Senin, 27 Desember 2010

KEJUJURAN versus LASER GUN

MALAYSIA LAYAK MENDAPATKAN SANGSI DARI FIFA


Laser singkatan dari Light Amplification by Stimulated Emision of Radiation. Adalah alat yang memancarkan radiasi elektromagnetik yang biasanya dalm bentuk cahaya. Sinar laser sangat bermanfaat bagi dunia modern, terutama dalam bidang optic, elektronik, optulektronik, teknologi informasi, sains, kedokteran, industri, dan militer. Secara umum laser dianggap pencapaian teknologi yang paling berpengaruh dalam abad ke 20. Sinar laser juga dapat dimanfaatkan oleh para dokter untuk melakukan operasi. Dalam skala besar laser dapat digunakan untuk memotong besi baja.

Namun demikian laser juga dapat membahayakan manusia penggunanya atau orang lain. Untuk sinar yang rendah sekalipun (hanya beberapa miliwatt) yang digunakan dalam pemancangan, masih dapat membahayakan penglihatan manusia, karena pancaran atau cahaya laser dapat mengakibatkan mata seseorang yang terkena mengalami kebutaan dalam sesat atau permanent


Negara tetangga kita yang serumpun Malaysia akan dicatat oleh dunia sebagai Negara pelopor penggunaan sinar laser ini untuk mememnangkan sebuah pertandingan bola kaki umpamanya, seperti apa yang mereka lakukan terhadap Kesebelasan Laos beberapa waktu yang lalu dan terhadap kesebelasan Indonesia pada laga final leg pertama pada tanggal 26 Desember 2010 di Stadion Bukit jalil Malaysia. Bisa jadi Negara Malaysia telah membukukan aktivitas ini sebagai Negara pertama yang melakukannya.


Seorang penjaga gawang bukan hanya sekedar kehilangan konsentrasi tetapi juga akan kehilangan penglihatan sejenak. Maka akan telak sekali manakala sinar laser itu ditembakkan pada saat gawang sedang terserang. Tetapi dalam pertandingan itu ternyata sinar laser telah menerpa wajah pemain kita, terutama penjaga gawangnya adalag semenjak menit ke 10 babak pertama.



Kata Roy Suryo, sinar laser yang digun akan ternyata sangat besar, yaitu sekitar 10 – 25 watt. Ini benar benar sebagai tindakan yang sangat membahayakan. Kita berharap agar FIFA segera ambil tindakan agar aksi yang diplopori oleh Malaysia ini tidak sempat berkembang.



Bila hal ini dibiarkan maka dunia persepakbolaan akan mengalami kerusakan, fair flay akan sulit ditegakkan. Bisa saja umapamanya Malaysia dilarang menyelenggarakan pertandingan Internasional, dan kesebelasan Malaysia dilarang menyertakan suporternya ketika melakukan pertandingan di negara lain. banhak pilihan untuk dijadikan hukuman yang memiliki efek jera.


Kepada para suporte Indonesia diharap tidak melakukan tindakan yang sama sebagai balas dendam. Labih baik kita kalah secara terhormat daripada menang secara curang seperti apa yang dilakukan oleh Malaysia. Apalagi permainan Indonesia pada saat itu memang sedang buruk. Tamapa sinar Laserpun Malaysia berpeluang menang


Pihak keamanan agar benar benar dapat merazia barang laknat itu agar tidak ikut masuk ke Studion. Kalah dan menang dalam bertanding adalah biasa, adakalanya kita kalah dan adakalanya kita Berjaya dalam suatu pertandingan, yang penting pertandingan itu berjalan secara jujur, cantik, dengan semangat juang yang tinggi. Kalah ataupun menang garuda di dada tetap kita puja.

Minggu, 26 Desember 2010

AGAMA, BUDAYA DAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA

AZYUMARDI AZRA


Budaya, pendidikan, dan agama merupakan tiga bidang yang berkaitan satu sama lain. Ketiga-tiganya berkaitan pada tingkat nilai-nilai yang sangat penting bagi manusia dalam berbagai aspek kehidupannya. Budaya atau kebudayaan umumnya mencakup nilai-nilai luhur yang secara tradisional menjadi panutan bagi masyarakat.

Pendidikan—selain mencakup proses transfer dan transmissi ilmu pengetahuan—juga merupakan proses yang sangat strategis dalam menanamkan nilai dalam rangka pembudayaan anak manusia. Sementara itu, agama juga mengandung ajaran tentang berbagai nilai luhur dan mulia bagi manusia untuk mencapai harkat kemanusiaan dan kebudayaannya.

Tetapi, ketiga sumber nilai yang penting bagi kehidupan itu dalam waktu-waktu tertentu dapat tidak fungsional sepenuhnya dalam terbentuknya individu dan masyarakat yang berkarakter, berkeadaban, dan berharkat. Budaya, pendidikan dan bahkan agama boleh jadi mengalami disorientasi karena terjadinya perubahan-perubahan cepat berdampak luas, misalnya, industrialisasi, urbanisasi, modernisasi dan terakhir sekali globalisasi.

Kondisi watak atau “karakter” manusia dewasa ini, sejak dari level internasional sampai kepada tingkat personal individual, khususnya bangsa kita, kelihatan mengalami disorientasi. Karena itu, harapan dan seruan dari berbagai kalangan untuk pembangunan kembali watak atau karakter kemanusiaan menjadi semakin meningkat dan nyaring.

Pada tingkat internasional, perdamaian masih jauh daripada berhasil diwujudkan. Bahkan hari-hari kita sekarang ini masih menyaksikan, konflik, kekerasan dan perang di berbagai bagian bumi. Kekerasan dan pembunuhan terus terjadi, misalnya, di Timur Tengah antara Israel dan Palestina, Iraq, dan Afghanistan yang terus bergejolak akibat pendudukan Amerika, Inggris dan sekutu-sekutunya yang berkelanjutan, meski demokrasi seolah mulai mendapatkan akarnya di negeri-negeri ini.

Berbagai kekerasan yang mengorbankan nyawa dan harta benda tersebut terkait dengan masih bertahannya “kekerasan struktural” (structural violence) pada tingkat internasional baik dalam bidang politik, ekonomi, militer, teknologi, informasi, dan sosial-budaya. Akibatnya, perdamaian hakiki tidak atau belum pernah berhasil diwujudkan.

