Minggu, 07 September 2008

Cara Lain Membuat Playdough

Beberapa waktu lalu saya sempat memposting cara membuat lilin mainan atau playdough. Akan tetapi, ternyata cara saya itu kurang efisien, karena daya tahannya hanya bisa 1 minggu maksimal. Ada cara lain yang membuat playdough buatan kita bisa tahan lebih lama sampai 1 bulan. Ini dia resep dan cara membuatnya.....


Bahan

- Tepung terigu 200 gram (yang kualitasnya tidak terlalu bagus)
- Garam 1 cangkir
- 1 - 2 gelas air
- 2 sendok minyak goreng
- Pewarna makanan


Cara membuatnya
- Campurkan tepung dengan air, aduk sampai rata
- Masukkan garam dan minyak goreng
- Panaskan adonan di atas kompor dengan api kecil sampai kental dan kalis (tidak lengket di panci)
- Setelah dingin pisahkan gumpalan adonan menjadi beberapa bagian
- Warnai setiap bagian dengan warna berbeda
- Nah, playdough siap digunakan.
- Simpan kembali playdough di lemari es setelah dipakai. Gunakan wadah tertutup supaya adonan tidak tertetesi air.

Selamat mencoba!


Kamis, 04 September 2008

End of Year Mathematics Test for Elementary School (SD)

End of Year Mathematics Test for Elementary School (SD) that's mean soal latihan akhir tahun untuk SD is special provide from BSE (Electronic Book School) from Indonesian Education Ministry.at embed object below we can learn and practice mathematics major for elemntary school begin with geometry test, basic arithmetic, basic statistical like bar diagram, ball diagram, averages, basic shape of

Selasa, 02 September 2008

Kurikulum Tentang Obat dan Kesehatan

Suatu pagi saya membaca sebuah berita di salah satu koran terbitan Bandung, tentang jaminan kesehatan untuk rakyat miskin yang kini agak semakin sulit didapat. Terpajanglah foto antrian para pasien GAKIN yang penuh sesak di loket administrasi sebuah rumah sakit. Sebuah potret yang pasti juga akrab kita saksikan jika kita sesekali menyambangi rumah sakit pemerintah untuk menengok kerabat atau mungkin ada anggota keluarga kita yang dirawat di sana.

Di luar konteks bahwa memang ada strata sosial yang berlaku di sebuah lembaga pengobatan resmi, saya pikir masalah lainnya yang juga penting adalah paradigma masyarakat tentang obat dan kesehatan. Beberapa pertanyaan cukup mengganggu pikiran saya, di antaranya adalah: Tak adakah cara lain untuk mengobati sebuah penyakit selain ke rumah sakit, sehingga orang terkategori pasien miskin rela mengantri susah payah, harus pula membawa beberapa lembar surat, untuk sebuah diagnosis dan resep obat?

Malah dengan adanya tambahan persyaratan untuk askeskin, peluang untuk memperoleh pelayanan kesehatan di rumah sakit pun kian menyempit. Jika pun bisa, banyak hal yang harus dikorbankan, di mana salah satunya adalah waktu yang diulur. Tak jarang ada banyak pasien tak tertolong jiwanya hanya karena keterlambatan birokrasi di bagian administrasi.

Namun, tanpa harus menunggu jawaban mereka, saya bisa menebak jawabannya apa: Yaitu, karena mereka dan pada umumnya masyarakat bahkan mungkin termasuk kita, tidak mengerti bagaimana mendeteksi sebuah penyakit dan apa yang bisa dijadikan obat.

Ilmu Kesehatan
Kesehatan adalah bidang yang terpenting ke-dua setelah pangan atau pertanian. Mengapa begitu? Pasti kita tahu, karena hal itu terkait dengan jiwa manusia. Sayangnya, justru ilmu tentang kesehatan justru menjadi bidang yang eksklusif, yang hanya bisa dipelajari oleh orang-orang yang bersekolah di bidang kesehatan, entah itu kedokteran, kebidanan, ataupun keperawatan. Sebuah sekolah yang biayanya juga tak mungkin dijangkau oleh orang-orang "kebanyakan".

