Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Kewirausahaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Kewirausahaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Februari 2011

Fransiscus Terapkan Kewirausahaan

Pendidikan Lampost : Senin, 7 Februari 2011

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Seluruh sekolah di bawah naungan Yayasan Dwi Bakti Bandar Lampung atau yang dikenal dengan Sekolah Fransiskus menerapkan pendidikan kewirausahaan mulai dari SD hingga SMA.

Ketua Yayasan Dwi Bakti Bandar Lampung Sr. M. Lusie mengatakan pendidikan kewirausahaan sebagai bentuk konkret pengembangan kurikulum 2006 yang selama ini telah digunakan sekolah. Selain itu, untuk mengubah cara pandang agar siswa tidak hanya bergantung pada usaha mencari lapangan kerja, tapi menciptakan lapangan kerja.

Menurut dia, pendidikan kewirausahaan yang akan dikembangkan tidak semata-mata melatih siswa menjadi pengusaha atau pedagang, sebagaimana yang dipahami masyarakat secara umum. Tetapi melatih siswa untuk memiliki kebiasaan menciptakan dan berinovasi serta melihat peluang untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai.

Landasan pendidikan berbasis kewirausahaan adalah pembentukan sikap belajar yang berdasarkan kebiasaan mencipta dan berinovasi. "Untuk itulah para kepsek dan guru di bawah Yayasan Dwi Bakti Bandar Lampung telah diberi pelatihan pendidikan entrepreneurship," ujar dia akhir pekan ini.

Sementara itu, Kepala SMA Fransiskus Bandar Lampung Sr. M. Pauli, F.S.G.M. menjelaskan penerapan pendidikan entrepreneurship juga sebagai bentuk keprihatinan akan makin rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dan banyaknya penganggur di Tanah Air. Untuk itu Yayasan Dwi Bakti Bandar Lampung terpanggil guna memajukan dunia pendidikan dengan menciptakan seorang wirausahawan melalui kurikulum sekolah. "Dengan demikian nantinya diharapkan sekolah-sekolah di bawah Yayasan Dwi Bakti Bandar Lampung menciptakan siswa yang mampu menciptakan peluang dengan multiketerampilan," ujar dia didampingi Ign. Budi Ruswanto.

Penerapannya, siswa tidak saja sekadar belajar mengenai pengetahuan, tetapi juga menggabungkan keterampilan dan pembangunan karakter sebagai satu keutuhan yang dikemas dalam berbagai proyek. (AST/S-1)

Jumat, 24 Desember 2010

STERS BISA DIMANFAATKAN UNTUK MEMACU PRESTASI

Pendidikan Lampost : Jum'at, 24 Desember 2010


BANDAR LAMPUNG (Lampost): Anda stres? Jangan panik karena pada tingkatan tertentu bisa memberi peran positif bagi pencapaian prestasi seseorang, termasuk dalam berwirausaha.

Demikian pemaparan Bambang dalam Seminar Kewirausahaan di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Lampung, di aula Gedung G lantai II kampus setempat, Kamis (23-12).

"Stres merupakan kondisi ketegangan psikologis yang memengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi personal seseorang yang mengalaminya," kata salah satu staf pengajar di STKIP PGRI itu.

Namun, menurut Bambang, kondisi stres dengan kadar tertentu itulah yang justru dapat memacu seseorang untuk bertindak dan mencoba mengubah keadaan tidak nyaman yang dihadapinya.

"Stres dapat mendorong orang untuk berusaha dan bekerja keras mempertemukan apa yang sesungguhnya diinginkannya dengan keadaan yang dialami olehnya," ujarnya.

Mengutip seorang pakar manajemen Higginus, Bambang mengatakan bila karyawan tidak memiliki stres, tantangan kerja berarti tidak ada. Hal ini akan berimplikasi pada rendahnya prestasi yang bersangkutan dalam bekerja.

"Makin tinggi stres seseorang karena tantangan kerja yang dihadapi mengakibatkan prestasi kerja yang bertambah. Namun jika stres sudah maksimal, tantangan kerja jangan ditambah karena berakibat menurunnya prestasi kerja," kata dia.

Demikian pemaparan Bambang di hadapan sekitar 250 mahasiswa STKIP. Ia memotivasi para mahasiswa agar tidak takut terhadap stres, termasuk ketegangan dalam memulai sebuah usaha.

Pendidikan kewirausahaan ini diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STKIP PGRI Lampung. Selain menghadirkan akademisi, seminar ini juga mendatangkan beberapa praktisi, di antaranya Sukendar, pengelola usaha briket, dan Nazamudin, penemu sumber listrik dengan pemanfaatan gravitasi sebagai sumber energi.

