Tampilkan postingan dengan label Olimpiade. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olimpiade. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Desember 2010

CUCU HABIBIE DAPAT MEDALI DI KONTES MATEMATIKA DUNIA

Republika OnLine » Kamis, 15 Juli 2010

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Tim Indonesia yang terdiri dari siswa sekolah dasar (SD) berhasil meraih medali emas kategori beregu dan medali perak individu pada ajang '13th Po Leung Kuk Primary Mathematics Wold Contest (PMWC)' di Hongkong. Salah satu siswa SD yang mendapat medali itu adalah cucu Mantan Presiden BJ Habibie.

Empat siswa peraih medali perak tersebut adalah Nicholas Steven Husada (SD Universal Jakarta), Rezky Arizaputra (SD Al Azhar Rawamangun), Stanley Orlando (SD Santa Ursula Jakarta Pusat), dan Agasha Kareef Ratam (SD Al Izhar Pondok Labu), cucu Habibie.

Direktur Pembinaan TK/SD Kementerian Pendidikan Nasional, Mudjito, menyampaikan tim Indonesia berada di group Yellow bersama-sama dengan Cina, Hongkong, Taiwan, dan Singapura. Negara-negara ini, kata dia, merupakan saingan kuat Indonesia.

"Alhamdulillah kami mendapatkan emas yang sangat prestisius dan itu diperoleh oleh anak-anak Indonesia," ujar Mudjito di Bandara Soekarno Hatta, Rabu (14/7) sore.

Tahun ini adalah keempat kalinya Indonesia mengikuti PMWC. Kontes diikuti oleh 14 negara, yakni Bulgaria, Cina, Hongkong, India, Indonesia, Malaysia, Makau, Filiphina, Rusia, Singapura, Afrika Selatan, Taiwan, Thailand, dan Amerika Serikat. Peserta terdiri atas 44 tim (176 siswa). Kontes ini diperuntukkan bagi siswa sampai dengan grade sembilan (SD-SMP).

Agasha, si cucu Habibie itu merasa bangga dapat medali perak. Dia mengaku menyukai pelajaran Matematika yang dianggap sulit oleh sebagian siswa. "Saya suka matematika karena soal-soalnya menarik dan menantang," kata siswa yang mendapat nilai Ujian Akhir Sekolah 28,35 itu.

Meski berhasil mendapat medali perak, Agasha mengakui sempat kesulitan dalam menghadapi soal-soal di ajang olimpade yang diikuti oleh 14 negara itu. Dia mengungkapkan kunci keberhasilannya adalah tekun belajar dan meningkatkan ketelitian dalam mengerjakan soal. “Selain belajar, aku berusaha untuk lebih teliti saja dalam mengerjakan soal,” imbuhnya.

Ashoya, ibunda Agasha, mengaku sangat takjub dengan prestasi anak semata wayangnya. Namun, awalnya dia sempat merasa khawatir anaknya tidak mampu mengiktui ajang olimpiade matematika internasional itu. “Saya benar-benar tidak menyangka dengan perstasi Agasha,” katanya.

Agasha juga telah mengoleksi dua medali emas dan tiga medali perak di ajang olimpiade matematika hingga saat ini. Nantinya, Aghasa bercita-cita menjadi peneliti seperti James Watt.

OLIMPIADE PENELITIAN REMAJA GAIRAHKAN BUDAYA MENELITI

Republika OnLine

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Sebanyak 95 siswa SMP/MTs dan SMA/MA mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia Kedua (OPSI) 2010. Kegiatan olimpiade itu dimaksudkan untuk menggairahkan budaya meneliti di kalangan pelajar.

''Olimpiade ini untuk membangun budaya penasaran intelektual, belum masuk pada sasaran profit (keuntungan),'' ujar Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh, usai membuka OPSI 2010 di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Rabu (6/10).

Melalui kegiatan OPSI itu, kata Mendiknas, para siswa akan dilatih membuat proposal penelitian yang baik dan benar sejak di bangku sekolah. Nantinya budaya kebiasaan meneliti itu diharapkan dapat terus berkembang ketika mereka ke perguruan tinggi. ''Dengan meneliti, membantu pelajar berfikir secara kritis untuk memecahkan suatu permasalahan,'' jelasnya.

Pasalnya, imbuh Mendiknas, di Indonesia banyak pelajar yang pintar namun belum mampu pada tataran kritis pada suatu permasalahan. Baik itu menyangkut sosial maupun sains. Karena, pelajar yang kritis akan mencari tahu solusi dari permasalahan yang ada dan berfikir kreatif sesuai bidang pendidikannya.

Pada penyelenggaraan OPSI tahun ini, hasil penelitian yang dibuat pelajar SMP dan SMA meliputi tiga bidang, yakni ilmu sains dasar, sains terapan, ilmu pengetahuan sosial, dan humaniora. Bidang sains dasar meliputi matematika, fisika, kimia, dan biologi. Bidang sains terapan meliputi ekologi, mesin dan elektronika, informatika, kesehatan, dan pertanian.

Bdang ilmu sosial meliputi sosioliogi, antropologi, psikologi, ekonomi, dan manajemen. Sementara bidang humaniora meliputi sejarah, bahasa dan kesusastraan, pendidikan, dan budaya.
''Lima belas tahun lagi kami harapkan para pelajar ini dapat menjadi peneliti profesional,'' kata Mendiknas.

Kepala Sub Direktorat Kesiswaan Kemdiknas, Mukhlis Catio mengatakan, kegiatan OPSI adalah kegiatan berskala nasional yang penting. Karena, orientasi OPSI ke depan adalah untuk olimpiade penelitian tingkat internasional.