Jika kesehatan dianggap sebagai bidang yang penting bagi masyarakat, semestinya hal itu disosialisaikan dan diajarkan sejak seseorang mulai menempuh pendidikan, baik formal, informal, maupun nonformal.

Setidaknya, setiap orang tahu bagaimana menjaga kesehatan mereka dan tahu alternatif-alternatif obat yang bisa mereka usahakan jika tindakan medis modern tidak bisa dijalani karena mahalnya biaya berobat.

Obat-Obatan Alami
Banyak harapan bisa disandarkan pada obat-obatan dari bahan alami. Namun tantangannya lagi-lagi adalah paradigma dan juga pengetahuan. Kalau kita selalu berpikir bahwa sesuatu yang dinamakan obat adalah pil, kapsul, atau cairan dari rumah sakit atau dokter, dan selain itu tak bisa dijadikan obat, maka hal itu akan mensugesti pikiran kita setiap kali kita sakit. Selain itu, kenyataannya, pengetahuan tentang resep-resep pengobatan alami dari warisan orang-orang tua dulu tidak diwarisi oleh generasi sekarang.

Banyak tanaman yang tumbuh di sekitar tempat tinggal kita bisa dijadikan obat, bahkan untuk penyakit-penyakit berat. Namun karena ketidaktahuan kita, tanaman itu mungkin akan kita basmi habis karena dianggap mengganggu. Sebagai gantinya, kita pun kembali menyambangi rumah-sakit yang penuh sesak untuk mendapatkan obat saat kita sakit.

Ironis sekali jika kemiskinan menjadi dalih kita tak bisa sehat karena mahalnya biaya berobat ke rumah sakit, padahal di halaman rumah kita ada obat mujarab yang bisa kita peroleh secara gratis. Semua hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan.

Lebih dari itu, budaya instan yang sudah menghinggapi hampir seluruh masyarakat hingga ke pedesaan. Hal itu menyebabkan kegiatan meracik obat dari bahan alami kurang diminati. Memang sangat wajar, karena dengan obat pabrik kita hanya cukup membuka bungkusnya lalu meminumnya, sedangkan obat-obatan alami membutuhkan beberapa tahapan proses yang tak semua orang telaten untuk melakukannya.

Sejak Dini
Tak kenal maka tak sayang. Ajari anak-anak kita sejak dini dengan pengetahuan tentang kesehatan, tentang obat-obatan hasil alam yang sudah dianugerahkan Allah pada manusia. Dengan begitu, mudah-mudahan ragam penghambat penggunaan obat alami yang dialami orang-orang dewasa saat ini tidak terjadi pada mereka kelak.

Setiap orang bisa berbeda pendapat, tapi inilah pendapat saya.
Salam pendidikan!

Jumat, 29 Agustus 2008

Aku Lakukan Maka Aku Ingat

Suatu pagi saya bercerita pada suami saya bahwa saya baru saja meminta batang pohon kenanga dari tetangga, untuk di tanam dengan cara stek. Mendengar hal itu suami saya langsung bertanya, "Stek itu apa?"Kontan saja saya tertawa, "Nggak tahu stek? Itu, kan pelajaran biologi SMP!"

Suami saya menggeleng, juga sambil ketawa geli, "Yah! Biologi sih memang nggak terlalu suka dari dulu. Jadi, maklum aja kalau nggak inget."

Kalau dipikir-pikir, mungkin benar juga ya... Hanya pelajaran yang kita sukai atau gurunya kita sukai biasanya akan membuat kita enjoy, sebaliknya jika pelajaran itu tidak atau belum kita minati, apalagi gurunya mengajar dengan cara yang kaku dan membosankan, dipaksa-paksa juga, paling-paling kita hafalkan demi ujian saja.

