

Hakim, lukman, 2003, bermain, cerita dan bernyanyi, Surabaya, Konsorsium pendidikan Islam.

Direktorat PAUD 2008.

KONSEP DASAR PENDIDIKAN USIA DINI

Oleh :

Kuntjojo

Pengertian dan Karakteristik Anak Usia Dini

Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14).

Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut.

Ada berbagai kajian tentang hakikat anak usia dini, khususnya anak TK diantaranya oleh Bredecam dan Copple, Brener, serta Kellough (dalam Masitoh dkk., 2005: 1.12 – 1.13) sebagai berikut.

Anak bersifat unik.
Anak mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan.
Anak bersifat aktif dan enerjik.
Anak itu egosentris.
Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal.
Anak bersifat eksploratif dan berjiwa petualang.
Anak umumnya kaya dengan fantasi.
Anak masih mudah frustrasi.
Anak masih kurang pertimbangan dalam bertindak.
Anak memiliki daya perhatian yang pendek.
Masa anak merupakan masa belajar yang paling potensial.
Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman.

Prinsip-prinsip Perkembangan Anak Usia Dini

Prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini berbeda dengan prinsip-prinsip perkembangan fase kanak-kanak akhir dan seterusnya. Adapun prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini menurut Bredekamp dan Coople (Siti Aisyah dkk., 2007 : 1.17 – 1.23) adalah sebagai berikut.

Perkembangan aspek fisik, sosial, emosional, dan kgnitif anak saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Perkembangan fisik/motorik, emosi, social, bahasa, dan kgnitif anak terjadi dalam suatu urutan tertentu yang relative dapat diramalkan.
Perkembangan berlangsung dalam rentang yang bervariasi antar anak dan antar bidang pengembangan dari masing-masing fungsi.
Pengalaman awal anak memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak.
Perkembangan anak berlangsung ke arah yang makin kompleks, khusus, terorganisasi dan terinternalisasi.
Perkembangan dan cara belajar anak terjadi dan dipengaruhi oleh konteks social budaya yang majemuk.
Anak adalah pembelajar aktif, yang berusaha membangun pemahamannya tentang tentang lingkungan sekitar dari pengalaman fisik, social, dan pengetahuan yang diperolehnya.
Perkembangan dan belajar merupakan interaksi kematangan biologis dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Bermain merupakan sarana penting bagi perkembangan social, emosional, dan kognitif anak serta menggambarkan perkembangan anak.
Perkembangan akan mengalami percepatan bila anak berkesempatan untuk mempraktikkan berbagai keterampilan yang diperoleh dan mengalami tantangan setingkat lebih tinggi dari hal-hal yang telah dikuasainya.
Anak memiliki modalitas beragam (ada tipe visual, auditif, kinestetik, atau gabungan dari tipe-tipe itu) untuk mengetahui sesuatu sehingga dapat belajar hal yang berbeda pula dalam memperlihatkan hal-hal yang diketahuinya.
Kondisi terbaik anak untuk berkembang dan belajar adalam dalam komunitas yang menghargainya, memenuhi kebutuhan fisiknya, dan aman secara fisik dan fisiologis.

Pendidikan Anak Usia Dini

Jalur Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini

Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 (Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional) Bab I Pasal 1 Ayat 14).

Dalam pasal 28 ayat 3 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudathul Athfal, atau bentuk lain yang sederajat.

Satuan Pendidikan Anak Usia Dini

Satuan pendidikan anak usia dini merupakan institusi pendidikan anak usia dini yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia lahir sampai dengan 6 tahun. Di Indonesia ada beberapa lembaga pendidikan anak usia dini yang selama ini sudah dikenal oleh masyarakat luas, yaitu:

Taman Kanak-kanak (TK) atau Raudhatul Atfal (RA)

TK merupakan bentuk satuan pendidikan bagi anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan bagi anak usia 4 sampai 6 tahun, yang terbagi menjadi 2 kelompok : Kelompok A untuk anak usia 4 – 5 tahun dan Kelompok B untuk anak usia 5 – 6 tahun.

Kelompok Bermain (Play Group)

Kelompok bermain berupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak usia 2 sampai dengan 4 tahun (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 23)

Taman Penitipan Anak (TPA)

Taman penitipan anak merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus pengasuhan dan kesejahteraan anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun. TPA adalah wahana pendidikan dan pembainaan kesejahteraan anak yang berfungsi sebagai pengganti keluarga untuk jangka waktu tertentu selama orang tuanya berhalangan atau tidak memiliki waktu yang cukup dalam mengasuh anaknya karena bekerja atau sebab lain (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 24).

