Papa bertanya pada Luqman, "Apa yang akan Ade lakukan jika di rumah seseorang yang Ade datangi ada makanan enak yang paling Ade sukai? Apakah akan mengambilnya?"
Luqman: "Tentu saja tidak."
Papa: "Tapi nggak ada siapa-siapa lho di situ. Nggak ada yang liat kalaupun Ade mengambilnya,"
Luqman: "Ah, tetap saja tidak akan Ade ambil,"
Papa: "Walaupun Ade sangat menginginkannya?"
Luqman: "Iya, karena Ade tahu, kalau mengambilnya tanpa ijin berarti Ade kan mencuri."
Papa: "Terus apa yang akan Ade lakukan?"
Luqman: "Ade mungkin akan melihatnya, tapi Ade akan menaahan kuat-kuat rasa sangat ingin itu".
Kami tertawa dan memberi jempol untuknya.
(Apakah Luqman benar-benar akan mempraktikkan apa yang ia katakan saat berhadapan dengan kasus semacam itu? Kami tidak bisa menjamin. Tapi lewat obrolan itu minimal kami tahu bahwa dia telah mengerti sebuah nilai penting, yaitu: Sekalipun sangat menginginkannya, ia tidak-lah berhak mengambil sesuatu yang bukan miliknya.)
Minggu, 19 September 2010
Kamis, 16 September 2010
Hadiah Lebaran
Bersyukur. Mungkin itulah kata yang paling tepat harus saya ucapkan. Puasa Ramadhan tahun ini (1431 H/2010 masehi), dengan karunia Allah Yang Mahapemurah, telah memberi saya banyak pelajaran. Dan hebatnya, pelajaran itu justru datang dari anak-anak saya.
Ramadhan tahun ini Azkia (kini 8 tahun), nyaris berhasil menamatkan puasanya kalau saja tidak terpotong oleh safar ke kampung pada hari terakhir. Padahal pada bulan Ramadhan tahun sebelumnya ia hanya puasa sekitar dua hari, itupun hanya sampai dzuhur. Keinginan berpuasa datang dari dirinya sendiri, sama sekali tanpa paksaan. Itikadnya yang kuat membuat saya merasa bangga sebagai orang tua. (Semoga tidak terjerumus pada takabur, insha Allah).
Satu kemajuan lagi pada Azkia adalah kemauannya mengenakan kerudung sepanjang hari saat keluar rumah. Awalnya sejak beberapa minggu sebelum bulan Ramadhan. Suatu hari Azkia berbisik, "Mama, ternyata Kakak berhasil lho seharian ini tidak buka kerudung saat di luar". Sebagai ibu yang juga masih belajar merespon dengan baik, saya berusaha mengekspresikan pujian yang normal padanya atas kemajuan itu. Dan alhamdulillah, hingga kini ia tetap mengenakan kerudungnya.
Adapun Luqman, yang sebelumnya masih sangat sulit diajak sholat, saat Ramadhan kemarin terlihat berusaha sungguh-sungguh untuk melawan rasa malasnya. Ia ikut sholat bersama kami walau bertahap hanya konsisten sholat shubuh dan maghrib. Dan itu masih berlangsung sampai hari ini.
Selain itu, yang paling mengherankan tapi sekaligus membuat saya bersyukur adalah sikap mereka yang jadi lebih sabar, tak banyak mengeluh, dan pandai mengibur diri.
Saat mudik kami naik kendaraan umum. Sejak berangkat memang saya berulang kali mengatakan pada mereka, "Kita akan melakukan perjalanan agak jauh. Mungkin sekali kita akan bertemu hal-hal yang tidak menyenangkan. Mungkin akan bertemu macet, panas, dan banyak lagi. Kita harus siap bersabar menghadapi semua itu. Mau berusaha sabar, kan?" Anak-anak mengangguk, menyanggupi.
Anak-anak memang sangat ingin bertemu nenek dan saudara-saudara sepupunya. Karena itulah, sepertinya mereka mau berusaha berkompromi dengan kemungkinan yang kurang enak, yang biasanya selalu membuat mereka sedikit rewel atau mengeluh.
Perjalanan pun dimulai dan kami sudah meniatkan perjalanan ini memang untuk sebuah latihan kesabaran. Bukan hanya untuk anak-anak tapi juga untuk kami semua. Jadi, mulut dijaga rapat-rapat untuk tidak bicara tentang keluhan. Kami berjuang untuk membincangkan hanya hal-hal yang positif.
