Tampilkan postingan dengan label portofolio HE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label portofolio HE. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Desember 2010

Jalan Pagi

Olah raga itu penting, karena itulah mungkin olah raga dijadikan salah satu mata pelajaran di sekolah. Sayang, semasa sekolah dulu saya dan sebagian besar teman-teman di kelas tidak terlalu menyukai pelajaran ini. Apalagi kalau jam pelajaran olah raga pas kebetulan di jam 10 ke atas, di mana matahari sudah mulai naik. Suasana jadi tak nyaman. Panas, itu sudah pasti. Berolah raga ya karena terpaksa takut nilai di rapor jadi jelek.

Semua itu terjadi di masa lalu. Saat kini saya menjalankan pendidikan di rumah, di mana waktu beraktivitas bisa diatur sendiri, maka jalan pagi adalah olah raga murah yang agak sering saya lakukan bersama anak-anak dibandingkan olah raga lainnya. Anak-anak memang akan bersepeda sampai siang baik ada ataupun tak ada acara jalan kaki. Namun saat jalan pagi adalah saat yang istimewa. Ketika itulah ada unsur rekreasi, belajar, menjauhkan pandangan untuk kesehatan mata, dan mencari benih-benih tumbuhan.

Beberapa acara jalan pagi kami tidak semua terekam di blog ini, tapi sekedar mengingatkan diri sendiri, hasil jalan pagi kini sudah terlihat. Azkia (8 tahun) sekarang jadi kuat berjalan jauh, begitu juga Luqman (6 tahun). Anak-anak juga jadi peka dengan tetumbuhan atau segala sesuatu yang unik di perjalanan. Selain itu, beberapa tanaman yang kami temukan benihnya di perjalanan, kini sudah mulai tumbuh. Ada pohon kersen yang benihnya kami ambil dari selokan; dahlia mulai berbunga, bunga kenikir/cosmos 3 warna sudah mampu mengundang serangga bertamu ke pekarangan, tanaman tekokak dari selokan tumbuh tinggi hampir berbunga. Begitulah sepanjang tahun ini acara jalan pagi memberi manfaat buat kami.

Catatan terbaru jalan pagi kami adalah tanggal 22 Desember 2010. Setelah berkali-kali menunjukkan tumbuhan yang akarnya berbau seperti balsam, saya ajak anak-anak mencabut tumbuhan itu di sepanjang jalan yang kami temui. Menunggu saat lapang saya ingin mencoba mengajak anak-anak 'meneliti' tanaman tersebut. Sungguhkah itu memang tanaman yang jadi bahan dasar balsam?? Bahkan saya juga penasaran ingin tahu ^_^.

Jalan pagi, meski melewati jalanan yang hampir sama, kami menemukan hal-hal baru yang berbeda. Karena itulah, akan coba kami pertahankan itu sebagai sarana belajar murah yang menyehatkan. Sekalian sebagai 'pelajaran; olah raga. ^_^



Minggu, 12 Desember 2010

Menonton Film bersama YPBB dan Museum Care

Minggu, 12 Desember 2010. YPBB (Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi) bekerja sama dengan Museum Care dan Museum Geologi menyelenggarakan acara yang bertajuk Markinon (Mari kita nonton), dan menayangkan film dokumenter berjudul Addicted to Plastic: The Rice and Demise of The Modern Miracle. Kami sekeluarga menghadiri acara tersebut, sekalian bertemu teman-teman sesama praktisi Home-Education(HE).

Kami memang terlambat datang, tapi sekilas pada scene-scene terakhir alhamdulillah ada pesan yang bisa kami tangkap. Film ini menjelaskan tentang zat-zat apa saja yang terkandung dalam plastik dan prediksi-prediksi jika plastik akhirnya dibuang menjadi sampah, baik ketika tertimbun tanah maupun dibakar. Zat-zat beracun yang terkandung di dalamnya bisa mencemari lingkungan. Jika zat itu ikut larut dalam makanan/minuman yang kita konsumsi atau asap hasil pembakarannya terhirup, dampak bagi tubuh manusia juga ternyata tidak main-main. Beberapa di antara akibat racun plastik adalah kemandulan bagi pria dan memicu munculnya sel kanker.