Pada level bangsa (nation) Indonesia, seperti terlihat dalam sedikit contoh di atas, harus segera diakui bahwa negara kita tidaklah sepenuhnya dalam keadaan in order, bahkan sebaliknya dalam banyak segi masih dalam kondisi disorder. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia hanya mampu mengatasi krisis ekonomi dan politik secara relatif sangat lamban. Politik memang kelihatan relatif lebih stabil sejak masa Presiden Megawati Soekarnoputri hingga hampir berakhirnya masa Presiden SBY sekarang ini, setelah hiru-biru berbagai kontroversi pada masa Presiden Abdurrahman Wahid.

Sementara itu, kondisi ekonomi belum sepenuhnya membaik juga; meski mobil-mobil mewah built up semakin banyak melintasi jalan raya. Kehidupan sangat kontras yang mengerikan. Bahkan lebih mengerikan lagi, Indonesia masih saja terancam disintegrasi sosial dan politik baik secara vertikal maupun horizontal. Benih-benih disintegrasi dan konflik-konflik dan kekerasan sosial masih terus potensial tumbuh karena berbagai faktor: politik, sosial, budaya dan agama yang masih rawan.

Bisa dipastikan, jumlah mereka yang kandas dan terkapar semakin banyak, dengan terpaksanya kembalinya TKI dan TKW dari berbagai negara, apakah karena dipulangkan paksa sebagai “pendatang haram”, atau melarikan diri dari kebuasan majikan mereka. Di negara serumpun Malaysia bangsa kita masih juga disebut “Indon” yang penuh dengan nada pejoratif; kira-kira sama dengan sebutan “the Japs” bagi orang-orang Jepang setelah Perang Dunia II.

Kita memang sudah menjadi “bangsa kuli”, “bangsa TKI/TKW”, yang nyaris tidak lagi memiliki kehormatan dan harga diri. Kalau anda—kalangan sosiolog dan intelegensia lainnya—pergi ke Malaysia, psikologi “bangsa kuli” itu tidak hanya ada di kalangan orang-orang Malaysia, bahkan bisa menghinggapi diri kita sendiri; ada semacam rasa risih melihat TKW/TKI dengan segala keluguannya memenuhi bandara-bandara internasional.

Hasilnya, tidak heran kalau sebagai orang Indonesia, misalnya, hampir dalam setiap kali memperingati Hari Kebangkitan Nasional menyatakan tidak lagi memiliki kebanggaan sebagai orang Indonesia (having no pride as Indonesians). Rasa kebanggaan nasional ini semakin terpuruk saja, ketika kita masih tidak mampu saja membereskan rumahtangga kita. Pejabat-pejabat tinggi Malaysia bahkan pernah mengajari Amien Rais—sewaktu masih menjabat Ketua MPR RI—untuk tidak mencampuri urusan mereka ketika ia mengritik hukuman cambuk bagi TKI illegal yang tertangkap; kira-kira ungkapannya “don’t mess up with our business. Mind your own messy house”.

Ada kepedihan mendalam di sini? Meski bisa terkesan sedikit simplistis dan menyederhanakan masalah, hilangnya kebanggaan sebagai bangsa karena berbagai krisis sosial itu dalam skala besar bersumber dari terjadinya krisis dalam watak dan karakter bangsa. Dan, jika dilacak lebih jauh, krisis dalam watak dan karakter bangsa itu terkait banyak dengan semakin tiadanya harmoni dalam keluarga (Cf. International Education Foundation 2000).

Banyak keluarga mengalami disorientasi bukan hanya karena menghadapi krisis ekonomi, tetapi juga karena serbuan globalisasi nilai-nilai dan gaya hidup yang tidak selalu kompatibel dengan nilai-nilai dan norma-norma agama, sosial-budaya nasional dan lokal Indonesia. Sebagai contoh saja, gaya hidup hedonistik dan materialistik; dan permissif sebagaimana banyak ditayangkan dalam telenovela dan sinetron pada berbagai saluran TV Indonesia, hanya mempercepat disorientasi dan dislokasi keluarga dan rumahtangga.

Akibatnya, tidak heran kalau banyak anak-anak yang keluar dari keluarga dan rumahtangga hampir tidak memiliki watak dan karakter. Banyak di antara anak-anak yang alim dan bajik di rumah, tetapi nakal di sekolah, terlibat dalam tawuran, penggunaan obat-obat terlarang, dan bentuk-bentuk tindakan kriminal lainnya, seperti perampokan bis kota dan sebagainya. Inilah anak-anak yang bukan hanya tidak memiliki kebajikan (righteousness) dan inner beauty dalam karakternya, tetapi malah mengalami kepribadian terbelah (split personality).

Sekolah menjadi seolah tidak berdaya menghadapi kenyataan ini. Dan sekolah selalu menjadi kambing hitam dari merosotnya watak dan karakter bangsa. Padahal, sekolah sendiri menghadapi berbagai masalah berat menyangkut kurikulum yang overload, fasilitas yang tidak memadai, kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan yang rendah. Menghadapi beragam masalah ini sekolah seolah kehilangan relevansinya dengan pembentukan karakter. Sekolah, sebagai konsekuensinya, lebih merupakan sekadar tempat bagi transfer of knowledge daripada character building, tempat pengajaran daripada pendidikan.

Krisis Budaya dan Agama
Pembicaran dan wacana tentang membangun kembali watak guna revitalisasi ketahanan bangsa telah memenuhi ruang publik sejak jatuhnya Presiden Soeharto dari kekuasaannya pada 1998 hingga sekarang ini—telah lebih daripada satu dasawarsa. Perubahan-perubahan dramatis, cepat dan berjangka panjang dalam kehidupan politik yang pada gilirannya juga menimbulkan disorientasi sosial dan kultural memunculkan wacana dan harapan tentang perlunya pembentukan kembali watak bangsa; ungkapan Presiden pertama RI, Soekarno tentang ‘nation and character building’ kembali menemukan relevansinya.