Fase demi fase kami lewati. Tibalah kami di terminal terakhir menuju kampung. Cuaca sangat panas, debu beterbangan, bejubel orang-orang hendak berbelanja lebaran. Sebuah keadaan yang sangat mengganggu sebenarnya. Setelah sekitar 1 jam anak-anak menunggu di mesjid bersama papanya (karena saya membeli beberapa keperluan pesanan ibu saya) akhirnya kami mencari angkutan ke kampung. Kebetulan angkutan sederhana ala desa ada yang kosong. Kami pun naik.
Di dalam pick-up angkutan barang yang disulap jadi angkutan manusia kami dinaungi terpal. Seketika setelah kami naik, hawa panas menyengat. Saya bilang ke Luqman, "Agak panas ya, De? Mungkin juga akan agak lama kita menunggu". Mengejutkan, Luqman menjawab, "Enggak terlalu, Ma. Memang panas sih, tapi Ade bisa tahan. Dan tidak apa-apa lama ataupun sebentar. Kalau Ade mah, yang penting nyampe".
Saya dan papanya tertawa. Ajaib sekali! Luqman biasanya paling gampang mengeluh dan ternyata bisa berubah? Bahkan di tengah perjalanan, saat mobil yang kami tumpangi juga dimuati kayu bakar, rumput, dan dua karung jengkol hasil hutan, anak-anak saya tetap menikmati semuanya dengan relatif santai.
Ah, saya pun menerawang. Tampaknya memang tidak-lah sia-sia jika kita berusaha keras untuk memberikan teladan. Saya akui, sebagai ibu saya juga termasuk orang yang kurang sabaran selama ini. Sedikit impulsif dan kadang juga pengeluh. Jadi, sebenarnya tak harus heran jika anak saya menunjukkan perilaku seperti itu ^_^. Dan saat Ramadhan tahun ini, entah mengapa ada desakan yang sangat kuat untuk mengubah karakteristik diri yang kurang baik itu. Berjuang deh, pokoknya!:)
Saya tahu, pastinya usaha saya belum-lah maksimal. Tapi dengan perubahan yang saya lihat pada anak-anak, saya jadi yakin bahwa berawal dari usaha memperbaiki diri (sekecil apapun), semua ada pengaruhnya pada perkembangan mereka. Mereka adalah cermin diri saya (Setidaknya itulah yang selalu saya coba dengungkan dalam diri saya).
Ketika kami pulang, di mana kami harus menunggu hampir 3 jam di halte, dan juga terpaksa berdiri di bis selama kurang lebih 1,5 jam karena bisnya penuh, luar biasa! Anak-anak bisa melewati semua kondisi itu dengan riang.
Walau setiba di rumah badan saya remuk redam rasanya karena sesekali harus gantian menggendong anak-anak saat mereka terlihat lelah, tapi Puji syukur kepada Allah SWT. Kepingan-kepingan perjalanan latihan yang kami lewati dengan baik adalah hadiah lebaran yang sangat berharga buat saya.
Semoga kami sebagai orang tua juga diberi Allah sikap yang istiqomah/konsisten, sehingga anak-anak juga konsisten berjalan menuju kemajuan. Berbagai kemajuan yang tak hanya berwujud kepintaran akademis semata, melainkan juga mentalitas dan kepribadian mereka. Amin ya Allah ya Robbal 'aalamiin.
Ramadhan tahun ini Azkia (kini 8 tahun), nyaris berhasil menamatkan puasanya kalau saja tidak terpotong oleh safar ke kampung pada hari terakhir. Padahal pada bulan Ramadhan tahun sebelumnya ia hanya puasa sekitar dua hari, itupun hanya sampai dzuhur. Keinginan berpuasa datang dari dirinya sendiri, sama sekali tanpa paksaan. Itikadnya yang kuat membuat saya merasa bangga sebagai orang tua. (Semoga tidak terjerumus pada takabur, insha Allah).
Satu kemajuan lagi pada Azkia adalah kemauannya mengenakan kerudung sepanjang hari saat keluar rumah. Awalnya sejak beberapa minggu sebelum bulan Ramadhan. Suatu hari Azkia berbisik, "Mama, ternyata Kakak berhasil lho seharian ini tidak buka kerudung saat di luar". Sebagai ibu yang juga masih belajar merespon dengan baik, saya berusaha mengekspresikan pujian yang normal padanya atas kemajuan itu. Dan alhamdulillah, hingga kini ia tetap mengenakan kerudungnya.