Selain itu, pelajaran yang kita praktekkan, biasanya itulah yang kita ingat: Tak hanya ketika ujian, tapi juga sepanjang hidup kita. Coba saja perhatikan di dunia kerja. Para editor penerbitan misalnya, meski bukan dari Fakultas Sastra, karena saking intensifnya dengan dunia penyuntingan kata, EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) jadi "nempel" di kepala tanpa harus buka buku lagi. Padahal ketika kuliah, mungkin banyak mahasiswa dipusingkan dengan materi EYD, meskipun bukunya sangat tipis jika dibandingkan buku Laskar Pelangi.

Lantas bagaimana relevansinya dengan Ujian Nasional yang sudah mulai hangat diobrolkan meski baru memasuki tahun ajaran baru? Anak-anak dari tingkat SD terlebih di tingkat SMU sepertinya sangat awas dan was-was menghadapi momentum penting ini. Saya tak melihat ada alasan untuk merasa demikian, kecuali bahwa mereka takut tak bisa memperoleh tanda lulus alias ijazah, sehingga mereka tak bisa melanjutkan pendidikan formal ke jenjang selanjutnya.

Belajar di sekolah formal tak boleh salah. Tak peduli bagaimana caranya anak-anak menghafal, semua harus benar, atau setidaknya prosentase benarnya harus lebih banyak dari prosentase salahnya. Jika tidak begitu, seorang murid akan dicap sebagai anak yang gagal. Memang wajar kalau kemudian anak-anak sekolah menjadi sangat tegang menghadapi ujian. Bayang-bayang kegagalan menghantui mereka. Standar lulus yang semakin naik menjadi ancaman. Sekian tahun menempuh pendidikan bisa jadi kandas di tahap akhir, yaitu ujian nasional.

Namun demikian, ujian nasional hanyalah sebuah kebijakan. Seiring waktu, dengan pergantian pemimpin, kabinet, dan sebagainya, masih selalu ada peluang agar UN ditinjau ulang fungsi dan mekanismenya. Setidaknya sejauh yang saya lihat, sampai saat ini UN tak berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kualitas lulusan sekolah.

Selama jumlah belajar praktek di sekolah tetap minim dibandingkan teori, nampaknya sekian tahun ke depan lulusan sekolah memang masih tetap harus sangat awas melihat peluang kerja, karena nyatanya hanya sedikit lapangan pekerjaan yang tidak membutuhkan skill.

Kamis, 28 Agustus 2008

Arti Sebuah Mainan

Sesekali, jika kita perhatikan anak-anak, kita akan dapati mereka lebih asyik memainkan sepotong kayu, tali plastik, dan sebuah gelas air mineral bekas daripada mainan mahal yang kita belikan. Berjam-jam mereka bisa berinteraksi dengan mainan sederhana semacam itu tanpa bosan.

Setelah sebelumnya sempat menjadi "maniak" membelikan mainan edukatif, yang sebagiannya bahkan cukup mahal untuk ukuran kami, kini saya melihat kebutuhan akan mainan dari sudut pandang yang berbeda. Sebagai sebuah alat untuk mengeksplorasi kecerdasan anak, mainan edukatif sesungguhnya bertebaran di rumah kita: Tanpa harus kita beli secara khusus. Kenapa bisa begitu? Ya, tentu saja bisa, karena alat-alat bermain itu adalah juga perabotan dan benda-benda yang biasa kita pakai sehari-hari.

Karena saya memutuskan untuk berhenti dulu membeli mainan, tampaknya hal itu membuat anak-anak'terpaksa' jadi kreatif. Beberapa minggu terakhir ini mereka sering menyulap barang-barang yang ada di rumah menjadi mainan yang seru. Buku-buku hardcover berubah jadi laptop (menurut mereka), kardus bekas jadi rumah-rumahan, dan apapun benda yang ada di ruang tengah jadi apapun yang membuat mereka merasa punya mainan baru setiap hari.