Berakhirnya kekuasaan Orde Baru, berbarengan dengan munculnya krisis dalam berbagai aspek kehidupan bangsa telah menimbulkan krisis pula dalam watak dan ketahanan bangsa. Semakin derasnya arus globalisasi yang membawa berbagai bentuk dan ekspresi budaya global merupakan faktor tambahan penting yang mengakibatkan pengikisan watak bangsa berlangsung semakin lebih cepat dan luas. Akibat lebih lanjut, krisis watak bangsa menimbulkan disrupsi dan dislokasi dalam kehidupan sosial dan kultural bangsa, sehingga dapat mengancam integritas dan ketahanan bangsa secara keseluruhan.

Padahal, kita mengharapkan terciptanya masyarakat Indonesia yang memiliki jati diri dan ketahanan; berkepribadian dan berkarakter yang tangguh; berpegang teguh pada nilai-nilai demokratis; menghargai tinggi law and order; berkeadilan sosial, politik, dan ekonomi; memiliki kesalehan individual formal dan kesalehan komunal-sosial sekaligus; berkeadaban (civility) dalam lingkup civil society; menghargai keragaman dan kehidupan multikultural; dan memiliki perspektif lokal, nasional dan global sekaligus. Daftar ciri-ciri ideal ini tentu saja masih bisa ditambah lagi.

Masa sejak masa pasca-Soeharto yang sering disebut dengan indah sebagai “masa reformasi” agaknya hanya mampu mewujudkan sebagian dari cita-cita pembentukan masyarakat Indonesia yang berwatak dan berketahanan; tetapi masih banyak lagi agenda yang harus dilakukan. Untuk menyebut satu bidang kehidupan saja, Indonesia memang menjadi lebih demokratis, bahkan kini mungkin “terlalu demokratis”.

Jika pada masa Soeharto kita memiliki “too little too late democracy”, kini kita agaknya mempunyai “too much democracy”, yang secara salah masih saja diekspresikan dalam bentuk demonstrasi yang berkepanjangan. Dengan demikian, konsolidasi demokrasi belum sepenuhnya terwujud, meski Indonesia sukses melaksanakan Pemilu legislatif dan Presiden 2004; Pemilu legislatif 9 April 2009, dan sebentar lagi Pilpres 8 Juni 2009, yang kita harapkan juga berjalan secara langsung, aman, damai dan fair dan berkeadaban.

Namun pada pihak lain, Pilkada yang berlangsung seolah-olah tidak pernah putus di berbagai daerah juga sering berujung konflik horizontal, seperti pernah terjadi pada Pilkada Maluku Utara dan beberapa daerah lain; keadaban nyaris lenyap dalam aksi-aksi massa yang terlibat dalam pertikaian.

Keadaban (civility) ini penting ditekankan. Karena dalam beberapa tahun terakhir masyarakat kita cenderung semakin kehilangan “keadaban” (civility). Kita menyaksikan amuk massa; tawuran kini tidak lagi hanya terjadi di lingkungan pelajar dan kampung, tetapi juga antar mahasiswa—bahkan di lingkungan satu perguruan tinggi. Merosotnya keadaban ini juga bisa disaksikan pada berbagai kalangan masyarakat lainnya; sejak semakin meluasnya KKN melalui “desentralisasi” korupsi yang menumpang desentralisasi dan otonomi daerah.

Banyak anak bangsa telah kehilangan “rasa malu”, sehingga keadabannya hampir tidak terlihat sama sekali. Bisa dipastikan, kenyataan ini merupakan gejala terjelas dari krisis sosial yang semakin parah dalam masyarakat kita. Karena itulah kita perlu kembali berbicara tentang pendidikan karakter, keluarga mawaddah wa rahmah guna revitalisasi ketahanan bangsa.

Pendidikan Karakter dan Nilai: Keluarga Mawaddah wa Rahmah
Berbicara tentang pendidikan karakter, baik kita mulai dengan ungkapan indah Phillips dalam The Great Learning(2000:11): “If there is righteousness in the heart, there will be beauty in the character; if there is beauty in the character, there will be harmony in the home; if there is harmony in the home, there will be order in the nation; if there is order in the nation, there will be peace in the world”.

Mempertimbangkan berbagai kenyataan pahit yang kita hadapi seperti dikemukakan di atas, hemat saya, pendidikan karakter merupakan langkah penting dan strategis dalam membangun kembali jati diri bangsa dan menggalang pembentukan masyarakat Indonesia baru. Tetapi penting untuk segara dikemukakan—sebagaimana terlihat dalam pernyataan Phillips tadi—bahwa pendidikan karakter haruslah melibatkan semua pihak; rumahtangga dan keluarga; sekolah; dan lingkungan sekolah lebih luas (masyarakat).

Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyambung kembali hubungan dan educational networks yang nyaris terputus antara ketiga lingkungan pendidikan ini. Pembentukan watak dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara ketiga lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan harmonisasi.

Dengan demikian, rumahtangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan watak dan pendidikan karakter pertama dan utama mestilah diberdayakan kembali. Sebagaimana disarankan Phillips, keluarga hendaklah kembali menjadi “school of love”, sekolah untuk kasih sayang (Phillips 2000). Dalam perspektif Islam, keluarga sebagai “school of love” dapat disebut sebagai “madrasah mawaddah wa rahmah, tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang.

Tidak perlu diungkapkan panjang lebar, Islam memberikan perhatian yang sangat besar kepada pembinaan keluarga (usrah). Keluarga merupakan basis dari ummah (bangsa); dan karena itu keadaan keluarga sangat menentukan keadaan ummah itu sendiri. Bangsa terbaik (khayr ummah) yang merupakan ummah wahidah (bangsa yang satu) dan ummah wasath (bangsa yang moderat), sebagaimana dicita-citakan Islam hanya dapat terbentuk melalui keluarga yang dibangun dan dikembangkan atas dasar mawaddah wa rahmah.

Berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Anas r.a, keluarga yang baik memiliki empat ciri. Pertama; keluarga yang memiliki semangat (ghirah) dan kecintaan untuk mempelajari dan menghayati ajaran-ajaran agama dengan sebaik-baiknya untuk kemudian mengamalkan dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, keluarga di mana setiap anggotanya saling menghormati dan menyayangi; saling asah dan asuh. Ketiga, keluarga yang dari segi nafkah (konsumsi) tidak berlebih-lebihan; tidak ngoyo atau tidak serakah dalam usaha mendapatkan nafkah; sederhana atau tidak konsumtif dalam pembelanjaan. Keempat, keluarga yang sadar akan kelemahan dan kekurangannya; dan karena itu selalu berusaha meningkatkan ilmu dan pengetahuan setiap anggota keluarganya melalui proses belajar dan pendidikan seumur hidup (life long learning), min al-mahdi ila al-lahdi.

Datang dari keluarga mawaddah wa rahmah dengan ciri-ciri seperti di atas, maka anak-anak telah memiliki potensi dan bekal yang memadai untuk mengikuti proses pembelajaran di sekolah. Dan, sekali lagi, sekolah—seperti sudah sering dikemukakan banyak orang–seyogyanya tidak hanya menjadi tempat belajar, namun sekaligus juga tempat memperoleh pendidikan, termasuk pendidikan watak dan pendidikan nilai.

Sekolah, pada hakikatnya bukanlah sekedar tempat “transfer of knowledge” belaka. Seperti dikemukakan Fraenkel (1977:1-2), sekolah tidaklah semata-mata tempat di mana guru menyampaikan pengetahuan melalui berbagai mata pelajaran. Sekolah juga adalah lembaga yang mengusahakan usaha dan proses pembelajaran yang berorientasi pada nilai (value-oriented enterprise).

Lebih lanjut, Fraenkel mengutip John Childs yang menyatakan, bahwa organisasi sebuah sistem sekolah dalam dirinya sendiri merupakan sebuah usaha moral (moral enterprise), karena ia merupakan usaha sengaja masyarakat manusia untuk mengontrol pola perkembangannya.

Pembentukan watak dan pendidikan karakter melalui sekolah, dengan demikian, tidak bisa dilakukan semata-mata melalui pembelajaran pengetahuan, tetapi adalah melalui penanaman atau pendidikan nilai-nilai. Apakah nilai-nilai tersebut? Secara umum, kajian-kajian tentang nilai biasanya mencakup dua bidang pokok, estetika, dan etika (atau akhlak, moral, budi pekerti).

Estetika mengacu kepada hal-hal tentang dan justifikasi terhadap apa yang dipandang manusia sebagai “indah”, apa yang mereka senangi. Sedangkan etika mengacu kepada hal-hal tentang dan justifikasi terhadap tingkah laku yang pantas berdasarkan standar-standar yang berlaku dalam masyarakat, baik yang bersumber dari agama, adat istiadat, konvensi, dan sebagainya. Dan standar-standar itu adalah nilai-nilai moral atau akhlak tentang tindakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Lingkungan masyarakat luas jelas memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai estetika dan etika untuk pembentukan karakter. Dari perspektif Islam, menurut Quraish Shihab (1996:321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada “kini dan di sini”, maka upaya dan ambisinya terbatas pada kini dan di sini pula.

Dalam konteks itu, al-Qur’an dalam banyak ayatnya menekankan tentang kebersamaan anggota masyarakat menyangkut pengalaman sejarah yang sama, tujuan bersama, gerak langkah yang sama, solidaritas yang sama. Di sinilah, tulis Quraish Shihab, muncul gagasan dan ajaran tentang amar ma`ruf dan nahy munkar; dan tentang fardhu kifayah, tanggung jawab bersama dalam menegakkan nilai-nilai yang baik dan mencegah nilai-nilai yang buruk.

Pendidikan Nilai: Penanaman
Pembentukan watak melalui sekolah merupakan usaha mulia yang mendesak untuk dilakukan. Bahkan, kalau kita berbicara tentang masa depan, sekolah bertanggungjawab bukan hanya dalam mencetak peserta didik yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dalam jati diri, karakter dan kepribadian. Dan hal ini relevan dan kontekstual bukan hanya di negara-negara yang tengah mengalami krisis watak seperti Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara maju sekalipun (cf. Fraenkel 1977: Kirschenbaum & Simon 1974).

Usaha pembentukan watak melalui sekolah, hemat saya, selain dengan pendidikan karakter di atas, secara berbarengan dapat pula dilakukan melalui pendidikan nilai dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Pertama, menerapkan pendekatan “modelling” atau “exemplary” atau “uswah hasanah”. Yakni mensosialisasikan dan membiasakan lingkungan sekolah untuk menghidupkan dan menegakkan nilai-nilai akhlak dan moral yang benar melalui model atau teladan. Setiap guru dan tenaga kependidikan lain di lingkungan sekolah hendaklah mampu menjadi “uswah hasanah” yang hidup (living exemplary) bagi setiap peserta didik. Mereka juga harus terbuka dan siap untuk mendiskusikan dengan peserta didik tentang berbagai nilai-nilai yang baik tersebut.

Kedua, menjelaskan atau mengklarifikasikan kepada peserta didik secara terus menerus tentang berbagai nilai yang baik dan yang buruk. Usaha ini bisa dibarengi pula dengan langkah-langkah; memberi penghargaan (prizing) dan menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discouraging) berlakunya nilai-nilai yang buruk; menegaskan nilai-nilai yang baik dan buruk secara terbuka dan kontinu; memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memilih berbagai alternatif sikap dan tindakan berdasarkan nilai; melakukan pilihan secara bebas setelah menimbang dalam-dalam berbagai konsekuensi dari setiap pilihan dan tindakan; membiasakan bersikap dan bertindak atas niat dan prasangka baik (husn al-zhan) dan tujuan-tujuan ideal; membiasakan bersikap dan bertindak dengan pola-pola yang baik yang diulangi secara terus menerus dan konsisten.

Ketiga, menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (character-based education). Hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan character-based approach ke dalam setiap mata pelajaran yang ada di samping matapelajaran-mata pelajaran khusus untuk pendidikan karakter, seperti pelajaran agama, sejarah, Pancasila dan sebagainya. Memandang kritik terhadap matapelajaran-matapelajaran terakhir ini, maka perlu dilakukan reorientasi baik dari segi isi/muatan dan pendekatan, sehingga mereka tidak hanya menjadi verbalisme dan sekedar hapalan, tetapi betul-betul berhasil membantu pembentukan kembali watak bangsa.

