Tampilkan postingan dengan label LombaBlogDepok 17 Juli – 17 September 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LombaBlogDepok 17 Juli – 17 September 2010. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Juli 2010

Hikmah dari Sebuah Perpustakaan Mini

Tidak terasa, pada tanggal 16 Juli 2010 sudah masuk bulan ke-lima perpustakaan mini yang dikelola Azkia (7 tahun 9 bulan) dibuka. Dengan jadwal buka rutin 2 kali seminggu (RAbu dan Sabtu) perpustakaan ini menjadi ajang latihan praktis buat Azkia mengembangkan beberapa kemampuan dan keterampilan, serta mengenalkan arti sebuah konsistensi secara nyata.

Melalui aktivitas sederhana ini, ada beberapa hal yang sepertinya Azkia sadari memberi nilai plus untuk dirinya, sebagai anak yang tidak bersekolah formal, di antaranya:

1. Karena mau tidak mau dia harus mencatat semua pengembalian dan peminjaman buku, maka otot menulisnya menjadi makin terlatih. Pelajaran penting yang saya rasakan: Karena saya tidak terlalu banyak memberi koreksi dan menilai tulisan dia, ternyata hasilnya justru di luar dugaan. Tulisan Azkia sekarang makin rapi dan bagus.

2. Dia jadi belajar untuk tenang/tidak gugup saat menghadapi antrian para peminjam yang ingin bukunya dicatat. Kadang-kadang, anak-anak yang datang tidaklah sendirian, melainkan berombongan antara 5 - 10 orang. Awalnya Azkia terlihat tegang, tapi sekarang dia enjoy aja dengan hal itu.

3. Mulai tumbuh sikap bertanggung jawab dalam hal ini, karena saya nyaris melepaskan hampir seratus persen tanggung jawab mengurus perpustakaan pada Azkia. Dari mulai merapikan buku-bukunya, mendata bukunya (termasuk jika ada buku baru), sampai mencatat pengembalian dan peminjaman, semua dia yang mengerjakan dengan senang hati. Hari Rabu dan Sabtu menjadi hari penting buat dia, dan dia selalu ingat dengan tanggung jawab itu.

4. Perpustakaan kami tidak memungut biaya peminjaman dan Azkia juga tidak dibayar. Hal itu menjadi sebuah sarana mengenalkan konsep volunteer pada dirinya, sebelum nanti dia berkenalan dengan kegiatan yang bermotif ekonomi ^_^.

5. Perpustakaan membuat Azkia berinteraksi dengan banyak anak dari berbagai usia. Saya kira, hal itu menjadi ajang dia melatih kepercayaan diri dan juga cara berkomunikasi. Apalagi sekarang jumlah anggota perpustakaan sudah mencpai 50-an anak. Saya kira itu bukanlah jumlah yang sedikit.

Hal yang masih belum mulai kami kembangkan adalah memberdayakan perpustakaan mini ini menjadi sekaligus tempat anak-anak (para anggota) menambah keterampilan dan wawasan. Suatu hari nanti, insha Allah akan bergerak ke arah sana.

Selasa, 11 Mei 2010

Makan Ubi, Siapa Takut?

Sekitar 2 tahun yang lalu, saat anak-anak saya, Luqman masih 4 tahun, dan Azkia 6 tahun, saya mencoba memperkenalkan makanan paling mudah olah pada mereka, yaitu ubi kukus. Hasilnya? Mengecewakan. Mereka hanya melihat sekilas, mencicip sedikit, lalu pergi.

Sesaat saya menganggapnya sebagai hal biasa, karena memang mereka tak pernah makan makanan seperti itu sebelumnya. Akan tetapi, setelah saya renungkan lebih jauh, sepertinya hal ini tak hanya sebuah fenomena biasa, tapi juga merupakan tantangan pengasuhan dan pendidikan. Orang Indonesia, orang Sunda lagi. Masak iya nggak mau makan ubi kukus?

Ubi kukus hanyalah satu kasus kecil, tapi yang saya khawatirkan adalah sikap mereka terhadap makanan sederhana seperti ini, yang mungkin melebar ke jenis makanan lain, entah singkong rebus, pisang kukus, urap talas, dll. Tanpa diajari, kemungkinan nantinya mereka akan berpikir bahwa makanan seperti itu tidak layak dijadikan makanan. Maunya roti, biskuit, atau makanan pabrik lainnya. Sungguh saya sangat tak berharap hal itu terjadi.

