Tampilkan postingan dengan label Sekolah Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah Alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Januari 2011

Sekolah Alam Kembangkan PBL

Pendidikan Lampost : Senin, 10 Januari 2011

KURIKULUM

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Menarik minat siswa SMP agar betah berada di kelas, Sekolah Alam Lampung mengembangkan pembelajaran dengan pendekatan project based learning (PBL). Pembelajaran ini menekankan kemampuan kritis dan analisis siswa.

Pada semester I di kelas VII, siswa diajak berlajar biotechnology project. Yakni, pengenalan pertanian organik mulai dari proses pengolahan lahan, membuat media tanam kompos dari rerumputan, bertanam sayuran bayam hijau dan merah, serta penerapan sistem vertikultur yakni bertanam dengan bertingkat yang berguna bagi kondisi lahan yang sempit. Demikian rilis yang diterima Lampung Post, Minggu (9-1).

Pola pembelajaran semacam ini menjadi menarik. Sebab, kemasan pembelajaran dibuat menyenangkan bagi siswa. Agar tidak bosan dilakukan kunjungan (outing) untuk melihat langsung para praktisi. Kunjungan dilakukan ke Politenik Negeri Lampung (Polnela), kebun hidroponik, pabrik kompos. Bahkan siswa magang di salah satu kebun hidroponik di Bandar Lampung.

"Dengan demikian, pembelajaran yang dilakukan dapat membuka wawasan siswa yang tidak hanya pada pelajaran dan materi saja," kata Julia, salah satu anggota tim jurnalis Sekolah Alam Lampung.

Di sekolah, siswa bertanam sebagai bentuk kepedulian terhadap lahan yang ada sekaligus program yang dilakukan setiap kelas. Kelas VII menanam bayam di lahan dan sawi di green house secara vertikultur.

Pada semester I, siswa bisa dua kali panen untuk bayam dan sekali untuk sawi. Tidak hanya sebatas panen. Mereka juga membuat olahan dari apa yang telah mereka tanam.

Seperti biskuit popeye, yang merupakan produk olahan bayam yang dibuat oleh siswa. Selain itu ada juga minuman Naca yang mereka kombinasikan dengan nanas dan sawi. Olahan ini dijual saat market day yang dilakukan di akhir tahun 2010, tepatnya saat hari Ibu, 22 Desember 2010. "Untungnya lumayan,” kata Shabrina dan Indah, keduanya merupakan pembuat biskuit popeye. (UNI/S-1)

Sabtu, 01 Januari 2011

Sekolah Alam Makin Banyak Peminatnya

Laporan wartawan KOMPAS Ester Lince Napitupulu
Kamis, 9 Juli 2009


Ilustrasi: Orangtua yang sadar mengenai pendidikan yang bisa memberi keleluasaan untuk bereksplorasi serta pengembangan minat dan bakat anak mulai memilih sekolah alam. Citra sekolah alam, yang tadinya dianggap sekolah "aneh" karena ruangan kelasnya hanya saung-saung, kini mulai berubah.




JAKARTA, KOMPAS.com — Sekolah alam yang menawarkan pendidikan yang ramah lingkungan dan menghargai potensi individu berkembang pesat serta diminati masyarakat. Di sekolah alam pendidikan tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik anak.

Sejumlah pimpinan sekolah alam, Rabu (8/7), mengatakan, orangtua yang sadar mengenai pendidikan yang bisa memberi keleluasaan untuk bereksplorasi serta pengembangan minat dan bakat anak mulai memilih sekolah alam. Citra sekolah alam, yang tadinya dianggap sekolah ”aneh” karena ruangan kelasnya hanya saung-saung, kini mulai berubah.

”Kepedulian orangtua dan masyarakat soal alam belakangan ini semakin tumbuh. Awalnya banyak keraguan dari orangtua karena pendidikan yang ditawarkan tidak seperti sekolah umum,” kata Principal Sekolah Alam Bogor Agus Gusnul Yakin.