Wallahu a`lam bish-shawab.

Bibliografi
Azra, Azyumardi, 2006, “Faith, Values, and Integrity in Public Life”, makalah disampaikan pada World Ethics Forum: Leadership, Ethics, and Integrity in Public Life, Oxford, International Institute for Public Ethics (IPPE) dan The World Banl, 9-12 April, 2006.

Azra, Azyumardi, 2003 (cetakan 2, 2006), Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi, Jakarta: Penerbit Kompas.

Azra, Azyumardi, 1999a, “Membangun Kembali Karakter Bangsa: Peran dan Tantangan Perguruan Tinggi”, makalah disampaikan pada Dies Natalis ke-50 Universitas Gadjah Mada, 13 Nopember 1999.

Azra, Azyumardi, 1999b, “Pembinaan Pendidikan Akhlak Didik pada Era Reformasi”, pokok-pokok pikiran untuk Seminar tentang Pendidikan Anak dalam Indonesia Baru, Direktorat Pembinaan Pendidikan Islam pada Sekolah Umum, Depag RI, Jakarta, 2 Nopember 1999.

Azra, Azyumardi, 1999c, “Catatan tentang Evaluasi atas Arah Pendidikan serta Fungsionalisasi Pemikiran Pendidikan di Indonesia”, makalah pada Diskusi Ahli “Pendidikan Indonesia untuk Masa Depan yang Lebih Baik”, Yayasan Fase Baru Indonesia, Jakarta, 25 Oktober 1999.

International Education Foundation, 2000, “The Need for Character Education”, makalah pada National Conference on Character Building, Jakarta, 25-26 Nopember, 2000.

Fraenkel, Jack R., 1977, How to Teach about Values: An Analytical Approach, Englewood, NJ: Prentice Hall.

Kirschenbaum, Howard & Sydney B. Simon, 1974, “Values and Futures Movement in Education”, dalam Alvin Toffler (ed.), Learning for Tomorrow: The Role of the Future in Education, New York: Random House.

Navis, AA, 1999, “Pendidikan dalam Membentuk Watak Bangsa”, makalah pada Diskusi Ahli “Pendidikan Indonesia untuk Masa Depan yang Lebih Baik”, Yayasan Fase Baru Indonesia, Jakarta, 25 Oktober 1999.

Phillips, C. Thomas, 2000, “Family as the School of Love”, makalah pada National Conference on Character Building, Jakarta, 25-26 Nopember, 2000.

Shihab, M. Quraish, 1996, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudhu`I atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan.

*Azyumardi Azra adalah Direktur Sekolah PascaSarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sejak Januari 2007 sampai sekarang; dan juga pernah menjabat Deputi Kesra pada Sekretariat Wakil Presiden RI (Mei 2007-Obtober 2010). Sebelumnya, dia adalah Rektor IAIN/UIN selama dua periode (1998-2002, dan 2002-2006). Ia juga gurubesar kehormatan Universitas Melbourne (2006-9); Komite Akademis Aga Khan International University London (2006-8); anggota Dewan Penasehat Centre for the Study of Contemporary Islam (CSCI, University of Melbourne); anggota Board of Trustees International Islamic University, Islamabad, Pakistan (2005-sekarang); anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI, 2005-sekarang); anggota Dewan Riset Nasional (DRN, 2005-sekarang); anggota Presidium ICMI (2006-2010).

Memperoleh MA, MPhil dan PhD dari Columbia University, New York (1992), pada Mei 2005 dia memperoleh DR HC dalam humane letters dari Carroll College, Montana, USA. Dia mempresentasikan makalah pada banyak seminar dan konperensi baik di dalam maupun luar negeri; dan telah menerbitkan lebih dari 20 buku, yang terakhir adalah Indonesia, Islam and Democracy: Dynamic in Global Contexts (2006), Islam in the Indonesian World: An Account of Institutional Development (Mizan International: 2007); (co-contributing editor), Islam Beyond Conflict: Indonesian Islam and Western Political Theory (London: Ashagate: 2008). Lebih 30 artikelnya dalam bahasa Inggris telah diterbitkan dalam berbagai buku dan jurnal pada tingkat internasional.

Dia juga anggota Dewan Penasehat UNDEF New York (2006-8); International IDEA (Institute for Democracy and Electoral Assistance), Stockholm (2007-9); Multi Faith Centre, Griffith University, Brisbane (2005-9); Institute of Global Ethics and Religion (2004-sekarang); Council on Faith, World Economic Forum, Davos, Swiss (2008-sekarang); Bali Democracy Forum (2008-sekarang).

Pada 2005 ia mendapatkan The Asia Foundation Award dalam rangka 50 tahun TAF atas peran pentingnya dalam modernisasi pendidikan Islam; dan dalam rangka Peringatan Hari Kemerdekaan RI, pada 15 Agustus 2005 mendapat anugerah Bintang Mahaputra Utama RI yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.*
Share and Enjoy:

KARAKTER BANGSA DULU DAN KINI

Karakter Bangsa, Dulu dan Kini

Binsar A. Hutabarat

Karakter bangsa Indonesia terbilang kuat sebelum zaman kemerdekaan, tatlaka mencapai kemerdekaan, dan saat mempertahankan kemerdekaan. Bayangkan, hanya bermodalkan bambu runcing, penjajah Belanda yang dilengkapi persenjataan canggih persenjataan canggih berhasil diusir anak-anak bangsa ini.

Kini, karakter masyarakat Indonesia tidak sekuat pada masa lalu, sudah sangat rapuh. Daya juang bangsa ini nyaris hilang ditelan berbagai godaan kepentingan sesaat. Masih tingginya praktik korupsi di Indonesia dan bergentayangannya makelar kasus dengan terindikasi adalanya jaringan mafia hukum merupakan potret buram sistem penegakan hukum di Indonesia.

Belum terselesainya kasus Bank Century, perlakuan diskriminatif dalam penjara yang kini menjadi buah bibir, dan penculikan bayi yang terbukti melibatkan petugas rumah sakit dan Puskesmas, semakin memperkuat pandangan bahwa karakter bangsa ini dalam kondisi yang amat lembek. Keburukan menjadi sesuatu yang biasa dan nilai-nilai kebaikan telah menjadi barang mewah di negeri ini.