Walau bagaimanapun, makanan hasil olahan sendiri jauh lebih sehat dibandingkan makanan produksi pabrik, yang pasti memakai pengawet, mungkin memakai pewarna buatan, dan bahan kimia lainnya untuk membuat makanan menarik dan tahan lama.

Selain itu, sebagai orang Indonesia saya berharap, anak-anak harus kenal dan akrab dengan makanan ala Indonesia. Jangan sampai hanya kakinya saja yang menjejak di bumi pertiwi tapi gaya hidupnya jauh dari nilai-nilai ke-Indonesiaan dan justru lebih bangga dengan budaya asing.

Ubi terdepak oleh roti, burger, dan hotdog hanyalah sebuah contoh kecil bahwa anak-anak kini telah terjauhkan dari salah satu produk budaya negerinya sendiri.Betapa banyak hal lain yang sudah tak lagi membawa serta ke-Indonesiaan dalam keseharian anak-anak Indoensia, dari mulai tontonan, mainan, berbahasa, berpakaian, dll. Oh, malangnya Indonesia. Identitasmu tak lagi nampak jelas :(

Kembali ke soal ubi. Akhirnya saya memutuskan untuk memperkenalkan makanan itu lagi dan lagi, dengan memberi mereka contoh bagaimana menikmatinya dan mensyukuri kelezatan alami yang ada di dalamnya. Lega. Tak sampai satu bulan, terapi yang saya lakukan menunjukkan hasilnya. Acara cicip mencicip melebar ke umbi-umbian dan makanan minim olah lainnya, seperti talas kukus, singkong urap, kecipir rebus, kolak labu, dan lain sebagainya. Alhamdulillah, kini mereka mulai akrab dan menyukainya sebagai penganan di sela makanan pokok. Modalnya hanyalah kepercayaan mereka bahwa makanan baru yang diperkenalkan ibunya adalah makanan yang sehat dan tak ada salahnya mereka mencoba.

Sungguh sedih, saat saya mengajak anak-anak berjalan-jalan ke perkampungan di Tanjungsari dan mendatangi beberapa warung kecil, ternyata jajanan anak yang dijual di situ bukan lagi makanan tradisional kayak pisang goreng, kue lapis, jalabria, atau kue apem. Produk yang mereka jual adalah snack buatan pabrik berkemasan yang siap beli dari pasar. Ke-khasan sebuah kampung yang identik dengan kekayaan sumber alam dan kuliner menjadi seolah lenyap. Masyarakat kampung kini hanya menjadi konsumen produk industri tanpa mengimbangi dirinya dengan juga memasarkan produk hasil rumah tangga khas daerah mereka. Semoga ini hanya terjadi di satu atau beberapa kampung dan tidak di semua kampung.

Lanjut ke masalah terapi memperkenalkan makanan minim olah dan makanan tradisional, saya berdoa, mudah-mudahan hal itu juga akan membuat anak-anak menjadi orang yang luwes. Di manapun mereka tinggal, janganlah sampai persoalan makanan menjadi sangat mengganggu. Jangan sampai mereka menjadi anak-anak yang hanya kenal kelezatan yang "direkayasa" manusia dengan bumbu dan aneka proses olah yang rumit. Mereka juga harus kenal kelezatan alami karya cipta Allah Yang Maha Besar, yang tersuguh gratis pada segala jenis bahan makanan hasil bumi.

Mudah-mudahan, dengan mengenal makanan tradisional anak-anak juga terhindar dari sikap mengkastakan makanan. Makanan orang biasa dan makanan orang luar biasa? Meski bagaimanapun kondisi perekonomian keluarga kami, jangan sampai mereka mencitrakan dirinya atau orang lain sebagai orang-orang yang hebat hanya karena mereka makan makanan modern, dan menilai seseorang jadi nggak keren kalau mereka lebih suka makan makanan 'kampung'.

Setiap orang tua punya cara pandang sendiri-sendiri tentang hal ini. Tentunya boleh tidak setuju :)

Sabtu, 12 September 2009

Tokoh Idola Anak-Anak

Saat berumur 3 tahun anak saya Luqman (sekarang 5 tahun) sempat mengidolakan N**uto, karena anak tetangga kami yang sebaya dengannya sering memakai atribut-atribut sang hero itu. Meskipun tidak pernah menonton filmnya di rumah, rupanya sempat sesekali ia ikut menonton saat main ke rumah temannya itu. Akibatnya, ia jadi suka main tembak-tembakan walaupun pura-pura. Keluar pula kata-kata serampangan, "Bodoh! baong!" dan lain sebagainya.