Ketika dibuka tahun 2002, sekolah ini hanya memiliki 27 siswa. Sekarang jumlahnya mencapai 350 siswa. Bahkan, tahun depan akan dibuka level SMP.

Meskipun mulai diminati orangtua, setiap kelas hanya diisi 24 siswa dengan dua guru. Kondisi itu bertujuan untuk bisa memberikan layanan pendidikan yang lebih bisa mengembangkan potensi individu anak.

”Kami yakin, sekolah alam bisa jadi mainstream dalam pengembangan sekolah Indonesia ke depan,” kata Agus.

Pelajaran menyenangkan

Laila Sari, Kepala Sekolah Alam Medan Raya, di Deli Serdang, Sumatera Utara, mengatakan, awalnya sekolah ini hanya untuk anak-anak tidak mampu yang disponsori sebuah lembaga amil zakat. Namun, kehadiran sekolah itu mulai menarik minat orangtua dari kalangan yang mampu secara ekonomi.

”Pembelajaran tetap mengacu pada kurikulum nasional. Namun, guru memperkayanya dengan sumber-sumber lain dengan metode pembelajaran yang menyenangkan. Belajar anak-anak itu istilahnya ’mendarah daging’ karena mereka selalu diajak mengalaminya secara nyata di alam,” kata Laila.

Ketika sekolah alam itu membuka paket Holiday In Action untuk anak-anak umum selama liburan, ternyata minat masyarakat cukup tinggi. Akhirnya, program itu dibuka setiap bulan supaya siswa umum bisa merasakan pembelajaran ala sekolah alam Medan Raya.

Loula Maretta dari Green Education mengatakan bahwa pengembangan sekolah-sekolah, terutama milik pemerintah, lebih banyak pada hal-hal fisik. Pengembangan Sekolah Standar Nasional atau Sekolah Bertaraf Internasional, misalnya, lebih direpotkan pada tersedianya bangunan-bangunan fisik daripada mutu guru dan proses belajar yang menyenangkan.

”Orangtua sekarang banyak yang merindukan pendidikan alternatif yang tidak hanya fokus ke akademik. Pendidikan memang mestinya mengembangkan multi-intelegensia tiap anak,” ujarnya.

Sekolah Alam Ajarkan Belajar Nyata di Alam

Laporan wartawan KOMPAS Ester Lince Napitupulu

Jumat, 10 Juli 2009






Ilustrasi: Kegiatan berkebun, beternak, atau bersawah menjadi cara yang lazim digunakan di sekolah alam. Anak-anak yang senang bermain dan memiliki rasa ingin tahu bisa belajar banyak dari kegiatan yang tidak lepas dari alam itu.





JAKARTA, KOMPAS.com — Sekolah alam memiliki konsep untuk mengajak anak-anak berinteraksi langsung dengan alam dan memanfaatkan alam sebagai sumber belajar setiap harinya. Pembelajaran tak lagi abstrak bagi siswa karena mereka dapat langsung menerapkannya dengan media belajar yang ada di alam.



”Alam bisa menjadi sumber pengetahuan yang baik bagi anak-anak. Generasi muda kita mesti bisa mengeksplorasi alam sebagai sumber belajar dan sumber ekonomi untuk kesejahteraan bangsa dengan tetap menjaga keseimbangan alam,” kata Lendo Novo, penggagas sekolah alam, di Jakarta, Kamis (9/7).



Interaksi dengan alam itu bukan hanya dirasakan dari lingkungan sekolah yang luas dan asri karena ditumbuhi dengan beragam pepohonan dan bangunan kelas yang ramah lingkungan. Yang terpenting justru bagaimana guru bisa mentransfer ilmu pengetahuan, membentuk karakter, mengajarkan berbagai keterampilan hidup, dan kewirausahaan lewat kegiatan-kegiatan bernuansa alam.



Sekolah alam umumnya adalah sekolah formal, ada yang dari playgroup hingga SMA. Pembelajaran tetap mengacu pada kurikulum nasional, tetapi dikembangkan lagi untuk bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan komprehensif untuk pengembangan minat, bakat, dan potensi setiap anak.