Sukendar mengatakan agar mahasiswa STKIP jangan terpaku pada profesi menjadi pegawai negeri atau menjadi guru. "Meski kalian dididik sebagai guru, luangkan waktu kalian untuk berpikir kreatif dan produktif," kata dia.

Ia menuturkan modal utama untuk berwirausaha adalah pola pikir kreatif dalam menghasilkan ide-ide. Kemudian mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. "Mulailah dari apa yang kalian gemari atau gandrungi."

Selanjutnya, kata Sukendar, adalah kemampuan untuk membaca peluang yang ada serta kemandirian dan keberanian untuk mengambil risiko. "Tidak selama sebuah usaha itu bermula dari modal besar. Awalilah dari me-manage hal yang kecil," kata dia.

Sementara itu, Nazamudin mencoba memperkenalkan metode pengembangan kewirausahaannya dengan metode telur kolombus. Telur kolombus adalah pola pikir untuk menetaskan ide-ide baru dan mencoba keluar dari apa yang dipikirkan banyak orang.

Kebiasaan untuk berproses secara kreatif, menurut Nazamudin, akan membawa mahasiswa pada sebuah ide yang memiliki nilai jual. "Proses kreatif memproduksi ide, ide menghasilkan ide baru lagi, akan bermuara pada telur kolombus," ujarnya.

"Kita coba padukan antara pandangan akademisi dan pandangan dari praktisi dalam memotivasi mahasiswa untu berwirausaha. Kombinasi keduanya diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi mahasiswa peserta seminar ini," kata Deni Renald, selaku ketua pelaksana. (MG14/S-1)

Senin, 20 Desember 2010

KEWIRAUSAHAAN : Perguruan Tinggi Sumbang Pengangguran

Pendidikan Lampost : Senin, 20 Desember 2010


BANDAR LAMPUNG (Lampost): Sumbangan alumni perguruan tinggi pada angka pengangguran masih cukup tinggi. Untuk itu, pendidikan kewirausahaan secara komprehensip perlu dikembangkan.

Demikian dipaparkan Ketua Program Pendidikan Kewirausahaan Politeknik Negeri Lampung Beni Hidayat, di sela-sela Lokakarya Program Kewirausahaan Politeknik Negeri Lampung (Polinela) di kampus setempat, Sabtu (19-12).

"Menurut Data BPS, angka pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 10,8%—11,0%, juga merupakan alumni perguruan tinggi yang semakin sulit mendapatkan pekerjaan karena tidak banyak terjadi ekspansi usaha," kata dia.

Beni mengatakan sumbangan terhadap angka pengangguran dari alumni perguruan tinggi didukung kenyataan sebagian besar lulusan perguruan tinggi sebagai pencari kerja (job seeker) dan bukan sebagai pencipta lapangan pekerjaan (job creator).

Berangkat dari hal itu, di seluruh perguruan tinggi, termasuk Politeknik Negeri Lampung, sejak beberapa tahun terakhir digalakkan berbagai program kewirausahaan yang bermuara pada upaya penciptaan wirausaha baru alumni perguruan tinggi.

"Berdasar hasil evaluasi, masukan dari berbagai pihak, pengalaman, maupun kegagalan pelaksanaan berbagai program pendidikan kewirausahaan di Politeknik Negeri Lampung, sejak tahun 2008, program kewirausahaan bagi mahasiswa di Politeknik Negeri Lampung dikemas dalam paket yang bersifat komprehensif," kata dia.

Pendidikan kewirausahaan secara komperhensip di Polinela, menurut dia, dimulai dari kegiatan pembekalan bagi mahasiswa dalam bentuk pelatihan-pelatihan, pemberian motivasi, dan magang; seleksi proposal usaha, pemberian bantuan modal usaha; diikuti dengan proses pendampingan, monitoring, dan evaluasi secara kontinu.

"Dalam bahasa ringkasnya pendidikan kewirausahaan tidak cukup hanya dalam bentuk pelatihan/teori/dan pemberian motivasi tetapi dilanjutkan juga dengan kegiatan magang-seleksi-beri modal-dampingi dan awasi," kata dia.

Beni mengatakan hasil evaluasi menunjukkan aplikasi pelaksanaan pendidikan kewirausahaan dalam bentuk seperti di atas terbukti mampu menghasilkan wirausaha-wirausaha muda dan usaha-usaha baru yang mampu dan siap untuk dikembangkan lebih lanjut.

"Secara total sejak tahun 2008 hingga saat ini telah terdapat 65 usaha baru yang dikelola mahasiswa/alumni Politeknik Negeri Lampung yang tersebar di berbagai wilayah di Provinsi Lampung, dengan total bantuan dana yang telah digulirkan hingga akhir tahun 2010 sebesar Rp1 miliar," kata dia. (MG14/S-2)