Karena khawatir tokoh itu terus hidup di kepalanya, saya stop acara kunjungan ke rumah tetangga buat anak saya. Ia hanya boleh main di halaman dan tidak boleh main di dalam rumah temannya. Saya coba ganti sosok tokoh idola buat anak saya dengan memberikan jadwal nonton film animasi lain, waktu itu ada Barrenstein Bear di Space Toon. Alhamdulillah berhasil. Ceritanya sangat bagus, tapi sayang kemudian berhenti penayangannya.

Waktupun berlalu, dan sepertinya tokoh idola itu memang selalu dicari oleh anak saya. Entah mengapa, ia pun jadi nge-fans dengan spiderman. Sampai-sampai ia ingin dibelikan baju bergambar sang hero yang satu ini. Bajunya langsung cepat lecek, karena hampir selang sehari langsung dipakai, kecuali kalau dicuci. Secara reflek dia akan bergerak bak pahlawan yang menyerang musuhnya. Tali dan benang terikat ke sana kemari, dari kaki meja ke kursi, dari rak buku ke lemari. Semua menyerupai jaring laba-laba. Saya sering jatuh kalau tanpa sengaja kaki tersandung tali-tali itu.

Spiderman cukup awet mempengaruhi pikiran Luqman hingga beberapa lama, hingga muncul tokoh baru yang ia lihat dari stiker-stiker pemberian seorang teman untuk anak-anak saya. Lelaki gagah, bersayap kain panjang yang menjuntai di punggungnya. Akibat mengidoalakan tokoh itu, kerudung ibunya pun jadi sasaran. Dengan mengikatkan dua ujung kerudung di lehernya, anak saya sudah berubah jadi seorang superman kecil yang berlari dan kadang melompat dari atas meja.

Namun akhir-akhir ini, sejak saya belikan serial kisah nabi-nabi sepertinya tokoh idola anak saya sudah berubah sama sekali. Dia tidak mau lagi disebut spiderman ataupun superman, tak lagi membuat sayap tiruan di punggungnya, ataupun menjalin tali temali di kaki meja. Tokoh panutannya sekarang adalah sosok anak lelaki yang pemberani yang ada dalam kisah nabi dan sahabat.

Tokoh pertama adalah Nabi Daud a.s. Buku berjudul Daud Sang Penakluk, mengisahkan perlawanan Bani Israil yang dipimpin Raja Thalut terhadap kesewenang-wenangan Jalut. Saat itulah hadir Daud kecil menunjukkan keberaniannya melawan Jalut yang bertubuh besar dan kuat, hingga akhirnya Jalut kalah di tangan Daud. Buku ini minta dibacakan hingga berulang-ulang, dan bahkan Luqman berusaha keras membaca sendiri, padahal sebelumnya agak malas melancarkan bacaannya.

Dan tokoh berikutnya yang kini sedang digandrungi Luqman adalah Ali bin Abi Thalib. Berbagai kisah tentang Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kelihatannya banyak mempengaruhi dia. Memang, awal kekaguman Luqman pada tokoh idolanya selalu dimulai dengan kisah heroik. Dalam film Muhammad The Last Prophet yang ditontonnya berulang-ulang, digambarkan tentang Ali kecil yang tidur di ranjang Nabi untuk mengelabui para pemuka Quraisy. Sungguh itu merupakan keberanian yang sangat menakjubkan di mata anak saya. Apalagi sewaktu membaca kisah perobohan benteng khaibar oleh Ali bin Abi Thalib dengan pedang Zulfikar pemberian Nabi, sepertinya, kekaguman itu semakin hari semakin terpatri.

Dan sekarang Luqman jadi lebih rajin ikut shalat berjamaah bareng papanya dan juga kakaknya, padahal biasanya dia bolong-bolong. Seringnya absen untuk ikut sholat. Saat kami tanya kenapa dia jadi rajin sholat, Luqman pun menjawab, "Karena Ade ingin seperti Ali bin Abi Thalib. Ali kan anak yang rajin sholat!".

Rupanya karena kami sering bercerita bahwa Ali bin Abi Thalib sudah ikut sholat bersama Nabi sejak ia masih kecil, anak saya jadi terus memikirkannya dan ingin menirunya juga. Subhanallah! Betapa hebat pengaruh seorang tokoh idola yang hidup di pikiran anak-anak kita.