Film ini secara umum bertujuan agar kita jadi lebih bijak menggunakan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Sekalipun dalam banyak hal kita membutuhkannya namun sesungguhnya tetap memiliki alternatif lain untuk mengurangi jumlahnya. Misalnya saja:
1. Kita bisa mengurangi pembelian minuman dan makanan yang memakai kemasan plastik sekali pakai dan menggantinya dengan wadah yang bisa dipakai secara berulang.
2. Kita bisa mengurangi penggunaan kresek dan membawa tas belanja sendiri dari rumah.
3. Kita bisa mendaur atau memakai ulang beberapa sampah anorganik.

Ada satu sindiran kecil di bagian akhir film itu, "Yang paling banyak menghasilkan sampah adalah orang-orang kaya (baca: berpenghasilan cukup tinggi dan menjadi konsumen produk-produk instan), namun yang menerima dampaknya adalah orang-orang miskin yang tinggal di sekitar TPA.

Terkait pendidikan rumah, buat saya pengetahuan dan pembiasaan hidup pro lingkungan adalah pe er buat kami. Sedang terus belajar untuk bergaya hidup zero waste dan menularkannya sejengkal demi sejengkal dengan cara yang kami bisa.

Saya berterima kasih kepada YPBB dan Museum Care serta Museum Geologi yang sudah menyelenggarakan acara ini. Berharap mendapat copy film-nya untuk diputar di lingkungan komplek kami, minimal oleh anak-anak member perpustakaan ^_^.



Jumat, 16 Juli 2010

Hikmah dari Sebuah Perpustakaan Mini

Tidak terasa, pada tanggal 16 Juli 2010 sudah masuk bulan ke-lima perpustakaan mini yang dikelola Azkia (7 tahun 9 bulan) dibuka. Dengan jadwal buka rutin 2 kali seminggu (RAbu dan Sabtu) perpustakaan ini menjadi ajang latihan praktis buat Azkia mengembangkan beberapa kemampuan dan keterampilan, serta mengenalkan arti sebuah konsistensi secara nyata.

Melalui aktivitas sederhana ini, ada beberapa hal yang sepertinya Azkia sadari memberi nilai plus untuk dirinya, sebagai anak yang tidak bersekolah formal, di antaranya:

1. Karena mau tidak mau dia harus mencatat semua pengembalian dan peminjaman buku, maka otot menulisnya menjadi makin terlatih. Pelajaran penting yang saya rasakan: Karena saya tidak terlalu banyak memberi koreksi dan menilai tulisan dia, ternyata hasilnya justru di luar dugaan. Tulisan Azkia sekarang makin rapi dan bagus.

2. Dia jadi belajar untuk tenang/tidak gugup saat menghadapi antrian para peminjam yang ingin bukunya dicatat. Kadang-kadang, anak-anak yang datang tidaklah sendirian, melainkan berombongan antara 5 - 10 orang. Awalnya Azkia terlihat tegang, tapi sekarang dia enjoy aja dengan hal itu.

3. Mulai tumbuh sikap bertanggung jawab dalam hal ini, karena saya nyaris melepaskan hampir seratus persen tanggung jawab mengurus perpustakaan pada Azkia. Dari mulai merapikan buku-bukunya, mendata bukunya (termasuk jika ada buku baru), sampai mencatat pengembalian dan peminjaman, semua dia yang mengerjakan dengan senang hati. Hari Rabu dan Sabtu menjadi hari penting buat dia, dan dia selalu ingat dengan tanggung jawab itu.

4. Perpustakaan kami tidak memungut biaya peminjaman dan Azkia juga tidak dibayar. Hal itu menjadi sebuah sarana mengenalkan konsep volunteer pada dirinya, sebelum nanti dia berkenalan dengan kegiatan yang bermotif ekonomi ^_^.

5. Perpustakaan membuat Azkia berinteraksi dengan banyak anak dari berbagai usia. Saya kira, hal itu menjadi ajang dia melatih kepercayaan diri dan juga cara berkomunikasi. Apalagi sekarang jumlah anggota perpustakaan sudah mencpai 50-an anak. Saya kira itu bukanlah jumlah yang sedikit.

Hal yang masih belum mulai kami kembangkan adalah memberdayakan perpustakaan mini ini menjadi sekaligus tempat anak-anak (para anggota) menambah keterampilan dan wawasan. Suatu hari nanti, insha Allah akan bergerak ke arah sana.

Senin, 04 Januari 2010

Membuat Telur Terapung

Sejak tanggal 26 Desember 2009, kami membuka taman bacaan di rumah. Selain membaca dan meminjam buku, anak-anak juga bermain dan membuat percobaan-percobaan. Salah satunya adalah membuat telur bisa terapung di atas air.

Mau tahu caranya?