Landasan Pendidikan Anak Usia Dini

Landasan Yuridis Pendidikan Anak Usia Dini

Dalam Amandemen UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 dinyatakan bahwa ”Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.

Dalam UU NO. 23 Tahun 2002 Pasal 9 Ayat 1 tentang Perlindungan Anak dinyatakan bahwa ”Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasarnya sesuai dengan minat dan bakatnya”.

Dalam UU NO. 20 TAHUN 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1, Pasal 1, Butir 14 dinyatakan bahwa ”Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. Sedangkan pada pasal 28 tentang Pendidikan Anak Usia Dini dinyatakan bahwa ”(1) Pendidikan Anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, (2) Pendidkan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidkan formal, non formal, dan/atau informal, (3) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal: TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat, (4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan non formal: KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat, (5) Pendidikan usia dini jalur pendidikan informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, dan (6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.”

Landasan Filosofis Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memanusiakan manusia. Artinya melalui proses pendidikan diharapkan terlahir manusia-manusia yang baik. Standar manusia yang “baik” berbeda antar masyarakat, bangsa atau negara, karena perbedaan pandangan filsafah yang menjadi keyakinannya. Perbedaan filsafat yang dianut dari suatu bangsa akan membawa perbedaan dalam orientasi atau tujuan pendidikan.

Bangsa Indonesia yang menganut falsafah Pancasila berkeyakinan bahwa pembentukan manusia Pancasilais menjadi orientasi tujuan pendidikan yaitu menjadikan manusia indonesia seutuhnya.Bangsa Indonesia juga sangat menghargai perbedaan dan mencintai demokrasi yang terkandung dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang maknanya “berbeda tetapi satu.” Dari semboyan tersebut bangsa Indonesia juga sangat menjunjung tinggi hak-hak individu sebagai mahluk Tuhan yang tak bisa diabaikan oleh siapapun. Anak sebagai mahluk individu yang sangat berhak untuk mendaptkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Dengan pendidikan yang diberikan diharapkan anak dapat tumbuh sesuai dengan potensi yang dimilkinya, sehingga kelak dapat menjadi anak bangsa yang diharapkan. Bangsa Indonesia yang menganut falsafah Pancasila berkeyakinan bahwa pembentukan manusia Pancasilais menjadi orientasi tujuan pendidikan yaitu menjadikan manusia indonesia seutuhnya Sehubungan dengan pandangan filosofis tersebut maka kurikulum sebagai alat dalam mencapai tujuan pendidikan, pengembangannya harus memperhatikan pandangan filosofis bangsa dalam proses pendidikan yang berlangsung.

Landasan Keilmuan Pendidikan Anak Usia Dini

Konsep keilmuan PAUD bersifat isomorfis, artinya kerangka keilmuan PAUD dibangun dari interdisiplin ilmu yang merupakan gabungan dari beberapa displin ilmu, diantaranya: psikologi, fisiologi, sosiologi, ilmu pendidikan anak, antropologi, humaniora, kesehatan, dan gizi serta neuro sains atau ilmu tentang perkembangan otak manusia (Yulianai Nurani Sujiono, 2009: 10).

Berdasarkan tinjauan secara psikologi dan ilmu pendidikan, masa usia dini merupkan masa peletak dasar atau fondasi awal bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Apa yang diterima anak pada masa usia dini, apakah itu makanan, minuman, serta stimulasi dari lingkungannya memberikan kontribusi yang sangat besar pada pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa itu dan berpengaruh besar pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.

Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan perkembangan struktur otak. Dari segi empiris banyak sekali penelitian yang menyimpulkan bahwa pendidikan anak usia dini sangat penting, karena pada waktu manusia dilahirkan, menurut Clark (dalam Yuliani Nurani Sujono, 2009) kelengkapan organisasi otaknya mencapai 100 – 200 milyard sel otak yang siap dikembangkan dan diaktualisasikan untuk mencapai tingkat perkembangan optimal, tetapi hasil penelitian menyatakan bahwa hanya 5% potensi otak yang terpakai karena kurangnya stimulasi yang berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi otak.

Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini

Secara umum tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Secara khusus tujuan pendidikan anaka usia dini adalah (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 42 – 43):

Agar anak percaya akan adanya Tuhan dan mampu beribadah serta mencintai sesamanya.
Agar anak mampu mengelola keterampilan tubuhnya termasuk gerakan motorik kasar dan motorik halus, serta mampu menerima rangsangan sensorik.
Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif sehingga dapat bermanfaat untuk berpikir dan belajar.
Anak mampu berpikir logis, kritis, memberikan alasan, memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat.
Anak mampu mengenal lingkungan alam, lingkungan social, peranan masyarakat dan menghargai keragaman social dan budaya serta mampu mngembangkan konsep diri yang positif dan control diri.
Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, berbagai bunyi, serta menghargai karya kreatif.

Prinsip-prinsip Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini pelaksanaannya menggunakan prinsip-prinsip (Forum PAUD, 2007) sebagai berikut.

Berorientasi pada Kebutuhan Anak

Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional.

Belajar melalui bermain

Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.

Menggunakan lingkungan yang kondusif

Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain.

Menggunakan pembelajaran terpadu

Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema yang dibangun harus menarik dan dapat membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Hal ini dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi mudah dan bermakna bagi anak.

Mengembangkan berbagai kecakapan hidup

Mengembangkan keterampilan hidup dapat dilakukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri dan bertanggungjawab serta memiliki disiplin diri.

Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar

Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik /guru.

Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar

Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan–kegiatan yang berluang .

Referensi

Masitoh dkk. (2005) Strategi Pembelajaran TK. Jakarta: 2005.

Patmonodewo, Soemiarti. (2003) Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Siti Aisyah dkk. (2007) Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sujiono, Yuliani Nurani. (2009) Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks.

UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Visimedia

Sabtu, 30 April 2011

Bondowoso Jadi Kabupaten PAUD

Anatara News : Sabtu, 30 April 2011




Bondowoso (ANTARA News) - Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh mendeklarasikan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur (Jatim), menjadi kabupaten pendidikan anak usia dini (PAUD) karena pertumbuhan pendidikan prasekolah di daerah itu sangat pesat.

"Bondowoso memiliki kepedulian yang luar biasa pada perkembangan PAUD," katanya pada acara sosialisasi gerakan PAUD holistik-intregratif di Bondowoso, Sabtu.

Menurut dia, anak-anak Indonesia yang saat ini masih mengenyam PAUD akan menjadi pemimpin bangsa ini pada 2045 atau satu abad perayaan Indonesia merdeka. Mereka akan menjadi bupati, wali kota, gubernur, menteri, bahkan presiden.

"Kami ingin memberikan bonus pada saat 100 tahun Indonesia merdeka nanti lewat anak-anak yang sekarang ada di PAUD. Kami ingin membangun anak-anak ini, seperti Sayyidina Ali, sahabat Rasulullah Muhammad SAW, yang sejak kecil tidak pernah terkontaminasi macam-macam," kata mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya itu.

Ia mengemukakan, anak usia dini memiliki ribuan sel otak yang satu sama lain belum semuanya tersambung dengan baik. Dengan rangsangan lewat PAUD, maka sel-sela otak itu tersambung secara sempurna, sehingga kelak mereka menjadi manusia yang kreatif.

Nuh menyadari bahwa dunia pendidikan selalu banyak menghadapi masalah, termasuk di tingkat PAUD ini. Misalnya, kesejahteraan guru PAUD yang masih dari yang kita harapkan.

"Padahal, sejahtera itu bukan yang diperlukan oleh guru, tapi syarat menjadi guru," ujarnya, berfilosofi.

Pada kesempatan itu, Mendiknas menyerahkan bantuan senilai Rp945 juta untuk PAUD di Bondowoso. Dana sebesar itu, Rp580 juta untuk TK pembina, Rp160 juta untuk TK pedesaan, Rp150 juta untuk rintisan TK pembina kabupaten dan Rp55 juta untuk rintisan TK pembina kecamatan.

Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf, dalam kesempatan itu mengemukakan bahwa PAUD itu menjadi penentu bagi kualitas anak di tingkat pendidikan berikutnya.

Kalau di PAUD sudah beres, lanjut dia maka di SD, SMP dan selanjutnya, anak-anak akan menjadi manusia yang beres.

"Ibarat makanan setengah jadi, maka kalau racikannya sudah bagus selanjutnya akan mudah, tapi jika racikan awal sudah tidak benar, maka selanjutnya akan susah," paparnya.

Ia juga sepakat bahwa kesejahteraan guru PAUD ke depan harus diperhatikan karena hal tersebut akan memengaruhi kualitas pendidikan dan hasilnya.

