Tampilkan postingan dengan label resensi buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi buku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Februari 2011

Pendidikan Kemandirian Bangsa

Membaca Jejak Paus Teknologi Indonesia

RESENSI BUKU BARU

JEJAK PEMIKIRAN BJ. HABIBIE. PERADABAN TEKNOLOGI UNTUK KEMANDIRIAN BANGSA


Judul buku : Jejak Pemikiran B.J. Habibi; Peradaban Teknologi untuk Kemandirian Bangsa

Editor : Andi Makmur Makka

Cetakan : 1, 2010

Penerbit : Mizan Pustaka

Tebal : 350 Halaman

SEJAK B.J. Habibi dilantik sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (1978), banyak terjadi perubahan fundamental pada kegiatan penelitian-penelitian di Indonesia. Penelitian diarahkannya agar lebih terfokus untuk menghasilkan teknologi yang diterapkan bagi pembangunan. Awal tahun 1983 lahir gagasan Habibie tentang konsep transformasi industri nasional. Gagasan ini muncul pertama pada ceramah umum di Bandung, yang kemudian resmi dipublikasikan pada 14 juni 1983 di Bonn, Jerman, dengan judul Beberapa pemikiran tentang strategi transformasi industri suatu negara sedang berkembang.

Habibie mambangun konsep transformasi industri dengan "mulai dari akhir dan berakhir di awal". Artinya, bahwa akhir berarti tahap akhir dari suatu proses penahapan secara evolutif pengembangan produk teknologi yang secara klasik telah ditempuh oleh industri negara-negara maju, proses mulai dari tahap awal berupa penelitian dasar sampai dengan tahap akhir berupa perakitan dan pemasaran produk. Jadi, konsep Habibie berupa proses transformasi teknologi nasional dimulai dari perakitan dan pemasaran produk untuk dan kembali untuk pengembangan dan inovasi produk industri.

Dalam transformasi ini, Habibie membuat tahapan yang disebut satuan mikro evolutif yang dipercepat atau micro accelerated evolution unit (MAEU). Ia sering menggelorakan pembaruan terhadap teknologi dengan slogannya, "Kita tidak bisa membuat sebuah penemuan ulang suatu teknologi yang sudah lama ditemukan bangsa lain, karena kita akan tertinggal."

Pemikiran dasar Habibie untuk membangun teknologi Indonesia, terwujud dalam empat tahap penting. Pertama, pemasaran produk dengan pemasaran jaringan produk support atau "purnajual" sampai jumlah tertentu yang memungkinkan memproduksi produk tersebut. Kedua, produksi dengan lisensi, dimulai dengan mengembangkan jaringan "pengendalian dan pengamanan mutu" atau quality control and quality assurance dengan penekanan biaya dan peningkatan kualitas produk.

Ketiga, pengembangan teknologi dengan memanfaatkan disiplin Ilmu Pengetahuan Terapan atau applied science yang tepat dan berguna untuk menciptakan produk baru. Keempat, melaksanakan riset dalam ilmu dasar dan ilmu terapan yang biasanya dilaksanakan di universitas atau lembaga penelitian atas beban pemerintah.

Karya nyata dari proses yang digambarkan Habibie tepat dan dapat dibuktikan dengan Proyek Pembangunan Industri Dirgantara IPTN dan Prasarananya di Puspiptek, ITB, dan IPTN. Proses tahap pertama dan kedua termanifestasi dalam CASA 212, CN-235. Tahap kedua, untuk N-250 dan N-2130. Tahap ketiga, dilaksanakan di IPTN untuk N-250 dan N-2130. Terakhir, dilaksanakan di IPTN, Puspiptek, BPPT, LIPI, ITB, dan sebagainya. Meskipun memakan waktu seperempat abad, karya nyata dapat diberikan Bangsa Indonesia dengan terbang perdananya N-250 pada 10 Agustus 1995.

Di antara pemikiran Habibie yang menonjol adalah gagasan link & match. Sebuah usaha menciptakan sinergi antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan praktis dunia industri. Dari ide itu, ia berhasil menciptakan sinergi IPTN dengan ITB Bandung dalam teknologi Dirgantara, PT PAL Surabaya bersinergi dengan ITS Surabaya dalam bidang perkapalan dan kelautan. Institut dan Teknologi Indonesia (ITI) Serpong, bersinergi dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek). Semua ini adalah upaya agar lembaga penelitian dan perguruan tinggi sebagai mitra usaha, dapat mempercepat difusi kemajuan teknologi serta kemampuan inovasi.