1. Cucilah sebutir telur, lalu masukkan ke dalam stoples bening yang sudah diisi air.
2. Masukkan garam dengan sendok sedikit demi sedikit lalu aduk. Hasilnya? Telur yang semula tenggelam di dasar stoples ternyata bisa mengapung lho.
3. Jika air garam diganti lagi dengan air tawar, si telur akhirnya kembali tenggelam.

Hal-hal semacam itu sungguh menakjubkan buat anak-anak. Mau mencobanya di rumah?

Selasa, 30 Juni 2009

Mengunjungi Kebun Sayur

Jalan-jalan melihat kebun sayur sangat mengasyikkan. Anak-anak jadi tahu rupa tumbuhan sayur secara langsung. Saya sering mengajak mereka melihat-lihat kebun sayur di belakang komplek rumah kami di Tanjungsari.Dengan sepatu bot, menyandang tas dan payung, serasa deh akan berpetualang.

Beberapa waktu lalu kami juga berkunjung ke Balai Penelitian Tanaman Sayuran(BALITSA) Lembang. Memang tidak semua sayuran kebetulan bisa dilihat. Sebagian sayuran seperti kentang dan wortel baru saja dipanen.

Minggu, 05 April 2009

Ketika Puteriku Ketemu Para Penulis

Hari Sabtu, 4 April 2009 saya dan Azkia puteri saya hadir di acara Gathering milis Penulis Bacaan Anak. Alhamdulillah, selain saya mendapat pencerahan dan bisa silaturahmi dengan teman-teman para penulis dan juga editor, kegiatan sosialisasi buat Azkia juga nambah nih!

Anak saya memang suka jaim (jaga image) pada awalnya, tapi saya tahu dia sebenarnya senang bisa bertemu dengan penulis buku-buku yang sudah dibacanya. Ada Ana Puspita Dewiyana dari Pelangi Mizan (yang kebetulan teman baik saya), ada Ali Muakhir yang buku hasil karyanya cukup bertebaran di rumah, ada Benny Ramdhani, Ryu Tri, dll. Eh ya, meski malu-malu malah Azkia berfoto dengan Kak Andi Yudha yang kocak itu.

Satu hal yang saya tahu akan dia kenang dengan indah suatu saat nanti, adalah tanda tangan penulis yang dibubuhkan di bukunya. Kebetulan seminggu sebelumnya saya membelikan sebuah novel anak karya Chris Oetoyo buat dia. Sudah berulang-ulang dia membacanya dan Mas Chris ternyata datang di acara kemarin. Langsung aja deh saya mintakan tanda tangan beliau.

Ya, begitulah "reportase" kegiatan kami di minggu pertama bulan April ini. Azkia pasti tak akan melupakannya, apalagi, pas acara foto bersama, dia ikut jadi fotografer, lho. Tetap semangat deh!

Senin, 03 November 2008

Saling Mengajari

Hal menarik kembali saya temukan pada interaksi kedua anak saya, Azkia (6 tahun) dan Luqman (4 tahun). Selama ini Azkia sebenarnya hampir bisa dikatakan sudah menjadi salah seorang guru buat adiknya. Dia-lah yang membacakan buku-buku dan menjelaskan setiap isi buku serta berbagai gambar yang ada di dalamnya.

Akhir-akhir ini kami malah dikejutkan dengan kemampuan Luqman menghapal nama-nama dinosaurus dengan berbagai ciri-cirinya, padahal kami sendiri terus terang tidak pernah hafal tentang hal itu. Azkia-lah sang guru yang mengajari Luqman apa itu Triseratops, Tiranosaurus, Stegosaurus, dll. Mereka bermain tebak-tebakan tentang tema itu dengan panduan buku DINOSAURUS.

Nah, suatu malam, saya cukup tercengang karena Azkia ternyata juga mau belajar dari adiknya. Dia meminta pada adiknya, "Ade, bikinin gambar ikan dong! Ade menggambar badannya, kakak menggambar ekornya... Soalnya Kakak nggak bisa terus bikin badan ikan" He he.... Lucu kan?! Adiknya pun melakukan permintaan itu dengan penuh semangat.

Pagi harinya, Azkia pun berceloteh, "Mama, kakak sekarang sudah bisa bikin ikan. Ade yang ngajarin kakak." Jadi, saya pikir sekarang tak perlu lagi anak-anak diajari bagaimana harus bersikap teachable atau senang berguru pada siapa saja. Mau belajar pada orang yang lebih muda adalah sebuah tahapan yang luar biasa, bukan?