Walaupun mungkin agak terlambat, karena harus menunggu hingga anak lelaki saya berumur 5 tahun, saya baru mengerti dan menyadari sekarang bahwa kita, para orang tua, sesungguhnya ikut andil dalam menghadirkan tokoh yang akan digandrungi oleh anak-anak kita. Negatif atau positifnya tokoh idola mereka, tergantung dari apa tayangan, bacaan, dan kisah yang kita sajikan buat mereka. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk konsisten memberikan hanya yang baik untuk anak-anak kita. Amin.

Selasa, 21 Juli 2009

Hidup Sederhana

Tingkat perekonomian keluarga yang meningkat biasanya mau tidak mau akan berimbas pada perubahan gaya hidup. Jika sebelumnya selalu menimbang dan memilih dengan selektif apapun yang hendak dibeli, setelah ekonomi meningkat kita jadi sembarangan berbelanja. Tak peduli mahal asalkan kita mau, ya beli saja!

Mengingat keluarga adalah pusat pembentukan karakter dan juga gaya hidup anak-anak, maka sesungguhnya sangat diperlukan konsep yang kuat dalam memilih model perilaku hidup yang akan dijalankan. Anak-anak akan menjadi duplikat orang tuanya dalam model kehidupan, kecuali ada keberuntungan mereka menemukan model sendiri di luar kebiasaan keluarganya.

Hidup sederhana adalah satu model yang menurut saya tak boleh berhenti untuk ditularkan pada anak-anak. Tak peduli kita sedang berekonomi kuat ataupun sedang dan juga lemah, latihlah diri kita dan juga anak-anak untuk tetap sederhana. Sederhana bukanlah berarti menyiksa diri, melainkan berusaha ada di pertengahan. Dengan begitu, kita dan anak-anak akan selalu menikmati hidup, meski di zona ekonomi manapun kita berada.

Contoh kongkret latihan buat anak-anak adalah:

Kebiasaan Makan
Biasakan anak-anak makan makanan buatan sendiri yang sederhana tapi sehat (Mungkin tempe, tahu, telur, dan sayuran), bahkan sesekali ajarilah anak-anak untuk makan makanan seadanya yang tersedia di dapur ketika mereka lapar.

Berpakaian
Sentuhlah jiwa sederhana anak-anak dengan kebiasaan berpakaian yang juga sederhana. Tanamkan rasa percaya diri anak bukan pada pakaian yang berharga mahal, sehingga mereka tak perlu minder dengan pakaian yang mereka kenakan hanya karena harganya murah. Sikap konsumtif salah satunya terlahir dari keinginan untuk berpakaian yang mahal bukan?

Mainan
Mainan disinyalir merupakan item yang cukup menghabiskan dana yang besar dalam memenuhi kebutuhan anak, terlebih kini sedang populer sosialisasi pentingnya mainan edukatif. Harganya bahkan bisa mencapai jutaan rupiah jika berasal dari luar negeri. Orang tua yang permisif, biasanya ikut maunya anak-anak membeli mainan ini dan itu, walaupun harganya menguras isi kantong.

Sesungguhnya mainan edukatif tak selalu harus mahal dan tak selalu pula harus dibeli. Isi rumah kita tak jarang bisa sekaligus menjadi mainan edukatif yang murah. Tak percaya? Contohnya saja perabotan rumah tangga. Kalau di toko mainan ada seperangkat cooking toys, maka mengapa tak pakai saja the real cooking ware yang kita miliki. Kalau perabotannya dalam keadaan bersih, anak-anak bisa juga kok memainkan wajan, panci, piring plastik, sendok, garpu, dll.

Dalam konteks mengajarkan hidup sederhana pada anak-anak, semuanya pada akhirnya akan merangsang kreativitas kita sebagai orang tua dan tanpa sadar akan menular pada anak-anak.

Saya sering secara sengaja "mengamankan" kotak mainan anak-anak ke atas lemari. Hasilnya, setelah mereka sedikit kelimpungan pada awalnya, tapi kemudian otot kreatif mereka sepertinya mulai bekerja. Mereka akan ambil selotip, spidol, kertas-kertas, cari gunting, cari kardus bekas atau botol-botol bekas air mineral, cari benang, dan lain-lain. Lalu mereka sibuk mengoprek semua itu hingga jadi sesuatu yang bisa dimainkan. Setelah diperhatikan, nyatanya mereka bisa lebih asyik dengan alat bermain yang mereka ciptakan sendiri.

Hidup sederhana itu sebenarnya indah buat mereka yang menghayatinya. Saya sendiri berharap anak-anak bisa merasakan indahnya hidup sederhana. Karena itulah saya berusaha mengajari mereka untuk memiliki sikap itu sedari mereka kecil.

Salam pendidikan!