Salah satu pasal dalam hidup Habibie, bahwa iptek pada gilirannya dapat selalu berada pada posisi strategis dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Habibie juga merealisasikan gagasan “kota berbasis ilmu pengetahuan atau science based city (SBC)” untuk meningkatkan kemitraan antara Puspiptek dengan lembaga iptek di luar Puspiptek. Begitu pula science based industrian park (SBIP), dirancang untuk meningkatkan kemitraan Puspiptek dengan sektor swasta (industri) guna mengatasi masalah industri dalam pengembangan inovasi.

Buku yang ditulis oleh seorang negarawan dan "paus" teknologi ini, merupakan hasil refleksi, kajian, serta gambaran mengenai potensi teknologi yang dapat digunakan bagi kemajuan, serta upaya kemandirian bangsa. Pembaca dapat lebih paham mengenai pemikiran serta kontribusi B.J. Habibie terhadap peradaban teknologi di Indonesia. Sesungguhnya teknologi mempunyai posisi dan peran yang strategis bagi suatu bangsa, apabila teknologi tersebut dimanfaatkan secara efektif dan efisien.

Poin penting yang ditekankan Habibie, ia ingin mengembangkan kekayaan Indonesia yang paling berharga, yaitu sumber daya manusia yang terbarukan. Untuk mengembangkan keterampilan SDM, mereka tidak cukup hanya disosialisasikan ke dalam proses-proses padat karya, tetepi juga harus diperkenalkan dengan proses-proses produksi yang berteknologi tinggi.

F. Hasan, Pegiat Pers Paradigma UIN Sunan Kalijaga

Sumber: Lampung Post, Minggu, 30 Januari 2011

Kamis, 11 November 2010

Mengolah Kertas Bekas Menjadi Barang Berguna

Mengolah kertas bekas menjadi barang yang berguna. Ide tersebut sudah lama bersemi. Makin berkembang setelah membeli buku kreativitas berikut ini dan ikut acara ibu PKK RW.













Setelah saya search di google, ternyata sudah banyak yang mengaplikasikan ide Pak Rubiyar ini. Bahkan tak sedikit yang bisa menjadi lahan pekerjaan, membangkitkan ekonomi kerakyatan. Salah satunya bisa dilihat di sini www.suaramedia.com.

Kami di rumah juga telah mencoba menggabungkan inspirasi dari buku Kreasi Kertas Koran ini dengan kreativitas kami sendiri. Mau melihat hasilnya? Ini dia:















Teknik dasarnya adalah melipat kertas bekas (baik HVS ataupun koran) menjadi lipatan memanjang sehingga mirip dengan irisan bambu tipis yang biasa dipakai sebagai bahan baku anyaman, melinting koran sehingga menyerupai tali tambang, membuat kepangan seperti kepangan rambut (bisa dengan 3 helai atau 4 helai kertas yang sudah digunting seperti pita lebar).

Bahan pendukung selain kertas bekas sangatlah sederhana. Hanya berupa lem putih FOX (supaya lebih kuat), lem tembak (glue gun), dan pewarna makanan atau pelitur berbahan campuran air. Alatnya cukup gunting dan kuas.

Banyak benda bisa dibuat dari bahan kertas bekas ini. Secara bertahap insha Allah saya share di blog ini untuk bahan membuat prakarya bersama anak-anak. ATAU silakan beli buku Pak Rubiyar. Kreativitas lainnya akan mengalir dengan sendirinya. ^_^



Senin, 03 Mei 2010

Review Buku: Anakku Tidak (Mau) Sekolah

Anakku Tidak (Mau) Sekolah,
Jangan Takut – Cobalah Home Schooling!


Penulis : Maria Magdalena
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 208 hlm.
Tahun terbit : 2010


Great!
Mungkin itu kata yang paling tepat untuk mengungkapkan secara singkat tentang buku ini. Setelah banyak buku tentang home schooling diterbitkan, baik yang ditulis oleh praktisi maupun pemerhati home schooling, bisa saya katakan, buku ini lebih transparan menggambarkan latar belakang dan praktik nyata sehari-hari seorang praktisi home-education/home schooling.