Berbagai dekadensi moral ini muncul terkait dengan semakin lemahnya satu pilar pembangunan manusia seutuhnya: pendidikan. Pendidikan kita semakin tanpa arah, bias. Ironisnya, pemerintah masih saja berkukuh menyelenggarakan ujian nasional yang tak memiliki saham berarti untuk menguatkan karakter bangsa.

Cacat Pendidikan
Pendidikan di Indonesia saat ini lebih mengedepankan penguasaan aspek keilmuan, kecerdasan, dan mengabaikan pendidikan karakter. Pengetahuan tentang kaidah moral yang didapatkan dalam pendidikan moral atau etika di sekolah-sekolah saat ini semakin ditinggalkan.

Seperti kata Marvin Berkowitz (1998), kebanyakan orang mulai tidak memerhatikan lagi bagaimana pendidikan itu dapat berdampak terhadap perilaku seseorang. Itulah cacat terbesar pendidikan gagal untuk menghadirkan generasi anak-anak bangsa yang berkarakter kuat.

Pendidikan seharusnya mamapu menghadirkan generasi yang berkarakter kuat, karena manusia sesungguhnya dapat dididik, dan manusia pada dasarnya adalah animal seducandum, yaitu “binatang” yang harus dan dapat dididik.

Itulah makanya filsuf Aristoteles mengingatkan, sebuah masyarakat yang budayanya sudah tidak lagi memperhatikan pentingnya pendidikan atau tidak lagi menempatkan pendidikan sebagai suatu good habits, akan membuat masyarakat menjadi terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan buruk.

Karakter adalah istilah yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti “menandai”, yaitu menandai tindakan atau tingkah laku seseorang. Jadi, seseorang disebut berkarakter bila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Karena itu, seseorang perlu mendapatkan pendidikan karakter.

Dengan pendidikan karakter, kata Thomas Lickona (1991), budi pekerti dan tingkah laku orang tersebut terbentuk. Hasilnya akan terlihat dalam tindakan nyata. Orang tersebut akan bertingkah laku baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, bekerja keras, dan lain-lain.

Untuk memiliki karakter atau budi pekerti yang baik itu perlu adanya latihan yang serius dan terus-menerus. Meski manusia memiliki karakter bawaan, itu tidak berarti karakter itu tak dapat diubah. Perubahan karakter mengandaikan suatu perjuangan yang berat, suatu latihan yang terus-menerus untuk menghidupi nilai-nilai yang baik.

Kita tentu setuju bahwa membangun sebuah kebiasaan untuk berbuat baik itu tak selalu mudah, meski dorongan untuk berbuat kebaikan memang ada. Tapi, jika dorongan yang tidak baik itu terus dibiarkan hadir, keinginan yang baik dengan mudah didesak mundur. Bila kecenderungan-kecenderungan ke arah yang tidak baik berkembang semaunya, kekacauanlah yang terjadi.

Semua agama tentu mengajarkan kebaikan dalam diri seorang anak manusia. Masalahnya, bagaimana manusia itu mengonstruksi diri sendiri, di mana yang baik dikembangkan dan yang jelek dikurangi atau dihilangkan, itulah pekerjaan yang harus dilakukan setiap saat, setiap hari.

Karena itu, dalam banyak hal karakter yang baik lebih patut dipuji dibandingkan bakat yang luar biasa. Bakat adalah anugerah, sedangkan karakter yang baik tidak dianugerahkan. Karakter yang baik lahir dari latihan dan perjuangan yang keras, terus-menerus, sebuah latihan yang tak kenal lelah. Seperti kata Tolbert McCarrol, karakter adalah kualitas otot yang terbentuk melalui latihan setiap hari dan setiap jam. Otot karakter kita akan menjadi lembek apabila tidak pernah dilatih, dan akan menjadi kuat kalau sering dilatih.

Peranan Guru
Pendidikan di Indonesia yang mengutamakan penguasaan aspek keilmuan, kecerdasan, dan mengabaikan pendidikan karakter, sudah saatnya harus dibenahi. Indonesia memerlukan pendidikan karakter agar tampil pribadi-pribadi unggul, kuat, dan tahan uji.

Sudah waktunya pemerintah fokus pada bagaimana memperbaiki mutu pendidikan yang terfokus pada pembangunan karakter. Pemerintah perlu memperbaiki perpustakaan sekolah untuk meningkatkan budaya baca dengan menghadirkan buku-buku bacaan berkualitas tentang budaya bangsa yang mengajarkan nilai-nilai moral dan memberi banyak kesempatan untuk menghidupi nilai-nilai moral tersebut.

Peran guru di sini menjadi sangat penting dan strategis. Mereka adalah wajah pendidikan kita. Karena itu, guru patut diberikan kedudukan terhormat, termasuk juga pemenuhan kebutuhannya, tidak hanya untuk sekolah negeri, tetapi juga guru-guru swasta.

Binsar A. Hutabarat, Penulis adalah Peneliti Reformed Center for Religion Society

PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA UNTUK MEMBANGUN KEBERADABAN BANGSA

MUKTIONO WASPODO

Mengawali tulisan ini, patut kiranya kita memberikan “makna” lebih tentang tema besar yang diangkat pada acara Hari Pendidikan Nasional tahun 2010 yakni ”Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa”. Karena Dunia pendidikan diharapkan sebagai motor penggerak untuk memfasilitasi perkembangan karakter, sehingga anggota masyarakat mempunyai kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan demokratis dengan tetap memperhatikan sendi-sendi Nagara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan norma-norma sosial di masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama.

”Dari mana asalmu tidak penting, Ukuran tubuhmu juga tidak penting, Ukuran Otakmu cukup penting, ukuran hatimu itulah yang sangat penting” karena otak (pikiran) dan kalbu hati yang paling kuat menggerak seseorang itu ”bertutur kata dan bertindak” Simak, telaah, dan renungkan dalam hati apakah telah memadai ”wahana” pembelajaran memberikan peluang bagi peserta didik untuk multi kecerdasan yang mampu mengembangkan sikap-sikap; kejujuran, integritas, komitmen, kedisipilinan, visioner, dan kemandirian.