Bupati Bondowoso Amin Said Husni melaporkan bahwa pengelolaan pendidikan anak usia dini (PAUD) di daerahnya mendapatkan prestasi nomor dua secara nasional setelah Kota Gorontalo.

Saat ini, kata Amin Said, di Bondowoso terdapat 1.121 PAUD formal maupun nonformal dengan 2.033 guru dan 40.000 lebih anak didik.

"Kami memperhatikan perkembangan PAUD itu karena pendidikan di jenjang itu merupakan fondasi untuk pendidikan selanjutnya," ujarnya.
(T.KR-MSW/C004)

Selasa, 01 Februari 2011

Pendidikan Wirausaha Dikenalkan sejak Dini

Ekonomi Lampost : Senin, 31 Januari 2011


BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pendidikan entrepreneurship (jiwa kewirausahaan) harus dikenalkan sejak dini kepada siswa. Pendidikan ini dikembangkan tidak semata-mata melatih siswa menjadi pengusaha atau pedagang, tetapi melatih siswa untuk memiliki kebiasaan menciptakan dan berinovasi serta melihat peluang untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai.

Demikian disampaikan Ketua Yayasan Sang Timur Sr. Marie Luise, P.I.J. dalam seminar bertajuk Menumbuhkan jiwa entrepreneurship melalui dunia pendidikan, dalam rangka Jubileum Fransita TK, SD, SMP Fransiskus Tanjungkarang di SMA Fransiskus, Sabtu (29-1).

Seminar yang dibuka Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung Sukarma Wijaya dan dihadiri Ketua Yayasan Dwi Bakti Bandar Lampung Sr. M. Lusie, F.S.G.M., Unit Pelayanan Teknis Tanjungkarang Pusat Hj. Sumarni, Kepala SMA Fransiskus Bandar Lampung Sr. M. Pauli, F.S.G.M. ini diikuti 200 peserta para guru di lingkungan sekolah Fransiskus di Bandar Lampung dan sekolah-sekolah negeri dan swasta lainnya.

Selanjutnya ia menjelaskan landasan pendidikan berbasis kewirausahaan, entrepreneurship-based education, adalah pembentukan sikap belajar yang berdasarkan creating and innovating habit (kebiasaan mencipta dan berinovasi).

Ia menjelaskan suatu negara mampu mencapai kemakmuran jika minimal 2% dari jumlah penduduknya memiliki jiwa entrepreneur. Dengan demikian, untuk jiwa mencapai kemakmuran Indonesia dengan jumlah penduduk 238 juta paling tidak harus memiliki lebih 4,4 juta entrepreneur.

Sementara berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik, Indonesia baru memiliki SDM berjiwa entrepreneurship sekitar 400 ribu atau 0,18%. Jumlah yang masih sangat jauh dari standar minimal. "Untuk itu perlu terobosan untuk memasukkan pendidikan entrepreneurship pada jenjang kelas tertentu," ujarnya.

Sementara itu, Kepala SMA Fransiskus Bandar Lampung Sr. M. Pauli menambahkan seperti yang disampaikan pengusaha properti sukses Ir. Ciputra bahwa entrepreneur adalah seseorang yang mampu mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas. Ia memaparkan setidaknya terdapat 5 alasan penting mengapa entrepreneurship sangat penting diajarkan di bangku sekolah.

Pertama, kebanyakan generasi muda tidak dibesarkan dalam budaya wirausaha. Inspirasi dan latihan usaha tidak banyak diajarkan di bangku sekolah. Kedua, tingginya pengangguran di Indonesia. Ketiga, lapangan kerja sangat terbatas, tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja. Keempat, pertumbuhan entrepreneur selain dapat menampung tenaga kerja, juga dapat menciptakan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Kelima, Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam, akan tetapi sumber daya alam tersebut tidak bisa dikelola dengan baik karena Indonesia kekurangan SDM entrepreneur yang mampu mengubah "kotoran dan rongsokan menjadi emas".

Ketua Panitia Ign. Budi Ruswanto menjelaskan seminar ini digelar atas keprihatinan makin rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dan banyaknya pengangguran di Tanah Air. Untuk itu, Yayasan Dwi Bakti Bandar Lampung terpanggil guna memajukan dunia pendidikan dengan menciptakan seorang entrepreneur melalui kurikulum sekolah.