Meski setiap keluarga home-ed memiliki ciri khas yang berbeda-beda, namun apa yang digambarkan penulis dalam buku ini setidaknya akan menjadi contoh bagaimana realitas umum sebuah keluarga home-ed/schooler. Mereka, dengan segala kelebihan dan kekurangannya mencoba untuk memberikan yang terbaik untuk pendidikan anak-anaknya dengan cara yang sedikit berbeda dari kebanyakan orang.

Satu dari banyak hal menarik yang saya temukan pada buku ini adalah kejujuran penulis untuk mengungkapkan proses yang penulis jalani layaknya bayi dalam menempuh fase motoriknya. Mereka merayap, merangkak, dan terus beranjak mencapai kemajuan dengan banyak belajar dari kesalahan dan bersemangat untuk memperbaiki hal-hal yang kurang.

Inilah ungkapan yang sangat saya suka dari buku Mbak Maria Magdalena, “ Waktu itu saya belum memahami bahwa sebaiknya anak dipandang dari kompetensi dan keunikannya, bukan pada kemampuannya berkompetisi atau menyamakannya dengan teman sebayanya. Lagipula, lebih memandang kompetisi akan membuat kita terjebak pada ketidakpedulian akan kebahagiaan anak serta terjebak dalam pemikiran yang lebih mementingkan hasil daripada proses.” (hlm. 30-31)

Dengan sebuah kesadaran bahwa tak ada orang tua yang sempurna, dan demikian juga setiap anak punya kekurangan dibalik kelebihannya, penulis mencoba meyakinkan pembacanya, bahwa sesungguhnya tak perlu takut untuk mencoba meski kemudian salah, dan tak perlu patah semangat hanya karena belum berhasil. Maju terus! Dengan belajar semuanya akan berubah menjadi lebih baik.

Pengalaman penulis dalam belajar mengatur waktu antara mendampingi anak, bekerja (di rumah) untuk kebutuhan ekonomi, aktualisasi diri dengan berkarya dan bermasyarakat, serta berkomunitas, juga dapat menjadi inspirasi bagi para ibu yang berniat menjalankan home-education/home schooling. Jempol 2 buat buat Mbak Maria untuk upaya kerasnya.

O’ya, karena buku ini lebih banyak berbasis pengalaman daripada teori, pembaca juga bisa mengetahui langsung bagaimana pengaturan biaya dalam menjalankan home-education. Terlebih jika bergabung dengan komunitas praktisi home-ed, baik di dunia maya maupun support grup di dunia nyata, orang tua home-ed akan mendapatkan banyak informasi tentang sumber pembelajaran yang murah tapi bermutu. Tentunya, karena tak semua peminat home-ed memiliki dana banyak untuk membayar fasilitas dan kurikulum yang mahal-mahal.

Pada akhirnya, saya menyimpulkan buku ini sangat layak dibaca oleh peminat home-education/schooling untuk memperoleh gambaran (bagaimana memulai, seperti apa tingkat kesulitan, tingkat manfaat, dan kemudahan-kemudahan home-ed). Dan buku ini juga bagus dibaca oleh mereka yang sudah menjalankan home-ed untuk memperkaya inspirasi.

Jadi, cermati baik-baik cover bukunya. Hapalkan judulnya, dan ingat nama penulisnya. Anda tak tak rugi membeli buku ini. Happy hunting! ^_^

Senin, 22 Februari 2010

Entrepreneur Organik, Kemandirian Yang Diperjuangkan

Menjalankan HE (Home-Education) bersama anak-anak bukanlah sebuah keputusan sesaat bagi kami. Ada banyak sekali pemikiran, perenungan panjang, dan pertimbangan beresiko yang harus dilalui. Sampai akhirnya yakin bahwa tidak bersekolah formal (setidaknya sampai pendidikan dasar) adalah pilihan terbaik buat anak-anak kami, faktor pendorongnya adalah karena kami ingin menancapkan benih-benih kemandirian lebih awal pada mereka. Biarlah anak-anak belajar hal lain secara autodidak, tapi tidak dalam mengenal agama dan kemandirian. Mereka harus mendapatkan perlakuan, pendidikan, dan nilai-nilai kemandirian secara sengaja.

Mengapa saya menceritakan hal ini untuk mengawali resensi tentang buku Entrepreneur Organik? Karena prinsip-prinsip yang dijalankan oleh KH. Fuad Affandi, sebagai tokoh sentral buku ini, merupakan manifestasi kongkret dari apa yang kami pikirkan tentang kemandirian. Meski berlatarkan daerah pertanian dan dunia pertanian, isi buku ini juga mencakup banyak hal tentang pola pikir dan pola tindak seorang pembelajar mandiri.