Sejarah memberikan pelajaran yang amat berharga, betapa perbedaan, pertentangan, dan pertukaran pikiran itulah sesungguhnya yang mengantarkan kita ke gerbang kemerdekaan. Melalui perdebatan tersebut kita banyak belajar, bagaimana toleransi dan keterbukaan para Pendiri Republik ini dalam menerima pendapat, dan berbagai kritik saat itu. Melalui pertukaran pikiran itu kita juga bisa mencermati, betapa kuat keinginan para Pemimpin Bangsa itu untuk bersatu di dalam satu identitas kebangsaan, sehingga perbedaan-perbedaan tidak menjadi persoalan bagi mereka.

Karena itu pendidikan karakter harus digali dari landasan idiil Pancasila, dan landasan konstitusional UUD 1945. Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa pada tahun 1928, ikrar “Sumpah Pemuda” menegaskan tekad untuk membangun nasional Indonesia. Mereka bersumpah untuk berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Ketika merdeka dipilihnya bentuk negara kesatuan. Kedua peristiwa sejarah ini menunjukan suatu kebutuhan yang secara sosio-politis merefleksi keberadaan watak pluralisme tersebut. Kenyataan sejarah dan sosial budaya tersebut lebih diperkuat lagi melalui arti simbol “Bhineka Tunggal Ika” pada lambang negara Indonesia.

Dari mana memulai dibelajarkannya nilai-nilai karakter bangsa, dari pendidikan informal, dan secara pararel berlanjut pada pendidikan formal dan nonformal. Tantangan saat ini dan ke depan bagaimana kita mampu menempatkan pendidikan karakter sebagai sesuatu kekuatan bangsa. Oleh karena itu kebijakan dan implementasi pendidikan yang berbasis karakter menjadi sangat penting dan strategis dalam rangka membangun bangsa ini. Hal ini tentunya juga menuntut adanya dukungan yang kondusif dari pranata politik, sosial, dan budaya bangsa.

”Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa”, adalah kearifan dari keaneragaman nilai dan budaya kehidupan bermasyarakat. Kearifan itu segera muncul, jika seseorang membuka diri untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural yang terjadi. Oleh karena itu pendidikan harus diletakan pada posisi yang tepat, apalagi ketika menghadapi konflik yang berbasis pada ras, suku dan keagamaan. pendidikan karakter bukanlah sekedar wacana tetapi realitas implementasinya, bukan hanya sekedar kata-kata tetapi tindakan dan bukan simbol atau slogan, tetapi keberpihak yang cerdas untuk membangun keberadaban bangsa Indonesia. Pesan akhir tulisan ini, berikan layanan yang terbaik kepada Pendidik dan Tenaga Kependidikan sehingga terwujud masyarakat yang ”beradab” yang mengimplementasikan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia........ Pembiasaan berperilaku santun dan damai adalah refreksi dari tekad kita sekali merdeka, tetap merdeka. (Juga Guru Com)

SISWI BERPRESTASI MERASA TAK DIHARGAI

Kompas com : Senin, 27 Desember 2010


GARUT, KOMPAS.com - Naryana (50), warga Kampung Cijeleren, Desa Mekarsari, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengaku merasa dilecehkan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut.

Menurutnya, instansi itu sama sekali tidak menghargai jerih payah anaknya, Anggi Faujiyah Azmi, siswa kelas 6 SD Negeri Mekarsari 1 Bayongbong yang telah mengharumkan nama Garut di tingkat nasional.

Ia mengatakan, Anggi Faujiyah Azmi berhasil menjadi juara pertama dan menyumbangkan medali emas untuk Kabupaten Garut pada ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tahun 2010 tingkat Provinsi Jawa Barat untuk tingkat SD.

Selain itu, pada ajang O2SN tingkat nasional, Anggi juga berhasil menyumbangkan medali perunggu pada cabang tenis meja.

Ironisnya, kata dia, nama Anggi tidak terdaftar dalam deretan nama 100 siswa berprestasi di Kabupaten Garut yang memperoleh penghargaan dan bonus dari Pemkab Garut.

"Sebagai orangtua, kami benar-benar kecewa atas sikap Disdik yang sama sekali tidak menghargai jerih payah anak kami untuk Garut," kata Naryana saat ditemui di rumahnya, Minggu (26/12/2010).

Menurutnya, jika dibandingkan siswa lainnya yang masuk daftar 100 siswa berprestasi di Garut, anaknya dapat dikatakan salah satu siswa yang meraih prestasi di tingkat nasional.

Naryana pernah mempertanyakan alasannya kepada pejabat Bidang TK-SD. "Lucunya, saat itu jawaban dari pihak Disdik enteng saja, Anggi tidak masuk daftar 100 siswa berprestasi penerima penghargaan karena terlewat untuk diajukan," ujarnya.

Saat akan dikonfirmasi tentang keluhan Naryana itu, Kabid TK-SD Disdik Kabupaten Garut, Mahmud, sulit untuk dihubungi. Ponselnya tidak aktif. Sedangkan Kabid Pemuda dan Olahraga, Totong, yang dihubungi melalui telepon selulernya sama sekali tidak mau memberikan komentar.

Terpisah, Official O2SN SD Kabupaten Garut, Tito, saat dihubungi menjelaskan, pihaknya sudah mengirim data atlet peraih medali jauh hari sebelumnya melalui penanggung jawab cabang olahrga (cabor) masing-masing.

Bahkan, diakui Tito, untuk atlet tenis meja, peraih medali perunggu tingkat nasional (Anggi), datanya langsung diberikan kepada Kabid Pemuda dan Olahraga, Totong. Zezen Zaenal.

sekolah tunggu edaran un

Pendidikan Lampost : Senin, 27 Desember 2010

(UN tahun 2011 akan mengalami beberapa perubahan)

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pihak sekolah masih menanti kejelasan dan kepastian pelaksanaan ujian nasional 2011. Hingga kini Mendiknas belum memberikan surat edaran resmi.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Bandar Lampug Sobirin dan Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Lampung Haryanto menyatakan hal itu secara terpisah kemarin (26-12).