Adapun Luqman, yang sebelumnya masih sangat sulit diajak sholat, saat Ramadhan kemarin terlihat berusaha sungguh-sungguh untuk melawan rasa malasnya. Ia ikut sholat bersama kami walau bertahap hanya konsisten sholat shubuh dan maghrib. Dan itu masih berlangsung sampai hari ini.
Selain itu, yang paling mengherankan tapi sekaligus membuat saya bersyukur adalah sikap mereka yang jadi lebih sabar, tak banyak mengeluh, dan pandai mengibur diri.
Saat mudik kami naik kendaraan umum. Sejak berangkat memang saya berulang kali mengatakan pada mereka, "Kita akan melakukan perjalanan agak jauh. Mungkin sekali kita akan bertemu hal-hal yang tidak menyenangkan. Mungkin akan bertemu macet, panas, dan banyak lagi. Kita harus siap bersabar menghadapi semua itu. Mau berusaha sabar, kan?" Anak-anak mengangguk, menyanggupi.
Anak-anak memang sangat ingin bertemu nenek dan saudara-saudara sepupunya. Karena itulah, sepertinya mereka mau berusaha berkompromi dengan kemungkinan yang kurang enak, yang biasanya selalu membuat mereka sedikit rewel atau mengeluh.
Perjalanan pun dimulai dan kami sudah meniatkan perjalanan ini memang untuk sebuah latihan kesabaran. Bukan hanya untuk anak-anak tapi juga untuk kami semua. Jadi, mulut dijaga rapat-rapat untuk tidak bicara tentang keluhan. Kami berjuang untuk membincangkan hanya hal-hal yang positif.
Fase demi fase kami lewati. Tibalah kami di terminal terakhir menuju kampung. Cuaca sangat panas, debu beterbangan, bejubel orang-orang hendak berbelanja lebaran. Sebuah keadaan yang sangat mengganggu sebenarnya. Setelah sekitar 1 jam anak-anak menunggu di mesjid bersama papanya (karena saya membeli beberapa keperluan pesanan ibu saya) akhirnya kami mencari angkutan ke kampung. Kebetulan angkutan sederhana ala desa ada yang kosong. Kami pun naik.
Di dalam pick-up angkutan barang yang disulap jadi angkutan manusia kami dinaungi terpal. Seketika setelah kami naik, hawa panas menyengat. Saya bilang ke Luqman, "Agak panas ya, De? Mungkin juga akan agak lama kita menunggu". Mengejutkan, Luqman menjawab, "Enggak terlalu, Ma. Memang panas sih, tapi Ade bisa tahan. Dan tidak apa-apa lama ataupun sebentar. Kalau Ade mah, yang penting nyampe".
Saya dan papanya tertawa. Ajaib sekali! Luqman biasanya paling gampang mengeluh dan ternyata bisa berubah? Bahkan di tengah perjalanan, saat mobil yang kami tumpangi juga dimuati kayu bakar, rumput, dan dua karung jengkol hasil hutan, anak-anak saya tetap menikmati semuanya dengan relatif santai.
Ah, saya pun menerawang. Tampaknya memang tidak-lah sia-sia jika kita berusaha keras untuk memberikan teladan. Saya akui, sebagai ibu saya juga termasuk orang yang kurang sabaran selama ini. Sedikit impulsif dan kadang juga pengeluh. Jadi, sebenarnya tak harus heran jika anak saya menunjukkan perilaku seperti itu ^_^. Dan saat Ramadhan tahun ini, entah mengapa ada desakan yang sangat kuat untuk mengubah karakteristik diri yang kurang baik itu. Berjuang deh, pokoknya!:)
Saya tahu, pastinya usaha saya belum-lah maksimal. Tapi dengan perubahan yang saya lihat pada anak-anak, saya jadi yakin bahwa berawal dari usaha memperbaiki diri (sekecil apapun), semua ada pengaruhnya pada perkembangan mereka. Mereka adalah cermin diri saya (Setidaknya itulah yang selalu saya coba dengungkan dalam diri saya).
Ketika kami pulang, di mana kami harus menunggu hampir 3 jam di halte, dan juga terpaksa berdiri di bis selama kurang lebih 1,5 jam karena bisnya penuh, luar biasa! Anak-anak bisa melewati semua kondisi itu dengan riang.