Bercerminkan pengalaman hidupnya yang penuh warna perjuangan, Pak Fuad menilai, anak-anak yang terlalu dimanja akan berakibat fatal di kemudian hari. "Sobek baju, 'Mamah!'. sobek celana 'papah!', pusing kepala, 'nenek!', nggak punya uang jajan, 'Embah!'. Hal itu terus menjadi sebuah budaya sistemik hingga ke tingkat pemerintahan dan negara.

Bangsa kita kurang mau 'berlumpur-lumpur' dan bekerja keras untuk bangkit dari keterpurukan. Sebuah kritiknya membuat saya ketawa sendiri, "RT menyandar ke RW memakai proposal, RW menyandar ke lurah, lurah nyandar ke camat, camat nyandar ke bupati, bupati ke gubernur, gubernur ke presiden, akhirnya presiden nyandar ke IMF. Mau dewasa kapan orang ini?"

Beliau termasuk orang yang percaya bahwa pendidikan formal bukanlah satu-satunya tempat untuk mencari ilmu. Tak perlu putus harapan hanya karena tidak bersekolah formal, karena menurutnya, ilmu itu ada di mana-mana bahkan di dalam selokan, jika kita memang mau belajar.

Keberanian Pak Kiai memangkas budaya feodal yang membuat kasta-kasta tersamar di sebuah institusi pesantren juga membuat saya kagum. Beliau itu tipe orang yang sangat merakyat. Bahkan anak dan cucunya dilarang keras menyuruh-nyuruh para santrinya dan bersikap merasa lebih tinggi hanya karena menjadi anak Pak Kiai. Beliau juga seorang pembaca buku lintas mazhab, agama, dan budaya. Wajar saja, kalau kemudian sikap beliau menjadi sangat toleran dan tidak memilih-milah orang berdasarkan perbedaan tersebut dalam bergaul, bekerja sama, dan mencari serta berbagi ilmu.

Perjuangan KH. Fuad untuk meningkatkan taraf hidup petani yang selama ini identik dengan kelas masyarakat miskin dan bodoh membuat saya terhubung dengan mimpi kecil saya. Beliau adalah salah seorang praktisi pertanian yang sangat yakin, bahwa bidang pertanian adalah bidang yang tak boleh mati, karena dari situlah kelangsungan hidup manusia SALAH SATUNYA dijamin.

Pak Fuad berkelakar, "Dari tukang becak sampai presiden semua adalah konsumen produksi pertanian. Tak pernah ada cerita, akibat krisis moneter, orang-orang eksekutif lalu beralih makan besi baja. Tak mungkin karyawan pabrik mobil yang cekak gajinya lalu makan onderdil. Sekalipun krisis tetap saja mereka akan mengkoinsumsi hasil pertanian."

Mungkin karena itu pula-lah Pak Fuad bermimpi bisa mendirikan sekolah pertanian, sehingga tidak terputus regenerasi petani yang mencintai pekerjaan dan peranannya. Dan beliau berharap, sekolah pertanian yang didirikan itu nantinya, adalah sebuah sekolah yang menghubungkan teori dan praktik sekaligus dan bukan hanya melulu teori tapi jauh dari praktik.

Sungguh banyak sekali tinjauan yang bisa diserap dari buku Entrepreneur Organik. Kesemuanya itu, menggambarkan keluasan wawasan Pak Kiai dalam memandang persoalan kemasyarakatan dan juga keagamaan, serta pendidikan.

Tak akan rugi membaca buku ini walau harganya agak mahal karena ketebalannya dan juga kualitas isinya juga sesuai :) Saya tidak bekerja sama dengan penerbit Nuansa Cendikia untuk menulis sekilas testimoni tentang buku ini. Saya hanya ingin berbagi dengan teman-teman yang senang dengan tema kemandirian. Happy Reading!

Judul: Entrepreneur Organik
Penulis: Faiz Manshur
Penerbit: Nuansa Cendikia
Hlm: 392 hlmn

Kamis, 04 Oktober 2007

Kekuatan Pikiran dalam Pengasuhan Anak

Masa kecil adalah masa pembentukan konsep-konsep diri, citra diri, dan kecenderungan-kecenderungan pada manusia. Diakui atau tidak, perbedaan karakter, kebiasaan, selera, dan terlebih persepsi-persepsi kita tentang kehidupan dipengaruhi oleh masa kecil kita. Ajaibnya, semua itu dibentuk bukan lewat tutorial, melainkan diawali oleh pikiran dan persepsi orang tua atas anak-anaknya. Tak percaya?