Orang dewasa malah sering merasa gengsi untuk belajar dari orang yang dianggap lebih rendah kedudukannya, ilmunya, pendidikannya, atau status sosialnya. Hmmm... saya juga sebenarnya jadi ikut belajar dari anak-anak....

Jumat, 10 Oktober 2008

Ketika Anakku Belajar Sholat

Sedikit terharu, takjub, dan harap saya rasakan saat menyaksikan anak sulung saya Azkia begitu gembira dengan kegiatan barunya, yaitu sholat lima waktu. Mungkin beberapa orang tua lain sudah mengawali pelajaran penting ini jauh lebih dulu dibandingkan saya, saat anak-anaknya berusia jauh lebih muda.

Azkia sekarang sudah 6 tahun, tepatnya tanggal 7 Oktober yang lalu. Saya sudah meniatkan jauh-jauh hari untuk mulai menggarap proses belajar dan pembiasaan sholat secara konsisten setelah ultahnya yang ke- 6 ini. Alhamdulillah, mungkin karena saya memang bersungguh-sungguh, anak saya seolah bisa menangkap spirit itu, sehingga ia mau menjalankannya dengan senang hati.

Sebelumnya kegiatan berwudhu, rukuk, dan sujud hanyalah sebuah pengetahuan sepintas lalu, yang ia tahu karena sering dilakukan oleh orang tuanya. Tapi sekarang, dengan mukena warna pink, gadis kecil saya benar-benar diajak untuk melakukan itu semua untuk menjadi "habit" dan kebutuhan yang abadi sepanjang hidupnya, rukuk dan sujud, menyembah Tuhannya dan Tuhan seluruh makhluk berikut alam semesta ini. Kami kini melakukan sholat berjamaah.

Betapa saya merasakan berat sekaligus mulianya tugas menjadi orang tua kian menghunjam. Hal itu pula yang membuat saya makin banyak melakukan introspeksi diri. Saya belumlah menjadi orang tua yang bisa diteladani, tapi mau ataupun tidak, ditunda atau dipercepat, tugas sebagai orang tua untuk mendidik anak-anaknya harus ditunaikan. Disebutkan dalam sebuah peribahasa: Anak adalah cerminan orang tuanya. Ya Allah, semoga Engkau memberi hamba dan juga kaum muslimin kekuatan, pengetahuan, dan jiwa yang istiqomah, yang dapat memberi anak-anak kami teladan yang baik untuk bekal hidupnya kelak. Amin.

Minggu, 16 Desember 2007

Tahu dari Mana?


Pagi itu cukup cerah. Sisa-sisa embun masih nampak menghiasi ujung rerumputan. Awalnya tak sengaja saya biarkan rumput-rumput itu tumbuh liar. Alasannya satu, saya belum sempat membersihkannya. Tapi pemandangan yang saya lihat saat membuang sampah, membuat saya bersyukur tak sempat bersih-bersih di halaman depan. Aneka serangga hilir-mudik di antara tangkai-tangkai bunga sawi. Sawi-sawi itu ditanam petani penggarap sawah di depan rumah saya sekitar satu bulan yang lalu. Kini bunga-bunganya yang mulai mekar menarik perhatian serangga penghisap nektar. Lebah madu, tawon penyengat, dan kupu-kupu dengan riang menikmati sajian gratis itu. Bahkan belalang mungkin membuat sarang dengan mudah di antara rerumputan.

Pemandangan yang saya lihat memunculkan ide menarik untuk anak-anak. Saya panggil mereka untuk mengamati aneka serangga itu dari dekat. Supaya bisa melihat detailnya, saya ajak mereka untuk menangkap satu ekor. Dengan lem kayu yang dilekatkan di ujung kayu kecil, kami berhasil menangkap satu ekor tawon. Dia masih hidup. Lalu kami cocokkan dengan gambar tawon yang kami punya. Asyik juga.

Satu hal yang menarik terjadi ketika kami mengembalikan si tawon di ujung bunga sawi. Sayapnya yang lengket terkena lem kami basahi dengan air, hingga akhirnya tawon itu bisa mengepakkan sayapnya lagi. Tiba-tiba Azkia (5 tahun), putri sulung saya berkata dengan ringan, "Itu pasti tawon jantan," katanya.

"Kenapa?" tanya saya
"Kan, memang hanya tawon jantan yang bisa terbang. Tawon betina hidup di tanah. Dia nggak bisa terbang. Tawon betina akan terbang kalau tawon jantan membawanya terbang bersama-sama..." ujarnya lagi panjang lebar.