Terintegrasi

Di sekolah alam pembelajaran dilaksanakan secara tematik dengan memanfaatkan media belajar yang tersedia di alam di sekitar sekolah. Pelajaran-pelajaran yang mesti dikuasai siswa tidak diajarkan secara terpisah-pisah, tetapi terintegrasi di dalam tema yang sudah dibuat.



Kegiatan berkebun, beternak, atau bersawah menjadi cara yang lazim digunakan di sekolah alam. Anak-anak yang senang bermain dan memiliki rasa ingin tahu bisa belajar banyak dari kegiatan yang tidak lepas dari alam itu.



Untuk belajar menghitung, misalnya, siswa diajak untuk menanam cabai di lingkungan sekolah. Ketika panen, siswa bisa menghitung cabai untuk mengenal konsep satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan. Mereka bisa mengenal satuan berat dengan menimbang hasil panen cabai.



Kewirausahaan pun diajarkan dengan mengajak anak-anak memperkirakan harga jual cabai serta menghitung kerugian atau keuntungan yang diperoleh dari harga jual yang ditetapkan. Dalam proses menanam cabai, anak-anak pun dapat belajar sains tentang pertumbuhan. Mereka juga bisa belajar bahasa saat diminta untuk menceritakan atau menuliskan pengalaman bertanam cabai.



Pembentukan karakter bisa dilakukan dengan mengajarkan anak-anak disiplin untuk tidak membuang sampah dan memilah sampah, memelihara tumbuhan di sekolah, dan bekerja sama dengan teman-teman. Fasilitas outbond yang ada di sekolah juga bisa jadi sumber belajar pembentukan karakter dan kepemimpinan yang menyenangkan bagi anak-anak.



Sulthon Amien, Ketua Badan Pembina Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya, Jawa Timur, menjelaskan, pembelajaran dilakukan dengan memahami betul alam anak-anak yang senang bermain. Anak diberi ruang untuk berekspresi dan bereksplorasi.



Belajar juga dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari sehingga efektif dan menyenangkan buat anak-anak.

Di Sekolah Alam Guru adalah Teman



Kamis, 30 Juli 2009 | 10:04 WIB
LASTI KURNIA/HARIAN KOMPAS

Ilustrasi: "Dalam sekolah alam ini kami mempunyai metode bahwa guru bukanlah dewa yang harus disembah murid, guru adalah teman sehingga para murid tidak sungkan-sungkan terhadap gurunya," kata Eko.


BANDUNG, KOMPAS.com - Guna menekankan siswa memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, Sekolah Alam Bandung mengajarkan siswanya agar dapat berinteraksi langsung dengan alam.

"Banyak sekali kegiatan pembelajaran terkait lingkungan, di antaranya para siswa diajak menanam tanaman dan memelihara hewan ternak," kata Eko Kurnianto, Ketua Yayasan Sekolah Alam Bandung, Kamis (30/7).

Selain itu, para siswa diajarkan mengelola sampah dengan baik dan benar dengan cara menjadikan pupuk kompos. Selain itu, mereka juga mengajarkan agar siswa tidak membuang sampah sembarangan.

Menurutnya, walaupun lebih terfokus pada lingkungan, sekolah yang didirikan sejak awal 2001 ini tetap mengajarkan mata pelajaran umum seperti Matametika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, serta Ilmu Pengetahuan Alam.

Selain itu, sekolah ini juga memunyai tiga kurikulum khas yaitu kurikulum akhlak meliputi keimanan, ibadah, Al-quran, sikap hidup, serta interaksi dengan alam. Kurikulum sikap ilmiah dan Falsafah Ilmu Pengetahuan meliputi bahasa, sains, daya pikir, daya kreasi, dan seni. Sementara kurikulum untuk leadership skill meliputi outward bound, pendidikan jasmani, kewirausahaan, serta sosial kemasyarakatan.

"Dalam sekolah alam ini kami mempunyai metode bahwa guru bukanlah dewa yang harus disembah murid, guru adalah teman sehingga para murid tidak sungkan-sungkan terhadap gurunya," kata Eko.