Sebuah buku berjudul Mind Power for Children yang ditulis oleh John Kehoe dan Nancy Fischer menjelaskan tentang hal tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami. Buku setebal 201 halaman ini diterbitkan oleh penerbit Think Yogyakarta.

Persepsi kita terhadap anak-anak ternyata sangat besar pengaruhnya terhadap cara kita memperlakukan mereka dan cara kita berbicara atau bersikap terhadap mereka, dan hal itu pun akan menular pada anak-anak tanpa kita sadari.

Bayangkan ketika kita sedang merasa kesal pada anak-anak saat mereka membuat gaduh. Wajah kita berubah kusut, suara kita menjadi sedikit tegang, dan mungkin meledak jika tak sempat terkontrol. Lalu apa yang mungkin dipikirkan anak-anak tentang kita dengan sikap tersebut? Yakinlah mereka pun akan merasakan ketidaknyamanan itu secara otomatis.

Pada bagian awal buku ini dikatakan, "Pikiran adalah kekuatan paling dahsyat. Begitu pula dalam dunia anak. Segala bentuk pikiran yang terlintas dalam pikiran mereka setiap hari akan mempengaruhi semua aspek kehidupan mereka. Sikap, pilihan, kepribadian dan siapa mereka sebagai individu, adalah produk dari pikiran-pikiran tersebut."

Kekuatan Kata-Kata
Ketika kita sekolah dulu, mungkin pernah mendengar istilah diksi (pilihan kata). Ternyata, hal itu sangat penting diperhatikan dalam mengarahkan pikiran kita dan anak-anak.

Kata-kata adalah lukisan verbal dari pikiran dan perasaan. Kesan yang ditangkap anak-anak dari kata-kata yang kita ucapkan akan diolah sedemikian rupa oleh otak mereka.

Satu hal yang menarik, anak-anak ternyata akan lebih fokus pada kata terakhir yang mereka dengar daripada uraian kata di awal kalimat, betapapun penting dan panjangnya kata-kata pada awal kalimat tersebut.

Beberapa waktu lalu kami sekeluarga pergi mengunjungi kerabat di Jakarta. Di dalam bis kami lihat seorang ibu menggendong anaknya yang masih berusia kurang lebih satu tahun. Anak itu nampak manis dalam gendongan ibunya, sampai kemudian sang ibu berkata pada anaknya, "Ade, jangan rewel ya, jangan nangis!" Ajaibnya, tak lama kemudian anak itu malah merengek-rengek dan bahkan menangis keras tanpa alasan yang jelas.

Saya dan suami senyum-senyum. Ya, teori tentang efek kata terakhir pada anak ternyata benar-benar terbukti. Kalimat yang diucapkan si ibu adalah kalimat negatif, "Jangan rewel!" namun kesan paling dalam yang didengar anak ternyata terletak pada kata terakhir yaitu 'rewel".

Lawan dari kalimat negatif adalah kalimat positif. Mempergunakan kalimat positif akan mengarahkan pikiran kita pada apa yang kita inginkan, sedangkan kalimat negatif mengarahkan pikiran pada apa yang tidak kita inginkan.

Misalnya kalimat, "Saya tak mau gagal lagi." Itu adalah kalimat negatif yang lebih mungkin dipersepsi pikiran kita menjadi "gagal lagi". Namun sesungguhnya kalimat itu bisa berubah postif jika pilihan kata yang kita gunakan adalah, "Kali ini saya akan berhasil".

Mengajarkan Pikiran Positif pada Anak
Melatih anak untuk berpikir positif juga diawali dengan melatih mereka untuk mempergunakan kalimat positif dan menghindari kalimat negatif.

Bagaimana menjelaskan tentang perbedaan pikiran negatif dan positif pada anak-anak menurut penulis buku ini adalah dengan membuat perumpamaan. Pikiran itu ibarat taman. Pikiran positif itu adalah bunga yang membuat kita senang ketika melihatnya, sedangkan pikiran negatif adalah rumput liar yang membuat bunga terlihat kacau dan kita yang melihatnya merasa terganggu. Supaya bunga tumbuh dengan baik, maka sesering mungkin kita harus menyingkirkan rumput liar yang ada di sekelilingnya.