Setelah saya pikir-pikir, memang ada hikmahnya juga tak lagi meanggarkan jatah biaya 'belajar' kami pada mainan, karena sebenarnya mainan buat mereka hanyalah salah satu alat belajar yang mereka sendiri tak pernah mendefinisikannya secara khusus.

Sebagai variasi, tentunya kita bisa ikut andil membantu mereka menyediakan bahan-bahan murah yang bisa memicu ide-ide kreatif mereka makin banyak lagi.

Minggu, 24 Agustus 2008

Kurikulum Homeschooling

Kurikulum selalu ditanyakan saat bersinggungan dengan homeschooling. Apa sebenarnya bahasa yang lebih mudah untuk menerjemahkan kurikulum? Saya lebih suka menyebutnya outline atau kisi-kisi. Kurikulum hanyalah peta yang memandu kita untuk menentukan topik yang ingin kita pelajari. Penjabarannya tentu sangat beragam. Setiap keluarga bisa menciptakan kegiatan belajar yang amat kaya dari sebuah kisi-kisi pelajaran.

Salah satu keunikan homeschooling terletak pada keleluasaan untuk menentukan urutan prioritas. Kalau kurikulum diknas memiliki urutan-urutan yang sudah baku, maka homeschooler bisa mengubahnya sama sekali. Mungkin istilah level-level kelas 1, 2, 3, dan seterusnya tidaklah berlaku dalam homeschooling. Anak homeschooling usia 8 tahun bisa jadi masih suka mewarnai sekaligus sudah menguasai pelajaran matematika kelas 6 SD. Belajar biologi bisa jadi tak berawal dari definisi biologi, tapi dari kegiatan mengamati kupu-kupu atau serangga di kebun belakang. Alasannya sangatlah sederhana, "Kita akan menyerap pelajaran lebih banyak ketika kita berminat dan antusias untuk mempelajarinya".

Kalau selalu dibingungkan dengan masalah kurikulum, maka carilah dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
"Apa yang ingin aku tahu?"
"Apa yang kuingin anak-anakku tahu?"
"Apa yang ingin anak-anakku ketahui?"

Jawaban dari pertanyaa-pertanyaan di atas, ITULAH dia kurikulum, setidaknya kurikulum sementara sambil kita lakukan penyempurnaan dalam perjalanan. Selamat berwisata di alam belajar tanpa batas!

Sabtu, 23 Agustus 2008

Jadilah Fasilitator, Bukan Tutor

Hari ini (24 Agustus 2008) anak-anak antusias sekali untuk belajar menganyam. Mereka penasaran mengetahui bagaimana cara melakukan kegiatan itu, karena dua hari sebelumnya si sulung melihat barang-barang hasil anyaman dalam sebuah buku. Jadilah menganyam sebagai proyek belajar di hari minggu. Saya gunakan kertas sebagai bahan.

Homeschooling memberikan inspirasi pembelajaran yang sangat besar buat saya. Lewat homeschooling saya benar-benar bisa merasakan uniknya peran guru bagi seorang murid. Sejauh pendidikan yang pernah saya tempuh di sekolah formal, dan saya rasa sampai sekarang pun masih tak berubah, guru lebih sering bertindak sebagai tutor yang menggantikan buku bagi anak-anak. Malah dalam kasus yang ekstrem, beberapa guru hanya mengubah teks buku menjadi suara, tanpa dia benar-benar memahami apa yang sedang diajarkannya. Guru mendiktekan, murid-muridnya menulis. Saat bel berbunyi, kegiatan "belajar" itu pun selesai. Bertemu lagi keesokan harinya, acara dikte itupun dilanjutkan pada halaman berikutnya. Tak ada waktu untuk anak-anak bertanya atau mungkin mereka pun tak sempat terpikir untuk bertanya karena tidak tahu apa yang harus ditanyakan.