Dengan menggunakan metode pembalajaran yang kreatif, inovatif, sehingga siswa sebagai agen perubahan memiliki pemikiran yang terbuka. Siswa tidak hanya bergantung pada usaha mencari lapangan kerja, tapi justru sebagai pelaku usaha atau menciptakan lapangan kerja. (AST/E-1)

Minggu, 02 Januari 2011

AKHIRNYA ADA PAUD DIKAMPUNG KAMI

Bandar Lampung Lampost : Minggu, 2 Januari 2011

MASYARAKAT LINGK. II SPANGJAYA BERSEPAKAT
MEMBANGUN PAUD DENGAN DANA PNPM MANDIRI

BANDAR LAMPUNG—Lama sudah menunggu, akhirnya keberadaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Lingkungan II, Kelurahan Sepangjaya, Kedaton, Bandar Lampung, hadir juga. Ini sungguh menggembirakan. Ini salah satu bentuk kesadaran akan pentingnya pendidikan dini pada anak.

Memang, dewasa ini sudah banyak yang menyadari pentingnya PAUD sebagai langkah awal pembentukan karakter anak. Di PAUD, anak-anak prasekolah dikenalkan pendidikan moral dan nilai keagamaan, dikembangkan kemampuan fisik dan motoriknya, kemampuan bahasa, serta sosial-emosional dan seni.

Sayangnya, tidak semua desa dan kampung memiliki fasilitas PAUD, termasuk Lingkungan II Kelurahan Kotasepang Jaya. Setahun lalu anak-anak usia prasekolah di sana tidak bisa mengenyam pendidikan karena tidak ada TK, PAUD, atau lembaga pembelajaran lain yang sejenis.

Untuk belajar ke PAUD di tempat lain, para orang tua mengaku tidak memiliki biaya untuk ongkos plus iuran rutin. Maklum saja, sebagian besar kepala keluarga di sana hanya pekerja biasa dan buruh serabutan yang gajinya tidak menentu.

Namun sejak awal tahun lalu, mimpi warga di sana untuk menyekolahkan anak mereka di PAUD menjadi kenyataan. Berkat kesepakatan dan usulan masyarakat yang menginginkan pembangunan PAUD, dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan senilai Rp50 juta berhasil didapat. Masyarakat juga secara sukarela mengumpulkan "sumbangan" hingga mencapai Rp13,515 juta.

"Kami mengumpulkan sumbangan agar anak-anak kami bisa cepat bersekolah," kata Rosidah, salah satu warga di sekitar PAUD yang ditemui Lampung Post minggu lalu.

Beruntungnya, dana PNPM dan sumbangan warga itu tidak perlu digunakan untuk membeli lahan yang akan dibangun PAUD.

Seorang wanita tua yang biasa dipanggil Mbah Lastri mewakafkan tanah seluas 14 meter x 11,5 meter untuk dibangun PAUD. Tanah itu berada tepat di depan rumah Mbah Lastri yang sehari-harinya hidup sendiri itu.

"Ndak apa-apa. Yang penting anak-anak di sini bisa sekolah," kata wanita renta yang sudah agak susah diajak bicara itu.

Warga setempat pun langsung menyambut uluran tangan Mbah Lastri. Mereka bergotong royong membangun PAUD itu, dan akhirnya pada Agustus 2010 lalu pembangunan selesai. Anak-anak usia 3—5 tahun di sana bisa belajar di bangunan yang dicat biru dan kuning itu.

Hingga kini, tak kurang dari 40 anak setiap hari belajar dan bermain di sana.

"Kalau PNPM ini kan mendanai apa yang disepakati masyarakat. Kami bangga dengan masyarakat di sini yang masih menyadari arti penting pendidikan sejak usia dini. Kami juga bangga dengan kerelaan hati Mbah Lastri yang mewakafkan tanahnya sehingga pembangunan PAUD ini bisa cepat selesai," kata Senior Fasilitator PNPM Mandiri Perkotaan Kecamatan Kedaton, Qosiri Aburohim, di lokasi PAUD.

Untuk menunjang kegiatan pembelajaran di PAUD, kata Qosiri, rencananya tahun depan akan ada dana PNPM Mandiri Perkotaan lagi yang dikucurkan untuk pengadaan mainan, seperti ayunan, dan jungkat-jungkit.

"Semoga saja kerelaan hati Mbah Lastri dan kekompakan masyarakat di sini bisa bermanfaat dan mencetak generasi penerus bangsa yang berdaya saing," kata dia. (RIZKI ELINDA SARY/D-2)