Saat ini, Sekolah Alam Bandung memiliki 35 tenaga pengajar terdiri dari guru tetap dan guru bantu dalam kegiatan alam seperti outward bound. Sementara itu, para siswanya berjumlah 174 siswa, yang terbagi dalam 19 siswa TK, 142 siswa SD, serta 13 siswa SMP.

Di Sekolah Alam siswa Tak Sekedar Tahu




JAKARTA, KOMPAS.com — Metode belajar-mengajar di Sekolah Alam Cikeas berbeda dengan metode sekolah pada umumnya. Direktur Sekolah Alam Cikeas Loula Maretta mengatakan, di sekolah tersebut, siswa diajarkan untuk dapat memahami dan menerapkan teori dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar mengetahui teori.


Kalau sekolah negeri, dari enggak tahu, menjadi tahu. Kalau sekolah alam, diaplikasikan dalam perilaku. Anak sekolah alam tahu bagaimana membuat kincir angin.
-- Loula Maretta


"Beda outcome-nya, berubah menjadi perilaku. Kalau sekolah negeri, dari enggak tahu, menjadi tahu. Kalau sekolah alam, diaplikasikan dalam perilaku. Anak sekolah alam tahu bagaimana membuat kincir angin," kata Loula, ditemui di Sekolah Alam Cikeas, Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/12/2010).

Metode belajar sekolah alam yang mengintegrasikan metode visual, audio, dan kinetik itu, lanjut Loula, dapat meningkatkan kemampuan otak anak.

"Kalau di-scan, volume otak anak mengembang," katanya.

Dengan metode belajar sambil bermain di tengah alam terbuka, siswa sekolah alam, menurut Loula, memiliki rasa ingin tahu lebih tinggi dari siswa sekolah biasa. Mereka juga lebih peduli terhadap sesama dan lebih kreatif.

Selain itu, kemampuan wirausaha anak-anak didik juga dilatih. Contohnya, siswa diajarkan cara meningkatkan harga jual barang dengan mempercantik kemasan barang tersebut.

"Mereka juga kalau mau piknik uangnya enggak boleh minta orangtua. Mereka harus kerja dulu, nanem sayur," kata Loula.

Saat ini, Sekolah Alam Cikeas yang dikelola Loula memiliki 350 siswa. Mereka terbagi dalam 10 kelas sekolah dasar, 4 kelas taman kanak-kanak, dan 1 kelas playgroup.

Kelas tempat anak sekolah alam belajar tidak berbentuk gedung. Siswa sekolah alam belajar di rumah-rumah panggung yang terbuka, tidak membutuhkan pendingin ruangan atau lampu.

Selain belajar di kelas, mereka juga belajar di arena outbond yang tersedia, di arena perkebunan, persawahan, atau kandang ternak yang juga dibangun di arena sekolah seluas 2,5 hektar itu. Proses belajar mengajar lebih banyak menggunakan bahasa Inggris.

"Ada guru native-nya juga, bule," kata Loula.

Mengenai biaya pendidikan, Loula mengatakan bahwa pihaknya menyesuaikan biaya pendidikan dengan kemampuan orangtua siswa.

"Ada yang Rp 100.000, Rp 200.000, Rp 500.000, sampai Rp 700.000 juga ada," ujarnya.

Bahkan, pihak sekolah menyediakan fasilitas bebas biaya untuk dua anak kurang beruntung di setiap kelas. Meskipun tidak mengenakan seragam, kata Loula, kesenjangan sosial tidak terjadi di lingkungan sekolah alam.

"Justru mereka bisa saling berbagi. Bagi makan siang, bagi sarapan," katanya.

Arena Sekolah Alam Cikeas yang semula merupakan ladang lengkuas itu pun terbuka untuk umum. Anak-anak penduduk sekitar sekolah sering bermain di arena sekolah meskipun mereka bukan siswa sekolah alam.

"Boleh, banyak kok yang main-main, masuk," imbuh Loula.