Walau setiba di rumah badan saya remuk redam rasanya karena sesekali harus gantian menggendong anak-anak saat mereka terlihat lelah, tapi Puji syukur kepada Allah SWT. Kepingan-kepingan perjalanan latihan yang kami lewati dengan baik adalah hadiah lebaran yang sangat berharga buat saya.
Semoga kami sebagai orang tua juga diberi Allah sikap yang istiqomah/konsisten, sehingga anak-anak juga konsisten berjalan menuju kemajuan. Berbagai kemajuan yang tak hanya berwujud kepintaran akademis semata, melainkan juga mentalitas dan kepribadian mereka. Amin ya Allah ya Robbal 'aalamiin.
Sabtu, 28 Agustus 2010
Panen Ubi
Hari ini kami "pesta" ubi. Setelah kemarin saya memanen sendirian, kali ini anak-anak diajak. Ruang tanam seluas kurang lebih 6 meter persegi dipanen dua anak kecil kami yang takjub bukan kepalang. Hanya dengan tangan, ubi berhasil dicabut karena tanahnya sangat gembur.
Menanam ubi tidak-lah sulit. Cukup dengan menggunakan stek batang, ubi menjalar ke mana-mana dan bisa dipanen dalam waktu 3 bulan. Ubi yang kami panen ada yang kecil, ada juga yang besar.Kali ini baru percobaan. Kayaknya boleh juga dilanjutkan sebagai alternatif bahan pangan.
Setelah dikumpulkan, ubi lalu ditimbang. Eits! Karena wadah timbangan yang kami punya nggak muat, jadinya pakai baskom. Tentu saja terlebih dulu di-stel ke angka nol untuk menyesuaikan dengan bak timbang.
Hasilnya 1,8 kg. Lumayan juga. Bisa dibuat gorengan ubi atau kolak untuk berbuka puasa ^_^. Dan yang terpenting, anak-anak jadi belajar untuk terlibat dalam sebuah proses, betapapun remehnya. Suatu hari, entah kapan, setiap pengalaman praktis yang mereka lewati akan ada gunanya.
Senin, 23 Agustus 2010
Menjelajah
Anak-anak saya ajak berjalan menyusuri pesawahan, sungai, dan perkampungan di belakang komplek perumahan kami. Meski sudah berulang-ulang kami lakukan, selalu saja ada hal baru yang kami temui.
Kalau merujuk pada konsep Charlotte Mason dalam menjalankan home-education, kegiatan menjelajah alam ini adalah bagian penting yang sangat ia anjurkan.
Sekarang ini, malah anak-anak bisa mengajak teman mainnya untuk ikut serta. Menjelajah jadi kegiatan murah yang tak kalah serunya dengan bermain di arena bom bom car di mall.
Rabu, 18 Agustus 2010
Collection of science test for grade 7 (soal IPA kelas 7 SMP)
Collection of science questions for grade 7 SMP / MTS in the post this time including the collection of the most amount of exercise and the most complete because of the example problems ever in the post for the junior class of seven, a matter which is displayed meluputi heat, joule, amplitude, wavelength, frequency , and banyangan mirror (5 questions),
The next question about the acceleration and
The next question about the acceleration and
Junior High School (SMP) - complete mathematics test pratice
The following are a selection of questions for junior high school, created by Zurick Zaryan, from educational institutions SSC, in this document you can learn in advance about the theory will be tested, you can learn from the set, numbers, basic algebraic operations, then the question of equality and inequality, relationships, math functions, then about arithmetical test, line, angles, congruency
Sabtu, 07 Agustus 2010
4 Warisan Dunia yang Ada di Indonesia, Akankah Mereka Hilang?
![]() |
Hutan tropis Indonesia adalah hutan ketiga terluas dunia setelah Brasil dan Republik Demokrasi Kongo. Hutan tropis ini adalah rumah dan persembunyian terakhir bagi kekayaan hayati dunia yang unik.
Hutan tropis Indonesia luasnya 98 juta hektar (estimasi luas hutan tahun 2000). Data yang tercantum dalam dalam buku Potret Keadaan Hutan Indonesia, FWI/GFW 2001, Bogor, Indonesia, keragaman hayati yang ada di hutan-hutan Indonesia meliputi 11% spesies tumbuhan dunia, 10% spesies mamalia, dan 16% spesies burung. Sekitar 17.000 pulau Indonesia memiliki tujuh kawasan bio geografi utama dan keanekaragaman tipe-tipe habitat yang luar biasa.