"Wah, Mama baru tahu. Kakak baca di buku ya?" tanya saya lagi. Saya tak merasa pernah mengajarinya dan saya juga memang belum tahu informasi itu.
"Enggak. Itu, kan ada di CD 'Benih'."
Saya baru ingat kalau anak-anak suka memutar VCD Harun Yahya. Salah satunya memang bercerita tentang asal-usul 'benih'.

Sepenggal cerita itu membuat saya semakin yakin bahwa sesungguhnya anak-anak adalah pembelajar mandiri. Mereka bisa belajar dari apapun yang mereka lihat, dengar, dan rasakan, tanpa orang tua harus menjejali mereka dengan segudang kata atau bergaya sebagai tutor yang menggurui mereka ini dan itu. Minat belajar anak-anak tumbuh alami, dan terpancar lewat rasa ingin tahunya yang tak pernah habis. Setelah mereka menemukan kesenangan dalam belajar, merekalah yang memutuskan akan belajar apa hari ini, sendiri tanpa harus disuruh.

Benar kata Bob Samples, penulis buku Revolusi Belajar untuk Anak, "Kita harus mendekati anak-anak seakan-akan pikiran mereka itu lengkap, utuh, dan berfungsi." Anak-anak pada dasarnya tidak suka digurui, dinilai atau diuji, persis seperti orang dewasa. Cara belajar mereka unik. Hanya saja, kadang-kadang orang dewasa menganggap mereka tak lebih dari makhluk kecil yang tak banyak tahu. Anak-anak sering dipaksa untuk belajar dengan cara yang dianggap baik menurut orang dewasa, padahal belum tentu cara itu membuat mereka suka untuk belajar.

Keep learning, parents!

Minggu, 09 September 2007

Ikut Lomba Mewarnai



Sepulang dari berbelanja jam 7 pagi, hari Minggu kemarin, terdengar pengumuman dari mesjid di dekat rumah kami. Dalam rangka menyambut Ramadhan, remaja mesjid akan mengadakan berbagai lomba untuk anak-anak.

Setiba di rumah, saya ceritakan hal itu pada anak-anak. Azkia lalu berbisik pada saya, "Kakak mau ikut lomba mewarnai". Saya tertawa. Tak disangka, anak saya yang belum dan memang berencana untuk tidak dimasukkan TK ternyata mau ikut lomba. Padahal beberapa orang sering meragukan anak-anak homeschooling dalam bersosialisasi dan berkumpul dengan orang banyak.

"Boleh," saya bilang.
"Sekarang Mama ke mesjid. Daftar dulu".
Wah, Azkia dan juga adiknya senang sekali tampaknya. Luqman malah ikut sibuk mencari pensil warna dan penyerut.

Acaranya dimulai jam 10. kami berangkat sekitar 10 menit sebelumnya.


Rupanya di mesjid sudah banyak sekali anak-anak. Sebagian besar sudah duduk di bangku SD, walau ada juga sih anak-anak usia 4 dan tiga tahun yang ingin ikut meramaikan.

Saya coba menjadi pengamat, bagaimana reaksi dan sikap Azkia dalam situasi ramai seperti itu. Berjaga-jaga juga kalau-kalau dia tiba-tiba merasa nggak nyaman dan ingin pulang.



Azkia mendapat posisi paling belakang, karena sudah agak terlambat. Tapi nampaknya dia enjoyaja. Setelah gambar dibagikan, lomba pun dimulai. Terlihat Azkia mencoba mengamati dulu sekelilingnya, melihat-melihat orang lain memulai kegiatannya. Saya akhirnya berbisik, "Mulai aja. Nggak usah lihat orang lain."

Gambarnya lumayan besar, sehingga anak-anak agak lelah mewarnainya. Azkia juga mulai agak mogok setelah sekitar 15 menit. Dia terlihat pegal karena harus menahan lututnya untuk mewarnai di atas meja (tanpa kursi).

Saya akhirnya bilang, "Kakak boleh tengkurap kok,". Dia pun tengkurap di atas karpet dan terlihat lebih nyaman.

Tak terasa hampir 30 menit berlalu. Azkia selesai mewarnai gambar sebelum waktunya benar-benar habis.

Setelah dibagi snack oleh panitia, kami pun pulang. Menjadi juara atau tidak bukanlah tujuan kami. Azkia pun tak peduli dengan itu kayaknya. Terpenting, dia punya pengalaman baru yang mengasyikkan hari itu.