Kekuatan Afirmasi
Beragam hal dalam kehidupan anak-anak terkait pertemanan, persepsi diri, kemampuan-kemampuan intelektual, ataupun optimisme pribadi erat hubungannya dengan bagaimana mereka memikirkan itu semua.

Afirmasi adalah cara paling mudah untuk mengarahkan pikiran dan bahkan keadaan yang negatif menjadi positif. Sebuah penggalan cerita berikut akan menjelaskan hal itu:

Ketika Charles, anak laki-lakiku sakit, ia pergi ke dokter karena kutil yang sangat sakit, berakar di dalam kakinya. Dia dijadwalkan akan diobati dengan mencabut kutil itu seminggu kemudian. Tetapi ketika hari itu tiba, Charles mengatakan kepadaku bahwa kutil itu hampir hilang. Ketika mengeceknya. aku melihat memang benar demikian dan meminta dokter agar membatalkan janjinya. Ketika aku bertanya kepada Charles apa yang telah dia lakukan, dia mengatakan kepadaku bahwa setiap pagi dia melihat kakinya dan berkata, "kakiku bertambah baik dan baik setiap hari." Dia telah menggunakan teknik afirmasi untuk menyembuhkan penyakitnya.

Anda boleh percaya, boleh juga tidak. Namun tak ada salahnya kan menyimak buku ini, untuk menyumbangkan suplemen positif bagi pikiran kita.

Minggu, 05 Agustus 2007

Bersekolah di Gerbong Kereta


Totto-chan berhenti melangkah ketika melihat gerbang sekolah baru itu. Gerbang sekolahnya yang dulu terbuat dari pilar-pilar beton yang halus. Nama sekolah tertera di sana dengan huruf-huruf besar. Tapi gerbang sekolah baru ini hanya terdiri atas dua batang kayu yang tidak terlalu tinggi. Kedua batang itu masih ditumbuhi ranting dan daun. Ini tumbuh,” kata Totto-chan. “Mungkin akan terus tumbuh sampai lebih tinggi dari tiang telepon!”. Kedua “tiang gerbang” itu memang pohon hidup, lengkap dengan akar-akarnya. Ketika berjalan mendekati tiang-tiang tersebut, Totto-chan harus memiringkan kepalanya untuk membaca nama sekolah, karena papan namanya terpasang miring akibat tertiup angin. “To-mo-e Ga-ku-en”.

Penggalan cerita di atas adalah hasil goresan pena Tetsuko Kuroyanagi dalam bukunya berjudul Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela. Sebuah buku yang mengangkat kisah nyata sang penulis semasa kecil, dengan kenangan-kenangan manis, lucu, sekaligus mengharukan selama ia bersekolah di gerbong kereta. Buku ini menorehkan sejarah baru dalam dunia penerbitan di Negeri Jepang karena mampu terjual hingga 4,5 juta eksemplar dalam setahun.

Buku setebal 271 halaman yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama ini sangat menarik untuk dikaji, mengingat kegiatan bersekolah yang kita temui hari ini ternyata sudah semakin jauh dari kata “menyenangkan”. Belajar di sekolah seringkali hanya menjadi sebuah beban, yang kebanyakan motifnya lebih karena dipaksakan.

Sosaku Kobayasi, sang kepala sekolah tempat Totto-chan belajar adalah figur dari seorang konseptor pendidikan yang maju. Ia mencoba memahami anak-anak sedemikian rupa, sehingga lahirlah gagasan-gagasan pembelajaran yang mampu menghidupkan naluri belajar setiap anak sampai pada taraf kecintaan pada belajar itu sendiri. Anak-anak selalu antusias belajar tanpa harus didorong oleh motivasi supaya mendapat nilai tinggi atau lulus dalam ujian.

Gerbong Kereta yang Penuh Kejutan

Totto-chan adalah murid baru di Tomoe. Sebelum bersekolah di Tomoe, Totto-chan dianggap sebagai anak nakal. Ia selalu nampak melamun di kelas, namun kadang-kadang asyik mengobrol dengan sepasang burung walet ketika gurunya sedang mengajar. Sering ia berdiri di depan jendela untuk memanggil para pemusik jalanan memainkan alat musiknya. Berkali-kali gurunya terpaksa menghentikan sementara kegiatan belajar sampai para pemusik jalanan itu selesai bermain, karena anak-anak lain di kelasnya juga berebut menuju jendela untuk melihat tontonan itu. Akibat perilaku-perilakunya yang dianggap mengacaukan kelas, Totto-chan akhirnya dikeluarkan dari sekolah pertamanya itu.