Berbeda dengan anak-anak homeschooling, setidaknya yang sudah pernah saya jumpai, hampir semuanya memiliki karakter belajar yang sama, yaitu MANDIRI. Saya kira, hal itu bukanlah tanpa sebab. Karakter belajar seperti itu terbentuk karena iklim belajar mengajar yang diciptakan di rumah memang membuat mereka jadi mandiri. "Guru-guru" homeschooling (dalam hal ini tentu saja orang tua sebagai centralnya) memang nyaris tak bisa menjadi tutor.

Anak-anak akan membaca beberapa buah buku dalam sehari dengan topik yang beraneka ragam ketika mereka memang ingin melakukannya. Mereka akan meminta lembaran-lembaran worksheet matematika ketika mereka sedang berminat. Mereka bisa menanyakan arti dari begitu banyak kosa kata yang mereka temukan dalam buku yang mereka baca: apa itu majelis ulama? Apa arti kata "menyongsong", "kenapa kita harus memasang bendera di hari kemerdekaan?", "kemerdekaan itu apa?", dll. Mereka akan memutar VCD dan menonton berulang-ulang film tentang pernapasan atau ilmu tentang benih sampai puas. Mereka belajar setiap hari tanpa harus ada instruksi khusus, apalagi instruksi untuk duduk rapi dengan tangan di atas meja.

Sampai saat ini, jujur saja saya jarang menjadi guru (jika guru yang dimaksud adalah seseorang yang selalu memberi tahu dan mengajari) buat anak-anak saya. Mereka lebih sering mengajari diri mereka sendiri lewat media-media yang kami sediakan. Terlebih saat anak sulung saya bisa membaca, dia bisa mengeksplorasi pengetahuan sendiri lewat bahan-bahan bacaan dan sekaligus menjadi asisten untuk mengajari adiknya. Dia hanya bertanya kalau dia menemukan sesuatu yang tidak dimengerti. Buat kami, sangat penting anak-anak mengetahui bahwa kami bukanlah gudang ilmu pengetahuan atau perpustakaan berjalan yang serba tahu. Jika kami tak bisa menjawab pertanyaan mereka, mereka sendiri-lah yang harus mencari tahu. Peran kami hanyalah membantu memfasilitasi mereka, menunjukkan pada mereka di mana bisa mendapatkan informasi.

Perbedaan terbesar yang akan tampak pada anak-anak dengan guru yang menjadi tutor dan guru yang menjadi fasilitator adalah kemandirian. Anak-anak yang dididik oleh guru secara tutorial akan terlihat lebih tergantung pada guru. Mereka belajar hanya jika ada guru yang mengajar di depan kelas. Mereka tidak terbiasa untuk mencari tahu sendiri, sehingga minat untuk belajar sendiri menjadi terkikis seiring pembiasaan yang terbentuk selama bertahun-tahun.

Kalau para guru di sekolah formal memahami dan mau belajar banyak tentang dampak metode pengajaran ini, sangat mungkin karakter belajar siswa di sekolah formal pun akan beranjak lebih mandiri. Semua akan berubah jika kita MAU mengubahnya. Dan sebenarnya, kemandirian dalam belajar bukanlah monopoli anak-anak homeschooling. Ketika pola ajar di rumah tidak mengarahkan anak untuk mandiri, hasilnya pasti sama saja.

Nah, peran apa yang hendak kita pilih? Yang jelas, menjadi guru itu akan sangat menyenangkan jika kita tidak menganggap murid-murid kita sebagai kotak kosong yang harus diisi, melainkan sebagai manusia yang dibekali otak cerdas sejak dalam kandungan. Tugas kita sebenarnya hanyalah menyalakan minat belajar mereka dan membantu mereka menemukan sumber-sumber belajar, sehingga di manapun anak-anak akan selalu tertarik belajar dan apapun yang mereka lihat dan mereka dengar akan menjadi magnet yang menarik mereka untuk mengetahui dan mempelajarinya.

Salam pendidikan!