1. Taman Nasional Komodo
Taman Nasional Komodo�terdiri dari tiga buah pulau besar yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar serta 26 buah pulau besar/kecil lainnya. Sebanyak 11 buah gunung/bukit yang ada diTaman Nasional Komodo�dengan puncak tertinggi yaitu Gunung Satalibo (� 735 meter dpl). Wilayah darat taman nasional ini 603 km� dan wilayah total adalah 1817 km�.
Keadaan alam yang kering dan gersang menjadikan suatu keunikan tersendiri. Adanya padang sabana yang luas, sumber air yang terbatas dan suhu yang cukup panas; ternyata merupakan habitat yang disenangi oleh sejenis binatang purba Komodo (Varanus komodoensis).
Sebagian besar taman nasional ini merupakan sabana dengan pohon lontar (Borassus flabellifer) yang paling dominan dan khas. Beberapa tumbuhan yang ada di�Taman Nasional Komodo�antara lain rotan (Calamus sp.), bambu (Bambusa sp.), asam (Tamarindus indica), kepuh (Sterculia foetida), bidara (Ziziphus jujuba), dan bakau (Rhizophora sp.)
Selain satwa khas Komodo, terdapat rusa (Cervus timorensis floresiensis), babi hutan (Sus scrofa), ajag (Cuon alpinus javanicus), kuda liar (Equus qaballus), kerbau liar (Bubalus bubalis), 2 jenis penyu, 10 jenis lumba-lumba, 6 jenis paus dan duyung yang sering terlihat di perairan laut�Taman Nasional Komodo
2. Taman Nasional Ujung Kulon
Taman Nasional Ujung Kulon�merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat, serta merupakan habitat yang ideal bagi kelangsungan hidup satwa langka badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya. Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan.
Keanekaragaman tumbuhan dan satwa di�Taman Nasional Ujung Kulon�mulai dikenal oleh para peneliti, pakar botani Belanda dan Inggris sejak tahun 1820. Kurang lebih 700 jenis tumbuhan terlindungi dengan baik dan 57 jenis di antaranya langka seperti; merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), ki hujan (Engelhardia serrata) dan berbagai macam jenis anggrek.
Satwa di�Taman Nasional Ujung Kulon�terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amfibi, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan dan 33 jenis terumbu karang. Satwa langka dan dilindungi selain badak Jawa adalah banteng (Bos javanicus javanicsu), ajag (Cuon alpinus javanicus), surili (Presbytis comata comata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus), kucing batu (Prionailurus bengalensis javanensis), owa (Hylobates moloch), dan kima raksasa (Tridacna gigas).
3. Taman Nasional Lorentz
Taman Nasional Lorentz�merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga merupakan salah satu di antara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis. Membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 meter dpl), hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura. Dalam bentangan ini, terdapat spektrum ekologis menakjubkan dari kawasan vegetasi alpin, sub-alpin, montana, sub-montana, dataran rendah, dan lahan basah
Jenis-jenis tumbuhan di taman nasional ini antara lain nipah (Nypa fruticans), bakau (Rhizophora apiculata),�Pandanus julianettii,Colocasia esculenta,�Avicennia marina,�Podocarpus pilgeri,�danNauclea coadunata.
Jenis-jenis satwa yang sudah diidentifikasi di�Taman Nasional Lorentz�sebanyak 630 jenis burung (� 70% dari burung yang ada di Papua) dan 123 jenis mamalia. Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini ada dua jenis kasuari, empat megapoda, 31 jenis dara/merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu, dan 20 jenis endemik di antaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata) dan puyuh salju (Anurophasis monorthonyx).
Satwa mamalia tercatat antara lain babi duri moncong panjang (Zaglossus bruijnii), babi duri moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), 4 jenis kuskus, walabi, kucing hutan, dan kanguru pohon.
4. Hutan Hujan Tropis Sumatra
Hutan Hujan Tropis Sumatera�merupakan rumah bagi berbagai makhluk hidup. Banyak di antaranya yang merupakan spesies hewan yang terancam punah, seperti orang utan Sumatera, harimau Sumatera, kelinci Sumatera, dan badak Sumatera. Di hutan hujan tropis ini juga tumbuh berbagai tumbuhan endemik, seperti kantong semar, bunga terbesar di dunia�Rafflesia, dan bunga tertinggi�Amorphophallus.
(kapanlagi.com)
Langganan:
Postingan (Atom)