Hal yang berbeda justru terjadi di Tomoe. Sekolah yang dibuat dari gerbong kereta ini, telah membuat Totto-chan yang mulanya dianggap “bermasalah” justru bisa menjadi begitu manis. Gadis kecil itu selalu bersemangat untuk belajar setiap hari, bahkan ia selalu merasa waktu berputar terlalu lama di malam hari. Ia ingin hari segera pagi supaya bisa secepatnya pergi ke sekolah.

Mengapa Totto-chan senang dengan sekolah barunya? Rupanya hal itu bukanlah sebuah kebetulan. Setiap hari di Tomoe Gakuen, gadis itu selalu mendapatkan banyak kejutan. Anak-anak selalu menemukan pelajaran-pelajaran baru yang disajikan dengan cara yang mengasyikan dan merangsang rasa ingin tahu. Tak heran jika setiap murid Tomoe akhirnya memendam rasa penasaran ketika sekolah usai. Dalam hati mereka selalu bertanya, kejutan apa lagi yang akan mereka temui esok hari?


Berorientasi pada Praktek
“Inilah guru kalian hari ini. Dia akan mengajarkan banyak hal kepada kalian.” Dengan kata-kata itu, kepala sekolah memperkenalkan seorang guru baru. Totto-chan mengamati guru itu dengan seksama. Kesan pertamanya, guru itu tidak berpakaian seperti guru. Di luar kaus dalamnya ia mengenakan kemeja lengan pendek bermotif garis-garis. Dia tidak berdasi dan lehernya berkalung handuk. Celana panjangnya terbuat dari kain katun celup warna biru. Pipa celananya sempit dan penuh tambalan.. di kepalanya bertengger topi jerami yang sudah usang…”

Mr. Kobayashi sering mengabaikan hal-hal yang bersifat formal demi pembelajaran yang lebih bermakna bagi murid-muridnya. Itulah yang ia lakukan ketika ia hendak memberikan pelajaran tentang pertanian. Ia tak segan memilih seorang petani tulen yang mungkin tak pernah kenal bangku sekolah untuk menjadi guru bagi murid-murid di Tomoe dalam ilmu pertanian. Ia berpendapat bahwa akan lebih baik bagi anak-anak jika mereka belajar dengan langsung mempraktekkannya.

Sang guru pun segera mengajar di lapangan, di sebuah lahan berumput, agar anak-anak bisa melihat dan melakukan langsung tahapan-tahapan dalam bertani, dari mulai membersihkan rumput liar hingga menanam, menyiram, memupuk, dan memelihara tanaman yang tumbuh. Bagi anak-anak pengalaman itu sangat menakjubkan dan membuat mereka benar-benar bersemangat untuk mengamati setiap perubahan dan pertumbuhan dari tanaman yang telah ditanam. Satu hal lainnya yang terjadi karena kegiatan itu, anak-anak belajar menghargai siapapun yang memberikan ilmu kepada mereka sekalipun guru itu bukanlah seorang lulusan akademi yang berijazah.

Ketika pelajaran musik berlangsung, Mr. Kobayashi mempersilakan anak-anak untuk mempergunakan lantai kelas-gerbong mereka, yang dilapisi kayu, untuk dijadikan “kertas”. Dengan mempergunakan kapur, sambil tengkurap di lantai gerbong, anak-anak belajar menuliskan not yang dimainkan Mr. Kobayashi lewat piano. Jika ternyata masih salah, mereka dengan segera bisa menghapusnya. Sisa waktu yang mereka miliki sebelum jam pelajaran musik usai juga bisa dipergunakan untuk corat-coret bebas. Pelajaran ditutup dengan kegiatan bergotong royong menghapus semua coretan, mempergunakan kain pel yang sudah tersedia di sekolah.

Siapa sangka, kegiatan corat-coret itu ternyata berdampak sangat positif bagi anak-anak ketika mereka berada di luar sekolah. Secara berangsur-angsur, puasnya mereka melakukan corat-coret di sekolah membuat mereka tak lagi berminat untuk mencorat-coret sembarangan di dinding bangunan orang lain.

Melejitkan Rasa Percaya Diri
Bagaimana jadinya jika seorang anak ternyata terlahir cacat atau mengalami kecelakaan sehingga ia terpaksa menjadi anak cacat? Tidak banyak sekolah umum yang mampu melayani kekhususan mereka sehingga anak-anak itu tetap merasa berarti di tengah-tengah kawan-kawannya yang bertubuh normal.