Haryanto mengatakan hingga saat ini surat edaran resmi yang menjelaskan pelaksanaan UN di sekolah belum ia terima. Informasi mengenai UN baru ia terima melalui internet.

"Sekolah baru mendengar perubahan pelaksanaan UN tahun ajaran ini dari media massa. Di antara perubahan itu, tidak adanya UN ulangan seperti tahun ajaran lalu dan penggunaan hasil ujian akhir sekolah (UAS) untuk menentukan kelulusan peserta didik," kata dia.

Ia juga menginformasikan UN akan dilaksanakan sekitar April 2011. Komposisi kelulusan siswa tahun depan merupakan perpaduan dari hasil ujian akhir sekolah (UAS) dan ujian nasional (UN).

"Bahkan untuk hasil akhir UN akan dipadukan terlebih dahulu dari hasil belajar siswa pada semester III, IV, dan V. Komposisi ini akan lebih adil karena menyertakan hasil belajar siswa sebelumnya," kata dia.

Menurut dia, tidak adanya ujian ulangan diperkirakan meningkatkan keseriusan anak dalam belajar lantaran tidak ada lagi kesempatan kedua jika UN utama gagal seperti tahun lalu.

Belum adanya edaran resmi tentang UN ini juga disampaikan ketua musyawarah kerja kepala sekolah (MKKS) SMA Bandar Lampung Sobirin. Ia pun mengaku belum mendapatkan penjelasan sedikit pun mengenai UN.

"Hingga kini kami belum menerima standar pelaksanaan UN yang biasanya beredar di sekolah pada akhir Desember. Mungkin format UN masih menjadi pembahasan di Pusat," kata dia.

Sobirin mengaku saat ini beredar wacana perubahan formula dalam UN mendatang, dari pelaksanaan yang diundur pada April, tidak adanya ujian ulangan setelah UN tahun lalu hingga pemaduan hasil UN dan hasil UAS.

"Pihak sekolah tidak mau ambil pusing dengan perubahan kebijakan. Yang kami lakukan adalah mengoptimalkan persiapan ujian berdasarkan standar kompetensi lulusan yang dirumuskan. Berubah atau tidak, bukan masalah bagi sekolah," kata dia.

Dia mengatakan yang terpenting dari sekolah adalah menuntaskan bahan pelajaran sesuai dengan standar kompetensi yang diberikan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Perubahan dimaksudkan untuk UN yang lebih baik lagi.

Diberitakan sebelumnya, selain waktu pelaksanaan yang mundur, serta tidak ada ujian ulangan. Soal ujian mendatang juga diperkirakan bervariasi, bahkan untuk satu kelas ujian akan disediakan 20 jenis tipe soal sesuai dengan jumlah siswa yang mengikuti ujian.

Kepala SMAN 3 Bandar Lampung Hernadi beberapa watu lalu mengungkapkan berbeda dengan tahun lalu dalam UN yang akan digelar minggu pertama April ini, pemerintah akan menyiapkan 20 tipe soal berbeda untuk satu ruangan. MG14/S-2

SALIMAH BANGUN SEKOLAH IBU TERPADU

Pendidikan Lampost : Senin, 27 Desember 2010

POLA ASUH

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dalam upaya pengokohan keluarga dan perlindungan anak, Persaudaraan Muslimah (Salimah) Lampung akan menjalankan program Sekolah Ibu Salimah Terpadu (Sister).

Di sekolah informal ini kaum perempuan, khususnya ibu, akan mendapat pengetahuan tentang membina keluarga bahagia, pendidikan anak, kesehatan, gizi keluarga, serta komunikasi.

Demikian diungkapkan Ketua Pimpinan Wilayah Salimah Provinsi Lampung A. Puji Purwanti usai pelantikan pengurus PW Salimah periode 2010—2014, Minggu (26-12).

"Menjadi orang tua kan tidak ada sekolahnya, di Sister ini para ibu bisa mendapatkan beragam informasi yang dibutuhkan," kata Puji.

Ia mengatakan banyak orang tua yang tidak mengetahui bagaimana cara mengarahkan anak-anaknya, kesulitan menjalin komunikasi yang baik dengan anak, tidak mampu membekali anak-anak dengan nilai agama, dan nilai-nilai lain yang membuat anak siap menghadapi zaman.

"Anak-anak kita hidup di zaman yang berbeda dengan orang tuanya. Akibat memudarnya fungsi keluarga, banyak anak-anak menjadi gamang menghadapi kehidupan, tidak memiliki bekal, tidak memiliki imunitas untuk menangkal hal-hal yang buruk. Dan, akhirnya terjerumus ke dalam perbuatan yang melanggar norma-norma agama dan moral," ujar Puji.

Program lain adalah dalam pembinaan keagamaan. Salimah melakukan pembinaan majelis taklim melalui Korps Mubalighot ini sebagai upaya pembinaan mental spiritual yang akan berdampak sangat luas dalam mencegah dan mengatasi berbagai persoalan masyarakat.

Dalam rangkaian pelantikan pengurus ini, Pimpinan Wilayah Lampung akan membagikan 1.600 mushaf Alquran dan terjemahan di rumah sakit dan hotel, yaitu RSUDAM 600 Alquran, Rumah Sakit Urip Sumoharjo 333 Alquran, Rumah Sakit Bintang Amin Husada 80 Alquran, Rumah Sakit Hi. Kamino di Way Kanan 30 Alquran, dan sisanya dibagikan di daerah Tanggamus. Jumlah ini sesuai dengan jumlah tempat tidur yang ada di rumah sakit.

Sebelumnya Salimah telah melaksanakan Musyawarah Wilayah (Muswil) II pada 26—28 November 2010 di Wisma Kesehatan Provinsi Lampung yang dihadiri utusan dari 12 pengurus daerah (PD) kabupaten/kota Provinsi Lampung. Muswil tersebut dilakukan dalam rangka memilih ketua PW Salimah Provinsi Lampung periode 2010—2014, yang terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan. Di antaranya seminar pendidikan dengan tema Menciptakan generasi tangguh di era layar. (MG14/S-2)