Sosaku Kobayashi sangat peduli pada kondisi psikis anak-anak, terlebih pada anak-anak dengan keadaan khusus. Ia menciptakan situasi sekolah yang secara tidak langsung telah menumbuhkan rasa percaya diri pada murid-muridnya. Ia menunjukkan kepada semua anak, termasuk anak-anak cacat, bahwa mereka itu sama. Bentuk fisik anak-anak yang beraneka macam bukanlah halangan untuk belajar, dan bukan pula ukuran untuk menilai seseorang. Ia menekankan pada murid-muridnya bahwa setiap anak memiliki keistimewaan.

Hal itu ditunjukkan pada sebuah festival yang diselenggarakan sekolah. Pada waktu itu dibuatlah berbagai lomba ketangkasan. Uniknya, pemenang pertama dari semua lomba itu selalu sama, yaitu seorang anak yang bertubuh paling kecil dan pendek. Ia mampu memenangkan perlombaan justru karena tubuhnya yang khusus. Ternyata Mr. Kobayashi sengaja membuat permainan-permainan yang memungkinan anak itu untuk menang, dengan harapan perasaan minder yang menghantuinya bisa memudar.

Sosaku Kobayashi bahkan pernah menegur dengan keras seorang guru di Tomoe karena sang guru mengucapkan kata-kata yang menyinggung ketidaknormalan seorang muridnya di depan murid-murid yang lain. Tidak ada yang mampu melakukan semua itu, melainkan orang yang sangat peduli dan sangat mencintai murid-muridnya.

Ruang untuk Rasa Ingin Tahu
Sekolah sering disebut-sebut sebagai tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan. Sayangnya, tak banyak sekolah yang memberi ruang cukup bagi murid-muridnya untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka.

Tentu saja akan begitu, karena waktu yang tersedia di sekolah jauh lebih sedikit dibandingkan target materi dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin berhamburan di otak murid-muridnya yang berjumlah puluhan.

Uniknya, Tomoe mampu memberikan ruang itu bagi setiap muridnya. Anak-anak di Tomoe boleh memilih apa yang ingin dipelajarinya terlebih dahulu, sesuai dengan minat mereka.

Ketika pelajaran dimulai di pagi hari, guru menyiapkan daftar pertanyaan mengenai apa yang akan diajarkan pada hari itu. Guru akan mempersilakan anak-anak untuk memilih pelajaran apa yang akan mereka pelajari terlebih dahulu. Setiap anak boleh memilih pelajaran yang berbeda. Anak-anak yang ingin belajar fisika segera sibuk dengan tabung-tabung percobaan dan mencatat hasil temuan mereka.
Anak-anak yang suka mengarang, mereka sibuk menulis sesuatu. Sementara itu, anak-anak yang ingin belajar biologi, mereka asyik mengidentifikasi tumbuhan atau hewan.

Anak-anak itu begitu antusias dan jelas tidak khawatir kalau rasa penasaran mereka akan terjegal oleh pilihan topik yang ditetapkan guru, sebagaimana umumnya kita temui di sekolah biasa.
Setiap anak akhirnya belajar secara mandiri. Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing tanpa harus saling mengganggu. Sebagian ada yang menggambar, dan yang lainnya mungkin membaca buku.

Guru akan mendatangi setiap anak jika diminta, dan menjelaskan segala hal yang diperlukan hingga anak itu benar-benar mengerti.

Inspirasi untuk Perubahan
Buku, yang edisi terjemahannya di Indonesia sudah mencapai cetakan kesebelas pada September 2006 ini, telah memberikan inspirasi bagi para pendidik di negeri Jepang untuk membuat perubahan-perubahan yang lebih baik dalam pembelajaran di sekolah. Buku ini bahkan dijadikan bacaan wajib bagi para guru, terutama pada pelajaran pertanian, musik, dan para guru di sekolah luar biasa.

Pada saat orang-orang Jepang merasa jemu dengan sistem pendidikan yang berlaku pada waktu itu, mereka seperti disegarkan oleh model sekolah ala Totto-chan yang dirancang Sosaku Kobayashi. Bagi siapa saja yang membutuhkan inspirasi untuk menciptakan model sekolah yang lebih dinamis, mutlak perlu membaca buku ini.